
Setelah menemukan Azra, dengan cepat mereka berteleportasi ke Istana Zeria sebelum ada yang curiga karena Zeria sama sekali tidak kelihatan di dalam istananya. Eric membopong Azra, sedangkan Arin terus memegangi Zeria, karena kelihatannya Zeria sudah terkena efek samping dari sihirnya.
Mereka sampai dengan sangat cepat, dan untunglah para pelayan ataupun kesatria masih tidak menyadari perginya Zeria. Karena Zeria sendiri memang jarang sekali keluar kamar, jadi mereka sama sekali tidak curiga jika tidak melihat Zeria berkeliaran.
Luka yang dialami Azra sangatlah parah, mereka tidak bisa menanyakan penyebab hilangnya dirinya dalam keadaan seperti itu. Jadi Lucas memutuskan untuk melapor pada Louise kalau Azra sudah ditemukan, dan meminta dokter untuk datang.
Berita ditemukannya Azra membuat seluruh Istana gempar. Anak sepuluh tahun yang sudah menghilang selama tiga hari, tiba tiba saja ditemukan dalam keadaan luka parah dan kelaparan. Bagaimana bisa ada orang yang tega melakukan hal keji seperti itu pada anak sekecil ini? Itulah yang jadi bahan pembicaraan orang orang.
Dan juga karena masalah Azra ini, banyak juga orang orang yang bilang kalau itu adalah perbuatan Zeria. Rumor buruk menyebar dalam waktu satu hari, sebagian orang mangasihani Azra, namun sebagian besar orang lainnya malah menyebar rumor buruk tentang Zeria. ‘Tuan Putri Kejam Yang Menyiksa Bawahannya Hingga Sekarat’ Seperti itulah rumor yang tersebar dalam waktu satu hari.
Luka Azra langsung ditangani oleh dokter terbaik Istana, Louise mulai menanyakan beberapa pertanyaan pada Eric. Karena menurut laporan yang diberikan oleh Lucas, Eric dan Arin lah yang sudah menemukan Azra, karena jika Lucas berkata jujur maka masalah akan makin rumit.
Masalah tentang hilangnya Azra berakhir dengan tenang dan mulus, namun rumor buruk tentang Zeria malah sebaliknya. Rumornya menjadi sangat besar dan tidak jelas,namun Zeria sama sekali tak memperdulikannya, karena jika ia mempedulikannya itu berarti dirinya sama bodohnya dengan orang orang diluar sana.
Empat hari berlalu, Luka Azra sudah sedikit membaik dan kini Zeria dengan yang lainnya akan mulai memberi pertanyaan. “Sebenarnya, kenapa kau bisa ada disana?” Tanya Lucas sambil duduk di kursi dan menyilangkan tangannya.
__ADS_1
Ekspresi yang penuh dengan ketakutan terlihat di wajah Azra, dirinya seperti tidak yakin apakah ia boleh mengatakannya atau tidak, “Tidak apa apa, katakan saja. Karena kau adalah yang termuda diantara kami, jadi kami tidak akan marah. Eh, maksudku kau yang termuda kecuali Zeria, bagitu” Ucap Eric yang malah kelepasan saat membicarakan usia.
“Itu…” Azra masih tak yakin, namun melihat wajah wajah tulus di sekitarnya membuatnya mayakinkan diri dan berani mengatakan menyataannya. “Orang tuaku yang melakukannya” Ucap Azra sambil menundukkan kepalanya dan mentap selimutnya.
Lucas dan dan yang lainnya sontak terkejut, namun tidak dengan Zeria, reaksi Zeria masih tetap tenang namun sebenarnya ia juga terkejut, tapi ia tak menunjukkannya. “APA?!” Lucas sontak berdiri dan memukul meja yang ada disampingya dengan keras, “Memangnya ada orang tua yang tega berbuat sekejam itu pada anak kandung mereka?! Terlebih lagi kau kan anak tunggal!” Lucas tak percaya dengan apa yang didengarnya, perilaku orang tua Azra sungguh tak bisa ia bayangkan. Bahkan sikap mereka saja masih tidak lebih baik daripada binatang, mereka adalah sampah.
Zeria terdiam mendengar pengakuan dari Azra barusan, tiba tiba saja ingatan buruk tentang prilaku orang tuanya dikehidupan yang sebelumnya kembali lagi. Kenangan buruk yang seharusnya tak perlu ia ingat, kini malah kembali. “Tidak kak, prilaku orang tua yang seperti itu, benar benar ada” Ucap Zeria karena ia sendiri pernah mengalaminya selama empat belas tahun hidupnya.
“Ha? Cih, ternyata benar benar ada ya?” Lucas kembali duduk di kursinya dengan penuh amarah.
“Itu, sejak dulu ayahku memang sering menyakitiku dan menghukumku dengan berat hanya karena masalah kecil. Tiada hari tanpa dirinya mencambukku” Azra mengangkat baju bagian belakangnya dan menunjukkan semua luka yang sudah ia terima sejak dulu. “Aku tak tau apa salahku padanya, namun sepertinya ia tidak pernah menganggapku sebagai anaknya” Lanjut Azra sambil menahan air matanya yang mulai jatuh.
“Jika tidak mau melanjutkannya, maka hentikanlah. Kami tak ingin memaksamu” Ucap Lucas.
Namun Azra menggelengkan kepalanya dan tetap ingin melanjutkannya, “Ibuku adalah orang yang sangat hangat dan baik hati, ia sama sekali tak pernah memukulku. Namun ternyata semua sikapnya dulu adalah topeng…” Azra menceritakan semua hal yang terjadi padanya saat dirumah itu, dan mereka semua terdiam.
__ADS_1
Kini mereka semua sudah tau alasan mengapa Azra selalu memakai baju dengan lengan panjang, yaitu untuk menutupi semua lukanya. Merasa sudah puas bercerita, Azra langsung menangis “Padahal saat itu aku sudah berfikir kalau lebih baik aku mati saja, namun dengan mendengar suara kalian yang datang mencariku membuatku takut akan kematian. Aku masih ingin disini, aku masih belum mau mati, aku ini payah sekali ya?” Azra menyaka air matanya dan tersenyum.
Kunjungan mereka hanya sampai disitu saja, karena Azra juga butuh istirahat. Dan mereka juga sudah tau alasan Azra melakukan ilusi di rumah itu, dan tak ada lagi yang mau mereka tanyakan.
Zeria sama sekali tak memiliki waktu untuk memikirkan teka teki yang diberikan Eric, karena selalu ada saja masalah lain yang datang seolah olah mencegahnya untuk mengetahui kebenaran dari teka teki itu. Dan yang paling pasti, kebenaran itu pasti adalah kunci dari segala kejadian aneh yang sudah dialaminya.
Dengan kesaksian dari Azra, pihak kekaisaran membawa pasangan Claes ke istana untuk disidang tanpa sepengetahuan siapapun. Mereka berdua menerima hukuman penjara seumur hidup, sekaligus dua kali cambuk setiap harinya atas perlakuan kasar mereka pada anak dibawah umur. Gelar bangsawan mereka dicabut dan kini mereka berdua bukanlah siapa siapa.
“Ternyata didunia ini juga ada orang tua seperti itu ya?” pikir Zeria sambil menatap langit senja berwarna orange dari jendela kamarnya, “Padahal aku berharap kalau cukup aku saja yang mengalami kejadian buruk seperti itu, namun ternyata ada juga orang lain yang…” Zeria terdiam sambil mengoraksi kata katannya barusan, ”Cukup aku saja? Aku saja?” Pikir Zeria merasa aneh.
“Dulu saat aku jatuh, aku berfikir kalau yang jatuh itu hanya ‘aku saja’. Namun ternyata ada orang lain yang mati bersamaku, dan orang itu adalah Eric. Teka teki yang diberikan Eric, dan semua mimpi yang kualami, semuanya ada hubungannya. Mimpi saat jatuh ke tebing saat menolong anak laki laki yang merupakan adikku di dalam mimpi…Tunggu! Apa kalau begitu, aku tidak hanya aku sendiri disini yang mengalami itu, pasti ada orang lain!” Wajah Zeria berkeringat dan tiba tiba saja Eric datang.
“Hoo, melihat dari ekspresimu sepertinya kau sudah menemukan sesuatu ya?” Tanya Eric sambil menyenderkan tubuhnya di pintu masuk kamar.
“Eric?" Pikir Zeria menyadari sesuatu lagi. “Aku tahu! Eric! Kau adalah adik laki lakiku yang kutolong saat di tepi tebing di mimpiku bukan?!”
__ADS_1