
“Elic?” Zeria menatap Eric karena dia tidak percaya dengan kejadian yang baru saja dilihatnya, dengan mata nya sendiri.
Di dekat Eric yang sedang berdiri di dekat jendela itu, terjadilah sebuah ledakan yang lumayan besar hingga menghancurkan tembok. Eric yang saat itu berada di dekat jendela pun, terlampar hingga ke sofa tengah dan menghantam meja. Tubuhnya penuh luka dan darah, namun kesadarannya masih ada.
“TUAN PUTRI!” Reina langsung berlari memeluk Zeria sesaat setelah ledakan itu terjadi dan Eric terlempar hingga meja tengah. “ANDA BAIK BAIK SAJA?!” Wajah Reina terlihat panik. Tubuh Zeria terkena pecahan puing puing bangunan yang terlempar karena ledakan barusan, namun tidak ada luka serius. Tapi sepertinya, Zeria tidak menyadari bahwa tubuhnya terluka karena sangking terkejutnya.
“Elic?” Zeria masih tidak percaya dengan yang dilihatnya. Wajah nya terlihat sangat takut, ia tidak mau melihat ada orang yang mati lagi karena dirinya. Tetapi entah kenapa, kesadaran Zeria juga lama kelamaan mulai menghilang, seperti terkena efek dari sesuatu. Zeria melihat kearah Eric yang berlumuran darah, dengan pandangannya yang mulai pudar, dia melihat senyuman asing di wajah Eric. “Eh?” Zeria melihat gelas susu yang dipegangnya dengan tangan bergetar dan langsung kehilangan kesadarannya.
“TUAN PUTRI?!” Reina dibuat tambah panik karena Zeria tidak sadarkan diri. “Kau!” Reina menatap Eric dengan penuh amarah, dan Eric membalasnya dengan senyuman.
“Hei bocah, apa yang masukkan ke minuman Zeria?” Arin muncul tepat saat Reina mengangkat Zeria pergi, dan memanggil pengawal.
“Entahlah?” Eric ,masih tersenyum seperti tadi. “Gagal” Pikir Eric, lalu ia kehilangan kesadarannya juga.
Zeria tak sadarkan diri selama beberapa jam saja, dan untuk keadaan Eric tentu saja dia sangat tidak baik baik saja. Semua orang yang dekat dengan Zeria merasa ada sesuatu yang salah, belakangan ini Zeria selalu terlibat dengan suatu kejadian dan sebagian besar kejadian itu hampir membahayakannya.
“Ada seorang pengkhianat” Lucas angkat suara dengan hal yang terjadi pada Zeria.
Louise merespon omongan Lucas dengan sigap, karena prinsipnya adalah tidak membawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan.”Benar, dan yang pasti orang itu adalah orang yang tau semua hal tentang Zeria.” Louise memberikan kesimpulannya, “Apakah anak itu?” Louise mengerutkan ujung alisnya dan meletakkan tangannya di dagu.
“Eric?” Lucas memastikan perkataan Louise dengan cepat.
“Ya, karena bahkan kita tidak tau dari mana asal usulnya. Dia tiba tiba masuk dan menjadi pengawal Zeria”Louise masih mencoba mencari hal mencurigakan yang ada pada Eric.
“Baginda, anda tidak bisa menyimpulkan hal itu tanpa bukti apapun” Razel pun mulai angkat suara, karena hal yang mereka bicarakan sudah mulai melenceng.
__ADS_1
Louise melirik Razel, karena adanya perbedaan pendapat antara dia dan Razel. “Ya, aku tau. Aku hanya mengatakan pendapatku, aku tidak akan mungkin menyimpulkan sesuatu tanpa bukti.” Louise menggaruk kepalanya.
“Sepertinya bukan Eric yang melakukannya” Lucas ikut mengutarakan pendapatnya juga tanpa ragu.
“Bagaimana kau bisa menyimpulkan hal itu?” Louise menatap Lucas dengan dalam agar tidak ada kebohongan yang ia katakan.
“Karena aku percaya pada penilaian Zeria, bagaimana mungkin aku bilang begitu?” Pikir Eric. “Jika dia memang berniat untuk membunuh Zeria, maka dia bisa melakukannya saat Zeria sedang lengah. Contohnya saat ia tidur, ataupun saat saat yang lain. Kenapa dia harus membuat alibi ledakan, dan melukai dirinya sendiri?” Lucas percaya pada Eric karena dia percaya pada penilaian Zeria, bahwa membawa Eric kemari bukanlah hal yang merugikan untuknya, dan malah jusrtu menguntungkannya.
“Begitukah? Tapi di cangkir susu Zeria saat itu terdapat sedikit sihir, seluruh pelayan di istana ini hanyalah orang biasa. Dan yang saat itu ada di kamar Zeria hanya Reina dan anak itu” Louise dan Lucas beradu pendapat yang saling bertolak belakang.
“Kalau begitu, kenapa kita tidak mencoba mencari tau tentang Reina juga?” Saling beradu pendapat, tanpa celah sedikitpun. Lucas juga berjuang untuk terus membela Eric karena rasa percayanya pada Zeria.
“Sudah ku bilang, seluruh pelayan di istana hanyalah orang biasa tanpa mempunyai bakat sihir” Louise masih membalas perkataan Lucas dengan kata kata yang hampir tidak bisa di bantah.
“Apa maksud-“ Louise berhenti bacara dan mulai mencerna perkataan Lucas barusan.
“Baginda, apa yang di katakan Pangeran benar. Reina bukanlah pelayan istana, melainkan dayang pribadi Tuan Putri sekaligus ibu asuhnya” Razel yang sejak tadi tidak bisa masuk ke dalam pembicaraan mereka berdua, akhirnya menemukan celah dan mulai mengatakan pendapatnya.
“Benar, dayang pribadi keluarga kekaisaran hanya bisa di isi oleh keluarga bangsawan. Dan semua bangsawan pasti memiliki bakat dalam sihir” Argumen Lucas benar benar ketat tanpa celah dan hal itu membuat Louise terdiam.
“Hah, baiklah. Selidiki latar belakang mereka berdua tanpa ada yang terlewat.” Louise menghela napas karena benar benar kalah telak dalam beradu pendapat dengan Lucas.
“Baik” Razel langsung pergi untuk menyampaikan pesan dari Louise kepada William. Ngomong ngomong, William saat ini sedang ada di tempat kejadian untuk menyelidiki penyebab ledakan tersebut bersama dengan penyihir dari menara sihir Razel. Zeria beristirahat di kamar lain di istananya, sedangkan Eric masih belum sadar dan berada di kamar yang tidak jauh dari kamar Zeria.
“Kenapa kau membelanya?” Louise menanyakan alasan kenapa Lucas membela Eric sampai begitunya.
__ADS_1
“Karena kalau memang dia ingin menyakiti Zeria menggunakan sihir yang dia letakan dalam gelas, seharusnya dia menggunakan sihir yang bisa langsung membunuh Zeria. Tapi yang dia lakukan ternyata hanya membuat Zeria pingsan saja tanpa menyakitinya.” Kesimpulan yang sangat masuk akal, Lucas langsung pergi setelah membuat Louise kehabisan kata kata.
Zeria hanya menerima luka ringan saja dari kejadian tersebut, namun yang membuat Zeria penasaran adalah penyebab dan tujuan dari ledakan itu. Dan juga kenapa Eric memberikan sihir yang bisa membuat pingsan selama beberapa menit.
“Zeria?” Lucas masuk ke kamar Zeria, dan melihat Zeria sedang mebaca buku bergambar dengan didampingi oleh Reina.
“Ya?” Tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang di jawabnya, Zeria menjawab panggilan dari Lucas.
“Bagaimana keadaan mu?” Lucas mengelus tangan kanan Zeria dengan lembut, tepat dimana lukanya berada. Dan memastikan kalau lukanya baik baik saja.
“Sangat baik” Zeria sama sekali tidak menghiraukan telapak tangan Lucas yang mengusap lengan kanannya, dan terus membaca buku yang sedang dibacanya.
“Benarkah?” Lucas mengusap kepala Zeria dan mengotak atik rambutnya. “Reina, apakah Zeria makan dengan benar?” Lucas bertanya pada Reina yang saat itu tepat berda di samping tempat tidur.
“Iya Pangeran, Tuan Putri makan seperti biasanya tanpa menyisakan makanannya.” Jawab Reina.
Lucas adalah orang sangat mencurigai Reina atas kejadian ledakan tersebut, sebenarnya Lucas ingin memberitahu Zeria kalau dia mencurigai Reina. Tapi dia takut kalau Zeria akan marah, karena Zeria sangat menyayangi Reina. “Hm, Baguslah kalau begitu” Lucas mengucir rambut Zeria dengan baik, dan memasangkan sebuah pita.
“Kak” Zeria menutup bukunya dan memalingkan pandangannya kearah Lucas, “Bagaimana keadaannya?” Tatapan mata Zeria penuh dengan pertanyaan, dan ternyata hal pertama yang ia tanyakan adalah keadaan Eric.
Lucas menggelengkan kepalanya, isyarat bahwa Eric masih belum sadar. “Begitu ya?” Wajah Zeria terlihat murung.
“Tenang saja, dia pasti akan segera sadar” Lucas memeluk Zeria tanpa menghilangkan rasa waspadanya pada Reina. Karena musuh bisa menyerang kapan saja di saat kita sedang lengah.
“Iya”.
__ADS_1