
Keseharian Zeria berlangsung sangat normal, dan sangat biasa. Kini usianya sudah tujuh tahun, dan Lucas sudah berusia hampir lima belas tahun. Kesehariannya bersama dengan tiga pemuda yang selalu bersamanya, Lucas, Eric, dan Azra.
"Azra" Panggil Zeria pada Azra yang tengah duduk di sofa tepat di depannya.
"Ya?" Jawabnya dengan canggung, ini baru dua bulan sejak Azra dipindahkan ke Istana Putri untuk menjadi bawahan, serta teman bicara Zeria.
Azra masih belum bisa beradaptasi dengan prilaku Zeria dan yang lainnya. Zeria sudah meminta Azra untuk berbicara santai saja padanya, namun sepertinya hal itu tidak mudah, "Apa kau masih belum terbiasa bicara santai denganku?" Tanya Zeria.
Azra terdiam sejenak untuk memikirkan jawabannya, dan Eric hanya memperhatikan dari tepi jendela yang terbuka lebar, "Ya, begitulah" Jawabnya dengan senyuman di wajahnya.
"Begitu ya? Padahal Eric langsung terbiasa hanya dengan waktu beberapa hari saja" Raut wajahnya murung namun terlihat seperti sedang mengejek.
Eric yang mendengar hal itu langsung teringat akan hal yang terjadi di masa lalu, bahwa Zeria mengancamnya agar dia bicara santai padanya, "Bukankah itu karena kau mengancamku hah?" Eric melakukan telepati pada Zeria.
"Hemm, begitukah?" Zeria menutup salah satu matanya dan menjulurkan lidahnya untuk mengejek Eric.
Eric menggenggam bingkai jendela dengan sangat kuat untuk meredam amarahnya, hingga bingkai jendela itu retak dan menarik perhatian Azra, "Tuan, jendelanya" Azra menegur dengan gugup serta takut.
"Oh? Tidak apa apa, tadi ada seekor semut dan aku harus membunuhnya agar tidak menggigit putri yang cantik dan baik yang ada di sana" Eric tersenyum melihat Zeria, namun senyumannya itu adalah tanda bahwa ia masih bisa menahan amarahnya.
"B-begitu ya?"
"BUKANKAH DIA TERLALU POLOS?!" Eric, Zeria, dan Arin saling memikirkan hal yang sama dan saling mendengar isi pikiran yang lain.
"Zeria gawat, anak itu terlalu mudah percaya lebih baik kau ajarkan padanya tentang kelicikan dunia ini. Akan berbahaya jika dia pergi ke dunia luar yang berbahaya" Arin muncul dihadapan Zeria, tepat di depan wajahnya dan mencengkram bahu Zeria.
Zeria yang terkejut dengan refleks menjawabnya "Baik"
Setelah beberapa saat, Zeria baru menyadari apa yang diucapkan olehnya. "KENAPA AKU MENURUTINYA???" Pikirnya.
"Selamat mengajar, Tuan Putri" Eric kembali membalas Zeria dengan menjulurkan lidahnya dan langsung melompat dari jendela untuk pergi latihan, sekaligus menghindar dari amarah Zeria.
"ERIC SIALAN!" Teriaknya dengan keras, bahkan mungkin para pelayan yang berada di koridor depan bisa mendengarnya.
Setelah Eric pergi, suasana menjadi sunyi. Tidak ada yang mau membuka topik pembicaraan diantara mereka berdua, hingga akhirnya Zeria terfikirkab dengan satu hal yang bisa membuat Azra terbiasa berbicara santai dengannya. "Azra!" Suara keras Zeria membuat Azra tersadar dari lamunannya.
"Iya! Tuan Putri!" Jawabnya dengan keras karena terkejut.
"Emm? Kenapa dia terkejut?" Pikir Zeria, "Aku ada ide agar kau bisa terbisa bicara informal padaku" Ucapnya dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi.
Azra terlihat kebingungan dengan perkataan Zeria barusan, "Dengan cara apa?" Tanya Azra.
"Berlatih tentu saja. Kau akan berlatih dengan teman baikku" Ucap Zeria, "Arin, mohon bantuanmu ya"
"Hah" Arin menghela napas panjang, "Baiklah jika itu yang kau inginkan" Jawab Arin dengan pasrah. Karena Arin hanyalah wadah, dan perintah Zeria adalah mutlak baginya.
"Siapa?" Tanya Azra yang makin kebingungan, memangnya Tuan Putri yang selalu mengurung diri di kamar punya teman lain selain Azra dan Eric?
__ADS_1
"Masuklah" Ucap Zeria dengan menggunakan sihirnya untuk membuka pintu kamarnya.
Di depan pintu kamar yang terbuka secara perlahan itu, terlihat seorang wanita remaja cantik dengan rambut hitam sebahu dan mata hitam. Menggunakan gaun putih selutut dan beberapa aksesoris sederhana. "Perkenalkan, dia adalah Arin" Zeria memperkenalkan Arin pada pada Azra.
Azra segera berdiri untuk memberi salam dan memperkenalkan diri, "Saya Azra Claes" Azra meletakkan tangan kanannya di dada sebelah kiri dan tangan kirinya di belakang, dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Oke, Arin. Aku ingin kau melatih Azra berbicara dengan bahasa informal, karena aku tidak nyaman jika temanku bicara padaku dengan sopan hanya karena aku putri seorang kaisar." Ucapnya, Zeria bangun dari sofa dan pindah ke kasurnya untuk membaca buku.
Untuk beberapa saat, Arin dan Zeria saling bertatapan dan akhirnya melakukan kegiatan masing masing. "Baiklah Azra. Untuk hal yang pertama, Zeria tidak suka jika orang yang dekat dengannya memanggilnya dengan sebutan 'Tuan Putri', jadi untuk sekarang coba sebut namanya" Hal pertama yang harus dilakukan oleh Azra adalah memanggil nama Zeria.
"Eh? Tapi nona, bukankah itu tidak sopan?" Azra khawatir jika hal itu akan dianggap sebagai perlakuan tidak sopan pada keturunan kaisar.
"Tak apa, karena dia sendiri yang memintanya. Dan jangan panggil aku nona, namaku Arin. Nah sekarang, coba sebut namanya" Arin menatap Azra dalam dalam agar Azra tidak dapat menolaknya.
"Ze- Zeri- Zeria" Ucapnya dengan wajah malu malu dan merah padam. Walaupun Azra menundukkan kepalanya, namun wajahnya masih terlihat.
"Nah, kau bisa melakukannya. Jangan canggung, kau pasti bisa menyebut namanya dengan benar" Ucap Arin menyemangati Azra, "Tapi kenapa dia malu malu?" Pikir Arin.
"Entahlah" Jawab Zeria, mudah sekali bagi Arin dan Zeria untuk berkomunikasi karena mereka saling berbagi pikiran.
Azra terus diperintahkan oleh Arin utuk menyebut nama Zeria hingga terdengar tidak canggung, entah berapa kali Azra sudah mengulanginya, namun Zeria tidak menghiraukan mereka dan tetap membaca bukunya dengan tenang.
Hingga akhirnya Eric datang dan masuk melalui jendela, "Wah, siapa dia" Ucapnya dengan ekspresi kaget saat melihat Arin, dan tentu saja itu bohong.
"Hei bocah sialan, jangan menambah pekerjaanku" Arin langsung menghubungkan pikirannya dengan Eric untuk memperingatinya.
Baru saja tiba, hal pertama yang Eric lakukan adalah mendekati Zeria dan duduk di tempat tidurnya.
"Ada apa?" Tanya Zeria tanpa memalingkan pandangannya dari buku yang dibacanya.
Eric memandangi wajah kecil Zeria sebentar dan mengalihkan pandangannga ke arah Azra dan Arin, "Apa yang mereka lakukan? Dan kenapa anak itu terus menyebut namamu?" Tanya Eric sambil menarik rambut bagian depannya kearah belakang, karena menghalangi pandangannya.
"Berlatih, anak itu tidak terbiasa memanggil orang lain dengan nama. Karena itu juga jadi sulit berbicara santai dengannya" Jawab Zeria, dan lagi lagi tanpa mengalihkan pandangan dari buku.
"Hmm, begitu?" Eric mengambil buku yang sedang dibaca oleh Zeria dengan cepat, dan mendekatkan wajahnya ke telinga Zeria. "Akan ada bahaya yang datang" Bisiknya.
"Hah?" Apa maksud Eric barusan? bahaya apa?
Tak lama kemudian, Lucas datang seperti biasa dan langsung menghampiri Zeria. Lucas memeluknya, mencuimnya, dan tak mau melepaskannya "Adikku ini makin hari makin cantik saja. Bagaimana kau bisa secantik ini?" Ucapnya sambil memeluk Zeria dengan erat.
"Jadi ini yang dimaksud Eric dengan 'Bahaya'? Ini sih sangat berbahaya, kenapa tidak bilang kalau kakak kesini?" Zeria hanya bisa pasrah di pelukan Lucas, karena perbedaan kekuatan mereka sangat jauh.
"Hehe" Jawabnya sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.
Lucas memang seperti itu, dia sangat menyayangi adik perempuannya dan berusaha melindunginya. "Zeria, siapa wanita itu?" Tanya Lucas sambil menatap Arin yang sedang mengajar Azra.
"Eh? Itu...Temanku?" Zeria sangat gugup hingga tak tau harus menjawab apa.
__ADS_1
"Hmm, aku tidak tau kalau ternyata kau punya teman perempuan" Lucas mengusap rambut Zeria dengan lembut sambil menatap Arin.
"Haha" Zeria benar benar kehabisan kata kata "Kalian berdua, tolong aku"
"Kasihan sekali ya Tuan Putri kita ini sedang kesulitan. Baiklah Karena kau cantik, akan ku bantu" Jawab Eric.
"Cih, dasar buaya darat" Arin mendecak mendengar jawaban dari Eric yang terdengar seperti playboy.
"Pangeran, wanita itu adalah Arin, dia kenalanku. Dia bukan bangsawan, jadi mungkin kau tidak pernah melihatnya" Ucap Eric menjelaskan agar Lucas percaya pada apa yang dikatakannya, tapi tentu saja itu semua bohong.
"Begitukah? Yah, kau kan memang sering pergi keluar untuk keluyuran, jadi mungkin kau akan kenal beberapa orang di luar" Lucas mengangkat bahunya dan melepaskan Zeria dari pelukannya.
Lucas itu selalu mempercayai mereka berdua, jadi jika mereka sudah bilang sesuatu, maka dia akan mempercayainya dan tidak membahasnya lagi.
Karena banyak berlatih dengan Arin, sedikit semi sedikit Azra mulai bisa berbicara informal pada Zeria. Dan latihan dari Arin hanya berlangsung selama satu minggu saja.
#Kamar Zeria Satu Minggu setelahnya
Hari ini adalah hari dimana Zeria mulai menerima pelajaran, seperti belajar sihir, sejarah, tata krama, dan sebagainya. Dan kebetulan sekali guru sihir Zeria adalah Razel.
"Jika ingin membuat sihir yang lebih kuat, maka 'mana' yang harus digunakan juga semakin banyak. Dan biasanya, jika seorang penyihir kehabisan mana, dia akan merasakan lelah yang berlebihan atau bahkan sampai pingsan. Maka dari itu, Tuan Putri harus berhati hati" Razel menjelaskan bahwa sebaiknya para penyihir itu menghemat mana mereka. Yah, walaupun penjelasan itu tidak akan berguna bagi Zeria yang punya mana berlimpah.
"Baik" Jawabnya tanpa bertanya hal yang lain lagi seolah olah sudah sangat paham tentang sihir.
Razel yang mendengar tanggapan Zeria, mengangkat sebelah alisnya "Apa tidak ada yang ingin ditanyakan?" Tanya Razel sambil mendekatkan wajahnya.
Zeria terdiam sejenak, menatap mata Razel dengan serius, lalu menjawab "Tidak" Tegasnya.
Razel tersenyum mendengar jawaban dari Zeria yang tanpa rasa ragu itu, "Kalau begitu, silahkan anda lempar pensil yang ada di hadapan anda menggunakan sihir, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya" Razel berusaha menguji Zeria, apakah dia paham atau tidak.
"Kau meremehkanku rupanya" Pikir Zeria. Zeria mulai memperhatikan pensil yang ada di depannya, pensil itu mulai berdiri atas kehendak Zeria. Dan saat pensil itu sudah melayang, Zeria menghempasnya ke arah tembok, tepat di samping Eric berdiri.
Krak
Suara pensil yang menancap dalam ke tembok. Seketika Razel merasa sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya, dan Eric, tentu saja ia lebih terkejut lagi.
"Tuan Putri, saya hanya meminta untuk melempar pensilnya, bukan menancapkannya" Ucap Razel sambil masih melihat kearah tembok yang bolong akibat pensil tadi.
"Begitu?"
"Zeria, apa kau tau? Jika tadi aku bergeser tempat sedikit saja, bisa bisa bukan tembok yang berlubang, melainkan kepalaku" Ucap Eric sambil memegangi kepalanya, memastikan apakah kepalanya masih utuh.
"Tapi kan tidak kena" Bantah Zeria dan bangkit dari tempat duduknya. "Astaga! Aku tidak tau kalau Eric berdiri disana, aku beruntung karena pensil itu tidak mengenainya. Ku kira dia akan mati" Sebenarnya Zeria juga sangat terkejut, namun dia menyembunyikannya (Stay Cool).
"Bodoh sekali kau" Ucap Arin.
"Berisik"
__ADS_1