
Siang hari yang cerah, keadaan istana tetap tenang seperti biasanya. Walaupun kabar bahwa kerajaan Lilua akan melakukan pemberontakan sudah tersebar secara luas, namun keadaan tetap terkendali.
“Bagaimana jadinya jika kerajaan Lilua benar benar berencana melakukan pemberontakan?” Zeria menyibak rambut pendeknya.
Lucas dan Eric yang ada dihadapannya pun dibuat terdiam dengan pertanyaan tesebut. “Yang bisa kita lakukan hanyalah bertahan dan melawan” Lucas menopang dagunya. Ekspresi Eric juga ikut mengeras, ekspresinya mengatakan seolah olah ada satu hal yang sangat ia takutkan.
“Kita lebih kuat dari mereka, tapi tidak tau apa yang akan terjadi jika ternyata mereka bekerja sama dengan ras lain”
Ucapan Eric membuat Zeria dan Lucas tersentak, “Aku tidak pernah berfikir ke arah sana, ada baiknya kita melaporkan-“
Ucapan Lucas terpotong karena pintu yang terbuka dengan keras
BRAK!
“Putri! Terjadi penyerangan di desa dekat gerbang timur! Katanya yang memimpin penyeragan adalah bawahan Tuan Putri!” Seorang pengawal tiba tiba berkata begitu tanpa meperdulikan sopan santun lagi.
“Bawahan?”
“Ah, Maafkan saya yang mulia putra mahkota” Pengawal tersebut langsung menundukkan kepalanya setelah mengetahui bahwa ada Lucas disana. Sudah jelas kalau pengawal itu bukanlah pengawal dari istana putri.
“Lanjutkan”
“Ah baik! Kami baru saja mendapat laporan bahwa terjadi penyerangan di desa dekat gerbang timur yang dilakukan oleh bangsa iblis”
“Iblis katamu?”
“Benar, dan menurut laporan, bawahan tuan putri lah yang memimpin mereka. Laki laki dengan rambut ungu tua”
“Azra?!”
“Kau boleh pergi” Lucas mengangkat tangannya dan menyuruh pengawal itu untuk pergi.
Suasana menjadi hancur, rasa tegang menghampiri Zeria. “Apa Azra mengkhianatiku?” Fikirnya.
“Jangan berfikir yang tidak tidak, lebih baik kita lihat secara langsung. Aku yang akan melindungimu” Lucas menggengam tangan Zeria.
Tanpa berfikir panjang lagi, Zeria langsung meng-iyakan ajakan Lucas, dan dengan cepat mereka langsung berteleportasi ke desa dimana tenpat penyerangan itu terjadi.
__ADS_1
Orang orang berlarian kesana kemari untuk menyalamatkan dirinya sendiri tanpa peduli pada orang lainnya. Tangisan anak kecil yang terdengar keras, orang orang yang terbaring tak bernyawa dijalanan, darah berceceran dimana mana.
“Apa apaan ini?” Kacau, semuanya sudah tidak terkendali. Walaupun Zeria berteriak dan meminta orang orang untuk mengikuti arahannya, tak akan ada yang mendengarnya.
Buk!
Ada sesuatu yang menabrak kaki Zeria.
“Kak, tolong kami”
Zeria menundukkan pandangannya, “Anak kecil?”
Dua orang anak kecil menabrak kaki Zeria,mungkin usianya sekitar 6 tahun? “Kembar?” Ujar Lucas. Rambut seputih salju dan mata biru terang yang sedikit berair karena air mata.
“Kalian tidak terluka kan?” Zeria mengusap kepala mereka berdua, “Kalian pergilah ke arah sana, pergilah sejauh mungkin dan jangan menoleh ke belakang. Kakak akan melindungi kalian dari belakang, oke?”
Mereka berdua mengangguk dan mengusap air matanya, lalu mulai berlari ke arah yang sudah diberitahu Zeria. Arah itu adalah arah ke gunung es abadi, selama mereka berlari ke arah sana, mereka tidak akan bertemu dengan bangsa iblis, karena tempat itu adalah tempat yang sangat terlarang bagi bangsa iblis. “Semoga mereka selamat” Senyum masam terukir di wajah Zeria.
Lucas memandangi kedua anak laki laki yang masih terus berlari tanpa menoleh ke belakang seperti perintah Zeria, “Ayo kita pergi” Ia meraih tangan Zeria dan menariknya pergi, diikuti oleh Eric di belakang mereka.
“Apakah orang yang meminpin penyerangan ini benar benar Azra?”
“Kalau begitu siapa?”
…
Mereka terus berlari dan sesekali memikirkan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi. “Jika Azra sedang berada di istana, lalu siapa yang ada di desa?” Ucapan Zeria mewakili semua pemikiran mereka.
Menurut laporan, Azra adalah pelaku dari penyerangan ini. Namun, kenyataannya sekarang Azra sedang berada di Istana. Lalu mana yang benar? “Tidak mungkin jika Azra berada di dua tempat berbeda yang jaraknya cukup jauh secara bersamaan. Dan lagi Azra adalah spesialis sihir ilusi, bukan menggandakan. Jadi hal itu tidak mungkin terjadi kecuali…” Zeria tiba tiba teringat pada kedua anak kembar tadi.
“Bagaimana jika mereka ternyata adalah dua orang yang berbeda?”
…
Zeria dan Lucas terkejut mendengar perkataan Eric barusan. “Eric…Apa kau membaca fikiranku barusan?”
“ENAK SAJA KAU! Aku hanya mengatakan apa yang sedang ku fikirkan saja”
__ADS_1
Itulah kemungkinan terbesarnya. Mereka bertiga terus berlari sampai akhirnya mereka sampai di alun alun desa gerbang timur, dan hanya ada kekosongan disana. Tidak ada satupun manusia ataupun ‘Azra’ yang ada di laporan.
“Kosong, apa ini jebakan?” Lucas menarik pedangnya dan mengacungkannya ke arah depan dan bersiap menerima serangan apapun yang datang.
Mereka berjalan perlahan menuju sebuah rumah bertingkat dan naik ke atasnya. Mengamati keadaan dari ketinggian dan pada akhirnya tidak ada satupun orang yang terlihat. “Dimana?” mungkin itu kata yang terus terulang di kepala mereka.
Mata mereka terus memperhatikan sekeliling tanpa ada yang terlewat, “Apa yang kalian lakukan disana?”
Suara seseorang membuat mereka terkejut dan reflex menghadap ke belakang mereka untuk melihat sumber suara itu. Zeria bahkan sudah menyiapkan sihirnya untuk menyerang orang tersebut jika dirasa berbahaya.
“Wo, kenapa anda mengacungkan pedang pada saya” Pria itu mengangkat kedua tangannya sambil memasang wajah khawatir.
Rambut ungu dan mata ungu tua, tinggi badannya yang sedikit lebih pendek dari Eric. “Azra?!”
Sekejap situasi menjadi hening, “Bagaimana kau bisa ada disini?” Zeria mendekati Azra tanpa membatalkan sihir yang ada di tangan kanannya terlebih dahulu, dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
“Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu?” Azra tersenyum.
Wajah manisnya terlihat sedikit masam, namun ada satu hal yang menarik perhatian Zeria. Mungkin di mata orang lain, senyuman polos itu akan menghapus semua kecurigaan. Namun ada yang salah, saat dia tersenyum terlihat sebuah lesung di pipi kirinya. Sedangkan Azra sendiri tidak memiliki lesung.
“Siapa orang ini?” Seseorang yang dikenalnya dan memiliki lesung di pipi kirinya. Seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengan Azra.
Disaat Zeria sedang memikirkan hal itu, Lucas tiba tiba berdiri di depan Zeria dan mengacungkan pedangnya ke arah Azra. “Apa benar kau adalah pimpinan dari para iblis itu?” Tanpa menurunkan kewaspadannya, Lucas terus maju hingga ujung pedangnya menyentuh leher Azra.
Tak terlihat sedikitpun ketakutan di mata Azra, padahal saat ini nyawanya bisa melayang kapan saja. Dan tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya.
“Apa kau mau diam saja sampai kau mati?” Lucas memajukan posisi pedangnya hingga sedikit menyayat lehernya.
Namun Azra masih tetap diam. Entah apa yang membuatnya diam, tapi Zeria bisa merasakan sesuatu yang terasa tak asing dibalik kepalan tangan Azra.
“Dia merapal sihir penyerang!”
Dengan sigap Zeria segera menarik Lucas ke belakangnya dan langsung menyerang Azra dengan sihir yang sejak tadi ada di tangan kanan yang ia sembunyikan.
"ZERIA?!"
Karena kapasitas sihir Zeria yang sangat besar, Azra bahkan langsung terpental dalam sekejap mata ketika sihir tersebut menyentuh tubuhnya.
__ADS_1
Kini jarak di antara meraka lumayan jauh, di ujung pandangannya, ada Azra yang berdiri sambil memegangi perutnya yang terkena sihir Zeria. Melihatnya yang tidak langsung mati bahkan ketika terkena sihir Zeria secara langsung, dia pasti bukan orang biasa.
“Kau fikir aku bodoh karena tak bisa mengenalimu, Vicent?"