
Hari kedua festival, Zeria dibawa ke Istana Pangeran untuk mengukur baju yang akan dikenakan saat hari terakhir festival nanti. Seharusnya pengukuran baju dilakukan di Istana Utama, namun karena kondisi Istana Utama cukup sibuk, jadi pengukuran baju dilakukan di Istana Pangeran. Kenapa tidak di Istana Putri saja? Karena jika semua hal penting dilakukan di Istana Putri, bisa bisa akan ada rumor buruk lagi tentang Zeria.
“Karena biasanya kita selalu berkumpul di kamar Zeria, hal ini terasa aneh ya” Eric memperhatikan kamar Lucas dari ujung ke ujung, ini adalah pertama kalinya mereka berkumpul disini.
“Walaupun sekarang sedang ada festival yang diadakan, rasanya tetap sama seperti biasa. Dingin dan membosankan” Zeria melipat tangannya dan menyenderkan tubuhnya ke sofa. Suatu hal yang normal jika ia merasa bosan, karena dirinya sangat dibatasi untuk bepergian.
Memperhatikan langit biru hanya lewat jendela, ia masih kepikiran tentang kelopak bunga yang ia lihat kemarin. Darimana asalnya? Bagaimana bisa ada kelopak bunga yang beterbangan saat musim dingin begini? Semua pemikiran itu membuat Zeria melupakan tujuan utamanya, yaitu mencari tahu tentang segala mimpinya.
Mimpi yang pertama kali ia alami adalah kematian seorang gadis remaja di zaman modern yang bunuh diri. Kematian yang kedua berada di zaman modern juga, dan mati karena dikhianati lalu dibunuh. Kematian ketiga karena kecelakaan lalu lintas, kematian ketiga juga berada di zaman modern. Kematian yang ke empat karena diracuni, kematian ini ada di zaman kerajaan seperti sekarang. Kematian kelima, adalah kematian saat dirinya menolong adik laki lakinya dan akhirnya jatuh dari tebing. Dan yang lebih parahnya lagi, Eric berkata kalau semua gadis yang mati itu adalah dirinya sendiri dan adik laki laki itu adalah Eric.
“Hahh” Zeria menghela napasnya, “Tidak masuk akal” Dirinya mendecak kesal dan menarik perhatian mereka bertiga.
Perhatian mereka beralih ke Zeria, apa yang membuatnya sekesal itu? Tak ada yang berani menanyakannya, tatapan mata Zeria terlihat sangat serius tetapi terasa kosong, entah apa yang dilihatnya.
Mereka mencoba mencari topik pembicaraan untuk mencairkan suasana, karena suasana sekarang sangat tidak enak. “Emm, bagaimana pengukuran pakaian kalian tadi?” Tanya Lucas pada Eric dan Arin. Tempat pengukuran pakaian Arin dan dan eeric berbeda dengan Lucas dan Zeria, karena mereka hanya pengawal pribadi dan seorang teman Zeria.
“Lancar! Sangat lancar, ternyata pakaianku nanti berwarna biru tua dan jubah hitam” Eric mengeluh dengan warna pakaiannya, padahal ia berharap kalau warnanya akan sama dengan warna baju Zeria nanti.
“Tunggu Eric, pakaianmu berwarna biru tua dengan jubah hitam? Kenapa sama dengan warna pakaianku? Gaun bagian bawah berwarna biru tua dan bagian atas berwarna hitam” Arin menjelaskan warna gaunnya yang sama seperti warna baju Eric.
“Kenapa sama?!”
“MANA KU TAU!”
__ADS_1
Melihat perdebatan eric dan Arin, Zeria merasa sedikit tenang dan pikirannya kembali jernih. Ia tertawa dengan tingkah kedua temannya itu, “Hahaha, aduh kalian ini” Zeria menyeka air matanya yang jatuh akibat terlalu banyak tertawa, “Itu semua aku yang atur, karena teman yang kupunya hanya kalian berdua, jadi aku harus menyiapkannya dengan sempurna”
Zeria mengeluarkan secarik kertas dari saku gaunnya dan membuka lipatannya. Terlihat gambar desain pakaian Eric dan Arin di atas kertas tersebut. Seperti yang Zeria bilang, hal itu sepesial ia lakukan untuk Arin dan Eric. “Wahh, bagus. Ternyata selera fashionmu tidak buruk tuh” Arin melambai lambaikan kertas itu dan mentap Zeria dengan tatapan kesal.
“Bukan aku yang pilih, tapi paman Zel. Aku hanya memilih warnanya saja”
“Syukurlah ternyata kau tidak mengkhianatiku” Arin memeluk Zeria erat erat dan mengusap usap kepalanya.
Eric menarik tangan Arin dan membawanya menjauh dari Zeria, “Jangan dekat dekat” Ucapnya.
“Apa apaan kau?”
“Ini adalah tugasku sebagai pengawal pribadi Zeria, aku harus menjauhkannya dari hama sepertimu”
Dan akhirnya mereka bertengkar lagi, padahal jika mereka bertengkar begitu hanya ada amarah Zeria diakhirnya nanti. Tapi, yah terserah mereka saja.
***
Seperti biasa Louise selalu menghabiskan waktunya diruang kerja, kali ini dirinya didampingi oleh Razel. William yang seharusnya membantu Louise, sekarang sedang menemani Azra. Karena sikap William yang agak bodoh dan kekanakan pasti akan membuat Azra lebih nyaman dibandingkan dengan Razel yang selalu serius.
“Zel, kapan aku boleh istirahat?” Louise menyeruput tehnya yang sudah mulai dingin.
“Sampai semuanya selesai, dan jangan pikir kau bisa kabur dengan mudah karena aku sudah memasang penghalang yang akan membakar semua hal yang berusaha keluar dengan paksa.” Razel melempar salah satu salah satu pena milik Louise ke luar jendela, dan benar saja pena tersebut langsung terbakar dan menjadi abu.
__ADS_1
Louise menelan ludah melihat kemampuan sihir Razel yang luar biasa itu, “Tapi bagaimana dengan orang yang hendak masuk atau keluar?”
“Tidak masalah. Penghalang ini hanya berlaku untuk manusia bernama Louise, tapi jika aku mengkehendakinya maka apapun benda ataupun orangnya pasti akan terbakar.”
“Kenapa kau sekejam ini padaku?”
“Anggap saja balas dendam, jika kau ingin mati maka silahkan saja coba untuk lari dari sini”
Mungkin bagi orang lain yang tidak mengenal Razel dan Louise dengan baik, pasti menganggap kalau prilaku Razel ini sebagai pemberontakan. Namun bagi mereka yang sudah mengenal Razel dengan baik, hal ini hanyalah sebuah candaan, sebuah candaan untuk balas dendam karena selalu memperlakukannya dengan seenaknya.
***
Disisi Sofia, dirinya sedang duduk di ruang tamu vila keluarganya sambil membaca surat. Surat tersebut adalah dari Vicent, adik laki lakinya. “Hmm, ternyata dia sudah sampai” Sofia meminum tehnya lalu pergi berjalan menaiki tangga menuju kamar ayahnya, Aron.
“Ayah, Vicent mengirim surat. Katanya dia sudah sampai sejak kemarin, ia juga bilang kalau ingin jalan jalan dulu jadi ia akan menginap di penginapan.”
“Begitukah? Padahal aku belum memberi tahunya kalau ia harus kesini, dia pasti datang dengan inisiatifnya sendiri, baguslah kalau begitu” Aron berjalan menuju jendela dan membuka jendela tersebut.
Sofia menatap langit melalui jendela yang baru saja terbuka, “Dan satu lagi, di suratnya tertulis begini 'kak, aku baru tahu ternyata kelopak bunga merah sangat cocok dengan warna coklat muda' Begitu. Apa maksud Vicent? Apa ayah tahu?” Sofia berjalan mendekati Aron dan menyodorkan suratnya.
Aron membaca surat itu dan tersenyum, “Entahlah, mungkin hal ini adalah hal yang akan sangat ia sukai selanjutnya” Aron merobek suratnya hingga menjadi potongan potongan kecil dan membuangnya ke luar jendela. Potongan potongan kertas itu terbang terbawa angin dingin dingin yang berhembus dengan kencang.
Sofia kebingungan dengan ucapan ayahnya, ‘hal yang sangat disukai’? sofia tidak ambil pusing untuk memikirkan maksud dari perkataan ayahnya, karena semua akan terjawab dengan sedirinya saat ia bertemu Vicent nanti.
__ADS_1
Festival, toko kue, buku, pertunangan, kelopak bunga dan gaun. Apapun itu, semua pasti akan terjawab dengan sendirinya jika waktunya sudah tiba.