
Arin sedang beristirahat bersama Eric di ruangan yang berada di samping ruang tamu Istana Utama tempat Zeria berada, yah mereka bertiga memang tidak bisa dipisahkan terlalu lama.
“Kira kira apa yang sedang mereka bicarakan ya? Apa mungkin tentang lamaran pertunangan lagi?” Eric bahkan sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan oleh Aron, Raja Lilua.
Mereka berdua hanya duduk diam sambil meminum teh yang sudah disediakan sambil menunggu informasi terbaru dari Zeria, Arin meminum tehnya dengan perlahan. “Lamaran Pertunangan? Untukku? APA APAAN INI?!” Arin terkejut mendengar suara pikiran Zeria barusan dan tersedak.
“Uhuk!” Arin menepuk nepuk dadanya dan perlahan mengatur napasnya.
“Ada apa? Apakah mereka benar benar membicarakan tentang pertunangan lagi?” Eric beranjak dari tempat duduknya menuju ke balakang Arin dan menepuk nepuk punggungnya dengan lembut.
Arin diam tak menjawab, namun ia menganggukkan kepalanya sebagai gantinya. “Sudah kuduga” Dengus Eric dengan bangga karena bisa menebak dengan benar. Ia lalu kembali duduk di sofa yang ada didepan Arin dan menyilangkan kakinya.
“Iya mereka membicarakan pertunangan, tapi yang dilamar bukan Pangeran, melainkan Zeria” Ucap Arin dengan santai karena tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Eric yang saat itu sedang memegang cangkir tehnya, langsung meramas dengan keras hingga cangkir tersebut pecah, “Ha?” Aura Eric berubah dengan cepat, ia yang tadinya merasa bangga kini tiba tiba merasa sangat kesal.
“Ah, gelasnya pecah deh. Itu kan mahal” Arin mencoba membicarakan hal lain untuk mencairkan suasana, namun itu tidak berguna.
Dari raut wajah Eric sudah terlihat kemarahan yang sangat besar, ia menggenggam pedang yang menggantung di pinggangnya dengan erat seakan ingin menebas apapaun yang ada dihadapannya. “Cih, karena sasaran pertama mereka gagal, kali ini mereka mengganti umpan serta sasarannya ya”.
***
Di ruang tamu, suasananya juga sudah berubah dengan sangat drastis, Zeria tidak menyangka kalau kali ini dialah yang akan menjadi sasarannya. Memang mereka tidak terlihat akan langsung menyerah jika ditolak sekali, namun ini sangat tidak terduga.
“Hei, aku tahu kalau kau adalah seorang raja. Tapi menjadi seorang raja bukan berarti kau bisa mendapatkan segalanya. Jika kalian tidak mendapatkan putraku, bukan berarti kalian boleh mendapatkan putriku” Louise menatap tajam mereka berdua, namun mereka tak goyah dan terus mencoba membujuk.
__ADS_1
Semua hal yang mereka pikir akan bisa menguntungkan kekaisaran, mereka tawarkan. Tapi dengan begini, sifat aslinya terlihat, jika Louse menyetujuinya maka hal itu sama saja dengan menjual putrinya hanya untuk beberapa aset.
Namun penolakan bagaimanapun yang mereka berikan, semua tidak berguna. Aron sama sekali tidak menyerah dan terus memojokkan Louise dengan menggunakan rumor buruk tentang Zeria. Ia berkata kalau tidak akan ada yang mau menikahi Zeria di masa depan karena rumor buruk itu, tentu saja Louise merasa marah, tapi jika ia menunjukkan rasa marahnya maka itu sama saja dengan dirinya mengakui kalau rumor itu benar.
Louise sudah kehabisan kata kata, tak ada lagi alasan yang bisa mereka gunakan untuk menolaknya. Hatinya terasa sakit karena tak bisa membela putrinya dengan benar, situasi ini sangat terbalik dengan situasi Lucas dulu. Sejak kecil Lucas sudah mempunyai reputasi yang baik, jadi jika Lucas menolak lamaran tersebut maka orang orang akan berpikir kalau wanita yang melamarnya memang masih kurang pantas untuk disandingkan dengan Lucas yang sempurna. Tapi Zeria mempunyai reputasi yang buruk dari kecil, dan rumor buruk menjadi semakin parah setelah kematian Reina dan terlukanya Azra.
“Kacau, apa tak ada yang bisa kulakukan?” Lucas merasa kesal pada dirinya sendiri karena tak bisa memberikan pembelaan untuk adiknya.
Louise dan Lucas mulai merasa tertekan, walaupun kedudukan mereka lebih tinggi tapi masa depan Zeria jauh lebih penting. Sedangkan Aron dan Sofia sudah merasa menang dan bahagia, senyuman diwajah mereka berdua terlihat sangat sombong. Namun Zeria tetap menjaga ketenangannya, karena panik adalah racun, “Lihat mereka berdua, seperti lumut hidup” Pikir Zeria karena sudah merasa sangat kesal.
***
“Bwahahahah! LUMUT HIDUP KATANYA! Ahahah!” Arin tertawa terbahak bahak mendengar suara pikiran Zeria barusan.
***
Zeria menarik nafas dalam dalam dan meperbaiki postur tubuhnya, membuat ekspresi serius diwajah kecilnya, dan mengeluarkan karisma yang luar biasa untuk menujukkan perbedaan diantara mereka. Ia melampirkan rambutnya kebelakang telinganya dan mulai berbicara, “Biar aku yang memutuskannya” Mata berwarna emas yang besar dan berkilau, tatapannya membuat senyuman diwajah Aron dan Sofia menghilang dalam sekejap.
“Aku tidak menolak lamaran pertunangan ini”
Lucas bangkit dari duduknya dan langsung berlutut di depan Zeria, “Zeria, apa yang kau katakan? Kau mau menerimanya?” Lucas meraih tangan kecil adiknya itu dan meletakkannya dikeningnya.
Senyuman diwajah Aron kembali lagi, kini ia benar benar sudah menang. Namun Zeria masih belum menyelesaikan perkataannya, “Aku tidak bilang akan menerimanya loh” Dan lagi lagi hanya dengan satu kalimat dari Zeria, membuat seisi ruangan menjadi bingung.
“Aku tidak menolak, tapi aku juga tidak menerima. Akan kulihat dulu apakan orang itu cocok untukku atau tidak, setelah mengenalnya lebih jauh, baru akan ku putuskan.” Zeria meraih tangan Louise dan menggenggam salah satu jarinya.
__ADS_1
Itu adalah tanda kalau Zeria meminta bantuan darinya, dan dengan sigap Louise langsung angkat bicara “Itulah keputusan putriku, Raja Lilua. Apakah kau menerimanya?” Louise mengangkat Zeria ke pangkuannya dan Lucas segara bangun lalu kembali duduk di sofa.
“Tentu! Tidak masalah baginda, saya akan memanggilnya kesini saat pesta dansa di akhir festival”
“Siapa namanya dan bagimana penampilannya?” Zeria merangkul Louise untuk menunjukkan kalau ia mempunyai Louise dan Lucas dipihaknya.
Sofia menaruh gelas tehnya dan menjawab pertanyaan Zeria. “Namanya Vicent Darel, Tuan Putri” Sofia mendeskripsikan Vicent dengan detail, ia berkata kalau Vicent adalah seorang anak laki laki berusia sepuluh tahun, ia mempuyai rambut berwarna Coklat yang sangat gelap dan hampir seperti hitam, dengan mata ungu gelap bagaikan bayangan, ia juga membunyai sebuah lesung pipi di pipi kirinya.
Namun dari penjelasan Sofia barusan, ada yang mebuat Zeria terganggu. Mereka kan adik kakak, namun nama belakang Vicent bukan ‘Der Lilua’ melainkan ‘Darel’? padahal kalau mereka satu keluarga, seharusnya marga mereka sama. Tapi Zeria tak mau menanyakannya karena hal itu akan membuat pembicaraan mereka makin panjang, jadi ia memutuskan untuk pergi dari sana secepatnya.
Tak ada alasan untuk meninggalkan ruangan itu sekarang juga, jika ia meminta Arin untuk datang dan bilang kalau ada tugas yang datang, malah akan aneh karena Arin hanyalah seorang anak perempuan yang bahkan bukan bangsawan. Namun kekhawatiran itu lenyap, dengan waktu yang tepat tiba tiba saja Razel mengetuk pintu dan masuk.
“Permisi Baginda, maaf menganggu pembicaraannya. Saat ini ada beberapa tumpuk dokumen yang menunggu untuk ditandatangani” Razel dengan pakaian khas penyihirnya yaitu, kemaja hitam panjang yang digulung hingga siku, celana pajang coklat dan jubah penyihir istana dengan panjang hingga lutut. Itu adalah alasan yang sangat sempurna untuk pergi sekarang.
“Hoho, nampaknya Baginda sangat sibuk ya. Kalau begitu kami pamit dulu” Aron dan Sofia bangkit dari duduknya dan memberi salam lalu pergi.
“Kerja bagus Razel, kau sangat membantu” Louise menepuk bahu Razel dengan lembut sebagai pujian.
“Ya baguslah kalau saya bisa membantu, tapi tolong kembali bekerja sekarang juga. Karena kakak kembar saya yang saat ini menggantikan anda sudah terlihat seperti mayat hidup” Razel menaikkan nada bicaranya untuk menujukkan kalau ia tidak sedang bercanda.
Zeria sendiri memang sudah melihat kondisi William, ia terlihat sangat lelah dan mengantuk. Tiba tiba ia teringat dengan sesuatu yang hendak ia tanyakan tadi, “Ayah tunggu! Apa ayah tau seseorang bernama Callista?”
Mendengar pertanyaan Zeria, mereka bertiga langsung terdiam seolah itu adalah pertanyaan yang tabu untuk ditanyakan “Bagaimana kamu bisa tau nama itu?” Tanya Louise.
Dari ekspresi mereka bertiga, yang terlihat paling terkejut adalah Razel, “Memangnya ada apa dengan nama itu sih?”
__ADS_1