
Gerbang itu meleleh dalam sekejap, karena api sihir keluarga kekaisaran terkenal sebagai api yang paling panas dari semua api yang sudah diketahui. Mereka mulai berjalan masuk ke halaman rumah itu, dan benar saja semuanya berbeda dengan apa yang mereka lihat tadi. Pintunya benar benar dikunci dengan sangat rapat, bahkan mereka juga memasang rantai.
“Sebenarnya apa yang ada di dalam sini sampai sampai mereka menguncinya dengan sangat hati hati begini?” Tanya Arin lewat telapati.
Zeria juga bingung, apakah itu adalah sesuatu yang sangat berharga? Atau malah sesuatu yang berbahaya? “Entahlah, kita tidak akan tau sampai kita melihatnya sendiri” Kini Zeria sudah yakin kalau ini adalah kenyataan, karena Arin bisa bertelepati dengannya.
Lucas dan Eric kembali mencari cara unutuk membuka rantai dan gembok pintu yang sudah dikunci berkali kali, sedangkan Arin dan Zeria hanya menonton tanpa melakukan apapun. Yah mau bagaimana lagi, karena Zeria tidak mungkin menggunakan sihirnya dan Arin juga tidak boleh sampai ketahuan kalau ia bisa menggunakan sihir, karena yang Lucas tau Arin hanyalah rakyat biasa, dan rakyat biasa tidak bisa menggunakan sihir.
Setelah beberapa menit mereka mengotak atik rantainya, akhirnya mereka menyerah. Gembok nya dilindungi oleh sihir, mereka tak bisa menggunakan sihir untuk membukanya. Satu satunya cara membukanya adalah dengan cara manual, yaitu menggunakan kuncinya.
“Tidak bisa. Kita harus cari kuncinya, gemboknya tidak bisa dihancurkan ataupun dibuka dengan sihir.” Lucas berdiri dan hendak mencari pintu masuk lain.
Saat Lucas berbalik, Arin maju dan mendekati pintu. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan kawat, “Tenang saja, serahkan padaku” Arin membengkokkan sedikit kawatnya dan mulai memasukkannya ke lubang kunci. Sepertinya ia mencoba membobol gemboknya.
“Apa kau yakin kalau itu bisa berhasil?” Tanya Eric.
“Sudahlah, diam saja.” Arin terus mengotak atik gemboknya, hingga ‘Ceklek’ “Oh! Lihat, berhasil bukan?” Gemboknya benar benar terbuka.
“Hooo” Zeria memberikan tepuk tangan bersamaan dengan Lucas, “Cepat sekali terbukanya, hebat”
“Hehe, jangan meremehkan kemampuanku” Arin tersenyum bangga.
“Kalau begitu, sekarang buka lagi 4 gembok lainnya” Kata Zeria sambil tersenyum.
__ADS_1
Arin terkejut, masa ia harus membuka semuanya sendirian. Tapi ya mau bagaimana lagi, karena hanya ia yang bisa membukanya. Dan tanpa mengeluh, Arin membuka semua gemboknya dengan hanya membutuhkan waktu 20 menit. “Ahh, lelahnya” Arin langsung terduduk lemas.
“Kau sudah bekerja keras” Zeria menepuk bahu Arin, tanda bahwa ia bangga padanya.
Lucas bersamaan dengan Eric membuka pintunya, dan kini terlihatlah bagian dalam rumah itu yang sebenarnya. Debu dimana mana, tembok yang mulai hancur, tumbuhnya lumut dan beberapa pajangan yang bahkan sudah tak berbentuk.
Berantakan sekali, pikir mereka. Sudah pasti kalau rumah itu tak berpenghuni. Namun Zeria penasaran dengan satu hal, ruangan di lantai atas yang ingin ia masuki saat masih berada dalam ilusi, ruangan di ujung koridor yang terkunci. Tanpa pikir Panjang, Zeria memutuskan untuk langsung pergi memeriksa ruangan itu diikuti oleh Lucas, Eric dan Arin.
Tak ada yang berubah dari rumah itu kecuali suasananya yang kotor dan berantakan. Ruangan yang berada di ujung koridor itu benar benar ada rupanya, namun pintunya di rantai dan digembok seperti pintu utama tadi. “Pasti ada suatu petunjuk di dalam sini” Ucap Zeria.
Tanpa menunggu perintah dari Zeria, Arin langsung maju dan mencongkel gemboknya seperti yang sudah ia lakukan tadi. Dan ternyata gembok kali ini sangat mudah untuk dibuka dibandingkan dengan pintu utama tadi, dan hanya membutuhkan 1 menit untuk membukanya.
“Ini sangat mudah” Ucap Arin, merasa ada sesuatu yang aneh.
“Benar, dan juga ini kotor sekali. Tapi kenapa pintunya dikuci ya?” Eric memeriksa sudut sudut ruangan itu, namun tak ada apa apa.
Ruangan kecil itu hanya berisi, sebuah Kasur, meja kecil, kursi, dan sebuah lemari yang dirantai. “Tunggu, kenapa lemarinya dirantai juga?” Pikir Zeria. “Arin, coba buka lemarinya” Perintah Zeria.
Arin dengan cepat langsung mendekati lemari itu, namun gemboknya tidak memiliki lubang kunci. Maka Arin tak bisa melakukan apapun. Lucas juga sudah mencoba membukanya dengan sihir, namun hal itu percuma karena sudah dilindungi dengan sesuatu yang anti dengan sihir. “Aku semakin penasaran dengan isinya” Ucap Lucas dengan tatapannya yang menggebu gebu.
“Apa yang harus kita lakukan?” Tanya Eric.
“Entahlah, gemboknya tidak bisa dibuka dengan cara manual ataupun dengan sihir. Sepertinya rantai dan gemboknya permanen dan memang tidak bisa dibuka” Ucap Zeria. Apa yang ada didalamnya sampai sampai mereka menguncinya sampai seperti ini?
__ADS_1
“Jangan menyerah begitu saja dong, aku penasaran dengan apa yang ada didalamnya.” Ucap Eric sambil memegang lemari itu.
Zeria tersenyum, “Kapan aku bilang menyerah? Jika kita tidak bisa membuka rantai dan gemboknya, kita tinggal hancurkan saja lemarinya” Ucap Zeria dengan senyuman mengerikan diwajahnya. Zeria menempelkan telinganya di pintu lemari itu untuk memastikan apa yang ada di dalamnya.
Zeria memejamkan matanya, mecoba untuk fokus pada apa yang ada di dalam lemari. Konsentrasi yang sangat luar biasa hingga Zeria tak mendengar suara lain selain dari yang ada di dalam sana. Dan ‘srek’ terdengar suatu suara dari dalam lemari, walaupun mungkin itu hanyalah suatu Gerakan kecil, namun Zeria bisa mendegarnya. “Ada sesuatu yang bergerak di dalam!” Zeria segera menjauhkan telinganya dari lemari. “Mungkin tinggi dari sesuatu yang bergerak itu sekitar 45 cm. kak, hancurkan lemarinya dari atas, dan sisakan 60cm tinggi lemari ini dihitung dari dasarnya”.
“Baik” Lucas mengeluarkan pedangnya dari sarungnya dan mengambil ancang ancang.
Mereka bertiga sedikit menjauh karena akan berbahaya jika terlalu dekat dengannya. Karena lemarinya dilindungi dengan suatu benda yang anti dengan sihir, Lucas terpaksa harus mengayunkan pedangnya tanpa menggunakan sihir sedikitpu. Membutuhkan beberapa kali tebasan hingga lemarinya hancur, dan dalam 17 menit akhirnya lemarinya bisa terpotong.
Zeria berjalan mendekati lemari yang sudah terpotong itu untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Namun apa yang ada di dalam lemari itu adalah sesuatu yang sangat tidak Zeria duga, yaitu AZRA.
“AZRA!” Zeria berteriak saat melihat Azra yang meringkuk di dalam lemari itu dengan keadaan tangan dan kaki yang diikat dan mulutnya yang disumpa dengan kain, dan juga tubuh yang penuh dengan darah.
Lucas dan Eric segera mengangkat Azra keluar dari dalam lemari. Azra sepertinya sadar, namun ia sama sekali tak bisa membuka matanya, bicara ataupun bergerak. Eric memotong tali yang mengikat tangan dan kaki Azra dengan pedangnya, dan segera membaringkannya di Kasur.
“Kenapa dia ada disini?” Lucas mulai panik melihat Azra dengan keadaan seperti itu, “Apa kalian bisa menggunakan sihir penyembuh?” Tanya Lucas. Lucas adalah petarung, jadi ia tak bisa menggunakan sihir penyembuh karena hal itu tak ada dalam pertarungan.
Eric menggelengkan kepalanya, karena ia juga tidak bisa menggunakan sihir penyembuh. Sedagkan Arin, sebenarnya ia bisa, namun jika ia melakukannya maka identitasnya bisa ketahuan. Dan yang tersisa hanyalah Zeria, dia hanya mempunyai dua pilihan. Sembuhkan Azra dan dia akan mendapatkan efek samping dari sihirnya, atau biarkan saja Azra dan dia akan baik baik saja.
Tentu saja Eric berharap kalau sebisa mungkin Zeria tidak menggunakan sihirnya, namun yang Zeria pilih adalah menyembuhkan Azra. “Aku bisa, sepertinya Azra diberi sihir pelumpuh agar ia tak bisa bergerak” Zeria meraih tangan Azra dan mulai fokus.
Dan benar saja, efek samping dari sihirnya langsung terasa. Punggungnya tiba tiba saja terasa sakit, namun ia menahannya dan tidak memperliatkan reaksi apapun. Perlahan Azra mulai membuka matanya, dan ia mulai bisa bergerak. Zeria tidak bisa menyembuhkan semua lukanya, namun ia bisa menghilangkan efek dari sihir pelumpuhnya.
__ADS_1
Setelah Azra mulai bisa bergerak, Zeria langsung melepaskan tangannya dan berdiri “Ayo kita pulang, Azra”