Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 11


__ADS_3

 


Sesampainya di istana pangeran, Lucas langsung membawa Zeria ke kamarnya dan meletakkannnya di kasur. Kamar yang megah dengan kasur yang luas, dan berhiaskan pajangan mahal dan mewah. Tidak ada rak buku di dalam kamar itu, sangat berkebalikan dengan kamar Zeria yang dipenuhi berbagai macam buku.


 


"Kau tidurlah, sekarang sudah larut malam" Ucap Lucas sambil menarik selimut lalu ikut berbaring di samping Zeria. Lucas menepuk nepuk punggung Zeria dengan lembut agar Zeria tertidur.


"Iyaa, telamat malam kak" Bagi Zeria yang jiwanya sudah hampir dewasa, seharusnya dengan di tepuk tepuk punggungnya tidak akan berguna. Namun Zeria berbeda, karena sebelumnya tidak ada yang pernah menepuk punggungnya dengan sepenuh hati dan sehangat itu.


"Kapan ya terakhir kali ada yang menepuk punggungku sehangat ini. Emmm, aku sudah coba mengingatnya sekeras mungkin. Namun ternyata, tidak pernah ada yang memperlakukan ku sehangat ini. Aku senang" Pikirnya, karena ini adalah kali pertama ia di perlakukan sehangat itu. Zeria merasa nyaman dengan keluarga barunya yang sangat menyayanginya.


 


Beberapa menit kemudian, kedua anak itu sudah tertidur pulas. Seorang kakak laki laki yang berusia hampir 9 tahun dan adiknya yang baru menginjak usia 1 tahun, tidur di dalam satu kamar dan kasur yang sama. Kasih sayang Lucas pada adiknya, membuatnya terdidur dengan posisi memeluk Zeria. Seorang kakak yang sangat menyayangi nya, adalah hal yang asing untuk Zeria.


 


#Pagi Hari


"Selamat pagi Tuan Putri, anda bangun pagi sekali" Ucap Reina yang sudah berdiri di sisi ranjang.


"Telamat pagi Leina" Ucap Zeria sambil menggosok matanya.


"Apa Tuan Putri tidak ingin tidur lagi? Sekarang masih pagi buta" Reina menyarankan agar Zeria tidur lagi, karena matahari saja belum muncul.


"Tidak utah, aku mau jalan jalan taja" Zeria tersenyum ke arah Reina dengan wajah yang masih setengah sadar.


"Tapi, apakah anda tidak takut kalau kejadian seperti tadi malam akan terulang lagi?" Reina yang khawatir dengan keselamatan Zeria, menyarankan agar lebih baik Zeria tidak usah pergi keluar.


"Aku tidak apa apa, kan ada Leina dan juga pala pengawal. Dan juga ada kakak" Zeria tersenyum.


"Ahh, baiklah jika itu keinginan anda. Tapi Tuan Putri harus bersikap baik, karena masih ada penting tamu dari kerajaan lain yang menginap di istana." Reina memberitahu Zeria bahwa, jangan sampai ia membuat kesalahan di depan tamu penting itu.


"Iya, baiklah" Jawab Zeria dengan cepat.


 


Mereka berdua bersiap untuk pergi keluar, Reina mengganti baju Zeria dengan baju yang lebih hangat. Lucas yang terbangun karena mendengar suara bising di kamarnya, memilih untuk ikut pergi berkeliling.


 


#Taman Istana Utama


"Hahh, udara di pagi hari memang sejuk ya" Lucas menarik nafas dalam.


"Iya, tangat tegal(Sangat segar)" Jawab Zeria.


 


Duduk di bawah pohon di tengah tengah taman, di jaga oleh tiga orang pengawal, dan Reina. Mereka menikmati sejuknya udara pagi. Namun Zeria merasa terganggu dengan sesuatu. Suara yang terdengar samar samar karena terbawa angin, namun sepertinya hanya dia yang mendengar suara itu. Karena zeria adalah keturunan malaikat, semua indranya lebih tajam daripada manusia pada umumnya.


 

__ADS_1


"Arin, apa kau dengar suara itu?" Zeria bertanya pada Arin.


"Ya, aku mendengarnya. Aku tidak tau suara siapa itu, tapi suara itu terdengar seperti sedang marah marah" Arin merasa aneh, bagaimana bisa ada orang yang berani marah marah di istana utama.


"Aku akan mengeceknya" Ucap Zeria.


"Emm, kakak. Aku ingin pelgi ke toilet dulu, Leina antalkan aku" Zeria meminta izin untuk pergi ke toilet.


"Apakah perlu ku jaga hingga kau sampai?" Lucas masih khawatir pada Zeria.


"Tidak pelu, aku pelgi cama Leina caja" Zeria mencoba untuk membujuk Lucas agar dia tidak ikut pergi juga.


"Baiklah, Reina jaga dia" Lucas menatap Reina dengan tajam. Arti dari tatapannya itu seperti 'Jika adikku sampai terluka, kau akan mati' kira kira seperti itu.


 


Reina mengangguk dengan pelan ke arah Lucas, lalu menggendong Zeria dan langsung pergi. Lucas memperhatikan Zeria pergi, hingga tidak terlihat lagi. Reina menggendong Zeria pergi ke arah toilet, namun Zeria melarangnya.


 


"Leina, kita pelgi ke gudang ittana utama" Ucap Zeria agar Reina mengantarnya ke gudang, yaitu asal dari suara itu.


"Eh, bukankah anda ingin ke toilet? Tapi kenapa malah ke gudang?" Reina kebingungan dengan tingkah Zeria.


"Tudahlah, ayo ke gudang" Zeria tetap gigih dengan pilihannya yang akan mengecek suara tersebut.


"Hah, baiklah jika itu yang anda inginkan" Reina langsung berbelok ke arah gudang. Sebenanrnya jarak antara gudang dan toilet tidak terlalu jauh, jadi Lucas tidak akan curiga. Setelah beberapa saat, Zeria pun sampai di gudang, pintu gudangnya sedikit terbuka. Reina dan Zeria mengintip dari celah di pintu, dan Zeria terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Apa apaan itu?!" Zeria sangan terkejut sekaligus marah ketika ia melihat seorang laki laki dewasa yang marah dan sedang memukuli anak laki laki yang baru berusia kira kira 5/6 tahun itu. Zeria tidak tahan melihat prilaku orang tersebut, dan kesabaran Zeria pun mulai habis.


"Leina, masuk" Zeria menyuruh Reina membawanya masuk ke gudang.


"Tapi, Tuan Putri. Itu berbahaya" Ucap Reina.


"Hah, sudah ku duga. Seharusnya tadi aku datang sendiri saja, seharusnya aku tahu, jika aku mengajak Reina, dia pasti akan melarangku. Tidak ada pilihan lain, Arin" Pikir Zeria yang sudah tidak memiliki ide dan langsung memanggil Arin.


"Ada apa?" Tanya Arin


"Sihir penghenti waktu bisa bertahan hingga berapa menit?" tanya nya.


"Emm, sekitar 3-5 menit. Ada apa?" Jawab Arin.


"Baiklah, itu sudah cukup. Arin, aku butuh bantuanmu. Tunjukkan wujudmu padaku, lalu hentikan waktunya." Perintah Zeria.


"Eh, baiklah." Walaupun Arin kebingungan, namun Arin tetap menjalankan perintahnya. Arin muncul di sebelah Zeria, namun kali ini dia memakai baju seperti Gaun berlengan pendek dan rok sepanjang lutut, dengan sepatu biru.


"Wahh, apa apaan itu?" Arin Juga baru menyadari kalau ada anak yang sedang dipukuli.


"Hentikan waktunya, sekarang" Perintah Zeria.


"Oke, namun kau harus berhati hati. Karena kau akan merasakan efek samping juga" Arin memberikan saran pada Zeria, lalu langsung menghentikan waktunya.


"Hei, gendong aku. Aku tidak ingin di gendong oleh Reina, aku ingin melihat lebih dekat" Ucap Zeria.

__ADS_1


"Hahaha, cepatlah berjalan. Kau benar benar seperti anak kecil" Suara ledekan dari Arin membuat Zeria sedikit kesal, namun Zeria menahan rasa marahnya karena sekarang ada hal yang lebih penting lagi.


 


Arin menggendong Zeria masuk kedalam gudang, dan memikirkan apa yang akan mereka lakukan pada pria itu, Namun.


 


"Hiks hiks" suara tangisan terdengar di belakang mereka


"Eh, bukankah aku sudah menghentikan waktunya? Tapi kenapa ada suara anak yang menangis?"


"Entahlah, aku juga heran. Bukankah lebih baik, sekarang kita berbalik dan melihatnya?" Kata Zeria.


"Ya, baiklah" Arin berbalik terkejut untuk kedua kalinya "Hah? Bagaimana bisa?" lanjutnya.


 


Suara tangisan itu adalah milik anak yang sedang di pukuli tadi. Anak itu tidak terkena efek sihir penghengti waktu milik Arin. Ada apa dengan anak itu?.


 


"Terima kasih kak" Anak itu berbicara.


"Ehh? Tunggu, kau bicara padaku?"Arin bertanya pada anak itu.


"Iya" jawabnya.


"Ehh, bagaimana bisa dia melihat Arin? Siapa sebenarnya anak ini?" pikir Zeria.


"Ah, sudahlah. Kita akan tanyakan nanti, sekarang apa yang akan kita lakukan pada pria ini?" Tanya Arin.


"Matukkan ke penjala caja" Jawab Zeria.


"Oke, akan ku laksanakan" Jawab Arin dan langsung memindahkan pria itu ke penjara.


"Sekali lagi, terima kasih kak" Anak itu mengucapkan terima kasih lagi.


"Eh, bukan aku yang menolongmu. Yang menolongmu adalah Tuan Putri ini" Arin meledek Zeria sedikit.


"Eh, benarkah? Terima kasih Tuan Putri" Ucap anak itu.


"Iya, tama-tam" Kata kata Zeria terputus. Zeria merasakan sakit di bagian kepalanya. Dan tiba tiba, darah keluar dari mulut dan hidungnya. "Ehh?" Zeria menaruh tangannya di mulut dan melihat bekas darah di tangannya.


"Tuan Putri?!" Anak itu pun juga terkejut.


"Zeria?!" Arin juga ikut terkejut.


 


Rasa sakit di kepalanya yang tidak tertahankan, membuat Zeria tak sadarkan diri. Dan waktu pun kembali normal.


 

__ADS_1


__ADS_2