Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Masa Lalu


__ADS_3

Pagi hari di Istana Kekaisaran. Bunga bunga bermekaran, seisi taman dipenuhi dengan bunga yang cantik dan mengeluarkan aroma harum. Namun dari sekian banyaknya bunga yang ada, mata William terus tertuju pada seorang wanita muda, rambut panjang berwarna coklat muda dan mata oranye yang cerah, itulah Callista, ibu dari Luczeria saat ini.


"Selamat pagi nona" Sapa William sambil menundukkan kepalanya.


Wajah Callista terlihat tidak baik sesaat setelah mendengar sapaan dari William, "Jangan panggil aku begitu" Ujarnya dengan nada kesal.


Callista hanyalah seorang wanita muda biasa tanpa adanya gelar bangsawan, karena itulah ia merasa kesal jika orang yang ia anggap sebagai temannya malah memanggilnya dengan formal.


Keadaan menjadi hening, tak satu pun dari mereka yang mulai berbicara. Angin berhembus dan menerbangkan kelopak kelopak bunga warna warni, bahkan rambut panjang Callista pun ikut berkibar. Warna warni bunga yang dipadukan dengan Callista, membuat William tercengang. "Cantik" Gumamnya.


"Ha? Apa?"


"Tidak! Aku hanya berfikir kalau bunganya cantik!" William gugup dan sedikit tidak percaya kalau apa yang di fikirkannya malah terucap begitu saja.


"Hei, pendengaranku ini sangat tajam loh" Callista tersenyum jahil. Reaksi William saat sedang di jahili sangatlah lucu, sebab itulah tak jarang Callista menjahili William.


Wajahnya memerah, William yang biasanya selalu menjaga imagenya tak sengaja mengucapkan sesuatu yang sedang di fikirkannya, kejadian yang sangat langka.


Callista tertawa terbahak bahak, bahkan sikapnya itu tidak bisa disebut sebagai sikap dari seorang wanita muda. Callista bisa melakukan apa saja, bertarung, berkuda, memanah, bahkan bisa menggunakan sihir yang tak bisa digunakan oleh penyihir agung.


"Apa yang kalian lakukan?"


Suara berat yang tak asing, terdengar dari arah belakang William, itulah Louise. Dengan kemeja putih dan celana hitam, padahal hanya itu yang dikenakannya, tapi kenapa kelihatan mewah sekali?


"Tidak ada kok"


"Apa kau menjahili William lagi?"


Callista mengalihkan pandangannya sambil memoncongkan bibirnya. William sendiri terlihat sangat kesal karena dijahili, tapi di sisi lain ia merasa senang.

__ADS_1


"Sudahlah, ayo kita pergi. William, apa kau mau ikut?" Tanya Louise. Itu adalah ajakan untuk sarapan bersama, karena Louise dan Callista adalah sepasang kekasih, jadi William memutuskan untuk menolak ajakan tersebut agar tidak mengganggu waktu mereka berdua.


William hanya bisa memandangi punggung mereka berdua yang kian menjauh, rasa takut pun menghampirinya. Bagaimana jika Callista pergi dan tak kembali? Bagaimana jadinya jika ia tak bisa menahan perasaannya? Bagaimana? "Ah, kenapa aku dan Louise harus menyukai wanita yang sama sih?" Fikirnya.


Cinta William, bertepuk sebelah tangan. Namun ia tak ingin merebut Callista dari Louise, ia hanya mengharapkan kebahagiaan wanita itu.


***


Setelah semua pekerjaannya selesai, William memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat. Kamar yang tak begitu besar, namun lengkap dengan semua yang ia butuhkan. Ia berjalan mendekati jendela dan menatap langit malam yang penuh bintang. Hingga seseorang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk.


"Siapa?!" Dengan sigap William langsung mengambil ancang ancang untuk bersiap dengan kemungkinan terburuk.


"Ini aku, dasar bodoh"


Razel, pria itu muncul dari balik bayangan kamar. William mengehembuskan napas lega dan menyenderkan tubuhnya ke tembok. "Ku fikir kau pembunuh bayaran"


Berbeda dengan William yang merasa lega, Razel berjalan cepat ke arah William dan menarik kerahnya. Wajahnya tampak marah, namun juga seperti hendak menangis. "Zel?" Tanya William, tak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan oleh adik kembarnya.


"Aduh! Apa sih?!"


Tepat sebelum William menatap mata Razel, Razel sudah lebih dulu berbicara.


"SUDAH KUBILANG JANGAN LAGI MENYUKAINYA!" Teriak Razel. Untuk anak muda dengan usia tujuh belas tahun, Razel sudah kelewatan.


"Ha?"


Razel mengetahui perasaan William untuk Callista.


"Jangan menyukainya, itu hanya akan menyakitimu"

__ADS_1


William hanya diam mendengarkan perkataan Razel, benar apa yang dikatakannya. Mencintai seseorang yang tidak mencintaimu sangatlah menyakitkan, dan hanya akan menyiksamu seorang.


"Tadi, aku melihatmu. Kau hanya bisa diam saat Louise dan Callista pergi bersama, kau pasti merasakan sakit di hatimu bukan? Tapi kenapa kau masih terus menyukainya, hah? Apa kau bodoh?"


"Bukan begitu" Perlahan William melepaskan tangan Razel dari kerah bajunya dan berjalan sedikit menjauh. "Karena kita kembar, mungkin kau tau apa yang sedang kurasakan saat ini. Tapi aku tak bisa berhenti mencintainya, aku tau kalau itu hanya akan menyakitiku, tapi..." William terdiam sesaat, "Hanya dialah yang bisa membuatku bahagia saat melihatnya" Ucapnya dengan senyum masam dan air mata di ujung matanya.


Razel tak tega melihat kakak kembarnya terus menderita hanya karena seorang wanita, ia tau bahwa ini kekanakan, tapi ia tak ingin William menderita. "Kalau begitu kau bisa cari wanita lain!"


"Tidak boleh begitu Zel, apa kau bermaksud untuk membuat wanita tersebut menjadi tempat pelampiasan?"


Razel tersentak, ia tak berfikir sampai situ. Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah cara agar William tak menderita. "Tapi wanita itu bahkan tak mengetahui perasaanmu"


"Dia tahu"


"Hah?"


"Aku tau, dia pasti mengetahui perasaanku. Karena entah sejak kapan, ia selalu memberi jarak. Hanya si bodoh Louise lah yang tidak mengetahuinya, ahahaha" Ia tertawa, tetapi tidak dengan matanya.


Razel kembali menghampiri William dan memukul kepalanya keras keras, "Dasar bodoh, terserah padamu saja. Tapi jika suatu hari kau kembali menyukainya secara berlebihan, maka saat itu juga aku akan memukulmu"


"Kau kan sudah memukulku barusan"


"Tidak dihitung!"


...


"Kira kira begitulah kau di masa lalu" Ucap William dengan wajah jahilnya.


Wajah Razel memerah, "Aaahh, kenapa dulu aku bersikap menjijikan begitu sih? Harusnya kubiarkan saja kau sakit hati" Razel menutupi wajahnya dengan tangan karena malu.

__ADS_1


Malam ini, Razel dan William akan terus bercerita tentang masa lalu mereka yang bahagia, sedih, bahkan cerita tentang cinta bertepuk sebelah tangan William.


"Ku harap suatu saat nanti akan ada seorang wanita yang bisa menggerakkan hatimu"


__ADS_2