Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 24


__ADS_3

Hari kedua pemberhentian latihan Lucas dan Eric. Keadaan Zeria sudah sangat membaik, di karenakan kini udara di istananya sudah tidak dingin. Tubuh Zeria sangat lemah karena dia adalah anak campuran, apalagi terhadap udara dingin.


“Bosannn” Zeria sudah mengatakan hal itu lebih dari 30 kali sejak pagi tadi.


“Hei, aku lebih bosan mendengarmu mengatakan hal itu sejak tadi.”Lucas duduk di sofa tepat di depan kasur Zeria sambil membaca buku.


“Bersabarlah, aku lebih bosan tau. Aku ingin mengayunkan pedang” Eric yang sebagai pengawal pribadi Zeria, berdiri di samping kasur Zeria sambil mengawasinya.


“AAAAAA!! AKU INGIN BACA BUKU!” Zeria sudah tidak bisa menahan rasa bosannya. Karena bagi Zeria, keseharian terbaik adalah membaca buku sepanjang hari.


“Akh! Kau berisik, semua buku yang ada di kamar ini kan ada banyak” Lucas menutup sebelah telinganya dengan jadi telunjuknya karena teriakan Zeria.


“Semuanya sudah ku baca” Wajah Zeria berubah jadi murung.


“Astaga, Eric, kau lihat? Di usianya yang baru satu tahun lewat sedikit ini, dia sudah membaca semua buku itu.” Lucas menghela napas karena ke terkejutannya yang melihat adiknya sesuka itu pada buku.


“Ya, aku tau itu. Karena setiap hari, dia selalu pergi ke perpustakaan untuk menghilangkan rasa bosannya. Dan karena itu juga, dia bisa melihat kita berlatih setiap hari.” Eric benar benar tenang berada di antara adik kakak yang sikapnya berkebalikan itu. “Akan ku ambilkan buku dari perpustakaan, mau yang berjudul apa?” Eric melirik Zeria dengan tajam, namun Zeria sedang melihat ke luar jendela, jadi dia tidak menyadari lirikan tajam Eric.


“Apa saja” Zeria menjawab dengan pandangan tetap mengarah keluar jendela, mata emasnya yang besar itu menatap seekor burung yang hinggap di jendela bagian luar kamarnya.


“Baiklah” Eric menundukkan kepalanya, lalu langsung pergi menuju ke perpustakaan untuk mengambil buku.


“Apa yang sedang kau lihat dengan sangat takjub itu?” Lucas menutup bukunya lalu berjalan menghampiri Zeria yang sedang duduk di kasurnya.


“Seekol ibu bulung. Dia pelgi dali salangnya yang hangat menuju ke tempat yang dingin untuk mencali makanan bagi anak anaknya. Dia pasti sangan menyayangi anak anaknya, ya kan?” Zeria masih terus menatap burung itu, di paruh burung itu terdapat seekor cacing untuk di berikan kepada anak anaknya. Dan itu membuat Zeria sadar, betapa bahagianya anak anak burung itu mempunyai orang tua yang seperti itu.


“Hei, apa kau lupa kalau aku ada di sini?” Lucas memegang wajah Zeria dengan kedua tangannya, dan membuat Zeria menatapnya. Wajah Lucas cemberut, ujung alisnya mengerut, namun dia tidak tampak sedang marah.


“Ka…kak?” Zeria kebingungan dengan reaksi Lucas saat ini. Ekspresi yang belum pernah dia lihat dari wajah Lucas sebelumnya.

__ADS_1


“Jangan lupa kalau aku ada di sini. Aku akan melakukan apapun kalau itu untukmu” Tangannya yang masih memegang wajah Zeria itu, kini terasa sedikit gemetar.


Zeria adalah orang yang sangat tidak peka dengan keadaan. Dia tidak tau caranya memilih kata yang benar dengan keadaan sekarang, maka dari itu dia hanya diam tanpa bicara. Sedangkan di sisi Eric.


“Buku apa ya yang kira kira Putri sukai? Sejauh ini, aku hanya melihatnya membaca buku Negara dan dokumen kekaisaran. Apa aku coba bawakan buku bergambar ya?” Eric bimbang memillih buku untuk Zeria, padahal Zeria bilang ‘apa saja’ tapi dia masih kebingungan memilihnya. “Tapi, kalau di pikir pikir. Yang kemarin itu sayang sekali ya? Padahal aku sudah hampir berhasil, tetapi ternyata malah gagal lagi. Yang kali ini harus berhasil” Tatapan Eric berubah dalam sekejap, tatapannya tajam dan membara. Dia, sedang merencanakan sesuatu yang sangat besar.


Eric memilih beberapa buku, lebih tepatnya banyak buku. Ia pergi dari perpustakaan menuju ke kamar Zeria. Eric pergi melewati jalan memutar yang terhubung ke taman belakang istana Zeria, ia berhenti sejenak memandangi taman itu dan tersenyum, namun senyumannya itu terasa berbeda dari biasanya.


“Kak, biasanya apa yang kakak lakukan di saat jam segini?” Zeria mencoba mencari topik pembicaraan, karena sejak tadi mereka selalu sibuk dengan urusan masing masing.


“Emmm, belajar. Karena jam segini adalah pelajaran sejarah” Lucas dengan santainya menjawab tanpa menoleh, dia masih sibuk memahami buku yang ada di kamar Zeria.


“Jam segini? Tunggu, kenapa sekarang kakak tidak belajal?” Zeria meyipitkan matanya dan mengerutkann dahinya.


“Emm, itu…” Lucas tidak bisa menjawab pertanyaan Zeria, dan malah berakhir gelagapan.


“Kakak?” Zeria meninggikan nada bicaranya, dan tatapannya mengintimidasi.


“Benalkah?” Zeria menyipitkan matanya, namun tiba tiba.


Brakk!


Pintu kamar terbuka dengan keras.


“PANGERAN!” William tergesa gesa mencari Lucas.


“W-William?!” Lucas yang terkejut dengan kedatangan William langsung berdiri dan dengan refleks menjauhinya.


“Pangeran, saya sudah menunggu anda sejak tadi. Tapi kenapa anda tidak datang? Hari ini kita akan belajar sejarah, tapi kenapa anda malah bersantai di sini?” Aura menyeramkan William membuat Lucas ketakutan.

__ADS_1


“A-aku lupa, haha” Lucas berkeringat kerena di lirik tajam oleh William dan juga Zeria.


“Kalau begitu ayo kita pergi” William menarik lengan Lucas dan menyeretnya ke ruang belajar. “Mohon maaf atas sifat kurang ajar saya yang tiba tiba masuk tanpa mengetuk, kalau begitu saya permisi” William membungkukkan badannya dan meletakkan tangannya di dada, tanpa melepaskan Lucas, lalu segera pergi.


“Zeriaa, tolong aku!!” Lucas berteriak minta tolong, namun Zeria sama sekali tidak menanggapinya karena hal itu pantas didapatkannya, dan Eric yang sampai bersamaan dengan William pun hanya melihat tanpa membantu Lucas sedikit pun sambil tersenyum. “Eric! Awas saja kau!” Lucas masih berteriak, padahal ia sedang di seret dan malah marah marah.


“Sampai jumpa” Eric melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum.


“Hahh, kepalaku sakit” Zeria memegang kepalanya dan memejamkan matanya sebentar.


“Haha, mau ku ambilkan susu?” Eric meletakkan buku buku itu di rak di samping tempat tidur Zeria.


“Iya” Zeria kembali melihat keluar jendela, dan ternyata burung yang tadi dilihatnya sudah tidak ada.


Eric meminta tolong pada Reina yg kebetulan sedang menuju ke kamar untuk mengambilkan susu untuk Zeria. Entah hanya sebuah kebetulan atau apapun itu, tapi Reina selalu berada di sekitar kamar Zeria. Hal itu mungkin karena Reina adalah ibu asuh Zeria, Zeria membaca salah satu buku yang dibawakan oleh Eric dengan tenang sambil menunggu Reina kembali dan membawakan susu serta camilan. Sedangkan Eric berdiri di sebelah jendela dan menatap keluar jendela.


“Apa yang kau lihat?” Zeria bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang di bacanya, tapi hebatnya konsentrasinya tidak buyar dan tetap bisa fokus ke keduanya.


“Hmm? Induk burung” Eric menoleh ke arah Zeria sebentar, lalu kembali melihat ke arah luar jendela lagi.


“Hmmm~” Percakapan mereka terputus. Karena memang pada dasarnya mereka berdua adalah orang yang pendiam dan tidak pandai bicara. Apalagi Zeria, kemampuan besosialisasinya sangatlah buruk dibandingkan dengan siapapun.


Tak lama kemudian, Reina mengetuk pintu kamar dan membawakan susu serta camilan kesukaan Zeria.


“Saya letakkan di sini saja?” Reina meletakkan nampannya di meja yang paling dekat dengan tempat tidur.


“Iya, di situ saja” Zeria menutup bukunya. Eric mendekati Zeria dan membantunya pindah ke sofa, sedangkan Reina membereskan tempat tidur Zeria.


Zeria sudah menganggap Reina sebagai ibunya sendiri, karena Reina lah yang sudah merawatnya dari dia kecil. Eric membawakan nampan yang tadi di bawa oleh Reina ke meja tengah, untuk diberikan kepada Zeria. Di tengah keheningan yang damai itu, tiba tiba terjadi sesuatu yang tidak terduga. Zeria dengan penuh keterkejutan menatap Eric tidak percaya.

__ADS_1


“Eric?”


__ADS_2