
“Lima gadis yang mati di dalam mimpimu itu adalah, kau sendiri, Zeria”
Dan lagi lagi, pernyataan dari Eric membuat mereka terkejut bukan main. Rasa terkejut Zeria sudah mencapai batasnya, dan semua hal yang ia dengar barusan membuatnya semakin pusing. “Tu-tunggu dulu” Zeria memegangi kepalanya. “Benar benar deh, semua yang kudengar hari ini benar benar seperti mimpi” Ucapnya menyenderkan tubuhnya ke punggung sofa.
Melihat Zeria yang memegangi kepalanya karena pusing, Eric merasa bersalah karena sudah memberitahu hal yang membuat kesehatan Zeria memburuk. Rasanya seperti ada yang menusuk salah satu organnya dan terasa sangat sakit, apalagi dibagian dadanya. “Eric, bercanda itu ada batasnya. Kau tidak boleh berlebihan seperti ini” Zeria memijat kepalanya dengan perlahan secara memutar.
Eric bangun dari sofa dan berjalan mendekati Zeria, “Aku serius tahu? Mana mungkkin aku berani bercanda” Eric mengangkat Zeria dari sofa dan menggendongnya untuk dipindahkan ke kasur.
“Uwaa! Tu-tunngu dulu! Aku bisa jalan sendiri!” Zeria meronta ronta minta diturunkan. Karena berbeda dari sifatnya yang biasa, Zeria sebenarnya cukup pemalu.
“Wahh, apa ini? Zeria, wajahmu merah loh. Apa kau malu hanya karena digendong oleh pengawal pribadimu?” Arin mengejek Zeria dengan bicara seenaknya, dan ia bicara seolah olah sedang membacakan puisi.
Sikap Arin yang seperti itu sebenarnya sembuat Zeria sangat kesal. Namun ia sudah tidak punya muka untuk marah karena rasa malu yang dirasakannya. Namun tiba tiba, hal tidak terduga pun terjadi.
BRAK!
Pintu kamar Zeria terbuka dengan sangat keras hingga membuat mereka bertiga terkejut. Dan terlihatlah Lucas yang berdiri di depan pintu dengan tatapan berapi api. “Kau baru saja menggendong adikku seenaknya?!” Lucas berjalan dengan cepat menghampiri Eric dan menarik kerahnya. “Jawab aku!”
Wajahnya terlihat sangat marah saat melihat adik perempuannya digendong oleh laki laki lain seenaknya. “Ti-tidak begitu Pangeran!” Eric mengangkat kedua tangannya di depan wajah, seperti pencuri yang tertangkap basah. “Pangeran, dengarkan dulu”
“Tidak ada kesempatan untukmu menjelaskan. Aku sudah melihat semuanya” Cengkraman Lucas semakin kuat dan mulai membuat Eric mulai kesulitan bernafas.
“Pangeran, dengarkan dulu penjelasanku” Eric memegang tangan Lucas yang mencengkram kerahnya dengan kedua tangannya.
“Rasakan itu bocah!” Arin lagi lagi melakukan telepati hanya untuk mengejek Eric.
“Tadi Zeria bilang kepalanya sakit dan tubuhnya lelah. Maka dari itu aku memindahkannya ke kasur dengan mennggendongnya!”
Mendengar hal itu, cengkraman tangan Lucas tiba tiba melemas dan akhirnya ia melempar Eric ke tembok. “Akhh! Aduhh” Eric mengelus elus pungunggnya yang membentur tembok dengan keras. Sedangkan Lucas terlihat sama sekali tidak peduli dengan Eric dan malah langsung menghampiri Zeria.
“Zeria! Kepalamu sakit? Bagian mana? Sekarang kau berbaring dulu" Ucapnya dengan sangat panik.
Sedangkan Arin kebingungan karena Lucas melepaskan Eric begitu saja, “Semudah itu dia melepaskanmu?” Tanya nya.
__ADS_1
“Huh, itu hal mudah” Eric beranjak bangun dan kembali duduk di sofa. “Aduh, punggungku. Tulangku tidak patah kan?” Eric masih saja mengelus elus punggungnya.
“Lemah, jangan banyak menngeluh hanya karena hal kecil begitu” Lucas menatap sinis Eric.
“HAH?! Hal kecil katamu? Kau melemparku sekuat tenaga ke tembok dan kau bilang itu hal kecil?!” Pikirnya.
“Jangan bilang begitu bocah. Bisa gawat kalau kau malah kelepasan dan benar benar bicara begitu” Arin menepuk nepuk bahu Eric dari belakang sambil menggelengkan kepalanya.
“Benar juga”
Disaat Arin sedang sibuk megurus punggung Eric, dan Eric sibuk menahan sakit. Lucas dan Zeria malah berada di dunia mereka sendiri. “Kau benar benar sakit?” Lucas meletakkan telapak tangannya di dahi Zeria untuk mengecek suhu tubuhnya.
“Tidak kok. Aku hanya lelah sedikit” Ucapnya, “Astaga, aku masih kepikiran tentang hal tadi” Dia memang bilang kalau dirinya baik baik saja, tapi sebenarnya banyak hal yang sedang ia pikirkan.
Lucas menghela nafas lega setelah mengecek suhu tubuh nya, dan ternyata ia benar benar baik baik saja, “Baguslah kalau begitu” Lucas mengusap usap rambut Zeria dengan perlahan.
Zeria memejamkan matanya, karena usapan Lucas terasa sangat nyaman dan penuh kasih sayang. “Apa kakak akan belajar disini lagi?” Entah sejak kapan, Lucas mulai belajar di kamar Zeria. Sepertinya sudah lama, namun tidak tau waktu tepatnya.
“Kan ada Azra dan Arin”
“Tetap saja, aku harus disini”
“Hah, padahal aku mau melanjutkan pembicaraan tadi kalau kakak mau pergi. Tapi sepertinya hari ini sampai disini saja ya?” Pikir Zeria.
Saat Lucass dan Zeria sedang bicara, Eric selalu memperhatikan mereka berdua, dan hanya Arin yang menyadari hal itu. Arin memberi salep pada memar di punggung Eric, entah dari mana ia mendapatkannya, namun Eric tidak mempedulikan hal itu. “Terima kasih sudah membatuku mengoleskan salep” Eric berdiri, berjalan mendekati jendela dan naik ke atasnya. “Aku pergi dulu ya, aku harus latihan” Ia berdiri di atas jendela dan memberi hormat layaknya kesatria.
“Lagi lagi kau ingin melompat?” Lucas beralih pandangan ke arah Eric, “padahal ada tangga untuk turun ke bawah, tapi kenapa kau selalu melompat lewat jendela sih?” Lucas memegangi kepalanya, ia sudah tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran Eric.
“tentu saja karena lebih cepat! Aku pergi dulu. Zeria, jangan lupa kau cari tau lebih lanjut lagi ya!” Eric menjatuhkan dirinya ke bawah dengan sangat santai, dan mendarat dengan sempurna di tanah. Setelah mendarat, tak lupa ia melambaikan tangan ke atas dan segera berlari menuju tempat latihan.
Melihat Eric yang sudah pergi, Lucas kembali duduk di kasur Zeria, “Apa yang dia maksud?” Tanya nya dengan sangat penasaran.
Zeria kebingungan harus menjawab apa, dan lagi ia sangat payah jika disuruh berbohong. kemampuan berbohongnya tak jauh berbeda dengan Eric, namun Eric masih lebih payah dalam hal berbohong dibandingkan Zeria. “Itu…Emmm” Zeria benar benar tidak ada ide untuk membuat kebohongan.
__ADS_1
“Kami sedang mencari tahu tentang warna baju apa yang cocok untuk Zeria saat musim dingin nanti” Arin yang tahu kalau Zeria sedang kesulitan, akhirnya ikut turun tangan juga. Ia bicara dengan sangat percaya diri dan terlihat sangat meyakinkan sampai sampai tidak mencurigakan sama sekali.
Lucas terdiam, memperhatikan Arin sejenak. Memastikan apakah ia berbohong atau tidak, “Warna baju?” Mungkin alasan yang dikatakan oleh Arin terdengar tidak masuk akal baginya, tapi “Sepertinya warna abu abu pudar dengan sedikit corak berwarna putih di bagian bawah rok nya akan bagus” Ternyata Lucas percaya sepenuhnya pada perkataan Arin, dan malah meresponnya dengan serius.
“Berhasil!” Pikir Arin.
“Wahh, hebat sekali kau bisa meyakinkan kakak dengan semudah itu”
“Tak apa, serahkan saja padaku. Karena berbohong itu adalah keahlianku”
Entah bagaimana Arin bisa membanggakan hal itu, padahal itu adalah prilaku buruk. Tapi karena Arin sudah menolongnya, jadi ia biarkan saja. “Ternyata kakak sangat pandai memilihkan baju untukku ya” Zeria merih tangan Lucas.
“Eh? Itu bukan apa apa sih. Soalnya mau memakai baju seperti apapun, kau tetap terlihat cantik” Lucas memperhatikan wajah adiknya dengan seksama, memastikan aksesoris yang akan dipakainya. “Apa kau mau ku pilihkan aksesorisnya juga?” Tanya nya sambil membelai rambut Zeria.
“Boleh! Aku akan pakai apapun yang kakak pililhkan” Zeria tersenyum lebar.
Hubungan antara Zeria dan Lucas memang baik, dan bahkan Lucas akan melakukan apapun jika hal itu untuk Zeria, adik kesayangannya.
#Kamar Zeria Beberapa Jam Setelahnya
Kini matahari sudah berada tepat diatas, jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Pelajaran Lucas juga sudah selesai, dan sekarang adalah waktu istirahat.
“Apa kalian mau teh?” Tanya Azra muncul dari balik pintu.
Saat makan siang adalah saat dimana mereka semua berkumpul menjadi satu, dan itu adalah saat saat yang paling menyenangkan.
“Aku mau, tapi tolong tambahkan susu” Jawab Zeria.
“Baik”
Suhu di kekaisaran kini sudah mulai terasa dingin, musim dingin sudah sangat dekat. Namun tentu saja hanya Istana Putri saja yang sama sekali tidak terasa dingin.
Padahal semua sudah mulai terasa aman dan damai belakangan ini, Zeria sudah berfikir, mungkin untuk beberapa waktu kedepan ia tidak perlu mengkhawatirkan masalah apapun. Namun ternyata pemikirannya sangatlah salah, semua permasalahan yang mempertaruhkan segalanya baru akan dimulai.
__ADS_1