
Hari ke enam festival masih berjalan dengan lancar, tanpa ada kendala atau kejadian buruk apapun yang muncul. Lalu tibalah hari terakhir festival yang digelar secara besar besaran, pada hari terakhir, pengunjung festival terlihat jauh lebih ramai dibanding biasanya. Istana juga jadi lebih sibuk dikarenakan malam ini akan ada pesta yang diselenggarakan di Istana dan di hadiri oleh Raja dari empat kerajaan yang ada di Kekaisaran Arendelle.
“Diluar berisik sekali sih” Arin menutup telinganya dengan telunjuk karena merasa terganggu. Dirinya bersama dengan Arin dan Eric kini sedang berada di ruang tamu Istana utama, mereka diperintahkan berkumpul untuk mendengarkan penjelasan dari Louise tentang tugas yang akan mereka lakukan saat pesta nanti malam.
Mereka masih menunggu Louise datang, ia sedikit terlambat dari waktu yang dijanjikan, mungkin karena dirinya sangat sibuk. Lucas juga masih belum datang, entah apa alasannya sampai ia terlambat tidak seperti biasanya.
Tak lama kemudian, Louise muncul dan membuka pintu dengan keras hingga pintu tersebut berbunyi dengan sangat keras, ‘BRAK’ Terlihatlah sosok Louise yang berdiri di depan pintu dengan wajah panik dan keringat yang mengalir dari keningnya. “Akhirnya aku bisa pergi juga” Ucapnya dengan nafas yang tidak teratur. Nampaknya ia berlari dari ruang kerjanya sampai ke ruang tamu, padahal jaraknya cukup jauh.
“Selamat datang ayah” Sambut Zeria dengan wajah cerah dan senyum lebarnya. Berbeda dengan Zeria yang tenang saat melihat Louise, Arin dan Eric malah merasa gugup saat bertemu dengan Louise, padahal Eric sudah tinggal di Istana selama enam tahun, tapi entah mengapa dirinya masih belum terbiasa dengan Louise.
Louise tersenyum gembira melihat putri kecilnya menyambutnya dengan senyuman, “Putriku” Ia berjalan dan memeluk Zeria, bahkan sesekali mencium pipinya. “Rasa lelahku terbayarkan hanya dengan melihat senyumanmu”
“Hehe”
Louise kembali melihat keadaan sekitar, “Dimana Lucas?” Dirinya sama sekali tidak melihat adanya Lucas di dalam ruangan tersebut.
“Entahlah, mungkin kakak akan terlam-“ Sebelum Zeria menyelesaikan ucapannya, Lucas langsung muncul dengan keringat yang mengalir dari kening dan lehernya. “Maaf aku terlambat!” Ucapnya.
“Aku merasakan déjà vu”
Setelah mereka semua berkumpul, Louise segera menuju ke topik pembicaraan mereka. Dirinya mengatakan bahwa, hal yang harus Arin dan Eric lakukan tidaklah banyak. Mereka berdua hanya harus terus berada di dekat Zeria apapun yang terjadi dan jangan pernah mengalihkan perhatian mereka dari Zeria. Mengingat ada banyak orang yang membenci Zeria, pesta malam ini adalah waktu yang sangat tepat untuk menyerang Zeria.
Sedangkan Zeria dan Lucas, tidak ada hal yang harus mereka lakukan. Mungkin yang akan mereka lakukan adalah menerima salam dari para bangsawan atau sedikit berbincang dengan orang lain. Dan jika ada yang tidak mereka sukai, Louise bilang untuk mengabaikannya saja.
“Yah, mungkin hanya itu yang ingin kusampaikan. Dan ada satu lagi acara penting dalam pesta kali ini”
“Apa itu?”
__ADS_1
“Malam ini aku akan mengumkan penobatan Lucas sebagai Putra Mahkota”
Mereka bertiga terkejut, terdiam sejenak untuk mencerna perkataan Louise. “Kakak, jadi putra mahkota?” Tanya Zeria untuk memastikan ulang kalau pendnegarannya tidak salah.
“Benar, aku juga sudah membicarakan hal ini dengan Lucas sebelumnya dan dia tidak keberatan”
Lucas menatap Zeria lekat lekat, “Ada apa? Apa kau ingin jadi penerus takhta? Kalau kau mau, maka dengan senang hati aku akan mundur” Ucapnya. Dengan entangnya Lucas bilang begitu, seakan akan itu bukanlah hal yang penting.
“TIDAK! Aku sama sekali tidak mau!” Zeria dengan cepat langsung menyangkal ucapan Lucas. Ia sangat tidak suka dengan gelar merepotkan seperti penerus takhta.
“Begitukah? Baik kalau begitu, biar aku saja yang lakukan” Jawab Lucas sambil mengusap usap kepala Zeria.
Pembicaraan mereka berakhir disitu, Louise dengan cepat langsung kembali ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertinggal. Sedangkan mereka berempat malah menganggur tanpa ada kegiatan yang bisa dilakukan.
***
Zeria dengan gaun abu mudanya, kilauan permata yang ada di bagian jubahnya terlihat sangat berkilau bagaikan bintang di langit malam, rambut panjang berwarna coklat muda yang diurai dan sedikit kepangan di bagian sampingnya, mutiara putih yang melingkar di atas kepalanya, kalung batu teleportasi yang sangat biasa bahkan terlihat sangat berkilau, dengan sepatu putih dengan sedikit hiasan bunga dibagian depannya.
“Wah, silau” Ucap Lucas dengan spontan setelah melihat penampilan Zeria, ‘Menyilaukan’ adalah kesan pertamanya kepada Zeria saat melihat penampilannya yang seperti ini.
“Haha, kakak juga keren loh” Puji Zeria. Lucas dengan rambut bagian kirinya yang ditarik kebelakang, kemeja putih dengan vest abu tua dan jas abu muda, dasi hitam dengan bros dibagian dada kirinya, celana panjang hitam, sepatu boots hitam dan sebuah pisau belati kecil yang tersembunyi dibalik jasnya. Benar, belati tersebut adalah batu teleportasi milik Lucas.
Mengapa pakaian Lucas tidak seperti pakaian resmi Pangeran pada umumnya? Hal itu karena Lucas tidak menyukai pakaian merepotkan dengan banyak atribut seperti itu, ia lebih menyukai pakaian yang nyaman untuk ia gunakan. “Benarkah?” Wajah Lucas memerah setelah mendengar pujian dari Zeria, mungkin ia merasa malu.
Lucas meraih tangan Zeria dan mengajaknya pergi ke aula pesta bersama. Sebelum pergi ke aula pesta, tentu saja mereka harus menunggu Louise dulu dan pergi bersama.
***
__ADS_1
Kini mereka bertiga berada tepat di depan pintu masuk aula pesta, suara terompet singkat berbuyi dan nama mereka di teriakkan, “SANG MATAHARI KEKAISARAN, BAGINDA KAISAR LOUISE SHARMAN ARENDELLE! BESERTA DENGAN KEDUA BINTANG KEKAISARAN, YANG MULIA PANGERAN LUCAS XENXES AREDELLE DAN TUAN PUTRI LUCZERIA XENXES ARENDELLE MEMASUKI AULA PESTA!”
Pintu aula pesta terbuka dengan lebar, cahaya lampu aula yang menyilaukan terasa menusuk mata. Zeria sesaat menutup matanya dan membukanya kembali. Dari tempat Zeria berdiri, para bangsawan yang berkumpul itu terlihat seperti gerombolan semut tidak tau diri.
Louise memulai pesta dengan cepat tanpa mengucapkan pidato tidak penting seperti biasanya. Louise, Lucas dan Zeria berpisah dan terbagi menjadi tiga kelompok. Banyak sekali bangsawan yang menyapa Louise dan Lucas, sedangkan tidak ada satupun orang yang menyapa Zeria. Walaupun Zeria merasa kalau itu adalah hal bagus karena ia tak perlu melakukan hal merepotkan, tapi bagi orang lain tidak begitu.
Ia bahkan bisa mendengar bisikan para bangsawan yang sedang membicarakannya, namun ia sama sekali tidak menghiraukannya. “Cukup dengarkan saja” Ucapnya dalam hati untuk meredam amarahnya. Zeria duduk di sebuah kursi dengan Eric dan Arin yang berdiri tepat dibelakangnya.
Tak lama setelahnya, ada seorang anak laki laki yang datang menghampirinya. Usianya terlihat seperti seumuran dengan Lucas, dengan jas hitam dan kemeja putih tanpa dasi, bros putih dengan lambang seperti salju di dada kirinya, dan celana hitam panjang dengan sepatu biasa berwarna coklat. Rambutnya yang berwarna merah dengan mata yang berwarna orange pucat, entah mengapa penampilan itu sepertinya pernah Ia lihat, terutama rambut merahnya. “Salam pada bintang kekaisaran, Tuan Putri Luczeria” Laki laki tersebut memberi salam dan menundukkan kepalanya dengan posisi tangan kanannya berada di dada kirinya.
Zeria mejawab salam tersebut dengan nada canggung, “Siapa dia?” Tanya nya pada dua orang yang ada dibelakangnya.
“Mana ku tau” Jawab Arin dengan masa bodo.
“Kenapa harus laki laki sih?!” Eric malah marah tanpa sebab.
“Ga guna banget” Pikir Zeria atas jawaban kedua orang itu.
Laki laki tersebut peka kalau Zeria keingungan dengan identitas dirinya dan langsung memperkenalkan diri, “Perkenalkan, nama saya Aswin Dale Clariness. Saya pengeran Kerajan Clarinness yang berada di sebelah utara kekaisaran Arendelle”
Setelah mendengar nama dan asal kerajaannya, Zeria laangsung ingat pada Calder sang Raja kerajaan Clariness yang dulu pernah ia temui, pantas saja rambut merah itu terlihat familiar.
“Ah iya, salam kenal” Jawabnya dengan terbata bata.
Aswin merasa kalau sifat Zeria yang mudah gugup itu terlihat sangat lucu dan pada akhirnya ia malah tertawa, “Maafkan saya, saya hanya merasa kalau Tuan Putri ini ternyata sangat lucu ya. Sangat jauh berbeda dnegan rumor yang saya dengar selama ini” Aswin berjalan mendekat ke arah Zeria dan meraih tangannya. “Semoga kita bisa akrab ya, Tuan Putri” Dan ia mencium punggung tangan Zeria.
“Biar ku bunuh dia!” Eric dengan cepat langsung memegang gagang pedangnya dan siap menebas Aswin, untung saja Arin langsung mencegahnya.
__ADS_1
Cemburu yang berlebihan itu tidak baik ya.