
Hari ini Zeria mempunyai jadwal makan malam dengan Louise, tetapi Louise malah sudah menemui Zeria saat jam masih menunjukkan angka dua siang. Louise bilang kalau ia ingin mengajak Zeria jalan jalan keluar sebentar karena dirinya akhirnya mempunyai waktu senggang. Padahal Zeria tau kalau ayahnya itu hanya beralasan karena ingin melarikan diri dari pekerjaannya yang menumpuk.
“Kita akan pergi kemana?” Tanya Zeria yang duduk di depan meja dandan sambil menunggu Louise selesai mengikat rambutnya.
“Kita akan jalan jalan ke luar Istana, kau pasti bosan kan berada di dalam istana terus?” Louise mengepang rambut Zeria dan melilitnya di bagian kiri dan kanan, “Rambutmu sudah mulai panjang ya” Gumamnya.
Zeria hanya diam sampai Louise selesai, karena diam adalah pilihan terbaik. Setelah selesai mengucir rambut Zeria, Louise langsung meraih tangannya dan membawa Zeria ke kereta kuda yang terlihat biasa saja, karena jika mereka memakai kereta kuda yang biasanya mereka pakai, pasti akan menarik perhatian banyak orang.
Selama perjalanan, mereka mengobrol tentang hal yang disukai, yang biasa mereka lakukan, dan apapun yang berhubungan dengan keseharian mereka. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai ke alun alun kota Kekaisaran Arendelle. Berusaha untuk tidak menarik perhatian, Louise menutupi kepalanya dengan tudung jubah hitam yang dipakainya. Karena disini, rambut hitam itu sangatlah langka, atau bisa dibilang kalau hanya keluarga Kekaisaran saja yang mempunyai warna rambut hitam.
Namun tidak dengan rambut Zeria, warna rambut coklat juga sebenarnya lumayan langka, namun yang mempunyai warna rambut warna coklat itu umum dan tidak terikat dengan status bangsawan atau Kekaisaran. Yang menjadi masalah adalah warna matanya yang berwarna emas terang itu, warna yang tidak pernah ditemui selama sejarah Kekaisaran yang panjang.
Louise terus menggandeng tangan Zeria agar tak terpisah darinya, mereka berdua berjalan mengitari pertokoan, butik, restoran dan pasar kecil. Namun tak ada yang membuat Zeria tertarik, karena ini adalah pertama kalinya ia pergi keluar bersama Louise, Zeria ingin menikmatinya hingga saat mereka pulang nanti.
Sosok Zeria yang terkena sinar matahari terlihat sangat bersinar, mata emasnya itu bahkan terlihat lebih bersinar dari biasanya. Padahal aksesoris yang digunakannya hanya kalung batu teleportasinya yang berwarna hijau, tapi kenapa ia terlihat begitu bersinar? Pikir Louise.
Mereka berhenti di sebuah toko kue yang tidak terlalu terkenal di Kekaisaran, toko yang terletak di ujung pasar. Toko dengan tembok berwarna pink pudar dengan tulisan ‘Toko Kue Laplace’ atau yang pasti adalah, pemilik toko tersebut adalah bangsa iblis. Laplace adalah Iblis dengan pengetahuan yang paling tinggi, dan yang merupakan paling ahli dalam semua jenis sihir yang ada. Walaupun nama tokonya adalah Toko Kue Laplace, bukan berarti yang mempunyai toko tersebut adalah Iblis Laplace tersebut. Karena kebanyakan bangsa iblis menggunakan nama ‘Laplace’ sebagai pertanda kalau mereka adalah bangsa iblis yang memuja Laplace.
Kekaisaran Arendelle sendiri adalah satu satunya kekaisaran yang mengizinkan bangsa iblis untuk tinggal, namun tentu saja mereka memiliki area sendiri dan tidak berbaur dengan manusia lainnya, karena bangsa Iblis mempunyai image yang tidak terlalu baik terlepas dari mereka yang berhubungan dengan kegelapan.
“Kenapa kita kesini?” Tanya Zeria sambil menatap Louise.
“Kau suka makanan manis bukan?”
“Bukan itu maksudku, ini kan area bangsa iblis. Apa kita boleh kesini?”
__ADS_1
“Kalau begitu, apa kau sudah lupa tentang siapa yang mengizinkan mereka tinggal disini?” Louise tersenyum, karena atas dari izinnya lah yang membuat bangsa iblis boleh tinggal.
“Benar juga” Pikirnya. Louse membuka pintu toko dan terdengar suara lonceng toko yang berbunyi.
Seorang laki laki berambut coklat tua dan mata hitam datang menghampiri mereka. Ia kelihatan seperti manusia pada umumnya, kecuali telinganya yang agak runcing. “Selamat datang” Ucapnya sambil menundukkan kepla seaka akan tau siapa yang datang.
Louise membuka tudungnya dan langsung memesan beberapa macam kue, “kau mau apa?” Tanya Louise menarik lengan Zeria yang sedang bersembunyi dibelakangnya.
“Sesuatu dengan rasa coklat” Jawabnya.
Laki laki itu segera mempersilahkan Louise dan Zeria untuk duduk dan menyiapkan pesanannya. Zeria naik ke kursi dengan bantuan Louise, karena kursi disini lebih tinggi dibandingkan kursi dikamarnya yang sudah disesuaikan dengan tingginya.
Sambil menunggu pesanan datang, Zeria menanyakan beberapa hal pada Louise. “Ayah sepertinya sering kesini ya?”
Tak lama kemudian, kue yang mereka pesan akhirnya datang. Anak pemilik toko tersebut terlihat seperti laki laki yang mudah bergaul dengan siapapun. “Ini kuenya” laki laki itu menyodorkan sepotong kue coklat dengan sebuah stroberi diatasnya.
Zeria memperhatikan kue yang ada dihadapannya dan menusuk buah stoberi tersebut dengan garpu dan menaruhnya di piring Louise. “Loh, kenapa?” Tanya Louise.
“Aku tidak terlalu suka stroberi”Gumam Zeria sambil megembungkan pipinya.
“Wahh, padahal anak seumuran Tuan Putri itu biasanya suka dengan stroberi” Ucap laki laki tadi. Zeria meliriknya dengan tidak yakin karena malu dan tidak berani menatap matanya. “Ah, maafkan saya. Nama saya Dean, saya putra pertama pemilik toko ini” Ucap Dean memperkenalkan dirinya.
Zeria melirik Louise dan Louise mengangguk, “Aku Luczeria” Jawab Zeria.
Dean tersenyum melihat Zeria yang malu malu. Zeria menyantap kuenya dengan lahap dan merasa tidak asing dengan rasa kuenya, rasanya sama persis seperti yang biasanya ia makan di Istana. Karena Louise bilang kalau ia kenal dengan sang pemilik toko, mungkin saja kue yang biasanya ia makan memang berasal dari sini.
__ADS_1
Merasa kalau suasananya bagus, Zeria memutuskan untuk bertanya ssesuatu pada Louise. “Ayah” Panggilnya.
“Ada apa?”
“Apakah mungkin jika seseorang yang sudah mati lalu reinkarnasi, namun masih memiliki ingatan tentanng kehidupannya yang sebelumnya?” Tanya Zeria.
Sebenarnya Louise merasa bingunng kenapa Zera menanyakan itu, namun Louise tidak menghiraukan pikirannya “Sebenarnya bukannya tidak mungkin, tapi jika seseorang itu masih mengingat kehidupannya yang sebelumnya, pasti ada yang salah” Jawab Louise sambil menopang dagu.
“sama seperti yang dikatakan Eric ya? Satu pertanyaan lagi” pikir Zeria. “Kalau begitu, apakah mungkin jika orang yang berrsama kita di kehidupan sebelumnya malah berada di dekat kita di kehidupan yang sekarang?”
“Mungkin saja, jika memang takdir” Jawab Louise lagi.
“Kalau begitu, Eric tidak bohong” Pikirnya.
Zeria terus melamun memikirkan jawabannya hingga tak meperhatikan sekitarnya, hingga suara Dean mematahkan lamunnannya. “Tuan putri tertarik dengan cerita reinkarnasi?” Dean tiba tiba sudah berdiri di dekat meja mereka.
“Sedikit” Jaawab Zeria gugup.
“Jika Tuan Putri tertarik, saya punya beberapa buku yang menjelaskan tentang reinkarnasi. Namun karena saya tidak terlalu tertarik, Tuan Putri bisa mengambilnya saja.” Ucap Dean denga senyuman tulus yang merekah di wajahnya.
“Benarkah?!” Tanpa sadar, Zeria tiba tiba jadi bersemangat saat membicarakkan tentang buku. “Ahh, maaf” Zeria kembali ke sisi dirinya yang malu malu.
“Haha, tak apa. Akan saya ambilkan sebentar ya” Dean berjalan ke sudut toko dan menaiki tangga untuk naik ke lantai atas.
“Bagus, dengan begini lingkup penyelidikanku makin mengecil!”
__ADS_1