Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 32


__ADS_3

“Hal yang sangat penting!”


Wajah mungil Zeria masih terlihat pucat dan terlihat tidak bertenaga. Lucas dan Azra merasa lega dengan kenyataan bahwa gejala yang dialami Zeria hanya gejala kelelahan saja. Namun Eric merasa kalau ada sesuatu yang janggal, dan hal itu berhubungan dengan Arin dan kekuatan Zeria.


“Arin, ayo ke taman sebentar. Temani aku cari angin, disini sesak” Ucap Eric sambil melirik Lucas yang duduk disamping kanan Zeria.


Arin menyadari kode dari Eric, dan mengikutinya dari belakang. Karena jika ada Lucas di samping Zeria, semuanya pasti akan aman.


Mereka berdua berjalan menyusuri lorong yang sepi dan hampir tidak ada orang lain yang lewat selain mereka berdua. Hal itu sudah sangat wajar dirasakan, karena tidak banyak orang yang dipekerjakan di Istana Putri. Dan lagi, sebagian besar orang orang yang bekerja di Istana Putri adalah orang yang sudah berpengalaman dalam militer dan siap melindungi Zeria apa pun dan bagaimana pun keadaannya.


Louise lah yang sudah mengatur semua hal itu, dan yang pasti tanpa sepengetahuan dari Zeria. Setelah beberapa saat berjalan menyusuri lorong yang sepi, mereka tiba ditaman belakang, tempat dimana biasanya Lucas dan Eric berlatih.


“Jadi, ada apa?” Arin duduk diatas rerumputan hijau yang lebat dan meluruskan kakinya.


Eric memperhatikan Arin sejenak dan ikut duduk disampingnya “Hal penting apa yang belum kau beritahukan pada Zeria?” Tanya Eric sambil menatap langit biru yang cerah.


Arin merespon pertanyaan dari Eric dan menoleh “Kau ingin tau?”


“Sangat” Jawabnya dengan raut wajah yang sangat serius.


Melihat respon Eric yang begitu serius, membuat Arin senang dan tersenyum. “Baiklah, akan kuberitahu” Arin tersenyum, ia merasa senang karena tahu kalau ternyata Eric sangat peduli pada Zeria. “Kau tau kan kalau Zeria adalah setengah ras manusia dan setengah ras malaikat?”


“Ya, aku tau”


“Sebenarnya, karena Zeria bukan ras malaikat seutuhnya, semua sihir yang ia gunakan akan memberikan efek samping pada tubuhnya. Tidak peduli itu sihir yang lemah ataupun yang kuat. Memang benar kalau Zeria memiliki mana yang tidak terbatas, dan orang lain bilang kalalu itu hal yang sangat menguntungkan, tapi sebalikya juga sihir itu sedikit demi sedikit melukai Zeria.” Arin berhenti sejenak untuk memikirkan hal apa lagi yang harus ia beritahu.


“Ah, jadi itu sebabnya dulu saat kalian menolongku, Zeria mimisan hingga pingsan?” Tanya Eric memastikan hal yang ia ketahui.


“Benar. Sihir Zeria adalah pisau bermata dua, disatu sisi menguntungkan karena bisa menggunakannya tanpa perlu khawatir tentang mana. Namun di sisi lain merugikan, karena setiap sihir yang digunakan selalu memberikan efek samping. Karena pada dasarnya, sihir malaikat dan manusia tidak dapat bersatu dalam satu wadah yang sama. Namun melihatnya masih hidup hingga saat ini saja sudah keajaiban, walaupun tubuhnya jadi jauh lebih lemah dibanding manusia normal lainnya.”


“Jadi itu penyebab dia selalu cepat lelah jika sehabis berlatih sihir?” Tanya Eric.


“Ya, dan aku malah lupa memberitahu hal yang sangat penting seperti itu” Wajah Arin murung, menyesali kesalahan fatal yang sudah ia lakukan.

__ADS_1


Eric memperhatikan wajah murung Arin dan kembali mentap langit, “Sudahlah, hal yang sudah terjadi biarlah terjadi. Jika dia bangun nanti, kau hanya tinggal memberitahunya saja. Mudah kan?”


Mendengar hal itu, Arin terdiam sebentar karena kagum. Arin berdiri dan mengibas ngibaskan roknya untuk membersihkan sisa kotoran yang menempel pada roknya. Arin mendekatkan tangannya kearah kepala Eric dan, ‘PLETAK!’ Arin memukul kepalanya.


“ADUH! Apa apaan kau ini hah?!” Eric mengusap usap kepalanya, bagian belakang kepalaanya terasa sakit karena Arin memukulnya sekuat tenaga, “Sialan kau”.


“Jangan mengajariku” Arin perlahan mulai berjalan menjauhi Eric, “Tapi, terima kasih” Ucapnya membalikkan badan sebentar, lalu kembali berjalan.


Eric terdiam melihat tingkah Arin. Tak disangka, Arin yang biasanya berekspresi datar, ternyata bisa membuat ekspresi yang lega dan manis seperti itu. “Wahh, aku baru tau kalau dia bisa berekspresi seperti itu” Ucapnya yang melihat Arin berjalan dan mulai menjauh, “Tapi, secantik apapun wanita lain, Zeria tetap nomor satu” Pikirnya dengan menggaruk kepalanya sambil tersenyum membayangkan wajah Zeria.


Saat Arin dan Eric kembali, yang tersisa dikamar Zeria hanyalah Azra dan Zeria sendiri. Sepertinya Lucas pergi ke perpustakaan, karena ia punya jam pelajaran tata krama.


“Bagaimana keadaannya?” Tanya Eric pada Azra.


“Sudah lebih baik. Wajahnya juga tidak sepucat tadi” Jawabnya sambil memperhatikan wajah Zeria yang sedang tertidur.


“Baguslah kalau begitu” Eric menghela napas lega karena kondisinya sudah berangsur membaik.


Mereka berdua duduk di sofa sambil menikmati teh dan biskuit sambil menunggu Zeria bangun. Mereka membicarakan hal yang biasanya dibicarakan oleh remaja seumuran mereka, dan lama kelamaan pembicaraan mereka mulai mengarah ke rumor diluar istana maupun didalam istana.


Mood Arin dan Eric seketika langsung rusak mendengar hal itu. Karena Zeria adalah Putri pertama yang lahir dalam sejarah kekaisaran Arendelle, Zeria dianggap hina bagi sebagian besar penduduk kekaisaran, maupun para bangsawannya. Mau sebaik apapun sikap Zeria pada orang orang, masih ada saja desas sesus buruk yang mengatas namakan dirinya.


“Ha! Berani sekali mereka membicarakan Zeria didalam istana utama!” Eric benar benar marah jika mendengar apapun yang berhubungan dengan hal buruk yang menyangkut Zeria.


“Biarkan saja! Mereka saja tidak berani membicarakan Zeria didepan Eric, namun mereka berani membicarakannya didepan Azra yang masih sembilan tahun? Pengecut! Lihat saja, jika aku mendengar desas sesus itu dengan telingaku sendiri, maka saat itu juga akan kumusnahkan orang itu” Arin hanya menganggap orang orang yang meremehkan Zeria sebagai sebutir debu yang bisa ia lenyapkan kapan saja jika ia mau.


“Kalian berdua tenanglah. Untung saja orang orang yang bekerja di Istana Putri adalah orang orang yang diutus langsung oleh Baginda, dan orang yang sudah bersumpah setia pada Putri yang mereka layani.” Azra mencoba menengkan mereka berdua dengan mengubah topik ke arah yang lebih positif.


“Benar, kita harus besyukur akan hal itu. Namun apakah orang orang diluar sana berfikiran hal yang sama? Sialan! Lihat saja nanti, aku akan membunuh orang orang yang berani berbicara hal buruk tentang Zeria” Dan Eric benar benar sudah tidak bisa tenang lagi.


Mereka terus melanjutkan pembicaraaan itu hingga akhirnya Zeria terbangun, “Emm? Apa yang kalian lakukan?” Zeria menggosok matanya dengan perlahan dan menyipitkan matanya.


“Wahh, lihat ini. Tuan Putri kita sudah bangun” Eric menggoda Zeria sedikit.

__ADS_1


“Hei, jangan panggil aku begitu. Emm, Azra. Aku boleh minta tolong ambilkan handuk basah dan air dingin?” Tanya Zeria dengan suaranya yang masih terdengar serak karena baru bangun.


“Tentu” Azra pergi mengambilkan hal yang diminta Zeria.


Setelah Azra pergi, Arin pergi berjalan mendekati Zeria. “Zeria” Panggilnya.


“Hmm?”


“Ada yang harus kukatakan. Kau sudah benar benar sadar dari tidurmu kan?” Tanya Arin dengan pelan.


“Mungkin?”


“Hmm, Tuan Putri ada yang harus hamba katakan pada anda” Ucap Eric untuk memastikan apakah Zeria sudah sadar atau belum. Karena jika Zeria sudah sadar, ia pasti akan marah jika dipanggil begitu.


“Eric, kenapa cara bicaramu kembali seperti dulu?” Zeria memelototi Eric sambil sedikit mengancamnya.


“Maafkan aku” Dan Eric menyesal sudah melakukan hal itu.


Arin tersenyum melihat kalau rencana Eric berhasil, “Jadi begini, ini mengenai sihirmu…” Arin menjelaskan pada Zeria tentang keuntungan dan kerugian yang ia dapat dari sihirnya.


Zeria yang pandai dan cepat tanggap, langsung mengerti hanya dengan sekali penjelasan dari Arin “Jadi begitu? Pantas saja belakangan ini kepalaku sering sakit dan aku jadi lebih cepat lelah” Zeria menggerakkan lengannya naik turun dengan perlahan, seperti seekor burung.


“Benar, maaf aku baru bilang”


“Sudahlah. Toh, aku baik baik saja. Tapi, apa hal ini membahayakan nyawa?”


Pertanyaan Zeria barusan langsung menghentak pikiran Eric. Kenapa hal itu tidak terpikirkan olehnya? “Mungkin?” Jawab Arin dengan tidak yakin.


“HAH? Arin katakan kalau itu tidak benar!” Eric memegang kedua bahu Arin dengan keras.


“Tidak bisa. Karena aku pun masih belum yakin tentang adanya kemungkinan itu” Arin menundukkan kepalanya dan melihat ke arah lain.


“Eric, tenang saja. Aku tidak akan mati semudah itu kok, oke?” Zeria tersenyum, namun tidak terlihat seperti senyumannya yang biasanya. Senyumannya itu terasa sangat menyakitkan.

__ADS_1


“Ukkhh” Eric tidak sanggup melihat wajah Zeria yang seperti itu, “Dengarkan aku. Mulai sekarang, jangan gunakan sihirmu hanya untuk hal hal yang tidak penting, oke?” Eric beralih ke Zeria dan menatapnya dengan serius.


“Iya, baiklah" Jawabnya dengan senyum yang masih terasa menyakitkan.


__ADS_2