
Eric dengan penuh kepanikan mencoba untuk bicara pada Zeria, namun Zeria tidak merespon. Begitu pula dengan Aswin, ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Baru saja seseorang mati tepat dihadapannya dan lenyap bagaikan tak pernah ada.
"Kita masuk ya" Eric meraih pundak Zeria dengan kedua tangannya. Tatapannya terasa kosong, tidak seperti Zeria yang biasanya.
"Dia bohong"
Zeria terus bergumam seperti itu, ia terus menatap langit malam tanpa bintang. "Dia benar benar lenyap?" Air mata menggenang di ujung matanya dan sudah hampir jatuh.
Tak ada dari mereka yang berani menjawabnya, padahal beberapa menit yang lalu mereka masih tertawa, tapi sekarang situasi berbalik dengan sangat cepat.
"Kita harus masuk sekarang, kau harus kembali ke kamarmu" Eric berdiri dan menjulurkan tangannya, berharap kalau Zeria akan meraihnya.
Zeria terus memandang langit tanpa mengalihkan pandangannya, "Aku harus apa?" Tangannya gemetar dan perlahan menggapai tangan Eric.
"Yang harus kau lakukan hanya kembali ke kamarmu sekarang juga" Eric meraih kedua tangan Zeria dan menggenggamnya dengan erat. "Kita harus cepat kembali, karena sihir yang ada pada Arin selama ini, akan kembali pada Zeria. Beberapa saat lagi ia pasti akan merasakan sakit" Fikirnya.
Zeria sama sekali tidak mendengarkan Eric, lalu pada akhirnya Eric memutuskan untuk menggendong Zeria kembali ke kamarnya, namun tidak melewati aula pesta, mereka pergi lewat luar. "Kau, rahasiakan hal ini. Jika kau memberi tahu seseorang, maka saat itu juga aku akan membunuhmu" Ancam Eric pada Aswin. Tak peduli soal status Aswin yang seorang pangeran.
Aswin mengangguk pelan dan melihat sosok Eric yang sedang menggendong Zeria mulai menjauh. Ia perlahan membuka pintu balkon dengan tatapan kosong dan bingung, apa yang harus ia katakan jika ada yang menanyakan keberadaan mereka bertiga?
Dan benar saja, Lucas berjalan menghampiri Aswin. "Apa kau melihat adikku?" Tanya Lucas, wajahnya terlihat bingung karena tidak melihat Zeria sama sekali. Lucas menengok ke segala arah mencari sosok adiknya.
Aswin gugup karena Lucas tiba tiba menanyakan hal yang ia takutkan, tapi ia bisa menyembunyikan ekspresinya dengan baik, "Tuan Putri sudah kembali ke kamarnya bersama dengan pengawal pribadinya" Jawab Aswin dengan lancar, tanpa menunjukkan rasa gugupnya.
"Lho, dia kembali lewat mana? Aku tidak melihatnya keluar dari balkon"
Aswin tersentak, "Tuan Putri kembali ke kamarnya lewat luar"
"Tapi ini lantai 2 loh" Lucas memiringkan kepalanya.
"Akhh!! Benar juga! Bagaimana ini?!" Pikirnya. Rasa panik menyerangnya, apakah masuk akal jika ia bilang kalau Eric menggendong Zeria lalu melompat turun? "Tadi pengawal pribadi itu menggendong Tuan Putri dan meloncat ke bawah"
__ADS_1
"Oh begitu, yasudah" Lucas memalingkan tubuhnya dengan ekspresi datar. Tak seperti yang dipikirkan Aswin, ternyata Lucas percaya begitu saja seakan hal yang sudah biasa terjadi.
***
Eric mengantar Zeria ke kamarnya dan menidurkannya di kasur. Wajah Zeria muali terlihat pucat dan keringat mengalir deras dari keningnya. Napasnya mulai tak teratur, dan aliran mananya juga mulai tidak stabil.
"Sakit" Rintih Zeria dengan suara yang sangat pelan, ia memegang dada kirinya dengan keras, tepat dibagian jantung.
Dengan tenang Eric mengelap keringat Zeria dan mengompresnya dengan air hangat. Demamnya cukup tinggi, tak ada orang lain disini. Zeria meraih tangan kiri Eric dan meremasnya, "Tolong...Sakit" Air mata mengalir dari ujung matanya.
Eric tak bisa berbuat apa apa, dirinya tak mahir dalam sihir penyembuh. Mencoba tenang di situasi sekarang sangatlah sulit, jantungnya berdetak kencang karena kondisi Zeria. "Kumohon, siapapun datanglah kemari" Eric memohon dalam hatinya.
Tanpa disangka, permohonan Eric langsung terkabulkan. Razel beserta Lucas dan Aswin datang menghampiri mereka. "Zeria!" Lucas dengan cepat berlari menghampiri Zeria dan meraih tangannya.
Menurut kesaksian Razel, Aswin memberi tahu pada Lucas kalau ia melihat wajah Zeria yang pucat dan lemas, jadi ia melaporkannya pada Lucas lalu Lucas melaporkannya pada Razel.
"Zeria kenapa?"
Zeria terus merintih kesakitan, orang orang disekitarnya merasa khawatir dengan keadaannya. Ada kemungkinan kalau Zeria akan tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama jika keadaan ini terus berlanjut.
Aswin masih kebingungan, karena ini adalah kali pertama dirinya bertemu dengan mereka. Situasi apa yang sedang dialaminya saat ini? Di depan matanya ada seorang anak perempuan yang merintih kesakitan, tapi ia tidak bisa berbuat apa apa.
Wajah Lucas terlihat panik, ia bisa melihat air mata yang menggenang di mata Lucas dan bisa jatuh kapan saja.
***
Suasana sunyi, Zeria membuka matanya dan mendapati dirinya di sebuah ruangan yang seperti perpustakaan. "Mimpi?" Dari sudut pandangnya, semua hal terlihat gelap kecuali dengan rak buku yang ada di ujung dekat jendela. Satu satunya tempat yang terang hanya itu, Zeria berjalan mendekati rak buku tersebut dan menemukan seseorang yang bersandar dibawahnya.
"Siapa?" Orang tersebut menoleh ke arah Zeria dengan wajah kantuk dan rambut yang berantakan.
Rambut blonde dengan mata sayu berwarna hijau, itu Eric. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Zeria dan duduk di sebelah Eric.
__ADS_1
Ia terdiam menatap ke arah depan, tatapannya kosong dan tidak bersemangat. "Aku...menunggu seseorang" Jawabnya seakan tak mengenali Zeria.
"Menunggu siapa?" Zeria duduk disebelah Eric dengan posisi kali yang ditekuk.
Eric terdiam, wajahnya kelihatan bingung, "Seseorang yang penting bagiku"
"Begitu? Siapa orang itu?"
"Entahlah, aku tidak ingat. Tapi sebanyak apapun ia pergi, aku akan terus menemukannya walaupun ia tidak mengingatku"
"Apa maksudnya itu?" Zeria mendekatkan lagi jaraknya dan kini bahu mereka saling bersentuhan.
Eric menatap Zeria, ia menatap matanya dalam dalam. Bahkan Zeria merasa kalau Eric sedang melihat sesuatu di dalam dirinya melalui matanya. "Itu karena ia selalu menjadi orang lain" Eric memalingkan pandangannya ke arah jendela.
"Tunggu, apa maksudnya 'selalu menjadi orang lain'?"
"Dia selalu menjadi orang lain, dia bahkan tidak pernah sekalipun mengingatku"
Dadanya terasa sakit, tidak diingat oleh orang yang kita anggap penting adalah perasaan paling menyakitkan baginya.
Zeria memeluk lututnya dan memanadangi kakinya, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang terlewat. "apa dia wanita?" Tanya Zeria.
Eric menoleh dengan cepat dengan mata yang terbelalak, "Bagaimana kamu bisa tau?"
"Apa dia selalu mati?"
Matanya tak berkedip, Eric mencengkram bahu Zeria dengan keras. "Sejauh mana yang kau tau?"
Nampaknya dugaan Zeria benar, air matanya menetes dan ia melihat Eric dengan tatapan lega. Senyuman yang terukir di wajahnya dan air mata yang membasahi wajahnya, "Sepertinya, aku adalah orang yang kau tunggu" Ucap Zeria dengan memegang wajah Eric dengan tangan kanannya.
Kini Zeria sadar akan sesuatu yang selama ini ia cari. Ia mengetahuinya, semua ingatan itu masuk ke kepalanya entah bagaimana caranya.
__ADS_1