
Sudah 4 hari berlalu sejak kejadian itu, dan Eric masih belum sadarkan diri. Penyelidikan masih terus dilakukan dengan teliti, dengan William sebagai ketua penyelidiknya. Namun sejak hari itu, Zeria selalu mengalami mimpi buruk tanpa henti. Zeria tidak memberi tahu kepada siapapun tentang mimpi buruknya, kecuali pada Arin.
Zeria tertidur dengan lelap, namun seperti biasanya dia bermimpi buruk lagi. “Hah hah hah” Zeria terbangun dengan napasnya yang terengah engah.
“Mimpi buruk lagi?” Arin sudah menduga kalau malam ini Zeria akan terbangun lagi karena mimpi buruk yang menghantuinya.
“Ya” Zeria menutup salah satu matanya dengan telapak tangannya.
Arin menampakkan dirinya dan mencoba menenangkan Zeria. Arin duduk di sebelah Zeria dan memegang tangannya, “Kali ini apa lagi?” Suara Arin terasa sangat hangat dan lembut, tidak seperti dirinya yang bisanya.
“Dia, diracuni” Jawab Zeria dengan suaranya yang bergetar ketakutan. “Sebenarnya ada apa ini?” Zeria menggengam erat tangan Arin.
Arin merasa bahwa apa yang sebenanya dilihat oleh Zeria adalah hal yang benar benar menakutkan, karena ini pertama kalinya ia melihat Zeria sangat ketakutan. “Masih wanita?” Tanya Arin dengan lembut, entah mengapa rasanya Zeria seperti sebuah kaca yang sewaktu waktu bisa saja akan pecah jika dia tidak bicara dengan lembut.
“Iya” Di mata Zeria terlihat air mata yang sudah meggenang dan hampir jatuh, wajahnya sangat pucat seperti benar benar syok.
“Menangislah, tidak baik menahannya” Arin memeluk Zeria dengan pelan, dan mengusap kepalanya. Zeria yang sudah tidak bisa menahan tangisnya, langsung menangis di pelukan Arin tanpa mengeuarkan suara. Hingga sampai Zeria kelelahan dan akhirnya tertidur lagi.
“Sudah tidur ternyata.” Arin melihat wajah Zeria dan memastikannya sudah tidur dan menidurkannya kembali dengan lembut agar dia tidak terbangun. “Ini sudah hari ke-4 dia seperti itu. Hari pertama dia benar benar menangis dengan kencang sangking terkejutnya, lalu hari hari setelahnya dia mulai terbiasa dan tidak menangis dengan keras lagi ataupun berteriak. Entah apa yang di mimpikannya, tetapi dia bilang kalau yang di mimpikannya adalah kematian kematian gadis remaja dengan cara yang berbeda beda dan orang yang berbeda. Dan hari ini seorang gadis yang mati di racuni. Sebenarnya apa maksud dari mimpi itu?” Arin benar benar khawatir dengan keadaan Zeria yang selalu terbangun karena mimpi buruknya, namun dia tidak ingin memberi tau orang lain karena tidak ingin menambah kekhawatiran mereka.
Pagi hari itu sama seperti bisanya, Reina membawakan sarapan untuk Zeria ke kamar, Lucas yang datang dengan membawa beberapa buku, dan Louise yang selalu datang dengan membawa hal hal baru.
“Pagi” Sapa Lucas dengan wajah dinginnya.
“Pagi” Jawab Zeria yang sedang menyantap sarapannya, dan Reina hanya menundukkan kepalanya tanda bahwa ia memberi hormat pada Lucas.
“Reina, bisa tolong ambilkan buku sejarah di perpustakaan? Jilid 3 dan 4.” Lucas meminta Reina mengambilkan buku yang ada di perpustakan istananya.
“Baik, Putri saya letakkan minumnya disini saja?” Reina memegang gelas air minum Zeria dan meletakkannya di meja.
“Iya” Jawab Zeria, dan Reina meninggalkan kamar untuk melaksanakan perintah Lucas.
Seperti biasanya, Lucas menarik kursi yang ada di meja belajar untuk di dekatkan dengan tempat tidur Zeria. Biasanya mereka hanya membicarakan hal hal yang menyenangkan untuk membuat Zeria lupa dengan kejadian hari itu.
__ADS_1
“Kau sudah bisa makan sendiri rupanya. Tanganmu bagaimana?” Tanya Lucas.
Zeria melihat tangan kanannya dan mengayunkannya dengan cepat “Sangat baik! Lihat!”. Zeria dengan sangat percaya diri mengatakan hal itu, tingkahnya yang seperti itu membuat Lucas percaya bahwa dia sudah baik baik saja tanpa mengetahui hal yang belakangan ini terjadi pada Zeria.
Lucas tersenyum dan meletakkan tangannya di kepala Zeria “Baguslah kalau begitu” Lucas mengacak acak rambut Zeria. Padahal dia sedang tersenyum, tapi entah kenapa senyumannya itu terasa sedih.
“Bukankah kakak terlalu cepat dewasa?” Pikir Zeria, padahal usianya masih sangat muda, tapi bagaimana bisa dia membat ekspresi yang menyakitkan begitu.
“Hei, bagaimana denganmu? Anak perempuan dengan usia satu tahun lebih sedikit ini sudah bisa bicara dengan lancar, pikiran yang dewasa, membuat rencana menjebak orang lain, dan lain sebagainya.” Cela Arin dengan nada suaranya yang menjengkelkan.
“Ingatlah hal ini Arin. Yang berusia satu tahun hanyalah tubuh ini saja, di kehidupanku yang dulu, aku mati di usia 14 tahun dan di tambah dengan usia di dunia ini, sekarang usiaku sudah menginjak 15 tahun kau tau?” Dengan pede nya Zeria menjawab pernyataan Arin yang mengejeknya. Dan karena apa yang dikatakan oleh Zeria adalah kebenaran yang ada, Arin sudah tidak bisa menyangkalnya lagi dan hanya terdiam kehabisan kata kata. “Aku Menang!”
“Terserah, tapi apa kau tidak ingin menceritakan hal yang terjadi padamu kepada kakakmu?” Tanya Arin.
“Tidak, hal itu hanya akan menambah beban pikiranya. Lagian juga itu hanya mimpi” Zeria tidak ingin membebani Lucas lagi dengan maslahnya.
“Yasudah lah, aku akan pergi dulu sebentar” Arin pergi entah kemana dan meninggalkan Zeria.
Zeria melanjutkan menyantap makanannya hingga habis tidak bersisa, karena jika menyisakan makanan adalah tindakan tidak sopan. Sedangkan Lucas hanya menatap Zeria yang sedang makan tanpa melakukan apapun. “Aku merasa terbebani” Pikir Zeria. Bayangkan saja, jika kita sedang makan dan ada orang lain yang memperhatikan kita tanpa mengalihkan pandangannya.
“Ya?” Zeria yang sudah menghabiskan makananya kini sedang membaca buku seperti bisanya.
“Aku boleh mengatakan sesuatu?” Lucas seperti takut ingin mangatakan sesuatu, wajahnya terlihat sangat khawatir.
Zeria yang melihat hal itu merasa sangat aneh. Sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh Lucas sampai dia terlihat takut begitu? “Iya, bilang saja?” Zeria tidak yakin bahwa apa yang di akan didengarnya adalah hal yang baik .
Lucas masih terlihat ragu ragu untuk mengatakannya, namun setelah dia membulatkan tekatnya dia langsung mangatakannya “Aku, mencurigai Reina sebagai dalang dibalik ledakan yang terjadi beberapa waktu lalu” Lucas takut bahwa Zeria akan menentangnya, karena Zeria sudah menganggap Reina seperti ibunya sendiri. Dan benar saja, reaksi dari Zeria sama persis dengan yang Lucas perkirakan.
Ekspresi wajah Zeria seperti mengatakan ‘Apa yang sedang kau bicarakan?’ sama persis seperti yang sudah Lucas perkirakan. “Apa maksudnya?” Tanya Zeria dengan tenang.
Lucas sudah takut untuk mengulangi perkataannya lagi, karena takut kalau Zeria akan marah “Aku bilang, aku mencurigai Reina” Ulangnya.
Ekspresi wajah Zeria berubah seketika, Zeria merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. “Bagaimana kakak bisa menyimpulkan hal itu?” Wajah Zeria terlihat sekali bahwa banyak yang ingin dia tanyakan. Wajah haus akan informasi.
__ADS_1
“Karena, aku yakin bahwa kau memilih orang yang tepat untuk dijadikan pengawalmu. Aku percaya pada pilihanmu, jika kau yakin, maka aku akan lebih yakin lagi.” Ucapnya dengan tegas dan penuh keyakinan.
Zeria tersenyum melihat Lucas yang sangat percaya padanya dan juga senang karena memgetahui bahwa masih ada yang percaya padanya. “Telima kasih kalena pelcaya padaku, kakak tiak pellu takut kalau aku akan malah pada kakak. Kalena aku menculigai meleka beldua, bukan hanya Leina saja. Walaupun aku pelcaya pada Elic, tapi aku juga halus mencalitahu tentang dilinya juga.” Jawab Zeria untuk menyakinkan Lucas bahwa, jika ada yang ingin ia katakan maka katakan saja, tidak perlu takut.
Wajah Lucas terlihat lega, mereka melanjutkan pembicaraan tentang penyelidikan ledakan itu. Ada beberapa bukti bahwa ledakan itu adalah ledakan sihir, menurut penyelidikan William, ledakan itu dimaksudkan untuk membunuh Zeria. Ledakan kuat namun jaraknya hanya berkisar 1-7 meter, sofa yang di duduki oleh Zeria berjarak 4 meter dari jendela tempat ledakan itu terjadi, namun ledakan itu hanya meledak dengan jarak 1 meter saja, dan tidak menyentuh Zeria.
“Apa itu sebuah kesalahan?” Louise, William dan Razel sedang berdiskusi tentang hal itu.
“Tidak” Jawab Razel, “Itu bukan kesalahan sehingga ledakannya hanya mencapai radius 1 meter, tetapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa meledak dengan radius yang lebih jauh"
William yang bertugas untuk menyalidikinya sangat tau tentang hal itu “Itu benar, di tempat kejadian tidak hanya ada 1 sisa jejak sihir saja. Tetapi ada banyak sisa jejak sihir yang tersisa, wlaupun samar tapi aku bisa merasakannya” William yang seorang ahli pedang bisa merasakan sisa jejak sihir yang sangat samar dengan baik, karena kembarannya, Razel adalah seorang penyihir, dan sihir yang selalu dirasakannya dari Razel membuatnya lebih peka terhadap sihir dibandingkan dengan orang lain.
Louise berfikir dengan keras untuk memecahkan teka teki itu, “Selidiki lebih lanjut. Ku beri waku 3 hari penuh” Jika hal seperti ini dibiarkan terlalu lama, malah ada kemungkinan bahwa dalam selang waktu itu akan ada kejadian seperti ini lagi.
“Baik” Jawab Razel dan William secara bersamaan.
#Kamar Zeria
“Reina lama sekali” Reina yang tadi dimintai tolong oleh Lucas untuk mengambil buku di perpustakaannya tidak kunjung kembali.
Zeria juga sudah mulai merasa aneh, “Apa mungki-“ Zeria menghentikan kata katanya, karena Reina tiba tiba datang dengan membawa buku yang diminta oleh Lucas.
“Maafkan saya Pangeran. Saya tidak tau bagaimana susunan buku di perpustakaan Istana anda, jadi saya kesulitan untuk mencarinya. Terlebih lagi, perpustakaannya sangat besar, jadinya memakan waktu lama. Maafkan saya.” Reina menundukkan kepalanya berkali kali dan terus meminta maaf, wajahnya berkeringat karena takut kalau Lucas akan marah.
"Sudahlah, kemarikan bukunya” Lucas meminta buku yang dibawa Reina, dan Reina dengan cepat memberikannya.
Zeria sama sekali tidak mencurigai tindakan Reina, dan hanya bersikap seperti biasa.
"Zeria!" Arin tiba tiba melakukan telepati pada Zeria, suaranya terdengar panik.
"Ada apa? Arin!" Zeria juga jadi ikut terbawa suasana karena Arin.
"Bocah itu, tidak ada di kamarnya!"
__ADS_1
"Apa?!"