Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 57


__ADS_3

Hari ke lima festival, masih tidak ada yang special. Semua masih terasa sama, tidak ada yang aneh hingga sesuatu menyadarkannya. “Woi!” Zeria tersadar dari lamunanya. Ia menoleh ke arah pintu dan terlihatlah sosok Eric yang sedang bersandar sambil melipat kedua tangannya.


“Eric? Kenapa ada disini?”


“Hah? Memangnya ini hal langka ya? Aku kan memang selalu kesini setelah latihan, ngomong ngomong dimana makhluk yang bernama Arin itu?” Eric berjalan mendekat.


“Dia bilang ingin menjenguk Azra”


Eric memperhatikan Zeria dengan teliti dan menyadari sesuatu, “Kau menyembunyikan sesuatu ya?” Eric mendekatkan bibirnya pada telinga Zeria.


Sensasi geli yang singkat, Zeria bisa merasakan nafas Eric yang berhembus ditelinganya. “Haha, aku memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu darimu ya” Zeria menarik rambut panjangnya kebelakang dan mengikatnya. Ia terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu. “Aku takut akan ada orang yang mati” Ucapnya dengan suara lirih dan wajah yang muram.


Wajah yang sudah sangat sering ia lihat belakangan ini, entah sejak kapan Zeria mulai sering memasang wajah begitu. “Apa maksudmu? Siapa yang akan mati?” Eric tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Zeria, siapa yang akan mati? Dan kenapa dia bilang begitu?


Zeria terdiam lagi, mudah sekali untuk dirinya tenggelam dalam fikirannya namun mudah juga dirinya tersadar jika memang berniat, “Entahlah, hanya firasat. Ngomong ngomong, lusa kemarin aku bertemu dengan Vicent” Ucapnya dengan santai.


“HAH?! KATANYA DIA AKAN DATANG SAAT PESTA LUSA NANTI?”


Zeria menutup telinganya dan memasang raut wajah kesal, wajahnya seperti berkata “Tidak bisakah kau bicara dengan normal? Aku ini tidak tuli!” begitu kira kira.


“Aku juga tidak tau, bunga yang berterbangan saat kita di atap juga ulahnya loh. Dan kemarin juga dia bilang kalau, dia akan menabur bunga ke tanah, bukankah itu artinya upacara pemakaman?” Saat upacara pemakaman, biasanya orang orang menaburkan kelopak bunga mawar merah di atas makam, tapi tak hanya bunga dengan warna merah saja dan ada juga bunga yang lain. Tapi bunga warna merah mendominasi nya.


Eric terdiam mencerna ucapan Zeria, sejak festival dimulai sudah banyak masalah yang bermunculan, dimulai dari Sofia, masalah pertunangan, Vicent dan rumor Zeria yang semakin menjadi jadi. “Kira kira apa maksud perkataannya?” Fikir Eric. Ia terduduk di sebelah Zeria dan meletakkan jadi telunjuknya diantara alisnya.


Keduanya tenggelam dalam fikiran mereka masing masing.


***


Disaat kedua orang itu tenggelam dalam fikiran mereka, jauh di tempat Vicent sedang melakukan suatu persiapan. “Kakak, apa aku boleh pakai bros bunga merah untuk di dasiku?” Vicent sedang mencoba coba pakaian yang cocok untuk dikenakannya saat pesta.

__ADS_1


“Silahkan saja, pakai saja yang mau kau pakai”


“Baiklah kalau begitu”


Seperti keluarga pada umumnya, mereka mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan saat pergi ke pesta. Walaupun mereka adalah keluarga kerajaan, tapi pesta yang mereka hadiri adalah pesta dari keluarga kekaisaran, jabatan yang lebih tinggi dari mereka. Jadi sebisa mungkin mereka harus tampil sempurna.


Vicent menyiapkan sesuatu di dalam kotak kecil berwarna biru dengan pita putih, entah apa yang ada didalam sana, namun pasti itu adalah hadiah untuk Zeria. “Ku harap dia menyukainya” Gumamnya dengan senyuman yang terukir diwajahnya.


***


“Arin, apa tidak kau tidak akan dimarahi jika meninggalkan putri sendirian?” Tanya Azra.


Arin merespon Azra dan tersenyum bangga, “Tenang saja, Eric pasti sedang menemaninya sekarang. Biarkan saja mereka berdua, pasti ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan saat hanya berdua saja” Arin memandang pintu kamar Azra yang terbuka lebar dan memperhatikan ke arah luar.


Wajah Azra memerah saat memikirkan apa yang dilakukan Eric dan Zeria saat ini, “Waaa, aku paham!” yang ada di fikiran Azra adalah, mereka berdua bermesraan dan saling membicarakan pribadi satu sama lain layaknya kakasih. Tapi fikiran itu sangatlah salah.


“Tidak, kau sama sekali tidak mengerti!” Fikir Arin. Arin sendiri sangat mengerti tentang apa yang akan dibicarakan Zeria dan Eric saat mereka hanya berdua. Sudah pasti yang mereka bicarakan adalah tentang permasalahan pertunangan atau masalah yang lain. “Tapi baguslah kalau kau salah paham. Sedikit yang kau tahu, maka semakin baik” Fikirnya.


Memperhatikan Azra membuat Arin sedikit merasa tenang, namun kegelisahannya tak kunjung hilang. Seperti ada sesuatu yang mencurigakan, tapi tak tau apa itu. Perasaannya tak tenang, banyak juga hal yang difikirkannya. “Zeria!” Arin melakukan telepati pada Zeria.


“Ada apa Arin?”


“Eh, emm. Entahlah, aku hanya ingin tau keadaanmu”


“Astaga, ku kira ada apa. Aku baik baik saja, Eric juga ada disini kok”


“Baguslah kalau begitu”


“Arin, aku…aku ingin memotong rambutku saat musim dingin berakhir, bisa bantu aku?”

__ADS_1


Arin terdiam, padahal rambut Zeria sangat indah dan halus tapi ia ingin memotongnya? “Baiklah jika itu keinginanmu”


“Terima kasih”


Telepati terputus, dan Arin kembali memperhatikan Azra. Angin dingin tiba tiba berrhembus melewati pintu yang terbuka, udara dingin mulai memasuk kamar Azra, Arin dengan cepat berjalan dan menutup pintunya dnegan cepat. “Orang sakit tidak boleh sampai kedinginan” Ucapnya dengan senyuman hangat diwajah cantiknya.


“Arin, apa kau tau kalau sendirian itu sangat menyeramkan?” Azra menarik selimutnya lebih tinggi dan berbaring.


“Aku tau, tapi aku tak pernah merasakannya”


“Haha, baguslah kalau begitu. Cukup aku saja yang tau bagaimana rasanya” Azra menutup matanya dan tertidur, raut wajahnya terlihat sedih, tapi juga terlihat bahagia.


Arin memperhatikan wajah Azra yang tertidur dari pintu, “Aku tak mengerti perasaan manusia” Fikirnya sambil membuka pintu dan berjalan meninggalkan Azra.


***


Zeria dan Eric masih memikirkan tentang perkataan Vicent, siapa yang akan mati? “Ah, Eric. Aku lupa bilang satu hal”


“Hm? Apa itu?


“Saat bertemu Vicent kemarin lusa, samar samar aku merasakan aura yang mirip dengan Dean”


“Dean? Siapa itu?” Wajah Eric berkerut dan tampak marah.


“Penjaga toko kue, dia bangsa iblis”


“Oh, ku kira siapa. Jadi maksudmu, aura Vicent mirip dengan aura bangsa iblis?”


“Iya, tapi hanya samar, seakan akan aura itu tak sengaja menempel pada dirinya” Aura itu bisa menempel pada siapa saja, tapi aura yang menempel itu tetap tidak bisa menghapus aura asli dari seseorang itu.

__ADS_1


Sebagai contoh, jika kita memakai parfum dengan wangi buah dan teman kita memakai parfum dengan wangi bunga. Maka wangi parfum tersebut akan menempel pada kita, tapi tidak mengubah wangi kita menjadi wangi bunga juga.


__ADS_2