
“Zeria, kau ingat anak laki laki yang hendak menolongmu saat kau terjatuh dari atas gedung sekolah di kehidupanmu sebelumnya kan? Anak laki laki itu adalah…AKU” Ucap Eric dengan sangat terpaksa.
Sebenarnya Eric sendiri tidak ingin memberi tahukannya pada Zeria, namun hal ini harus diberitahu karena bersangkutan dengan dirinya. Mendengar hal itu, Zeria sontak sangat terkejut. Keadaan tiba tiba menjadi sunyi tanpa suara, Zeria hanya bisa terdiam karena tidak tau harus berkata apa lagi.
“Apa?” Zeria mulai bicara setelah terdiam beberapa saat untuk mencerna perkataan Eric, “Laki laki itu, kau?”
Melihat dari wajah Zeria yang hampir tanpa ekspresi itu, sepertinya Zeria tidak percaya dengan yang diatakan oleh Eric. Eric sudah mengatakan apa yang harus ia katakan, jadi pikirnya, walaupun Zeria tidak percaya pun tidak apa apa.
“Iya, itu aku” Jawab Eric sambil menunduk dan tersenyum, “Mungkin kau tidak perc-!”
Eric terkejut, karena Zeria tiba tiba berlari ke arahnya dan memeluknya, “Zeria?” Ucap Eric terbata bata.
Arin hanya diam memperhatikan saat melihat Zeria berlari dan memeluk Eric, “Waah, aku iri sekali.” Arin menggoda Eric lewat telepati, agar Zeria tidak mendengarnya.
“Arin, dia kenapa? Tolong aku, apa dia marah….?”
Eric kebingungan, Zeria yang hanya setinggi perutnya itu menggeleng gelengkan kepalanya di perut Eric dan memeluknya dengan Erat. “Sebenarnya aku sangat senang dipeluk seperti in-…” Eric terdiam, ia merasakan bahwa pakaiannya basah di bagian perut. Apa dia menangis?
“Maaf” Ucap Zeria dengan suara pelan, “Maafkan aku, maafkan aku” Zeria terus mengulang kata maaf berkali kali tanpa henti.
“Zeria, coba lepaskan dulu” Arin menarik bahu Zeria dari belakang, dan menariknya sedikit menjauh dari Eric.
Eric dan Arin sama sama kebingungan, sebenarnya apa yang dipikirkan Zeria hingga ia memlinta maaf berkali kali seperti itu? Apa kesalahan yang Ia perbuat? “Zeria, kau minta maaf untuk apa?” Tanya Eric.
“Untuk semuanya, kamu mati karena mau menolongku. Maafkan aku” Zeria menangis lagi, entah mengapa belakangan ini Zeria mudah sekali menangis. Emosinya seperti tidak stabil, terkadang ia tiba tiba marah, tiba tiba menangis, tiba tiba seperti orang yang menanggung banyak beban. Tidak ada yang bisa mamahami tidakan Zeria.
“Hei, sudahlah. Yang sudah berlalu biarlah berlalu, itu kan sudah lama sekali, lupakan saja” Eric merendahkan tubuhnya dengan menjongkokkan kaki untuk menyesuaikan dengan tinggi Zeria.“Dengarkan aku, menurutku, hal yang sudah terjadi di masa lalu biarlah berlalu, jangan menyesalinya.” Eric menggenggam salah satu tangan Zeria.
__ADS_1
Arin hanya memperhatikan mereka, namun lama kelamaan ia mulai merasa muak dan akhirnya menarik Zeria lebih jauh lagi. “Hei! Kalian ini tidak menganggap kalau aku ada disini ya?”
Untuk mencairkan suasana, Eric meladeni Arin dengan candaan, “Wah wah, nampaknya malaikat kita yang satu ini tidak suka diabaikan ya?” Eric meletakkan jari jarinya di bawah dagunya dan mengusapnya.
“Sialan! Manusia mana yang suka diabaikan hah?!”
“Tapi kan kau bukan manusia”
“Yah, benar juga sih” Dengan sangat terpaksa Arin harus mengakuinya.
“Haha, aku menang!”
Dan pertengkaran mereka berdua berakhir disitu.
Zeria mengusap air matanya, dan mencoba untuk tersenyum “Terima kasih” Ucapnya dengan senyuman yang sudah ia usahakan. “Terima kasih sudah berniat menolongku di kehidupanku yang pertama itu”.
“Tapi” Seketika Arin langsung memecah suasana haru dintara mereka, “Bocah, bukankah apa yang beritahu barusan tidak ada hubungannya dengan mimpi Zeria?” Arin memirikan kepalanya.
Setelah mendengar perkataan Arin, Zeria baru tersadar kalau itu memang tidak ada hubungannya, padahal tadi Eric bilang tau tentang sesuatu.
“Tentu saja ada hubungannya kok” Eric tersenyum.
Zeria dan Arin kebingungan memikirkannya, apa hubungannya antara Eric yang menolong Zeria di kehidupan yang sebelumnya dan mimpi yang Zeria keluhkan.
“Apa hubungannya?” Zeria hampir menyerah, karena semua hal yang ia alami hari ini sangatlah tidak logis, sampai sampai kepalanya mau meledak.
Melihat Zeria yang berfikir dengan keras dan kebingungan, sedikit membuat Eric terhibur. “Baiklah, aku akan menjawab satu pertanyaanmu. Dan sisanya kau cari tau sendiri” Eric berjalan ke arah sofa dan duduk, lalu menghentak hentakkan jarinya di meja.
__ADS_1
Hanya ada satu kesempatan untuk bertanya, Zeria berusaha memikirkan pertanyaan yang paling penting, dan merupakan pusat dari teka teki mimpi itu. Mimpi seperti ini, dulu juga pernah dialami olehnya (Bab 26), namun itu sudah enam tahun lalu yaitu saat Zeria berusia satu tahun.
Entah mengapa tiba tiba mimpi itu kembali menghantuinya, mimpi kali ini adalah mimpi ke-5. Saat berusia satu tahun, Zeria memimpikan empat kejadian kematian, dan sekarang adalah yang kelima.
“Oke, aku sudah menentukannya.” Zeria berjalan mendekati Eric dan mencengkram bahunya, “Siapa sebenarnya semua gadis remaja yang mati dalam mimpiku itu?” Tanya nya dengan wajah serius, dan menatap Eric dengan mata emasnya yang besar itu.
Jika sudah mengetahui siapa gadis gadis remaja itu, semuanya akan lebih mudah untuk diselidiki, begitulah pikir Zeria. “Kau yakin menanyakan hal itu?” Tanya Eric untuk memastikan apakah keputusan Zeria benar benar sudah bulat.
Namun Zeria hanya terdiam tanpa menjawab, dan masih terus menatap Eric dengan serius tanpa mengalihkan pandangannya, dan nampaknya keputusan Zeria tidak akan berubah. “Baik, rupanya keputusanmu sudah bulat ya? Akan ku jawab pertanyaanmu, tapi duduklah dulu. Tidak enak dilihat jika hanya aku yang duduk”.
Dan lagi lagi, Zeria hanya diam tanpa berkata apa apa. Namun ia menuruti Eric dan duduk di sofa didepan Eric. Suasana menjadi sangat serius, dan Zeria siap mendengarkan penjelasan Eric.
“Oke, sebelum aku beritahu adda yang harus kutanyakan untuk memastikan. Apa yang saja persamaan yang kau sadari di dalam mimpimu?” Eric menyilangkan kakinya dan menggunakan tangannya untuk menopang dagu.
“Persamaan?” Zeria kembali mengingat ingat semua mimpi itu, mencari apa persamaan yang Eric bilang. Dan mungkin saja ia sudah menemukannya, “Semua gadis remaja yang mati, usianya sekitar 14/16 tahun” Jawabnya dengan masih memikirkan hal yang lain.
“Hmm, sebenarnya yang ku maksud bukan hal itu. Tapi itu juga termasuk sih” Eric kembali menghentak hentakkan jarinya di meja, “Oke, satu lagi. Dari semua mimpi yang kau alami, yang mana yang paling jelas dan terasa nyata?” Satu lagi pertanyaan serius yang Eric lontarkan.
“Yang tadi malam” Jawabnya “karena mimpi mimpi ku yang sebelumnya hanya meperlihatkan detik detik kematian meraka saja. Namun yang tadi malam sangatlah jelas, mulai dari adiknya yang menggelantung di tepi tebing, hingga Aku sebagai kakaknya terjatuh untuk menolongnya lalu mati.” Lanjutnya. Sebenarnya apa yang Eric pikirkan hingga ia tidak langsung memberitahu, dan malah bertanya hal itu?
“Baiklah, itu sudah cukup. Apa kau benar benar tidak menyadari sesuatu?” Eric menatap mata Zeria, tatapannya serius dan tidak seperti biasanya.
“Tidak” Jawabnya singkat.
Eric menutup matanya sejenak untuk melepaskan pandangnnya dari Zeria, “Hah~” Eric menghela napas. “Kau jadi kakak perempuan, lalu mati demi menyelamatkan adiknya. Dan dulu kau memimpikan empat gadis remaja yang mati dalam waktu empat hari berturut turut. Namun anehnya, kau tidak menyadari sesuatu? Sepertinya kepintaranmu saat di kehidupanmu yang sebelumnya tidak terbawa kesini ya?” Eric tidak berniat untuk mengatai Zeria bodoh. Ia hanya memancingnya agar Zeria bertindak lagi, namun hal itu tidak berhasil. Zeria, sama sekali tidak terpancing.
“Yah, sepertinya begitu?” Zeria tersenyum sedih menatap lantai, dan tidak menatap Eric lagi.
__ADS_1
“Ugh!” Eric merasa kesal karena malah membuat Zeria sedih. “Cukup! Akan kukatakan. Lima gadis remaja yang mati di dalam mimpimu itu adalah, Kamu sendiri, Zeria”