Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 38


__ADS_3

Hari hari di Istana mulai terasa lebih dingin daripada sebelumnya. Seragam para pelayan dan kesatria mulai berganti ke pakaian yang lebih tebal. Dan musim dingin juga merupakan musuh bagi Zeria yang sangat lemah terhadap suhu dingin.


“Tiga hari. Ini sudah tiga hari, namun dia masih belum kembali. Sudah bisa dipastikan kalau dia tidak kabur” Ucap Lucas, sambil melepas dasinya.


Zeria masih terus mencari kemungkinan yang paling masuk akal, “Kita pergi ke luar. Azra sudah tidak mungkin berada di dalam Istana” Zeria berjalan menuju lemari baju di sudut kamarnya yang hanya menyimpan sebagian kecil pakaiannya.


“Kau yakin? Diluar kan sudah sangat dingin, kita tidak bisa keluar begitu saja” Eric yang sejak tadi hanya memperhatikan, mulai angkat bicara. Eric sebenarnya akan selalu mendukung rencana Zeria tanpa ada keraguan, walaupun Zeria memutuskan untuk berkhianat pada kekaisarannya pun, Eric akan terus mengikutinya. Namun jika rencananya malah akan membawanya dalam bahaya, Eric tidak bisa langsung mengikutinya.


Zeria mengambil dua helai jubah bulu berwarna hitam dan putih dari dalam lemarinya dan menyodorkan keduanya pada Arin. “Kau mau warna apa?” Tanya Zeria, ia sama sekali tidak menghiraukan ucapan Eric barusan.


“Hitam saja. Aku saja sudah pakai gaun putih begini, jika aku memakai jubah putih juga bisa bisa aku terlihat sama dengan salju yang ada di jalanan” Arin mengambil salah satu jubah yang Zeria sediakan dan memakainya, “Tapi memangnya kau ada rencana apa sampai sampai mengajak mencarinya di luar Istana?” Tanya nya, karena pasti Zeria sudah menyiapkan suatu rencana.


“Tidak ada” Jawabnya dengan cepat, tepat dan singkat.


“Ha?” Ucap mereka bertiga secara bersamaan.


“Iya, tidak ada rencana. Aku hanya putus asa saja karena ia tidak ada di Istana, jadi aku ingin mencarinya diluar” Ucapnya sambil memakai jubahnya dan mengikat rambut coklatnya yang tidak terlalu panjang itu.


Mereka bertiga terkejut, seorang Zeria pergi pergi tanpa membuat rencana? Dan lagi alasannya hanya karena putus asa? Tidak masuk akal. Namun memang itulah jalan satu satunya, mereka harus pergi ke luar.


“Haa, baiklah” Lucas menghela napasnya, karena jika Zeria sudan memutuskan sesuatu, ia tidak akan pernah mengubah keputusannya, “Aku akan minta izin pada ayah” Lucas berjalan mendekati pintu, namun Zeria menahannya.


“Jangan, jika kakak bilang ada ayah sudah pasti kalau tidak akan di izinkan” Ucapnya yang terus memegang lengan Lucas.


“Lalu bagaimana dengan pengawalanmu?” Tanya Lucas membalikkan badanya dan menyesuaikan tingginya dengan Zeria.


Zeria hanya diam tanpa menjawab dan melirik ke arah Eric. Karena Eric adalah pengawal pribadinya, ia tidak memerlukan pengawal yang lain lagi. Dan Lucas sudah benar benar tidak bisa membantah Zeria lagi, “Baiklah, kita akan pergi. Tapi dengan satu syarat, jangan menjauh dariku” Lucas meletakkan jarinya di dahi Zeria dan sedikit mendorongnya.

__ADS_1


“Baik!” Jawabnya tanpa ragu, karena itu bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan.


“Oh iya, satu lagi. Kita akan menyamar jadi orang biasa agar tidak menarik perhatian, jadi gunakanlah pakaian yang paling sederhana. Gaun yang kau pakai itu akan menarik perhatian karena banyak permatanya, tapi jubahnya tidak perlu di ganti” Lucas membuka pintu kamar Zeria dan pergi ke istananya untuk menyiapkan semuanya.


“Benar juga ya. Mana ada orang biasa yang memakai gaun dengan banyak permata seeperti ini” Zeria memperhatikan gaunnya di depan cermin, dan baru menyadari kalau gaunnya terlalu mewah untuk dimiliki oleh orang bisa, “Arin, bantu aku ganti baju. Jika aku memanggil pelayan, mereka akan curiga”.


“Baiklah, dan kau bocah. Keluar, apa kau ingin melihat Zeria ganti baju?” Tanya Arin. Walaupun niatnya adalah menggoda Eric.


Wajahnya langsung memerah setelah mendengar perkataan Arin, “A-aku akan keluar kok! Lagi pula aku juga harus mengganti pakaianku” Bicaranya langsung terbata bata karena malu, “Aku pergi dulu” Eric lagi lagi keluar dari jendela.


“Ah, Eric tunggu!” Panggil Zeria, namun terlambat, “Kenapa dia turun? Kamarnya kan ada di lantai dua dan juga hanya berjarak tidak jauh dari sini” Zeria kebingungan.


“Lah, benar juga. Sepertinya ia malu sampai salah tingkah begitu”


Arin mulai membantu Zeria mengganti pakaiannya dan melepas semua aksesorisnya, berdandan sesederhana mungkin dan tidak memakai satupun aksesoris yang terlihat mahal. “Selesai. Tapi apa apaan ini? Walaupun sudah memakai baju yang paling sederhana dan tidak memakai kasesoris pun, kau masih terlihat seperti Tuan Putri” Arin kebingungan dengan penampilan Zeria, padahal Arin memabayangkan kalau penampilan Zeria akan seperti orang biasa pada umumnya.


“Curang, orang cantik sepertimu akan tetap cantik meski didandani seperti apapun, namun tidak dengan diriku”


Setelah beberapa saat, mereka berkumpul kembali di kamar Zeria. “Sudah kuduga, Zeria masih terlihat cantik walaupun hanya memakai pita di rambutnya” Dan entah mengapa, Lucas malah merasa bangga.


Mereka berempat berkumpul di satu tempat, dan Lucas mulai membaca mantra. Pergi ke luar menggunakan teleportasi adalah satu satunya cara pergi diam diam tanpa ketahuan, persiapan mereka sudah matang, Lucas dan Eric membawa pedang yang tergatung di pinggang mereka untuk berjaga jaga, dan Zeria membawa Arin.


Dalam hitungan detik mereka sudah berada di suatu desa, dan mereka berpindah di sebuah gang kecil yang sepi, tak ada orang yang melihat mereka.


Desa yang berada lumayan jauh dari kekaisaran Arendelle, karena jika mereka pergi ke desa di dekat Istana Kekaisaran, meraka pasti akan langsung ketahuan. Lucas melihat ke segala arah secara seksama untuk memastikan tempat mereka berada sekarang.


“Sepertinya kita ada di wilayah kerajaan Akasha” Ucap Lucas.

__ADS_1


“Akasha? Kerajaan yang hancur akibat perbuatan Rajanya? Kasihan sekali keluarganya, hanya karena dirinya yang dendam pada ayah, seluruh keluarga dan rakyatnya yang menderita” Zeria ingat dengan jelas soal Raja Akasha, orang yang berniat membunuhnya karena dendamnya pada Louise, walaupun masih tidak diketahui apa penyebab dari dendamnya itu.


“Benar, melihat dari lingkungan yang sangat sepi dan gedung yang hampir hancur karena tidak ter urus, sepertinya benar ini Kerajaan Akasha” Kerajaan Akasha hancur sejak enam tahun lalu, tepat saat rencana Raja Akasha terungkap. Dan karena Raja dan keluarganya mati, semua penduduk kerajaan itu sudah pindah ke kerajaan lain yang masih mempunyai pemimpin. Dan saat ini, Kerajaan Akasha tidak lain hanyalah wilayah yang tidak berpenghuni.


“Untuk apa kita kesini? Padahal disini sudah tidak berpenghuni, bagaimana mungkin Azra ada disini?” Arin melihat ke segala arah dan memperhatikan keadaan sekitar. Namun tidak ada orang sama sekali, dan sudah jelas kalau tempat ini tidak layak untuk di huni.


Lucas memegang tangan Zeria dan mulai berjalan, sedangkan Eric dan Arin mengikuti dari belakang. “Tempat ini adalah kampung halaman Azra, mungkin saja ia ada disini” Ucap Lucas yang terus berjalan dengan pelan untuk menyesuaikan langkahnya dengan Zeria.


Salju di wilayah itu lumayan banyak dan menuutupi jalan karena tidak ada yang membersihkannya. Mereka terus berjalan menyusuri jalan yang sepi dan bersalju, hingga akhirnya ada orang lain yang datang dari arah yang berlawanan dengan mereka, “Ada orang” Ucap Zeria. “Sepertinya wanita? Dia memakai jubah dan tudung, wajahnya tidak terlihat. Dari tingginya, ia pasti wanita dewasa” Pikir Zeria.


“Permisi” Ucap Lucas pada wanita itu, “Apa anda penduduk disini?”


“Tidak, aku bukan penduduk sini. Namun aku tau seluk beluk wilayah ini” Jawab wanita itu dengan santai, dilihat dari cara bicaranya sepertinya ia bukan bangsawan.


“Kalau begitu, saya ingin menanyakan arah. Apa anda tau kediaman Count Claes?”


“Ya, aku tau. Dari sini kalian jalan terus saja sampai ada sebuah menara jam, kediamannya berada di sebelah kiri menara itu” Jawab wanita itu dan berjalan pergi.


“Terima kasih!” Ucap Zeria pada wanita itu yang mulai berjalan menjauh, “Zeria! Namaku Zeria!” Teriaknya dengan keras.


Wanita itu berhenti dan membalikkan badannya, “Yura” Ucap wanita itu menyebutkan namanya, dan tiba tiba angin bertiup dan menerbangkan tudung wanita itu. Rambutnya yang seputih salju dan mata ungu terang, dan dengan senyuman yang merekah di wajahnya. Dan tiba tiba wanita itu hilang seperti serpihan salju.


“Cantik” Ucap Zeria.


“Benar, tapi kita fokus dulu.” Lucas menarik tangan Zeria dan kembali berjalan untuk pergi ke kediaman Count Claes. Dan seperti yang dikatakan wanita itu, mereka menemukan menara jam dan benar saja kalau di sebelah kiri menara itu ada sebuah kediaman yang masih terrawat dan bersih. Sepertinya Count Claes tidak ikut pergi dari kerajaan Akasha dan tetap menetap di sana.


Mereka ber empat berdiri di depan gerbang dan menatap kediaman itu dengan seksama, dan Zeria merasakan aura yang sangat familiar, “Ketemu!”

__ADS_1


__ADS_2