Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 31


__ADS_3

Setelah kejadian dimana Zeria melubangi tembok, kini setiap Zeria berlatih sihir semua orang menjaga jarak aman darinya. Bahkan Razel pun sudah bersedia dengan penghalang yang sudah dia siapkan untuk melindungi dirinya.


“Bukankah meraka terlalu berlebihan?” Tanya Arin.


Zeria hanya tersenyum sedih mendengar ucapan Arin barusan, “Terlalu berlebihan bagaimana? Yang mereka lakukan itu sudah wajar tau, mereka begitu karena mereka takut kalau salah salah malah tubuh mereka yang berlubang” Jawabnya dengan wajah sedih, namun masih tersenyum. “Sialan” Pikirnya, karena kini orang orang menjauhinya saat ia berlatih sihir.


“Haha, selamat berlatih. Aku ingin jalan jalan sebentar, sekaligus mencari Azra.” Arin sudah sering pergi berkeliaran di Istana Putri dengan tubuhnya yang nyata. Jadi orang orang di Istana Putri juga sudah tau kalau Arin adalah teman Zeria yang dikenalkan oleh Eric, begitulah rumor yang beredar.


Pelajaran Zeria terus berlanjut hingga waktu makan siang. Setelah makan siang, selanjutnya adalah pelajaran tata krama yang wajib diikuti oleh Zeria. “Kalau begitu, hari ini sampai disini saja. Kita lanjutkan lagi besok, saya permisi Tuan Putri” Ucap Razel, memberi salam lalu pergi.


“Hah” Zeria menghela napas “Aku lelah, kepalaku sakit” Ucap Zeria memegangi kepalanya dan menyenderkan tubuhnya ke sofa.


Melihat reaksi Zeria yang seperti itu, Eric pergi mendekati Zeria dan menuangkan teh untuknya. “Kau baik baik saja? Apa mau ku panggilkan dokter” Tanya nya sambil menyodorkan gelas yang sudah berisi teh.


Zeria melirik gelas teh itu dengan tatapan lesu, dan menerimanya dengan perlahan “Tak perlu, aku baik baik saja” Jawabnya dengan sangat tidak bersemangat.


Eric tidak yakin dengan jawaban Zeria barusan, dan masih terus mencoba membujuknya agar dia mau diperiksa. “Tapi kau pucat sekali loh. Apa ku panggilkan Pangeran dan Baginda saja?” Sebenarnya Eric tau kalau Zeria tidak suka dengan tingkah Louise dan Lucas yang terlalu berlebihan ketika Zeria merasa tidak sehat sedikit saja.


“Apa?! Tidak perlu, panggil saja dokter, asalkan jangan mereka berdua” Ucap Zeria dengan gugup. “Akan panjang urusannya jika mereka berdua tau” Pikirnya.


“Baik” Jawab Eric dengan Ceria dan melompat melalui jendela kamar Zeria.


“Sialan. Kini dia sudah tau caranya mengancamku, ngomong ngomong sebenarnya dia itu manusia atau kera? Dengan santainya dia melompat, padahal kira kira tinggi kamarku dari permukaan tanah itu sekitar lima belas meter.” Pikir Zeria sambil terus memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Sambil menunggu Eric kembali, Zeria memejamkan matanya sembari menahan rasa sakit di kepalanya itu. Karena sangking lelahnya, hanya karena ia memejamkan matanya sebentar saja, ia sudah tertidur lelap. Entah berapa lama ia tertidur.


Disaat Zeria sedang tertidur dengan lelap, disisi lain Eric sedang kesusahan. Karena ternyata, saat ia pergi untuk menemui dokter, Louise juga sedang ada di sana. Dan pertanyaan dari Louise membuatnya kesusahan untuk menjawab.


#Ruangan Dokter


“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Louise tepat saat Eric baru memasuki pintu

__ADS_1


Eric kebingungan menjawabnya. Jika ia jujur, Zeria akan marah. Tapi jika ia berbohong, maka Louise akan terus mengintrogasinya. Sungguh keputusan yang sangat sulit, “Emm, saya kemari untuk memanggil dokter” Jawabnya dengan lancar tanpa gugup sedikitpun.


Louise menyipitkan matanya dan mulai bertanya lagi, “Siapa yang sakit?”


“Sudah kuduga aku akan terus diberi pertanyaan” Pikirnya, “Azra” Jawabnya dengan santai.


Louise berdiri dan menghampiri Eric, “Begitukah? Tapi tadi aku melihat anak itu bersama dengan anak perempuan berambut hitam di perpustakaan” Louise sedikit menekan suaranya untuk memberi sedikit ancaman.


“Azra sialan! Pasti dia sedang bersama Arin kan? Apa yang harus katakan?!” Sudah tidak ada pilihan lain selain berkata jujur. Karena jika Eric bilang kalau dirinya lah yang sedang sakit, maka saat itu juga Eric akan langsung diperiksa.


Melihat Eric yang hanya diam saja, Louise semakin yakin kalau ada yang sedang ia sembunyikan, “Kau masih tidak mau berkata jujur?” Tanya Louise dengan halus, dan hal itu mencurigakan.


Eric benar benar sudah tidak punya pilihan lain selain berkata jujur, “Zeria sakit, wajahnya terlihat pucat. Dan dia bilang kepalanya sakit.” Ucap Eric dengan tubuh yang sudah penuh dengan keringat.


Louise yang mendengar hal itu sontak terkejut, “Dokter, cepat pergi ke kamar Zeria sekarang!” Louise menunjuk dokter itu, dan dokter itu pun segera menyipkan alat alat untuk memeriksa Zeria dan langsung berlari menuju kamar Zeria, bersama dengan Louise dan Eric juga.


Hanya tambahan, tapi sebenarnya Eric sangat payah berbohong. Setiap ia berbohong, pasti langsung katahuan. Bahkan sebelum ia jujur mengatakan yang sebenarnya pun, orang orang sudah tau.


Melihat Zeria yang tertidur lelap, mereka langsung berjalan dengan tenang dan berusaha agar tidak membangunkan Zeria. Wajahnya pucat dan kelihatan sangat lelah. Dokter memeriksa Zeria mulai dari suhu tubuhnya hingga tekanan darahnya, namun dokter bilang kalau itu hanyalah faktor kelelahan saja dan tidak ada penyakit lain.


Mendengar ucapan itu, membuat meraka bisa bernafas lega. Karena jika terjadi apa apa lagi pada Zeria, entah apa lagi yang bisa meraka lakukan. Setelah pemeriksaan selesai, dokter itu pun kembali ke ruangannya, dan yang tersisa hanya Louise, Lucas, Eric, dan Zeria.


“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Louise pada Lucas.


Lucas terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Louise sebentar, “Aku hanya ingin bertemu dengan adikku, dan kulihat dia tertidur di sofa. Maka dari itu aku memindahkannya ke kasur” Jawabnya dengan lengkap.


Mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain, seperti predator yang marah saat melihat ada predator lain di dalam wilayahnya. “Apa mereka benar benar ayah dan anak? Hawanya tiba tiba jadi sesak” Pikir Eric.


Ditengah suasana yang mencekam itu, tiba tiba Arin dan Azra datang, dan memecah suasana yang sesak itu. “Ah, Salam pada Baginda Kaisar dan Pangeran” Azra terkejut melihat meraka berdua dalam waktu bersamaan, dan sontak memberi salam.


“Zeria meminta dibawakan buku lagi?” Tanya Louise pada Azra yang terlihat membawa setumpuk buku di tangannya.

__ADS_1


“Iya Baginda” Jawab Azra dengan gugup. Pandangan Louise beralih ke Arin, ia memperhatikan Arin sengan saksama.


“Kau, teman Zeria yang dikenalkan oleh bocah pengawal itu?” Yang Louise maksud dengan bocah pengawal adalah Eric.


Arin melirik Eric sejenak dan menjawab pertanyaan Louise, “Iya Baginda, nama saya Arin” Arin membungkukkan badannya.


Louise menatap Arin dengan lekat, dan akhirnya mengalihkan pandangannya “Baiklah, aku masih ada urusan. Lucas, jaga Zeria” Louise berjalan pergi meninggalkan kamar Zeria.


“Sialan, tanpa di suruh pun aku akan melakukannya!” Lucas marah karena ia selalu dianggap sebagai anak kecil yang tidak tau apa apa.


Memang begitualah hubungan antara Lucas dan Louise yang tidak baik, dan tidak pernah membaik. Azra sendiri mulai menyusun buku buku itu di rak dengan perlahan. Dan Eric merasa lega karena akhirnya suasana itu kembali normal “Astaga, sesak sekali tadi” Eric mengambil napas dalam dan menghembuskannya perlahan, tanda bahwa ia sudah meras lega.


“Tekanan macam apa tadi itu? Sesak sekali rasanya” Arin berjalan menghampiri Zeria dan menghampirkan rambutnya yang menutupi wajah.


“Memang begitu. Ayah kan seorang Kaisar, jadi membuat tekanan yang besar itu memang harus. Hal itu bertujuan untuk memberi tahu seberapa besar perbedaan kekuatannya dengan yang lain” Lucas memandangi Zeria yang tertidur lelap.


Arin menyipitkan matanya, “Tapi, apakah ia harus menunjukkan tekanan seperti itu dihadapan remaja seperti kita? Bahkan disini ada yang masih kecil” Ucap Arin dengan mengerutkan alisnya, ia merasa muak dengan sikap Louise tadi.


“Karena disini ada aku, karena itu dia menunjukkannya” Lucas masih tidak melepas pandangannya dari Zeria.


Arin terlihat sangat muak dan ingin melontarkan kata kata tajam, namun Eric langsung mencela “Sudahlah, tidak ada baiknya bertengkar sekarang. Akan gawat jika Zeria bangun” Eric mencoba meredakan amarah Arin, dan ternyata berhasil.


“Zeria terlihat pucat, apa dia baik baik saja?” Azra bicara dengan bahasa informal, namun masih terdengar canggung.


“Dia hanya kelelahan” Jawab Lucas.


“Kelelahan?” Pikir Arin sambil mencoba mengingat sesuatu, “Astaga! Aku lupa memberitahu nya!”


“Hah? Apa yang lupa kau beritahu?” Tanya Eric melalui telepati


“Hal yang sangat penting!”

__ADS_1


__ADS_2