Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 12


__ADS_3

Waktu sudah mulai kembali normal. Zeria pingsan dengan keadaan berlumuran darah di bagian hidung dan mulutnya. Mereka berdua panik melihat Zeria yang tiba tiba pingsan, namun Arin lebih memikirkan hal lain.


"Dik, Reina ada di luar. Jika dia melihatmu ada di sini, dan Tuan Putri yang sedang pingsan, pasti kau yang akan di salahkan. Karena orang biasa tidak bisa melihatku" Ucap Arin sambil memikirkan cara agar anak itu tidak disalahkan.


"Lalu, apa yang harus ku lakukan kak?" Tanya anak itu.


"Kau pegang Tuan Putri, aku punya ide" Arin mempunyai rencana agar anak itu tidak disalahkan.


Arin berdiri lalu menjentikkan jarinya. Sebuah cahaya samar muncul, dan orang yang sudah nemukuli anak itu pun kembali lagi ke tempat itu, karena Arin memindahkan orang itu lagi ke gudang.


"Apa yang terjadi?!" Ucap orang itu sambil berteriak keras.


"Hei, dik. Bisakah kau sedikit menangis, lalu kalau bisa, kau juga harus menyalahkan orang itu" Ucap Arin memberi tau rencana yang ia buat.


Anak itu menggangguk pelan agar tidak dicurigai oleh pria tersebut.


"TO-TOLONG" Anak itu berteriak sekeras mungkin sambil menangis, dan tiba tiba..


BRAKK

__ADS_1


Suara benturan pintu gudang terdengar sangat keras, tanda bahwa orang yang membuka pintu itu sedang panik.


"TUAN PUTRI?!!" Reina masuk ke gudang dengan rasa panik, karena Zeria tiba tiba menghilang dari gendongannya. Dan rasa panik yang dirasakannya bertambah, saat melihat Zeria terbaring dengan berlumuran darah. "Tuan Putri?! Tuan Putri bangunlah, saya mohon!" Reina langsung memeluk Zeria dan menangis karena melihat keadaan Zeria.


"Kak, tolong" Anak itu menarik sedikit rok Reina dan berusaha meyakinkannya. Bahwa pria itulah yang sudah melukai mereka.


"Apa yang kau lakukan pada Tuan Putri?!" Reina berteriak pada pria itu.


"Aku tidak melakukan apapun padanya!" Pria itu juga panik, padahal tadi hanya ada satu anak laki laki, tapi sejak kapan Tuan Putri ada di sana?


"Jangan berbohong! Kau akan mendapat balasan karena melukai Tuan Putri!" Reina menatap tajam orang itu dengan matanya yang berlinang air mata.


"Zeriaa?!" Lucas tiba tiba datang dengan diikuti segerombolan pengawal. Wajah Lucas terlihat sangat tidak baik, aura membunuh yang sangat kuat keluar dari dirinya. Mata merahnya bersinar bagai ruby yang terkena pantulan cahaya, namun kemarahan yang sangat besar terasa dari matanya.


"Hei! Siapa kau? Kenapa membawa pengawal begini?!" Pria itu merasa panik karena para pengawal muncul dengan tiba tiba.


"Apa yang kau lakukan pada adikku?" Lucas menatap pria itu dengan tatapannya yang tajam dan dengan aura membunuh yang kuat. "Aku bertanya, apa yang kau lakukan pada adikku? Apa kau bisu?" Lucas bicara dengan nada datar, namun semua kata kata yang dikeluarkan nya, terdengar seperti sebuah ancaman.


"A-aku tidak melakukan apa pun" Pria itu bicara terbata bata karena tertekan oleh kekuatan Lucas.

__ADS_1


"Jawab dengan benar" Lucas masih terus menekan pria itu dengan aura membunuh yang kuat. Para pengawal diam tanpa mengeluarkan satu kata pun, karena mereka tau, bahwa jika Lucas sudah marah maka bisa bisa semua orang yang ada di sana mati di tangannya. Dan Reina masih terus menangis sambil memeluk Zeria dengan erat.


"S-sudah ku bilang, aku tidak melakukan apapun" ucap pria itu.


"Jawab dengan jujur" Lucas masih tidak percaya dengan ucapan pria itu.


"Baiklah! Memang benar bahwa aku yang memukuli anak laki laki tersebut, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi pada anak perempuan itu"


"Cih, bawa dia. Hukuman untuknya akan di putuskan saat Zeria sudah sadar" Mata merah Lucas sedikit meredup, ia merasa putus asa karena tidak bisa melindungi adiknya.


"Baik Pangeran" Para pengawal langsung menjalankan perintah dari Lucas dan membawa pergi pria itu.


"Reina, bawa Zeria ke kamarku. Dan bawa anak ini ke dokter, bersihkan dia lalu obati" Lucas mengusap darah yang ada di wajah Zeria dengan pelan, lalu mengusap rambutnya dengan tatapan yang sangat sedih. "Aku adalah kakak yang buruk" Pikirnya.


"Baik pangeran" Reina membawa Zeria pergi ke kamar Lucas lalu menggantikan pakaian dan membersihkan darahnya. Anak laki laki itu juga sudah dibersihkan dan diobati.


Sebenarnya Lucas sudah merasakan hawa tidak enak saat Zeria bilang kalau ia ingin ke toilet. Lucas merasa bahwa, akan terjadi sesuatu pada adiknya. Setelah beberapa lama Zeria pergi, rasa khawatir Lucas menjadi sangat besar. Ia berinisiatif untuk pergi menyusul Zeria dengan membawa beberapa pengawal. Namun, rasa cemas Lucas menjadi sangat sangat bertambah saat ia melihat bahwa adiknya tidak pergi ke toilet.


Ia dengan diikuti beberapa pengawal, langsung pergi mencari Zeria. Dan saat melewati gudang, mereka mendengar suara bising dari dalam. Lucas sedikit mengintip ke arah gudang, dan ternyata firasatnya benar. Zeria sudah terbaring lemas berlumuran darah di pelukan Reina.

__ADS_1


__ADS_2