
Setelah beberapa lama Lucas pergi, akhirnya Lucas kembali bersama seorang dokter untuk memeriksa Zeria. Dokter itu adalah dokter yang memeriksa anggota keluarga kaisar, dan juga dokter terbaik di kekaisaran.
"Keadaan Tuan Putri sudah sedikit membaik. Dan sekarang detak jantungnya sudah sedikit lebih normal" Ucap dokter tersebut.
"Hahh" Lucas menghela napas lega " Syukurlah kau baik baik saja, aku sangat takut bila terjadi sesuatu padamu" Lanjutnya.
"Aku baik baik saja" Ucap Zeria agar Lucas tidak khawatir lagi.
"Kau istirahatlah. Aku akan pergi agar kau bisa istirahat, dan kau. Kau juga keluarlah" Lucas menunjuk Eric.
"Tidak. Bialkan dia disini, aku tidak mau sendilian" Ucap Zeria, karena masih ada hal yang harus ia bicarakan dengan Eric.
"Kalau begitu, biar aku saja yang menemani mu" Lucas tidak suka jika adiknya di temani oleh anak laki laki yang bahkan belum akrab dengannya.
"Kakak harus pergi, kakak kan halus belajal" Zeria menasihati kakaknya agar ia tidak membolos sekaligus agar ia mau pergi.
"Hmm, baiklah. Aku pergi ya, dan kau jangan coba macam macam dengan adikku!" Lucas mengancam Eric, lalu pergi dengan wajah murung.
"Kakak seperti anak anjing yang di usir oleh majikannya. Lucu sekali" Pikir Zeria sambil tersenyum.
"Akhilnya kakak pelgi juga. Lalu kau, ada yang halus ku bicalakan denganmu" Ucap Zeria serius.
"Apa yang ingin anda bicarakan?" Eric kebingungan.
"Mulai sekalang, kau adalah pengawal plibadiku" Ucap Zeria tanpa berfikir dua kali.
"Hah? Tunggu, Zeria? Apa kau serius? Dengan tubuhnya yang masih anak anak ini, kau ingin dia jadi pengawalmu?" Arin langsung menyela kata kata Zeria.
"Tentu saja, mulai besok kau harus mengikuti pelatihan kesatlia. Kau ikut bellatih saja dengan kakakku, jam 6 pagi." Zeria bicara tanpa celah.
"Eehh? Saya mengikuti latihan para kesatria? Apa tidak apa apa?" Eric masih bingung dengan situasi ini.
__ADS_1
"Tentu saja, dan satu hal lagi. Jangan bicara menggunakan bahasa formal padaku" Zeria merasa terganggu jika ada orang yang bicara formal padanya.
"Tapi, anda kan majikan saja. Jadi saya harus bersikap hormat pada anda" Eric membantah ucapan Zeria.
"Sudah sepatutnya seorang bawahan bicara dengan bahasa formal pada atasannya Zeria. Apa kau masih tidak tau dimana posisimu?" Arin memberitahu Zeria bahwa ia adalah seorang atasan.
"Kalau begitu, kenapa kau bicala kulang ajal pada ku hah?" Zeria membuat Arin memakan ucapannya sendiri.
"Ehh, aku kan bukan bawahanmu. Aku adalah wadah untuk menyimpan kekuatanmu" Arin dengan bangganya bicara bahwa ia bukanlah bawahan Zeria.
"Hahh, telselah kau saja" Zeria mengalah.
"Tapi ngomong ngomong. Cara bicara Tuan Putri jelas sekali. Padahal tubuh anda baru berusia 1 tahun" Eric merasa aneh, padahal usia Zeria baru menginjak satu tahun, namun bagaimana bisa bicaranya sejelas itu.
"Hei, nak. Bukankah kau sudah tau siapa Zeria ini?" Arin menatap tajam pada Eric.
"Tentu saja, Tuan Putri adalah setengah manusia kan?" Eric bicara tanpa ada sedikitpun keraguan pada ucapannya.
"Benar sekali. Zeria adalah campuran dari manusia dan malaikat, oleh sebab itu pertumbuhannya lebih baik dari manusia pada umumnya" Arin menjelaskan pada Eric tentang kelebihan Zeria.
"Tidak masalah. Karena tanpa di beritahu pun, dia sudah mengetahuinya" Ucap Arin.
"Ohh, begitukah? Kalau begitu, yasudah" Rasa cemas Zeria hilang dalam sekejap.
"Tuan Putri adalah wanita paling manis yang pernah saya lihat" Wajah Eric berseri dan menatap Zeria dengan mata sendunya.
"E-ehhh?!! A-apa maksudmu?!" Wajah Zeria memerah dan bicaranya menjadi terbata bata dikarenakan gugup
"Ahaha! Wajah anda memerah Tuan Putri! Apakah anda merasa malu?" Eric menggoda Zeria, karena Zeria adalah orang yang lemah terhadap pujian. Karena dulu tidak pernah ada yang memujinya.
"Wahhh, aku baru tau kalau ternyata kau bisa membuat ekspresi seperti itu" Arin juga mulai ikut menggoda Zeria.
__ADS_1
"Aku mohon, kalian berdua berhentilah menggodaku" Wajah Zeria merah padam dan ia tidak sanggup menatap mata mereka berdua.
"Ah, maafkan saya Tuan Putri. Saya bersalah" Eric meminta maaf karena sudah menggoda Zeria, namun di wajahnya masih terlihat bahwa ia sedang menahan tawa.
"Ahh, sudahlah. Jika kalian ingin teltawa, maka silahkan" Zeria pasrah pada kenyataan bahwa ia merasa malu saat di puji.
"Ahaha, kau lucu sekali Zeria! Tapi ngomong ngomong, kenapa kau bilang bahwa Zeria adalah wanita paling manis yang pernah kau temui? Apakah kau tidak menganggap bahwa ibumu manis?" Arin menekan Eric sedikit.
"Tentu tidak! Karena aku tidak pernah melihat wajah ibu, karena ibu kan meninggal saat melahirkan ku!" Dengan kepercayaan diri penuh, Eric menjawab pertanyaan Arin.
"Wahh, gelap sekali kata katanya. Sungguh anak yang durhaka" Pikir Zeria.
Mereka melanjutkan percakapan. Saat hari sudah malam, semua kembali ke kamar mereka. Begitu pun dengan Eric, ia harus tidur cepat karena besok pagi ia harus latihan bersama para kesatria dan juga pangeran Lucas.
Pagi harinya, Lucas, Eric dan para kesatria istana berlatih di bagian belakang istana. Kemampuan berpedang Eric hampir menandingi kepala pasuka kesatria, padahal ini adalah latihan pertamanya.
"Lumayan Juga kau nak, padahal ini adalah latihan pertamamu. Namun kau sudah melakukannya dengan baik!" Ucap kepala pasukan untuk memuji Eric.
"Terima kasih ketua, saya akan berlatih lebih keras lagi!" Jawab Eric dengan semangat.
Lucas hanya bisa memandangi mereka dari kejauhan, karena kemampuan berpedang Lucas sangat baik, jadi area yang di gunakan oleh Lucas sedikit di beri jarak dari area latihan umum. Lucas melihat kemampuan Eric dan merasa bahwa dirinya mempunyai rival yang bagus.
#Di sisi Zeria
"Aku bosan" Wajah Zeria cemberut karena ia tidak diperbolehkan pergi keluar kamar untuk sementara waktu oleh Louise.
"Bersabarlah. Baru saja aku melihat anak itu latihan dengan para kesatria, dan ternyata ia adalah anak yang cepat mengerti. Kemampuan berpedangnya termasuk kedalam kategori luar biasa di antara anak lain yang pertama kali latihan." Ucap Arin yang baru saja kembali dari tempat latihan.
"Ehh? Sungguh? Padahal dia kelihatan tidak mempunyai bakat dalam berpedang" Zeria menjawab perkataan Arin, namun ia melihat ke arah lain. Karena ia amat sangat bosan.
"Yah, mungkin karena ia mengayunkan pedang dengan keteguhan hatinya yang ingin melindungi orang yang berharga baginya" Arin bicara dengan suara yang sangat pelan.
__ADS_1
"Eh?Apa? Aku tidak dengal" Zeria yang tidak mendengar perkataan Arin itu merasa kebingungan.
"Bukan apa apa" Arin mengalihkan pembicaraan. Ia berfikir, Zeria ini sebenarnya tidak peka atau bodoh?