Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 33


__ADS_3

“TOLONG!!” Teriak seorang anak laki laki yang bergelantung di ujung tebing, yang di dasarnya sudah dipenuhi dengan api yang berkobar dengan hebat.


“ADIK!! PEGANG TANGAN KAKAK, CEPAT!” Dengan insting seorang kakak, anak perempun ini menjulurkan tangannya. Kemungkinan keduanya selamat hanyalah 10%.


“Kakak?” Anak laki laki laki tersebut meraih tangan kakak perempuannya.


“Ukkhh!” Sang kakak menarik adik laki lakinya sekuat tenaga, namun karena beban yang ia tarik beratnya hampir sama dengan berat dirinya, ia kesulitan menarik adiknya. “Ricki” Ucap anak perempuan ini memanggil nama adiknya.


“Ya?”


“Dengarkan aku. Di hitungan ketiga, buatlah dorongan dari sisi tebing ini, dengan begitu aku akan lebih mudah menarikmu.”


Ricki menganggukkan kepalanya dan mulai berayun. “satu…Dua…TIGA!” Anak perempuan ini melemparkan adiknya ke arah belakang sekuat tenaga, dan untuk melakukan ini, ia mengorbankan dirinya sendiri dan jatuh ke dasar tebing yang sudah dipenuhi api.


“KAKAK!” Kakak perempuannya sudah tidak terlihat lagi, dan api di dasar tebing semakin membesar. “KAK, KAKAK!!”


Anak laki laki itu menangis di tepi tebing sejadi jadinya, dibawah langit yang perlahan menurunkan air. Ricki, menangis dibawah hujan deras yang perlahan memadamkan api di dasar tebing.


“HAH! Uhuk uhuk!” Dan akhirnya, Zeria terbangun dari mimpinya itu, “Tadi itu, aku? Aku mati…Terbakar?” Pikirnya. Rasa sakit yang ia rasakan dalam mimpinya tadi terasa sangat nyata.


“Zeria? Kau kenapa?” Tanya Arin yang segera menghampirinya setelah Zeria tiba tiba terbangun. Ini tengah malam, dan hanya ada Arin yang ada di dekatnya.


Zeria masih mencoba mengatur napasnya yang tidak berturan itu. Dadanya terasa sakit, jantungnya berdetak kencang, tenggorokannya seperti terbakar “Sakit” Rintihnya dengan pelan, dan perlahan air matanya mulai jatuh.


“Zeria?”Arin tidak percaya saat melihat air mata Zeria jatuh. Biasanya sesakit apapun rasa sakit yang ia rasakan, Zeria akan menahannya. Namun saat ini, ia menangis, itu berarti rasa sakit yang ia rasakan saat ini tidak bisa ia tahan. “Coba tarik nafasmu perlahan” Arin menepuk nepuk punggung Zeria dengan perlahan.


“Ukkh! Arin…sakit” Air matanya terus mengalir, Zeria mencengkram baju Arin dengan kuat. Meski begitu, Zeria masih mencoba menahannya.


Arin yang sedang panik benar benar tidak bisa berfikir dengan jernih. Entah karena firasat atau apapun itu, di tengah malalm yang sunyi itu, Louise tiba tiba datang kekamar Zeria dengan masih memakai baju tidurnya. Dilihat dari wajahnya, sepertinya Louise merasakan hal tidak enak yanag berhubungan dengan Zeria, dan akhirnya datang untuk memastikan.


“Zeria?” Louise mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka, dan ia melihat Arin yang sedang memeluk Zeria. “Kau, apa yang kau lakukan disini?” Louise berjalan memasuki kamar dengan perlahan.


Arin menatap Louise dengan tatapan menahan tangis, “Baginda” Ucapnya dengan suara yang bergetar.


Melihat Arin yang sebegitu khawatirnya, mata Louise langsung tertuju pada Zeria yang berada dalam pelukannya. “Zeria! Nak, kau kenapa?” Louise seketika panik melihat Zeria yang menangis di pelukan Arin.

__ADS_1


“Ayah…sakit” Rintih Zeria. Tangan kananya masih mencengkram gaun Arin dengan kuat, dan tangan kirinya memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.


“Nak, tenang. Atur nafasmu terlebih dahulu, tarik lewat hidung dan keluarkan lewat mulut” Louise memindahkan Zeria ke dalam pelukannya, namun tangan Zeria masih tetap memegangi gaun Arin. “Jangan tergesa gesa” Louise mengusap usap kepala Zeria dengan lembut agar dia lebih tenang.


Arin merasa tidak tega melihat kondisi Zeria saat ini, rasanya ia ingin menangis jika melihatnya. Namun Arin terus menahan air matanya agar tidak jatuh. “Bagaimana ini? Zeria, jangan menangis kumohon” Arin mencoba menenangkan Zeria lewat pikirannya.


“Nak, dengar ayah. Rasa sakit yang kau rasakan saat ini bukanlah hal yang berbahaya, kau hanya terkejut dan syok. Tenanglah, jika kamu sudah lebih tenang maka rasa sakitnya akan berkurang.” Louise mulai menepuk nepuk punggung Zeria dengan perlahan agar Zeria lebih relax.


Arin memegang dan mengelus elus punggung tangan Zeria untuk membuatnya lebih tenang. Secara perlahan, Zeria melakukan apa yang disuruh oleh ayahnya itu. Zeria menarik napasnya dalam dalam, dan menghembuskannya dengan perlahan. Sedikit demi sedikit rasa sakit yang ia rasakan mulai berkurang dan sudah tidak sesakit tadi. “Bagaimana? Masih sakit?” Tanya Louise dengan ekspresi wajah yang sangat khawatir.


Zeria perlahan menengok ke arah Louise, dan menggelangkan kepalanya, “Tidak, sudah lebih baik” Jawabnya dengan suara pelan.


Louise sangat bahagia melihat Zeria yang sudah mandiri dan tidak banyak mengeluh di usianya yang masih tujuh tahun ini. Namun Louise berharap, kalau lebih baik Zeria benyak mengeluh, meminta hal yang ia inginkan dan bersikap manja seperti anak pada usianya. “Nak, maafkan ayah karena kamu terlahir dengan tubuh yang sangat lemah seperti ini” Louise memeluknya dengan erat.


Arin yang peka dengan keadaan, secara inisiatif pergi meninggalkan mereka berdua “Aku akan mendengarkan dari luar” Arin tersenyum.


“Oke”


Dengan kadaan masih memeluk Zeria, Louise mulai bicara “Nak, kau benar sudah tidak apa apa?” Tanya Louise sekali lagi.


Louise terdiam sejenak “Emm? Ayah juga tidak tau. Mungkin, firasat seorang ayah?” Louise tersenyum dengan meletakkan jari telunjuknya di pipi Zeria.


Zeria sedikit terkejut mendengar jawaban dari Louise dan akhirnya malah tertawa, “Ahahaha, apa apaan itu ayah?” Zeria tertawa terbahak bahak karena jawaban yang diucapkan oleh Louise sungguh tidak terduga.


“Zeria tertawa? Jarang sekali dia tertawa hingga seperti ini.” Pikir Arin, “Yah, mungkin semuanya akan baik baik saja” Arin pergi dari depan pintu kamar Zeria dan pergi entah kemana.


Melihat Zeria yang tertawa dengan lepas seperti itu, membuat Louise bahagia, “Untunglah ternyata Zeria masih bisa tertawa” PIkirnya.


Zeria mulai mengatur napasnya kembali, karena ini sudah saatnya untuk berhenti tertawa, “Ahh, ternyata tertawa bisa membuat lelah ya?” Zeria mengusap air matanya yang jatuh akibat tertawa. “Hah, jadi ayah, ada yang ingin kutanyakan. Rasa sakit yang kurasakan di jantungku tadi itu karena apa?” Zeria membuka perbincangan ke arah yang lebih serius.


“Sepertinya ayah tidak punya pilihan lain selain menjawabnya ya?” Louise menghela napas dan menundukkan kepalanya. “Zeria, tubuhmu itu jauh lebih lemah dibandingkan orang lain. Apalagi jantungmu, walaupun ada sihir malaikat yang selalu melindungi jantungmu, namun jantungmu itu lemah. Rasa sakit yang kau rasakan tadi itu biasanya disebabkan karena syok berat atau trauma yang sangat. Sebenarnya apa yang terjadi hingga kau seperti itu tadi?” Louise menjelaskan dengan baik dan mudah. Namun pertanyaan yang dilontarkan Louise di akhir penjelasannya membuat Zeria terkejut.


Pertanyaan dari Louise membuatnya teringat lagi tentang mimpinya tadi. Zeria terdiam sejenak dan untuk mengendalikan emosinya yang sangat tidak stabil itu. “Emm, aku hanya melihat seseorang mati. Hanya itu saja” Jawab Zeria dengan tersenyum agar Louise tidak curiga.


“Seseorang? Apa sebabnya dia mati?”

__ADS_1


“Terbakar?” Zeria tidak yakin apakah tadi dirinya mati terbakar atau bahkan mati sebelum terbakar.


Louise sedikit terkejut, namun ia tidak menunjukkannya. “Zeria, jika mimpi tadi itu adalah hal yang mengerikan untukmu, maka lupakanlah. Atau kau ingin agar ayah menghapus semua ingatan mengerikan itu?” Louise sangat khawatir apabila ingatan ingatan mengerikan itu malah akan mengganggu kesehatan mental Zeria untuk kedepannya.


“Eh? Memangnnya bisa?” Tanya Zeria dengan wajah polosnya, seakan akan tidak tau apapun.


“Tentu saja bisa. Walaupun akan menguras hampir semua mana yang ayah miliki, tapi jika untuk kebaikanmu, ayah akan lakukan apa saja” Louise mengecup kening Zeria dan membaringkannya.


“Emm, tapi sepertinya aku tidak butuh. Karena aku sudah tidak takut” Tangan kecil Zeria itu, menggenggam jari telunjuk Louise yang besar.


Louise tersenyum, karena mau semandiri apapun putrinya, ia pasti masih membutuhkan sosok seorang ayah. “Baiklah jika itu yang kau inginkan. Sekarang tidurlah lagi, selamat malam putri ayah yang cantik. Dan maafkan ayah karena kamu lahir dengan tubuh yang sangat lemah” Louise mengecup kening Zeria lagi dan menarik selimutnya.


“Hehe, itu kan bukan salah ayah. Selamat malam ayah” Zeria memejamkan matanya dengan masih memegang jari Louise. Dan Louise tetap berada disamping Zeria hingga ia tertidur.


#Pagi Hari Di Kamar Zeria


Jam tujuh pagi, biasanya di jam segini hanya ada Eric dan Arin saja. Sedangkan Lucas dan Azra biasanya datang jam Sembilan.


Seperti biasa, mereka berkumpul membicarakn suatu masalah “Hei, kalian berdua” Tegur Zeria.


“Ya?” Jawab Arin dan Eric secara bersamaan.


“semalam aku bermimpi menjadi seorang kakak perempuan” Ucap Zeria seperti malu malu.


Mendengar hal itu, sontak Arin dan Eric terkejut. Namun reaksi mereka berdua sangatlah berkebalikan, Arin menunjukkan reaksi senang dan siap menjahili Zeria, namun Eric malah kelihatan panik dan takut. “Wah, apa ini? Zeria yang hanya mementingkan buku, menjadi seorang kakak?” Goda Arin.


“Tunggu dulu, aku belum selesai bicara. Aku memang menjadi kakak perempuan yang punya adik laki laki, namanya ‘Ricki’?” Zeria berusaha mengingat ingat semua kejadian yang ia alami dalam mimpi itu.


“Hmm, namanya cukup bagus. Apakah dia cukup tampan?” Tanya Arin dengn wajah serius untuk menggoda Zeria.


Zeria yang sedang berfikir dengan serius malam masuk kedalam godaan Arin, “Yah, Lumayan…Eh? TUNGGU, ARIN!” Zeria merasa bodoh karena terpancing dengan ucapan Arin.


Arin tertawa terbahak bahak karena ternyata Zeria bisa masuk kedalam jebakannya dengan mudah, “Sudahlah, intinya aku mennjadi seorang kakak. Tapi sepertinya aku mati karena terbakar” Zeria menceritakan semua hal yang ia ingat. “Apa kalian tau apa maksudnya? Karena dulu juga aku pernah bermimpi seperti ini”.


“Entahlah, aku tidak tau apapun” Jawab Arin.

__ADS_1


“Sepertinya…aku tau sesuatu” Eric mulai bicara setelah beberapa lama terdiam. “Zeria, kau ingat anak laki laki yang hendak menolongmu saat kau terjatuh dari gedung sekolah, di kehidupanmu sebelumnya kan? Anak laki laki itu...”


__ADS_2