
Sebentar lagi festival pembentukan Negara akan dilaksanakan, orang orang dari luar kekaisaran mulai berdatangan untuk ikut merayakan festival tersebut. Festival akan dilaksanakan selama satu pekan penuh, siapapun bisa ikut berpartisipasi dalam festival itu, bangsawan ataupun rakyat biasa. Dan selama satu pekan penuh itu pula, Sofia akan terus berada di Kekaisaran Arendelle, ia akan tinggal di sebuah Vila keluarganya yang berada di alun alun Kekaisaran.
Kegiatan yang akan dilaksanakan pada saat festival adalah bazar besar besaran, pertandingan antar kesatria, kembang api di setiap malam selama satu pekan, dan masih banyak lagi. Selama satu pekan penuh, semua orang dipersilahkan untuk bersenang senang.
“Aku lelah” Ujar Zeria sembari meregangkan tubuhnya di kursi taman Istana Utama.
Zeria baru saja mengikuti rapat para bangsawan kekaisaran untuk memvoting kegiatan apa saja yang akan dilaksanakan selama festival. “Haha, itukan memang sudah tugasmu sebagai seorang Tuan Putri” Jawab Arin sembari menyenderkan tubuhnya pada kursi taman yang sama.
“Tapi ini berlebihan, aku masih tujuh tahun loh” Zeria memandangai langit biru yang terbentang luas diatas kepalanya. Langit hari itu memang cerah dan cahaya mataharinya juga sangat menyilaukan, namun karena masih musim dingin jadi ia sama sekali tidak bisa merasakan panasnya sinar matahari itu.
Mereka berdua hanya duduk diam sembari menatap langit, “Ngomong ngomong Arin, kenapa sekarang kau tidak pernah kembali ke wujudmu yang dulu dan malah selalu berada dalam wujud manusia?” Tanya Zeria melalui pikirannya agar tak ada yang mendengarnya.
“Karena kau semakin besar dan sihirmu semakin kuat. Jadi begini, semakin bertambahnya usiamu dan semakin kuat sihirmu, maka akan semakin nyata juga tubuhku ini. Jadi aku hanya bisa berkomunikasi denganmu melalui telepati saja, aku sudah tidak bisa menyatu dengan dirimu lagi karena memang begitulah peraturannya” Arin tersenyum lesu melihat Zeria.
Zeria merasa asing dengan ekspresi wajah Arin yang tersenyum lesu seperti itu, rasanya sangat aneh. Ia sama sekali tidak tau bagaimana harus memberikan reaksi, “Begitu?” Mereka terdiam sejenak sampai akhirnya Zeria melontarkan pertanyaan lagi. “Kalau begitu, apa kau bisa mati?” Tanya Zeria tanpa ragu.
Arin sama sekali tidak terkejut dengan pertaanyaan yang dilontarkan Zeria, seolah olah dirinya sudah menduga kalau Zeria akan memberikan pertanyaan seperti itu. “Tentu bisa. Aku ini juga makhluk hidup loh, setiap makhluk yang hidup pasti akan mati. Tapi tenang saja, jika aku mati maka kau tidak akan mati, namun jika kau yang mati maka otomatis aku juga akan mati” Jelas Arin tanpa memandang Zeria.
“Begitu? Lalu kalau kau mati, apa yang akan terjadi padaku?”
“Kau pasti akan merasakan sakit yang luar biasa karena semua sihirmu kembali padamu. Selama tujuh tahun ini sihirmu itu terbagi dua, setengahnya ada pada dirimu, dan setengahnya lagi ada pada diriku. Jadi jika aku mati dan semua sihirmu kembali, tubuhmu pasti akan terkejut dan akhirnya tak kuat menampung semua sihir itu, tapi tenang saja karena kau tidak akan mati karena hal itu” Arin akhirnya menatap mata Zeria, tatapan matanya yang lesu itu sangat berbeda dari dirinya yang biasanya.
“Aku benci rasa sakit, jadi kau jangan sampai mati” Zeria menundukkan pandangannya dan menatap ke tanah sampai rambutnya menutupi wajahnya. Sampai Arin tak tau ekspresi wajah seperti apa yang dibuat Zeria saat ini.
***
__ADS_1
Eric dan Lucas berada di tempat latihan kesatria, mereka mengasah kemampuan untuk memenangkan pertandingan saat festival nanti. Mereka selalu melakukan sparing berdua setiap pagi dan membuat seluruh kesatria heboh, karena pertandingan antara Lucas dan Eric sangat menyeramkan layaknya pertarungan sungguhan.
“Apa kau benar benar ingin ikut pertandingan antar kesatria itu?” Tanya Lucas pada Eric yang sedang menyeka keringatnya dengan handuk kecil.
Eric tak langsung menjawab pertanyaan dari Lucas, ia duduk di atas rumput dan meminum air dari bolot minumnya, “Tentu saja, kerena aku harus membuktikan kalau diriku ini pantas menjadi kesatria pribadi Zeria” Eric tersenyum.
Para kesatria lain masih berlatih dengan giat, sedangkan Lucas dan Eric berteduh dibawah pohon sembari berbincang bincang. Tak ada hal lain yang mereka bicarakan kecuali tentang Zeria, benar, kedua orang ini adalah maniak Zeria. Hingga akhirnya obrolan mereka terganggu karena kedatangan seseorang…
“Pangeran!” Sofia berlari mendatangi Lucas dengan membawa handuk kecil ditangannya. Selama beberapa hari ini, Sofia selalu muncul di tempat latihan dan membawakan handuk untuknya. Sebenarnya Lucas merasa sangat terganggu dengan kehadiran Sofia yang selalu menempel padanya, namun karena status Sofia saat ini adalah sebagai tamu keluarga, jadi mau tidak mau Lucas harus bersikap sopan agar tidak merusak martabat keluarganya.
“Ahh, datang lagi sang perusak mood Pangeran” Gumam Eric sembari berdiri untuk memberi salam.
“Pangeran, saya membawakan handuk untuk menyeka keringat anda, tolong diterima.” Sofia menyodorkan handuk kecil tersebut pada Lucas, namun Lucas hanya melihat dan tidak menerimanya.
“Terima kasih Putri, tapi aku masih tidak perlu handuk” Lucas berdiri dari duduknya dengan bantuan dari Eric.
“Oh, ya begitulah. Aku ingin segera kembali dan mandi” Eric mengibas ngibaskan kaosnya agar angin dapat masuk dan menghilangkan rasa gerahnya.
“Haha, dasar kau ini. Ini kubawakan handuk” Arin menyodorkan handuk pada Eric.
“Wahh terima kasih, handukku yang tadi sudah sangat basah. Kau penyelamatku Arin!” Eric hendak menggoda Arin dan berencana untuk pura pura memeluknya, namun Arin lengsung menendang perutnya.
Eric meringkuk kesakitan ditanah, sedangkan Arin tak tak terlihat merasa bersalah sedikitpun, Lucas hanya memperhatikan tingkah bodoh mereka berdua dan tersenyum. “Ah Pangeran mau handuk juga?” Arin menyodorkan satu handuk lagi pada Lucas tanpa ragu.
Lucas memperhatikan handuk itu dalam dalam, “Tenang saja, aku tak menaruh obat bius atau apapun kok ke handuknya” Arin tertawa sedikit. Lucas tersenyum tipis melihat Arin dan akhirnya menerima handuknya.
__ADS_1
Dari tatapan sofia sangat terasa kalau ia tak suka dengan Arin, padahal ia yang seroang putri saja ditolak, namun bagaimana bisa handuk dari seorang rakyat biasa malah diterima. Ia merasa sangat marah dan terhina, namun ia harus tetap menjaga image nya dihadapan keluarga kekaisaran.
“Arin, kau kesini sendiri?” Tanya Eric perlahan bangun.
“Tidak, apa kalian tak menyadari kalau sejak tadi Zeria ada di bawah pohon?” Mendengar ucapan Arin, Lucas dan Eric sontak berbalik dan melihat ke arah pohon yang tepat berada dibelakang mereka. Dan benar saja, Zeria sedang duduk dibawah pohon sembari meperhatikan mereka.
“Kapan kau ada disini?”
“Sejak Arin datang”
Hawa keberadaan Zeria sama sekali tidak terasa, padahal kini Zeria berada di hadapan mereka. Lucas merasa takjub dengan pencapaian adiknya itu dan langsung menggendongnya. “Hebat!” Ujar Lucas dengan bangga.
Sejenak mereka melupakan keberadan Sofia dan akhirnya kembali sadar, “Selamat siang Tuan Putri” Ucap Sofia sembari menundukkan kepalanya.
“Siang, kau kenapa ada disini?”
“Saya hanya ingin melihat lihat saja, dan sekarang saya akan pergi. Permisi.” Sofia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan tempat latihan, ia meras kalau dirinya tak dianggap sebagai seorang Tuan Putri jika berada diantara mereka.
Zeria hanya memperhatikan Sofia hinga akhirnya ia sudah tak terlihat lagi, “Oke, tugas kami sudah selesai” Zeria meminta Lucas menurunkannya.
Sebenarnya kemarin Lucas menceritakan kalau belakangan ini Sofia selalu menempel padanya di tempat latihan, jadi ia meminta bantuan pada Zeria da Arin untuk mengurus Sofia agar tak mengganggunya lagi. “Terima kasih”.
“Kakak bau keringat, mandi sana! Eric juga mandi sana! Kalau sudah mandi, segera temui aku di kamarku” Zeria berjalan kembali menuju ke Istananya, namun ia tiba tiba berhenti, “Oh iya, kalian harus mandi dengan air hangat ya. Karena udaranya dingin, takutnya kalian malah terkena flu jika mandi dengan air dingin” Zeria melanjutkan langkahnya dan segera pergi.
Arin mengikuti langkah Zeria dari belakang, sedangkan Lucas dan Eric terus memperhatikan Zeria yang terus berjalan menjauh, “Dia perhatian” Ucap Eric tanpa memalingkan pandangannya dari Zeria.
__ADS_1
“Benar, adikku itu malaikat” Ujar Lucas.
“Yah, dia memang malaikat sungguhan sih, walaupun hanya setengah” Pikir mereka secara bersamaan.