
Hari senin, pukul 2 siang. Zeria berada di lorong Istananya bersama dengan Eric. Keduanya hendak pergi ke ruang kerja Louise dan hendak menanyakan tentang pertunangan yang dulu sempat dibahas delapan tahun lalu. Sejak pesta dimana Arin mati, Vicent dan keluarganya tak pernah menunjukkan diri mereka lagi. Mereka hilang selama delapan tahun tanpa kabar apapun.
“Kenapa baru sekarang?” Tanya Eric. Rambut blondenya yang terkena sinar matahari terlihat sangat menyilaukan, matanya hijaunya juga terlihat sangat bersinar.
“Selama ini aku hanya menunggu kabar saja, tapi aku baru ingat kalau mereka bilang akan memperkenalkan Vicent secara resmi padaku di hari pesta. Dan mereka tak pernah muncul sampai sekarang” Tatapan mata Zeria menajam, ia menggenggam rok gaunnya dengan keras.
Mereka terus berjalan hingga sampai di depan ruang kerja Louise, walaupun kini tubuh mereka sudah besar, tapi tetap saja pintu itu masih terasa sangat besar. Zeria mengepalkan tangannya dan mengetuk pintu tersebut, ‘Tok tok’ bunyi ketukan pintu itu memang tidak besar, tapi karena keadaan sekitar sangat sunyi, suara ketukan barusan pasti bisa terdengar dengan jelas. “Ayah? Apa ayah didalam?” Tanya Zeria karena tak ada respon dari dalam setelah ia mengetuk pintu.
Keadaan sunyi sesaat, “Masuklah” Sahut Louise dari balik pintu besar itu. Dengan segera Zeria langsung mendorong pintu tersebut dan terlihatlah sosok Louise yang duduk di kursi kerjanya dengan sebuah pena di tangannya, dan tentu saja ada William disana.
Wajah Louise dan William terlihat sangat lelah, “Apa kalian tidak tidur?” Tanya Zeria.
“Tidak, saya hanya tidur selama empat puluh lima menit” Sahut William sambil melempar kertas yang dipegangnya. Sedangkan Louise hanya diam sambil terus menulis dokumen yang sedang dikerjakannya.
Zeria menatap Eric dan meminta tolong padanya untuk membuatkan empat teh, raut wajah mereka sudah seperti zombie. Zeria berjalan menghampiri sofa yang ada di tengah ruangan dan duduk di hadapan William. “Sudah kuduga, paman Will selalu memakai kacamata saat bekerja sebagai sekretaris ayah” Zeria meletakkan jari telunjuknya diantara kedua matanya, seakan sedang menaikkan sebuah kacamata.
“Ya begitulah” Jawab William dengan lesu.
Zeria menahan dirinya untuk bertanya karena kelihatannya mereka sedang sangat sibuk dan akan bertanya saat suasana sudah sedkit renggang. Beberapa menit kemudian Eric datang dengan sebuah nampan berisikan empat gelas teh, satu teko dan sebuah mangkuk kecil berisikan gula balok.
“Ayah dan paman Will istirahat dulu sebentar dan minum tehnya”
William dan Louise saling tatap dan setuju untuk istirahat sejenak. Mereka ber empat duduk di sofa dengan posisi Louise duduk bersama Zeria, dan Eric dengan William. Kenapa seorang pengawal pribadi ikut minum teh bersama majikannya? Karena Eric sudah seperti bagian dari mereka.
__ADS_1
“Ayah”
“Iya?”
“Apakah keluarga kerajaan Lilua tidak ada kabar?”
Seketika Louise dan William tersentak. Raut wajah mereka tiba tiba berubah dan menjadi tegang. “Kenapa tanya itu?”
William kembali meminum tehnya sambil mengatur ekspresi. “Aku penasaran saja, kenapa delapan tahun terakhir mereka tak ada kabar?”
Mereka kembali terdiam, dan pada akhirnya mereka luluh dengan tatapan Zeria dan menceritakan semuanya. Menurut penyelidikan Louise, kemungkinan besar kerajaan Lilua akan melakukan pemberontakan pada kekaisaran. Namun karena kurangnya bukti, pihak kekaisaran tidak bisa langsung menyerang atau menghancurkan kerajaan Lilua. Dan selama delapan tahun ini, yang bisa dilakukan oleh pihak kekaisaran hanyalah menunggu.
“Jadi, kemungkinan besar mereka akan melakukan penyerangan kemari?”
Keadaan yang sedang berada di ujung tanduk, yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu sambil selalu waspada pada setiap kemungkinan. Kekuatan militer kerajaan Lilua memang bisa dibilang lemah, tapi situasi akan menjadi gawat jika mereka bekerja sama dengan kerajaan lain. “Jadi, kita anggap kalau lamaran pertunangan delapan tahun lalu tidak pernah terjadi?”
“Tentu saja tidak!” Louise menggebrak meja hingga gelas teh yang ada diatas meja bergetar.
Zeria terkejut dengan reaksi Louise dan tanpa sadar malah mengacungkan ibu jarinya. Dan Eric tertawa setelah melihat tingkah Zeria. Seketika suasana menjadi lebih santai dan lega. Mereka sedikit berbincang bincang mengenai masalah tadi, dan sekarang adalah saatnya Louise dan William untuk kembali bekerja.
“Kalau begitu, saya permisi” Ujar Zeria.
***
__ADS_1
Sesampainya di kamar Zeria, Zeria menjatuhkan dirinya ke kasur dengan tangan telentang. “Sudah kuduga” Gumamnya.
Eric mendekati Zeria dan meraih wajahnya, wajah putih dan cantik, dengan rambut yang menyampir melewati wajahnya. Eric menyentuh rambut Zeria dan sedikit mengusapnya. Sentuhan itu terasa nyaman dan hangat. “Aku tau kalau akan begini jadinya”
“Kenapa?”
“Karena dulu Vicent pernah bergumam kalau ia akan menabur bunga ke tanah saat sebelum pesta, dan benar saja saat pesta Arin diserang”
“Apa kau pikir dia ada hubungannya?”
“Pasti ada!”
Zeria bangun dan duduk di pinggiran kasur, tepat dihadapan Eric. Zeria meraih kedua tangan Eric dan menatap matanya dalam dalam. “Sudah kuduga matamu itu sangat cantik” Celetus Zeria dengan wajah polosnya.
Wajah Eric memerah dan dengan reflek langsung menjauh dari Zeria, “Apa sih yang kau bicarakan?!” Pria itu menutupi wajahnya dengan lengan dan bicaranya tegagap.
“Hahaha, karena itulah aku suka sekali menjahilimu. Reaksimu itu sangat imut kau tau?” Zeria terguling guling diatas kasurnya sambil tertawa dengan keras.
“Imut katamu? Sepertinya itu bukan ungkapan yang cocok untuk pria berusia dua puluh sepertiku” Jawabnya sambil mengacak acak rambutnya.
“Tapi soal matamu yang indah, itu tidak bohong loh”
Dan lagi lagi Eric mengeluarkan ekspresi yang menggemaskan. Padahal wajahnya tampan dan tubuhnya tinggi kekar, tapi kenapa dia selalu malu saat Zeria memujinya?
__ADS_1