
Beberapa orang muncul dari dalam kegelapan, 5 orang sudah berada di sekeliling Zeria sedangkan 4 orang lainnya berada di setiap sudut ruangan. 9 orang dewasa memakai jubah hitam, membawa senjata tajam. Wajah mereka tidak terlihat, karena tertutup oleh jubah dan juga karena keadaan kamar yang gelap.
"Apa mereka benar benar tidak bisa melihatmu?" Tanya Zeria pada Arin untuk memastikan apakah ucapannya benar atau tidak.
"Iya, jika aku tidak menghendakinya, mereka tidak akan bisa melihatku. Kecuali jika orang itu adalah keturunan malaikat juga. Sekarang ini, di mata mereka hanya ada seorang anak kecil berusia satu tahun yang sedang ketakutan di atas ranjang" Ucapnya sambil memandangi orang orang itu. Arin hanya diam saja dan tidak melakukan apapun sampai Zeria memberikan perintah.
Orang orang itu semakin mendekati Zeria, senjata tajam di arahkan ke arahnya. Tidak ada pengawal di depan pintu kamarnya, karena sekarang adalah saat pergantian penjaga.
"Apa aku harus diam saja seperti ini?" Arin bertanya karena sejak tadi Zeria hanya diam saja.
"Aakkhh, aku sudah tidak tau lagi. Arin, bunuh saja mereka. Mereka mengganggu pandanganku" Zeria memerintahkan untuk membunuh orang orang itu, namun ekspresinya datar dan sangat yakin.
"Wahh, kau menyuruhku membunuh orang dengan ekspresi seperti itu? Kau sungguh menyeramkan" Arin sedikit mengejek Zeria, namun ia langsung melaksanakan perintahnya.
Muncul cahaya dari setiap sudut ruangan, seperti membuka portal. Pedang dan pisau belati muncul dengan jumlah banyak, setiap ujung mata pedang mengarah pada para penyusup. Para penyusup yang melihat hal itu sontak panik dan siap untuk lari. Namun kekuatan Arin lebih cepat, di saat mereka melangkahkan kaki mereka, pedang pedang itu langsung menusuk mereka.
__ADS_1
AAKHH!
Terdengar suara teriakan dari para penyusup itu. Dalam hitungan detik mereka sudah tergeletak di lantai dengan keadaan berlumuran darah dan tidak bernyawa. Bahkan pedang yang sudah menusuk mereka pun menghilang tanpa jejak.
"Apa ini sudah cukup?" Tanya Arin lalu menghampiri Zeria dan duduk di sebelahnya.
"Iya, sudah sangat cukup. Tapi aku sedikit kelelahan" Ucapnya. Pengelihatannya mulai kabur dan kepalanya terasa pusing.
"Lebih baik kau istirahat sekarang. Karena sebentar lagi para penjaga akan segera datang karena mendengar teriakan mereka. Jika mereka melihat kau yang sedang duduk di atas ranjang dengan bercak darah di pakaian mu dan tanpa luka. Mereka pasti akan curiga"
"Tidak apa apa. Karena aku tidak mau tidur di kamar yang ada mayatnya. Saat mereka datang, aku kan berpura pura ketakutan dan menangis" Ucapnya.
"Wahh, pikiranmu licik sekali yaa. Kalau begitu, ku serahkan sisanya padamu, aku akan pergi dulu." Arin menghilang tanpa jejak.
Tak lama kemudian, para pengawal datang dan diikuti oleh Lucas yang ikut datang karena mendengar suara teriakan dari dalam kamar Zeria saar ia sedang jalan jalan di taman istana Zeria.
"TUAN PUTRI?!" Para pengawal masuk dengan rasa panik.
"Zeria" Lucas datang dengan wajah yang sangat cemas karena khawatir adiknya terluka.
__ADS_1
"Kakak? Kakak!!" Zeria yang sedang menangis langsung berteriak saat melihat Lucas dan langsung menjalankan rencananya.
"Kamu tidak apa apa?" Tanya Lucas sambil memeluk Zeria.
"I-iyaa" Jawabnya dengan sedikit teriksak.
"Pangeran, ada sembilan jasad pria di kamar ini. Semua lukanya adalah luka tusukan pedang, namun pedang yang menusuk mereka semua tidak bisa saya temukan" Ucap salah satu pengawal yang ada di sana.
"Cari tau siapa yang memerintahkan mereka hingga ditemukan. Jika sudah ditemukan, tangkap dan bawa orang itu kepadaku" Lucas bicara dengan nada datar, namun amarah yang sangat besar terlihat di matanya.
"Baik pangeran!" Para pengawal yang mengerti apa maksud dari perkataan Lucas, langsung menjawab dengan sigap.
"Jangan takut Zeria, malam ini kau tidur saja di kamarku. Aku tidak ingin kau berada di tempat yang berbau darah ini." Ucap Lucas sambil mengusap kepala Zeria dengan lembut.
"Iyaa" Suara Zeria sedikit bergetar karena ketakutan, walaupun itu adalah akting, namun aktingnya sangat natural.
"Wahh, kau sangat hebat ber akting ya. Apakan kau adalah orang yang sama dengan orang yang barus aja membunuh orang tanpa ragu?" Arin sedikit menejek Zeria, karena sikap Zeria berubah dengan drastis.
"Diam! Atau kau akan ku bunuh juga" Zeria sedikit kesal mendengarnya lalu mengancam Arin.
"Hei, baiklah. Aku akan diam" Arin sedikit ketakutan dengan ancaman Zeria, karena ia tau bahwa Zeria tidak pernah main main dengan perkataannya.
Lucas menggendong Zeria pergi dari istana putri lalu menuju ke istana pangeran. Lucas khawatir dengan keadaan adiknya yang masih berusia satu tahun itu. Lucas berfikir, bagaimana bisa sembilan orang pria dewasa ingin membunuh anak perempuan berusia satu tahun? Namun sayangnya, Lucas tidak mengetahui kebenaran bahwa adik perempuannya adalah orang yang telah membunuh sembilan pria dewasa itu.
__ADS_1