
Minggu kedua musim dingin di kekaisaran Arendelle. Setiap harinya udara bertambah dingin sedikit demi sedikit.
#Kamar Zeria
“Elic, aku memanggilmu karena ada yang mau ku bicalakan.” Zeria duduk di sofa, dengan biskuit dan susu di atas mejanya. Dan Eric yang berdiri di belakang tempat Zeria duduk.
“Iya” Jawab Eric sambil tersenyum.
“Tapi, kenapa kakak juga ada di sini?” Zeria melirik ke arah sofa di depannya, tempat dimana Lucas sedang duduk dan menikmati teh dengan santai.
“Sa- ekhem! Aku juga tidak tau. Saat aku bilang ingin pergi menemuimu setelah selesai latihan, Pangeran langsung bilang ‘Aku ikut!’ begitu. Tentu saja aku tidak bisa menolak” Jawab Eric dengan bahasa informal, karena jika dia bicara dengan bahasa formal pada Zeria, Zeria pasti akan menghukumnya lagi.
“Hah” Zeria menghela napas “Yasudahlah, lagian apa yang mau ku bicalakan juga bukan hal plibadi. Kalian beldua, sudahi dulu latihan diam diam kalian selama 3 hali” Tatapan Zeria berubah.
“Ada apa Zeria?” Tanya Lucas dengan wajah serius.
“Ada orang yang mengawasi kalian” jawab Zeria dengan cepat.
“Mengawasi? Apa maksudnya , Putri?” Eric juga bingung dengan perkataan Zeria.
“Sejauh ini tidak ada orang yang tau kalau kalian selalu latihan beldua secara diam diam di taman belakang Istanaku. Hanya aku dan kalian beldua yang tau. Setiap hali aku selalu mengawasi kalian beldua dali pelpustakaan dan juga aku selalu sendilian saat melihat kalian dali pelpustakaan, agal kalian tidak ketahuan. Tapi, sejak bebelapa hali lalu aku melasakan sesuatu.” Zeria menjelaskan kejadian yang dia rasakan saat sedang mengawasi Eric dan Lucas yang sedang berlatih.
“Tunggu, kau mengawasi kami?” Lucas terkejut karena dia tidak tau kalau Zeria selalu mengawasi latihan mereka.
“Iya, tapi sekalang hal itu tidaklah penting. Aku ingin kalian belhenti latihan dulu selama 3 hali. Hanya 3 hali, dan dalam 3 hali itu kalian harus datang seseling mungkin ke pelpustakaan itu. Kalena akan selalu ada di sana” Ucap Zeria.
“Apa kau melencanakan sesuatu? Kau bertingkah tidak seperti anak pada usiamu” Lucas tersenyum bangga.
“Kalena aku jenius” Jawab Zeria dengan percaya diri.
“Benar. Kalau kau pikir lagi, anak umur satu tahun mana yang sudah bisa bicara selancar ini?” Eric membanggakan Zeria.
“Tapi, kalau membayangkan anak lain yang masih berusia satu tahun selain Zeria bisa bicara selancar ini sepertinya agak seram ya?” Lucas menurunkan alisnya saat membayangkan kalau hal itu terjadi.
__ADS_1
“Sepertinya begitu” Eric juga malah menundukkan kepalanya.
“Emm, ngomong ngomong apa ada gempa?” Zeria melihat sekitarnya dan semuanya terlihat bergerak.
“Ha? Apa yang kau bicarakan? Semuanya baik baik saja.” Lucas mengangkat sebelah alisnya , padahal jelas jelas semuanya baik baik saja.
“Eh? Lalu, kenapa semuanya belgelak?” Zeria memperhatikan sekelilingnya lagi. “Loh?” Zeria mulai kehilangan keseimbangannya dan mulai jatuh.
“Putri?” Eric khawatir melihat wajah Zeria yang mulai terlihat pucat, dan mulai lemas. “Wajahmu pucat, apa tidak lebih baik jika kau istirahat?” Eric cemas dengan keadaan Zeria.
“Tidak, aku baik baik saja” Zeria memegang kepalanya dan menarik napas.
“Kau istirahat saja, wajahmu tidak menunjukkan kalau kau baik baik saja” Lucas memegang kepala Zeria dan mengelusnya.
“Aku baik baik saja” Pengelihatan Zeria mulai kabur, semua yang ada dalam jangkauan pengelihatannya mulai terlihat buram. Sakit yang sejak tadi di rasakannya semakin menjadi jadi, rasa sakitnya mulai tidak bisa tertahan. Namun Zeria tetap menahannya agar orang lain tidak khawatir, tetapi usahanya sia sia. Zeria jatuh pingsan saat itu juga.
“Zeria?!” Lucas dengan sigap menangkap Zeria yang tiba tiba terjatuh agar tidak terbentur lantai.
“Tuan Putri?!” Eric juga sudah bergerak untuk mengkap Zeria, namun Lucas sudah menangkapnya lebih dulu.
Lucas lari dengan tergesa gesa menuju kamar Zeria. Walaupun kakinya sudah terasa berat karena dia berlari dengan menggendong anak kecil, namun ia tetap berlari. Karena kamar Zeria adalah tempat paling hangat yang ada di istana Putri. Berlari dengan cepat dan segera sampai ke kamar Zeria, hanya itu yang Lucas Pikirkan.
Sesampainya di kamar Zeria, Lucas di sambut dengan wajah terkejut Reina.
“Reina! Siapkan tempat tidurnya!” Napas Lucas ter engah engah dan tidak teratur.
“Segera pangeran!” Reina yang terkejut melihat Zeria dengan keadaan seperti itu langsung pergi menyiapkan tempat tidur dengan cepat.
Tempat tidur siap dengan cepat. Lucas membaringkan Zeria ke tempat tidur, wajah Zeria tampak sangat tidak baik. Nafas Zeria yang terengah engah padahal tidak berlari, wajahnya yang seperti sedang sangat kesakitan, dan juga demam yang sangat tinggi membuat Lucas panik.
“Reina, kenapa Zeria kelihatan susah bernafas?” Wajah Lucas penuh dengan ke khawatiran.
“Saya juga tidak tau Pangeran. Tapi demam Tuan Putri sangat tinggi, sepertinya Tuan Putri sesak napas” Ucap Reina dengan suara yang sangat panik. “Untuk sekarang kita harus menurunkan demamnya dulu, saya akan mengambilkan air hangat dan kain untuk mengompres Tuan Putri.” Reina bergegas pergi untuk mengambil air hangat dan Kain. Sedangkan Lucas tetap di kamar untuk menjaga Zeria.
__ADS_1
“Zeria, kenapa kau tidak bilang kalau kau sedang tidak enak badan? Tunggulah sebentar lagi, Razel akan segera datang dan mengobatimu, ya? Ku mohon tunggulah sebentar” Lucas mengenggam erat tangan Zeria dan meletakkannya di dahinya. Sedangkan di sisi lain.
Tok tok tok
“Permisi Baginda, saya Eric. Ada hal penting yang harus saya sampaikan” Eric juga berlari sekuat tenaga untuk sampai ke istana utama dari istana putri. Sama seperti Lucas, walaupun kakinya terasa berat, dia tetap berlari.
“Masuklah” Louise mendengar suara Eric yang sangat terburu buru, membiarkannya masuk terlebih dahulu. Eric masuk dengan keadaan tubuh yang di penuhi keringat, dan itu membuat Louise semakin penasaran. Hal apa yang membuatnya berlari hingga tubuhnya penuh keringat begitu?
“Ada apa? Katakan langsung ke intinya” Louise adalah orang yang sangat benci dengan basa basi yang tidak penting.
“Itu..huft Tuan Putri..huft” Eric tidak bisa bicara dengan benar dengan napasnya yang sudah tidak teratur itu.
“Hei, atur dulu napasmu. Kalau kau terus seperti itu, kau tidak akan bisa bicara” Razel yang kebetulan sedang ada di ruangan Louise untuk melaporkan keadaan lingkaran sihir menghampiri Eric dan menepuk punggungnya dengan lembut.
“Huuuuu haaaaa” Eric menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya, seperti yang di katakan oleh Razel napasnya sudah kembali teratur.
“Sekarang katakan, ada apa dengan Tuan Putri?” Louise sebenarnya sudah tidak tenang karena hal yang akan di katakan oleh Eric bersangkutan dengan Zeria.
“Tu-tuan Putri pingsan! Saat di perpustakaan tadi, Tuan Putri yang awalnya terlihat baik baik saja tiba tiba saja pingsan. Napas Tuan Putri tiba tiba tidak teratur dan juga terlihat sangat kesakitan!” Eric bicara sesingkat dan sejelas mungkin agar tidak memakan waktu.
“Apa?!” Louise terkejut dan tanpa sadar pena yang di pegangnya tiba tiba patah.
“Iya, saya kemari kerena di perintahkan oleh pangeran untuk memanggil Baginda dan Tuan Razel” Lanjutnya.
“Kenapa kau tidak bilang sejak tadi?!Ayo segera pergi, Razel!” Louise pergi dari mejanya dan bergegas pergi ke kamar Zeria.
“Baik Baginda!” Jawab Razel dengan sigap dan segera mangikuti Louise dari belakang.
Di saat orang orang panik karena Zeria yang pingsan tiba tiba, Zeria malah terbangun entah di mana. Tempat yang sangat gelap dan tidak ada apapun, hampa, namun hangat.
“Uhh, kepalaku sakit” Zeria membuka matanya perlahan. “Di mana ini? Semuanya gelap, apa aku mati? Lagi?” Pikir Zeria
“Akhirnya kau datang” Entah suara yang datang dari mana, tapi suara itu seperti dari dalam kepala Zeria sendiri.
__ADS_1
“Loh, suara ini kan?”