Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Takut


__ADS_3

Aswin terdiam tanpa menatap wajah Zeria, ia bahkan menutupi wajahnya sendiri dengan tangannya. "Dia malu?" Pikirnya.


Zeria berusaha meraih tangan Aswin dan melihat wajahnya, namun tiba tiba saja Lucas muncul datang meraih tangan Zeria. "Kenapa kau disini?" Lucas menarik Zeria menjauh dari Aswin.


Aswin yang mendengar suara Lucas, refleks langsung menatap ke arahnya dengan terkejut. Wajah Lucas terlihat marah, dia juga seperti akan segera melenyapkannya. Aswin berdiri dengan perlahan sambil mengangkat kedua tangannya. "Saya tidak melakukan apapun" Ia bicara sopan pada Lucas yang sudah jelas kalau posisinya lebih tinggi dari dirinya.


Tatapan Lucas tak lepas dari Aswin, "Dia sangat marah" Insting Aswin yang berkata begitu. Sudah banyak orang berbahaya yang pernah ia temui, namun dari semua orang itu, Lucas yang saat ini ada di hadapannya terasa sangat jauh lebih berbahaya daripada orang orang yang pernah ia temui.


Zeria yang merasa kalau keadaan sedang tidak baik baik saja, langsung menarik Lucas ke arah pintu dan menjauh dari Aswin. "Kita akan makan siang kan kak? Kalau begitu ayo berangkat, ayah pasti sedang menunggu" Zeria berusaha mengalihkan perhatian Lucas.


Semua terdiam, dengan Aswin yang perlahan mulai menjauh dan Lucas mulai teralihkan perhatiannya. Zeria merangkul tangan Lucas dan menariknya keluar dari pintu, ia menatap Aswin sebelum pergi dan memberi kode padanya untuk tetap diam.


Akhirnya Lucas dan Zeria keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan. Sepanjang perjalanan, Lucas hanya diam tanpa bicara, tidak seperti dirinya yang biasanya banyak bicara.


"Kakak, apa kakak marah?"


Lucas menghentikan langkahnya dan menatap Zeria yang masih merangkul tangannya. "Tidak, kakak tidak marah padamu." Lucas meletakkan tangan kirinya di atas kepala Zeria dan mengusapnya.


Kepalanya terasa hangat karena usapan dari Lucas. Tiba tiba angin berhembus dengan kencang dan menerbangkan rambutnya yang pendek, angin yang terasa berbeda dari biasanya. Dengan beberapa kelopak bunga yang berterbangan.


"Tunggu, kelopak bunga?" Saat Zeria kembali memperhatikan sekitar, kelopak bunganya sudah tidak ada. "Halusinasi?"


"Kak, apa tadi kakak lihat ada kelopak bunga yang berterbangan terbawa angin?" Tanya Zeria sambil sesekali memperhatikan sekitarnya.


"Tidak" Jawabnya dengan singkat.


Tanpa harus melibatkan Lucas, akhirnya Zeria memutuskan untuk melupakannya. Dan kembali berjalan menuju ruang makan.

__ADS_1


***


"Kenapa kalian lama sekali?" Tanya Louise yang sejak tadi sudah menunggu kehadiran mereka berdua. Tatapannya seperti mempertanyakan banyak hal, tetapi ia tetap menyuruh Zeria dan Lucas untuk duduk dahulu.


Disaat makanan sudah disajikan dan mereka mulai menyantapnya, sekali lagi Louise melemparkan pertanyaan pada mereka berdua. "Kenapa kalian terlambat?".


"Maaf" Zeria meletakkan alat makannya dan menundukkan kepalanya.


"Ayah tidak menyuruhmu minta maaf, Zeria" Louise juga meletakkan alat makannya dan tatapannya melembut.


"Ada pengganggu" Celetus Lucas sambil memotong daging steak yang ada di hadapannya.


Louise menatap Lucas dengan terkejut, siapa 'pengganggu' yang dimaksud oleh Lucas? Siapa orang yang berani beraninya menganggu putri Kaisar satu satunya?


"Jangan bilang..."


"Sudah kuduga" Louise meletakkan tangannya di wajah, seolah ia sangat kesal. "Aku sudah curiga karena tadi aku tidak melihat putranya si tua itu, tapi ternyata dia malah menemui Zeria" Lagi lagi Louise mengela napas berat.


Ruang makan kembali sunyi, tak ada satupun dari mereka yang berbicara sampai makanan yang ada di hadapan mereka tersantap habis.


Sampai disaat Lucas meminum minumannya, akhirnya Louise angkat bicara kembali dalam mode yang lebih serius. "Kalian berdua, tolong dengarkan ayah" Louise menyatukan tangannya dan meletakkannya di atas meja.


Atmosfernya berubah, suasana menjadi sangat serius dan sedikit mencekam. "Ini mungkin baru perkiraan, tapi mungkin saja kita harus bersiap untuk berperang" Ucap Louise dengan wajah serius dan dinginnya.


"Ber..perang?" Zeria tercengang mendengar perkataan Louise.


Ia memang sudah diberi tahu kalau mungkin saja Kerajaan Lilua akan memberontak, tapi ia tak menyangka kalau akan secepat ini. Berkebalikan dengan Zeria yang terkejut, Lucas terlihat biasa saja, bahkan ia masih terlihat sangat tenang sambil meneguk air minumnya.

__ADS_1


Perang adalah hal besar yang terjadi disaat kedua belah pihak saling merebut wilayah kekuasaan atau salah satunya berkhianat.


Ada empat kerajaan yang ada di kekaisaran Arendelle. Kerajaan Clariness yang berada di sebelah utara, satu satunya kerajaan yang menyerahkan segalanya pada pihak Kaisar. Kerajaan Akasha yang berada di sebelah selatan, Kerajaan yang sudah hancur akibat membahayakan sang putri kaisar, sebagian besar penduduknya di ungsikan ke Kerajaan Clariness. Kerajaan Lilua yang berada di sebelah barat, Kerajaan yang diduga sedang merencanakan pemberontakan secara besar besaran. Dan kerajaan Rioner yang berada di sebelah timur, satu satunya Kerajaan di kekaisaran yang sangat tertutup dan terkenal netral.


"Bagaimana jika ternyata kerajaan Rioner bekerja sama dengan Lilua?" Hal itu tiba tiba saja terpikirkan di kepala Zeria.


Louise belum pernah memikirkan hal itu, ia tak pernah satu kali pun mencurigai Kerajaan Rioner. Walaupun Kerajaan Rioner terkenal netral, namun masih ada kemungkinan kalau ia akan bekerja sama dengan kerajaan Lilua.


Rioner, kerajaan yang tak pernah meminta bantuan dari tempat lain. Semua sudah tersedia di kerajaan itu, tak ada lagi yang mereka butuhkan dari tempat lain. Terkenal sebagai kerajaan yang netral dan tertutup, karena sang Raja yang meninggal di usia yang sudah tak muda, dan sang anak menggantikannya sebagai raja di usia yang masih sangat muda. Anggota keluarga kerajaan Rioner biasanya berwarna rambut silver terang dan berkilau.


"Ada kemungkinan, kalau begitu ayah akan meminta William untuk menyelidiki kerajaan Rioner"


Jika mereka memang berniat memulai perang, maka ada hal yang sudah bisa dipastikan. Jika mereka menang, maka mereka akan membantai seluruh keluarga kekaisaran, tapi jika keluarga kekaisaran yang menang maka keluarga kekaisaran tak akan membantai orang orang tak bersalah dan menguhukum para raja saja.


"Ayo pergi, serahkan saja pada ayah" Lucas meraih tangan Zeria dan mengajaknya untuk pergi. Karena di usia Zeria yang masih limabelas tahun, tak pantas untuknya membicarakan tentang perang.


"Iya benar. Serahkan sisanya pada ayah, kau hanya perlu bersenang senang" Louise berjalan mendekati Zeria dan menyentuh wajahnya dengan lembut. "Percayakan saja pada ayahmu ini, ayah pasti akan melindungimu walaupun ayah harus menyerahkan seluruh kekaisaran ini, atau bahkan nyawa ayah" Setelah berkata begitu, Louise lalu pergi keluar dan menghilang begitu saja.


Suasana hati Zeria tiba tiba menjadi kacau, rasanya campur aduk. "Kak" Zeria menarik lengan baju Lucas dengan nada suara yang sedikit lebih pelam dibandingkan biasanya.


"Ada apa?"


"Apa ini akan baik baik saja?"


Lucas menggelengkan kepalanya, "Kakak tidak ingin membohongimu, tapi mungkin ini akan sedikit kacau" Ucapnya.


Rasa takut, yang sedang dirasakannya adalah rasa takut. Takut akan kehilangan seseorang yang berharga baginya, takut kalau hal itu terulang lagi. Takut kalau dirinya akan ditinggalkan. Tanpa disadarinya, ternyata kematian Arin delapan tahun lalu meninggalkan luka yang sangat dalam di hati Zeria.

__ADS_1


__ADS_2