Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bertemu


__ADS_3

Burung merpati berterbangan secara serentak dari atas jendelanya, hingga menimbulkan suara kepakan sayap yang lumayan keras.


"Hari ini apa saja jadwalku?" Tanya Zeria yang sedang menulis di sebuah buku di tempat tidurnya.


"Hari ini tidak terlalu ketat, kau hanya perlu makan siang bersama Pangeran dan Baginda Kaisar, lalu selanjutnya kau memberi salam pada tamu, dan selesai" Jawab Eric.


Padahal mengingat jadwal adalah pekerjaan dayang, tapi karena Zeria tidak mempunyai dayang dan hanya mempunyai kesatria pribadi, jadi sudah menjadi tugas Eric juga untuk mengingatkan jadwal pada majikannya.


Zeria menghentikan tangannya dan menatap Eric, "Ada tamu?"


"Iya"


"Siapa?"


"Entahlah" Jawabnya sambil menaikkan kedua bahunya dan terkesan sedang meledek Zeria.


"Yasudah, nanti juga aku akan bertemu dengan tamunya"


Melihat reaksi Zeria, muncul ide ide jahil di kepala Eric. "Putri, apa kau marah?"


Zeria hanya diam sambil terus menulis di bukunya, namun saat ini ia terlalu menekan penanya dengan kuat. "Gawat" Pikir Eric.


Karena suasana hati Zeria tiba tiba memburuk karena kesalahannya, Eric langsung berlari ke arah jendela dan naik ke atasnya. "Aku akan mencari tau siapa tamunya, tunggu sebentar" Dan ia melompat. Pemandangan yang sudah sangat sering terjadi.


***


Tok tok


Lucas mengetuk pintu ruang kerja Louise dan langsung masuk tanpa menunggu jawaban darinya.


"Ada perlu apa?" Tanya Louise sambil meletakkan penanya.


"Siapa tamu yang datang?"


"Anggota kerajaan utara, kau pasti tau kan siapa orangnya?"


Lucas mengerutkan dahinya dan meletakkan jari telunjuknya di antara kedua alisnya. "Tentu aku tau, kapan mereka sampai?"


"Sebentar lagi"


"Kalau begitu aku akan bersiap siap dulu, apakah mereka akan makan siang bersama kita?"

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan membiarakan mereka mangganggu makan siangku dengan Zeria" Louise serius dengan perkataannya.


"Baguslah kalau begitu"


Lucas beranjak pergi dari ruangan Louise dan meninggalkannya sendirian lagi. Kesibukan dengan urusan Kekaisaran membuatnya sulit untuk bertemu Zeria, waktu untuk bertemu dengan Zeria hanya saat waktu makan siang saja. Maka dari itu ia tak akan membiarkan siapapun mengganggu waktunya.


***


Suasana Istana mulai ramai, sepertinya tamu yang dibicarakan oleh Eric tadi sudah tiba. Kira kira siapa tamunya sampai membuat Istana jadi berisik begini?


Zeria hanya berdiam diri di kamar sambil menunggu Eric kembali, tapi tiba tiba saja terdengar suara berisik di depan pintu kamarnya, seolah ada yang sedang berkelahi.


"Siapa?" Pikir Zeria, namun ia tak ambil pusing karena suara berisik tersebut langsung hilang begitu saja.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk sebanyak tiga kali, itu pasti Eric.


"Masuklah"


Pintu terbuka dan Eric masuk ke kamar Zeria sambil mengangkat sebuah karung di bahunya. Karungnya cukup besar, "Apa yang kau bawa itu?" Tanya Zeria.


"HAH?!" Zeria segera berlari mendekati karung yang Eric bawa dan memperhatikannya lekat lekat. Karung itu bergerak gerak, sepertinya di dalamnya memang manusia.


"Dia berdiri di depan pintu kamarmu, jadi aku tangkap saja karena aku tak pernah melihat wajahnya"


"Jangan jangan?" Piikir Zeria lalu membuka karung tersebut.


Sesosok pria dewasa dengan pakaian rapih dan formal, rambut merah dan mata yang menatap tajam ke arahnya. "ASWIN?!" Benar, itu adalah Pangeran Aswin Dale Clariness.


....


"Jadi, kau menangkapnya hanya karena kau tak pernah melihat wajahnya?" Tanya Zeria yang sedang menginterogasi Eric.


"Iya"


"Tapi warna rambut merah tuh hanya dimiliki keluarga kerajaan utara, masa kau tidak tau?"


"Aku tidak tau"


"Bohong! Kau pasti sengaja kan?"

__ADS_1


Eric mengalihkan pandangannya tanpa menjawab, terlihat raut wajah jahil di wajahnya. Sudah pasti dia sengaja melakuakan itu.


"Maafkan aku Pangeran"


Aswin menatap Zeria lekat lekat dan meraih tangannya, "Tidak apa apa. Lalu, panggil saja aku dengan namaku seperti sebelumnya" Ia mengecup punggung tangan Zeria.


Eric yang melihat hal itu langsung merebut tangan Zeria dan menggosok punggung tangannya dengan saputangan miliknya.


"Cepat di lap, atau kau akan terkena penyakit!"


"HEH!"


Kata kata Eric sangat jahat, namun Aswin juga tau kalau itu adalah candaan, jadi ia tak menganggapnya serius. Aswin hanya berbincang ringan dengan Zeria, tentu saja diawasi oleh Eric.


Tiba tiba angin berhembus melalui jendela yang terbuka lebar, angim yang terasa menyejukkan dan menerbangkan dedaunan pohon ke dalam kamar. "Sepertinya aku harus meminta pelayan untuk membersihkan ini" Eric berjalan mendekati pintu untuk pergi memanggil pelayan. Namun sebelum benar benar meninggalkan ruangan, Eric menatap Aswin dengan tajam, seolah tatapannya berarti 'Jika kau sentuh dia, kau tak akan pulang dengan selamat' kira kira begitulah maksud dari tatapan Eric.


"Sepertinya jabatanku sebagai pangeran dari sebuah negara tak berpengaruh besar disini ya" Ucap Aswin dengan tatapan putus asa seolah telah kalah dari sebuah pertarungan.


"Haha, Eric memang begitu. Dia sudah ada disini sejak usiaku setahun, jadi memang begitulah cara bicaranya. Dia saja bicara santai pada kakakku loh" Zeria mengangkat cangkir tehnya dan meminumnya dengan perlahan.


Disaat seperti ini pun, keanggunan Zeria masih tetap sempurna. Karismanya yang luar biasa, menjadi alasan kalau ada banyak orang yang menyeganinya. Apalagi rumor buruk tentangnya yang bahkan sudah terdengar hingga negara Aswin.


"Masa wanita sebaik ini dibilang 'Tuan Putri Iblis' sih?" Pikir Aswin. Setelah memperhatikan Zeria, ia baru menyadari kalau penampilan Zeria sudah sangat berubah selama 8 tahun terakhir.


"Kau, memotong rambutmu?"


Zeria terdiam, perlahan menatap mata merah Aswin. "Iya, aku selalu menjaganya agar tetap pendek. Rambut panjang terus mengingatkanku padanya" Ujar Zeria.


Suasana menjadi sunyi. Aswin merasa kalau seharusnya ia tak mengatakan hal itu, panik mencari topik untuk menggantinya. Namun Zeria malah langsung mengalihkannya, "Kenapa kau bicara nonformal padaku? Aku hanya penasaran, bukan berarti aku terganggu"


"Ahh, aku terbiasa bicara begini. Maafkan aku"


"Tak apa, lagi pula aku lebih suka begini. Omong omong, kau seumuran dengan kakak kan? Apa aku juga perlu memanggilmu dengan sebutan kak Aswin?"


Wajah Aswin memerah dan refleks mengalihkan pandangannya. Zeria bingung dengan reaksi Aswin, kenapa dia begitu? Pikirnya.


... TAMBAHAN...


...Halo semuanya,gimana kabar kalian? Author cuma mau kasih pengumuman sebentar, sekarang kan tanggal 20 september nih. Yang artinya, hari ini adalah hari ulang tahun Tuan Putri kita, Luczeria Xenxes Arendelle!!!🎂👑...


__ADS_1


__ADS_2