Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 44


__ADS_3

Disisi Louise, pekerjaannya makin menumpuk karena masalah yang terus berdatangan. Ia pun sebenarnya merasa ganjil dengan semua masalah yang datang itu, bagaimana bisa langsung datang masalah baru saat masalah sebelumnya terselesaikan?


Begitu pula dengan Razel dan William yang mulai ikut disibukkan, tak ada lagi waktu senggang bagi mereka. Hukuman yang diberikan kepada keluarga Claes juga sudah ditutupi sebaik mungkin agar tidak ada yang mengetahui tentang apa yang terjadi para pasangan keluarga itu.


Begitupun dengan keadaan Azra, mereka merawatnya dengan sebaik mungkin sambil sesekali menanyakan tentang apa yang terjadi padanya saat berada dirumahnya dulu. “Tapi, kenapa selalu aku sih yang mengurus anak anak saat sakit?” Pikir Razel. Dirinya selalu diberi tugas memeriksa anak yang sakit parah, seperti halnya ia mengurus Zeria beberapa tahun lalu, kini ia malah mendapat tugas merawat Azra hingga sembuh total.


Ia berpikir padahal dirinya adalah pimpinan menara sihir, yang artinya kalau ia adalah penyihir paling hebat se kekaisaran. Tapi kenapa dirinya malah disuruh untuk mengurus anak yang sakit, itu kan tugasnya dokter. Begitulah yang ada dipikiran Razel. Walaupun merasa kalau tugas itu tidak cocok untuknya, namun ia tetap melaksanakannya dengan baik, dan saat ini Razel sedang menuju ke kamar Azra untuk pemeriksaan harian.


“Halo, bagaimana keadaanmu?” Tanya Razel yang langsung masuk begitu saja saat melihat pintu kamar Azra yang terbuka.


Azra yang duduk menyender dikasurnya, segera merespon suara dari Razel dan menengok, “Selamat sore, saya sudah mulai membaik. Tapi, apa Tuan Razel tidak bosan kalau harus pergi kesini setiap hari?” Tanya Azra dengan posisi kepala yang sedikit miring, ia merasa tidak enak pada Razel yang harus repot repot datang setiap harinya hanya untuk memeriksa keadaannya.


“Tidak juga. Lagian ini memang tugas yang diberikan padaku, memang Louise sialan itu, selama ini aku selalu mencoba bersikap baik padanya karena dia kaisar, tapi dia malah seenaknya begini.” Razel merasa muak karena dirinya diperlakukan seenaknya begini. Hal ini pasti karena sikapnya yang selalu patuh pada perintah Louise tanpa membantah, jika dia menolak pasti Louise tidak akan seenaknya begini. “Jika tau akan begini jadinya, seharusnya aku tak perlu bersikap baik padanya hanya karena dia kaisar” Pikir Razel.


“Apakah boleh membicarakan kaisar dengan kasar begitu?” Azra takut jika ada seseorang yang mendengarnya, Razel pasti akan dalam masalah.

__ADS_1


“Tak apa. Aku, William dan Louise sudah berteman sejak kecil, jadi sudah sewajarnya kami berikap nonformal satu sama lainnya. Bukankah Tuan Putri juga memintamu untuk bicara nonformal padanya?” Razel duduk di kasur Azra lalu meraih tangannya untuk memeriksa perkembangan yang terjadi pada Azra.


“Iya benar”


“Enaknya, padahal Tuan Putri sangat lembut, baik hati dan halus. Tapi kenapa ayahnya malah seperti iblis begitu sih?” Razel terus mengomel seperti anak kecil, sepertinya ia tak sadar dengan usianya yang sudah 30 tahunan itu.


Mendengar kata kata Razel barusan, Azra langsung terbayang dengan sifat Zeria yang setiap harinya selalu beradu mulut dengan Eric, bertengkar dengan Arin, bahkan selalu mengeluh kalau dirinya sangat bosan sambil megacak acak tempat tidurnya. “Lembut dan halus?” Pikir Azra, karena kedua sifat itu sama sekali tidak ada dalam diri Zeria. Dirinya yang selalu berada di damping Zeria setiap hari, bisa mamastikan hal itu.


Walaupun sifat asli Zeria tidak sama dengan kesan pertama yang ia rasakan, namun ia sama sekali tidak kecewa dengan hal itu. Azra merasa senang berada di antara orang orang yang menghargai keberadaannya, orang orang yang menhawatirkan dirinya saat ia tidak baik baik saja, dan orang orang yang selalu ada didekatnya.


Kembali ke sisi Zeria. Eric dan Zeria sama sama terdiam setelah mendengar perkataan Zeria tadi, Eric sempat terkejut namun hanya sesaat. “Apa kau bilang tadi?” Eric berjalan mendekat ke arah Zeria, memastikan kalau apa yang didengarnya tidaklah salah.


Begitu pula dengan Eric, dirinya sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Zeria dan mendengarkan kembali perkataan Zeria barusan, “Kenapa kau menyimpulkan seperti itu?” Tanya Eric dengan serius sambil terus berjalan mendekati Zeria.


“Entahlah. Saat aku sedang memikirkan hal itu, tiba tiba saja aku teringat dengan masa lalu yang kau tunjukkan dulu. Kau yang mati saat hendak menolongku saat jatuh dari gedung sekolah, aku merasa kalau kau hanya balas budi, mungkin? Karena mungkin dulu aku pernah menolongmu dalam mimpi, jadi sebagai gantinya kau menolongku, apa begitu?” Kini Zeria sudah berhadap hadapan dengan Eric. Eric meraih tangan Zeria dan menariknya menjauh dari jendela.

__ADS_1


“Udaranya semakin dingin, jangan berdiri di dekat jendela” Suara Eric terdengar serius, tidak seperti dirinya yang bisanya, yang hanya pecicilan dan berteriak. “Ya, kau benar. Itu adalah aku, tapi kau salah akan dua hal. Aku melakukannya bukan untuk balas budi, dan itu bukan hanya mimpi. Apa kau tak pernah belajar dari pengalaman?” Eric membuat Zeria duduk di kasurnya dan Eric pergi ke belakang Zeria untuk mengikat rambut Zeria yang mulai panjang itu.


“Apa maksudmu? Kalau begitu, kenapa kau tidak langsung beritahukan saja semuanya padaku, bukannya malah membuat pusing begini” Zeria merasa muak dengan semua teka teki yang tak ada habisnya ini. Namun dirinya tetap diam tanpa bergerak, karena Eric sedang mengucir rambutnya.


Eric hanya diam dan terus mengikat rambut Zeria dengan sebuah pita berwarna orange, dan rambut Zeria sudah terikat dengan rapih. “Aku juga maunya begitu, tapi tidak bisa. Jika aku memberitahukannya padamu, maka masalah besar akan terjadi, jadi aku hanya bisa memberikan petunjuk saja. Anak laki laki dalam mimpimu, memang aku. Aku adalah kunci dari semua mimpimu, jika kau bisa menyadari semua kesamaan dari mimpimu, maka semuanya akan lebih mudah. Dan satu hal lagi yang perlu ku ingatkan padamu, ingatanmu dari kehidupanmu yang sebelumnya masih kau ingat bukan? Itu adalah sebuah kesalahan, karena seharusnya tak ada orang yang masih mengingat kehidupannya yang sebelumnya saat sudah bereinkarnasi, apa kau mengerti? Dengan begini sudah tidak ada lagi yang bisa kuberitahu padamu. Sisanya bergantung padamu” Ucap Eric menepuk bahu Zeria dan langsung berbaring di sofa.


Zeria tak sepenuhnya mengerti dengan perkataan Eric, namun ia mengerti inti dari perkataannya. “Haaa, aku tak bisa berfikir lagi. Bagaimana jika kita minum teh saja?” Zeria meletakkan jari telunjuknya diantara kedua alisnya dan menekannya sedikit.


“Hmm, ide bagus”


“Kalau begitu, buatkan aku teh dengan gula sebanyak lima buah”


“Kenapa kau malah menyuruhku?”


“Karena aku hanyalah seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang hanya bisa membaca buku” jawab Zeria dengan wajah memelas.

__ADS_1


“Jangan gunakan usiamu sebagai alasan dong”


“suka suka aku!”


__ADS_2