
"Ruang pesta ini ada di bawah kendaliku!" pikir Zeria dengan penuh percaya diri.
Tatapan para bangsawan bangsawan itu sangat mengganggu, Zeria merasa sangat tidak nyaman karena di tatap seperti itu. Walaupun dia merasa takut, namun dia mencba untuk memberanikan dirinya. Louise menyadari bahwa para bangsawan memandang rendah putrinya, Zeria. Dan langsung mengeluarkan aura membunuh yang sangat kuat hingga semua orang yang ada di ruang pesta itu menunduk dan langsung diam dengan rasa takut. Hanya mereka bertiga lah yang tetap tegap.
"Sekali lagi kalian membicarakan putriku, akan ku potong lidah kalian. Lalu ku potong kaki dan tangan kalian, dan aku akan menggantung kalian di depan istana untuk dijadikan sebagai contoh" Louise mengeluarkan aura yang sangat luar biasa kuat dan membuat para bangsawan itu tidak berkutik.
"Ahhh, seram. Ayah seram, aku tidak boleh membuat ayah marah, atau bisa bisa aku di penggal. Lebih baik jangan cari masalah, hidup saja dengan tenang Zeria" Pikir Zeria dengan pikiran yang tidak karuan.
Karena para bangsawan sudah diam, Louise langsung membuka acara itu dan langsung memulai pestanya. Pesta berlangsung sangat lama, hingga datanglah acara terakhir. Yaitu pemberian hadiah dan ucapan selamat kepada Zeria.
"Salam Tuan putri. Saya putri dari keluarga Baron Retlas, nama saya Nana Retlas mengucapkan selamat ulang tahun Tuan Putri. Saya membawakan hadiah untuk Tuan Putri"
"Salam Tuan Putri.. "
"Tuan Putri... "
"Selamat ulang tahun... "
Para hadirin tidak ada henti hentinya datang dan terus memberi hadiah. Sejauh ini, hadiah yang sudah di terima oleh Zeria sudah terlihat seperti bukit, banyak sekali.
Hingga akhirnya di tengah hari, itu adalah waktu makan siang. Jadi para hadirin pun mulai pergi ke aula makan untuk makan siang. Namun anggota keluarga kekaisaran makan di tempat yang berbeda.
"Apa kau tidak lelah?" Arin tiba tiba bicara.
"Tentu saja aku lelah, aku ingin duduk di taman sambil menghirup udara segar" Ucap Zeria lewat pikirannya.
"Apa kau akan melewatkan makan siangmu?" Suara Arin seperti menghawatirkan keadaan Zeria.
"Iya, aku tidak nafsu makan" Jawabnya.
Zeria memanggil Reina dan memintanya mengantar dirinya ke taman. Walaupun awalnya Reina menolaknya karena Zeria ingin melewatkan makan siang, namun akhirnya Reina menurutinya. Reina pergi meminta izin pada Louise, dan Louise mengizinkannya. Namun hanya 30 menit saja. Lalu barulah mereka pergi ke taman.
#Taman Istana
"pemandangan yang indah, sudah lama aku tidak melihat pemandangan ini" Ucap Arin dengan nada agak sedih.
"Ehh, kau bisa melihat juga? Apa kau melihat melalui mataku?" Tanya Zeria dengan serius.
"Tentu saja. Aku bisa melihat apa yang sedang kau lihat" Jawabnya dengan cepat.
__ADS_1
"Wahh, sepertinya aku harus menggunakan mataku untuk melihat hal yang baik saja deh" Zeria terkejut ternyata Arin bisa melihat apa yang dia lihat. Padahal awalnya Zeria hanya menganggap Arin hanyalah suara.
"Haha, jangan khawatir. Aku tahu sifatmu, kau tidak akan melakukan hal yang tidak berguna" Arin sangat yakin dengan apa yang dia ucapkan.
Mereka berdua berbicara panjang lebar lewat pikiran(telepati).
"Sekarang jelaskan, apa yang kau maksud saat kau bilang bahwa kau adalah aku dan aku adalah kau?" Tanya Zeria dengan serius.
"Astaga, kau masih tidak mengerti? Akan ku jelaskan nanti saat pesta sudah selesai" Ucap Arin.
"Hahh? Kenapa kau selalu membuatku penasaran? Tapi baiklah, akan ku turuti. Tapi kau harus berjanji, malam nanti kau harus memberi tau semuanya" Zeria penasaran dengan Arin.
"Iya, aku tak pernah mengingkari janjiku" Jawabnya.
Yaa, Zeria sangat penasaran hingga tak sabar tentang hal apa yang akan diceritakan oleh Arin. Waktu terasa berjalan sangat lama. Hingga akhirnya pesta selesai tanpa masalah dan Zeria kembali ke kamarnya untuk istirahat.
"Tuan Putri, selamat tidur. Saya permisi" Ucap Reina lalu mematikan lampu.
"Iya, selamat tidul" Jawab Zeria dengan senyuman di wajahnya, lalu memejamkan matanya.
Reina meninggalkan kamar dan suara pintu yang menutup terdengar "klek" kira kira seperti itu suaranya. Zeria yang mendengar suara itu langsung membuka matanya.
"Apa kau tidak waras!? Apa kau tidak bisa melihat bahwa sekarang ini sudah tengah malam?!" Arin berteriak.
"Ehh, ayolah. Aku sudah tidak sabar, memangnya kenapa kalau sekarang ini adalah tengah malam?" Zeria bicara dengan nada yang sedikit menyebalkan.
"Hahh, sudah ku duga kau ini keras kepala. Baiklah akan ku jelaskan. Hal apa yang ingin kau tanyakan? aku akan menjawab sebisaku" Ucap Arin.
"Apa kau hanyalah suara? Atau kau juga memiliku wujud?" Zeria mengucapkan pertanyaan pertamanya.
"Tentu saja aku memiliki wujud, namun hanya kau yang bisa melihatku." Jawabnya.
"Bisa kau tunjukkan wujudmu?" Zeria bertanya, rasa penasaran pun menghantui dirinya.
"Yahh, baiklah. Tapi ku harap kau tidak terkejut" Jawab Arin.
Sebuah cahaya berwarna hijau keemasan muncul di depan Zeria. Cahaya yang sangat menyilaukan, namun sepertinya ada seseorang di dalam cahaya itu. Zeria menutup matanya, cahaya itu seperti menusuk ke mata Zeria.
"Haha, kau lucu sekali dengan wujud bayimu itu" Ucap seseorang.
Zeria membuka matanya perlahan. Dia melihat sosok wanita berambut hitam panjang, mata hitam dengan pakaian sekolah di Zaman modern(kemeja putih, rok pendek, dasi hitam, dan jas hitam. Dengan kaos kaki dan sepatu). Itu adalah wujud yang sangat familiar di matanya. Tentu saja terasa familiar, karena wujud itu adalah dirinya sendiri di masa lalu.
__ADS_1
"Kau... Adalah aku" Ucapnya dengan wajah yang sangat terkejut.
"Haha, lihatlah wajahmu itu. Bukankah sudah ku bilang bahwa aku adalah kau dan kau adalah aku? Apa sekarang kau mengerti?" Arin mengejek Zeria.
"Tunggu dulu. Jika kau adalah Arin Arista, sedangkan aku Luczeria adalah Arin Arista yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Jadi siapa yang Asli?" Zeria merasa heran, bagaimana bisa ada dua orang Arin? Yang satu adalah tubuhnya dan yang satu adalah jiwanya.
"Tentu saja kau. Wujud ini adalah mujudmu di masa lalu, aku adalah jiwa kosong yang mendapat ingatan lampau milik mu. Jadi bisa di bilang bahwa aku ini adalah duplikat dari dirimu. Apa kau tahu? Saat kau terjatuh dari atap dan meninggal, semua orang menangisi mu. Termasuk kedua orangtua mu, mereka menyesal dan ingin kamu kembali lagi." Ucap Arin, namun Zeria sedikit tidak percaya. Karena dengan sikap orang tuanya yang seperti itu, mereka tidak mungkin menyesal.
"Hhh, menyesal? Mereka? Kenapa mereka tidak menyesal saat aku masih hidup? " Zeria merasa kesal saat mendengar cerita bahwa kedua orangtuanya baru menyesal saat ia sudah meninggal. "Sudahlah, lanjutkan penjelasanmu" Lanjutnya.
"Baiklah, jadi. Kau sepenuhnya adalah Arin Arista yang sudah mati lalu reinkarnasi. Sedangkan aku hanyalah duplikatmu. Namun aku sedikit berbeda denganmu, apa kau tau bagaimana caranya sihir malaikat yang kuat bisa ada di dalam dirimu?" Menjelaskan dengan rinci lalu menanyakan hal lainnya.
"Tidak" Zeria menjawab dengan santai lewat telepati.
"Haha, bagaimana bisa kau tidak tau tentang hal ini? Padahal dulu kau sangat pandai" Nada suara Arin yang mengejek membuat Zeria merasa malu. Arin mencoba membalikkan suasana. "Jadi begini, aku akan menjelaskan serinci mungkin. Kau tetaplah Arin Arista, lalu sihir malaikat yang ada di dalam dirimu itu adalah sihir turun temurun. Itu artinya di antara ayah, ibu, kakek, dan nenek mu adalah malaikat. Sihir malaikat tidak berbentuk kekuatan magis atau bisa di bilang tidak membutuhkan mana" Arin menjelaskan.
"Tunggu, jika sihir tidak berbentuk kekuatan magis, jadi sihir malaikat ini berbentuk apa?" Zeria menyela dan bertanya.
"Itulah keunggulan sihir malaikat. Sihir malaikat biasanya membentuk sebuah sosok, dan sosok itulah yang akan mengendalikan sihirnya agar tetap terkendali. Tetapi walaupun sihir malaikat terpisah dari tubuh penggunanya, namun sang pengguna juga memiliki sihir di luar batas manusia normal. "
"Jadi maksudmu, aku memiliki sihir yang di luar batas manusia normal? Oleh karena itu sihir malaikat ini masuk ke tubuhku? Lalu jika sihir malaikat ini tidak di tubuhku, kau tidak akan pernah ada?" Tanyanya karena sedikit mengerti dengan penjelasan Arin.
"Iya, tepat sekali. Ternyata otakmu itu masih berfungsi ya?" Arin meledek Zeria sambil tertawa. Mereka lanjut saling meledek, tanpa henti. Namun tiba tiba...
BRAKK!
Suara benturan jendela yang sangat kuat terdengar, jendela paling kanan di dekat rak buku terbuka dengan keras.
"A-arin, apa itu?" Zeria terkejut dengan suara benturan itu.
"Entahlah, aku juga tidak tau. Namun sepertinya ada seseorang di sana" Ucapnya sambil menyipitkan matanya dan menatap tajam ke arah jendela.
"Arin, bagaimana ini? Ada berapa orang disana?" Zeria semakin khawatir karena keadaan di dalam kamar sedang gelap dan tidak bisa melihat apapun atau siapapun kecuali Arin.
"Ada sekitar 9 orang, aku merasakan hawa tidak enak. Sepertinya mereka datang kesini bukan untuk maksud yang baik" Arin merasa sedikit terganggu dengan kehadiran orang orang itu "Kau ingin aku melakukan apa? Di dunia ini, kau tidak perlu memikirkan orang lain. Kau boleh bersikap egois disini." Lanjutnya.
"Apa aku boleh sedikit egois?" Arin merasa aneh dengan kata kata itu.
"tentu" Jawab Arin.
"Baiklah. Jika mereka punya maksud baik, biarkan mereka. Namun jika maksud mereka buruk, BUNUH saja" Zeria yang merasa bahwa dirinya boleh bersikap egois, langsung memerintahkan untuk membunuh orang tanpa rasa simpati sedikit pun.
"Baiklah. Akan ku lakukan sesuai perintahmu Putri"
*Catatan: saat Zeria ngobrol sama Arin, itu Zeria nya bicara lewat pikiran yaa ^_^ (telepati)*
__ADS_1