
“KYAAA!!”
Suara teriakan seseorang terdengar dari dalam perpustakaan, namun itu bukanlah suara Reina. Semua orang disekitar perpustakaan terkejut, termasuk Zeria. “Suara siapa itu?!” Zeria makin panik. Semua orang bergegas masuk ke perpustakaan untuk mengecek apa yang terjadi termasuk mereka berlima juga.
Suasana perpustakaan yang biasanya sunyi, kali ini terasa sangat pengap dan ramai. Dan apa yang mereka lihat di perpustaan itu akhirnya menjawab semua kebingungan mereka. “Uhh” Lucas tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Darah berceceran dimana mana, seorang wanita tergeletak di lantai dengan kedaan tubuh yang mengenaskan dan penuh luka tusuk, tubuhnya terbaring tak bernyawa. Dan benar saja, wanita itu adalah Reina Claes, dayang Zeria.
“Ukhhh” Zeria tidak kuat melihat keadaan tubuh seseorang yang seperti itu, dan dengan sigap Louise pun menutup mata Zeria.
“Ini bukan pemandangan yang bagus untuk dilihat oleh anak anak” Ucapnya dan segera membalikkan badannya untuk menghindari pemandangan itu. “Ayo kita keluar saja” Lanjutnya.
Louise keluar dari perpustakaan untuk menenangkan Zeria dan diikuti oleh Lucas. Raut wajah Zeria terlihat sangat tidak baik, wajanya pucat dan pandangaannya kosong. William dan Razel segera mengambil alih perpustakaan untuk memeriksa jasad Reina dan menyuruh semua orang untuk keluar.
“Lucas” Louise dengan dinginnya memanggil Lucas dan memberikan Zeria padanya, “Bawa dia ke kamarnya dan tenangkan dia” Lanjutnya.
“Ya, tanpa diberitahu pun akan tetap kulakukan” Lucas segera pergi menuju kamar Zeria untuk menenangkannya.
Walalupun Zeria memang sudah tau niat dari Reina sejak awal dan memang berniat ingin memberikannya hukuman yang setimpal, tapi Zeria masih tidak menyangka kalau Reina akan berakhir seperti ini.
#Kamar Zeria
Lucas sangat kebingungan, bagaimana caranya ia membuka percakapan dengan suasana seperti ini. Zeria yang sangat terpukul akibat kematian Reina yang sangat tragis, dan hilangnya Eric. Padahal Arin bilang kalau Eric ada disana, tapi yang ada disana hanyalah Reina yang sudah tidak bernyawa.
“Arin, dimana Eric? Kau bilang dia ada disana” Zeria benar benar tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Arin, apakah dia berbohong soal Eric yang sudah dia temukan?
Arin sedikit menggumam dan memikirkan jawaban yang pantas untuk diucapkan dan kebingungan memilih kata yang tepat. “Dia, benar ada di sana” Ucapnya dengan suara pelan.
“Lalu dimana dia?” Nada bicara Zeria mulai meninggi, pertanda bahwa dia sedang tidak main main.
Sedangkan Arin masih kebingungan mengucapkannya, “Dia, disana” Jawaban Arin sama sekali tidak berubah.
Mood Zeria sedang sangat tidak bagus, dan jawaban dari Arin yang tiak sesuai dengan harapannya membuat moodnya semakin buruk. “Arin, kutanyakan sekali lagi. Dimana dia?” Padahal Arin tidak menunjukkan wujudnya, namun Zeria menujukkan tatapan yang menyeramkan ke arah udara kosong.
“Zeria?” Lucas yang memangku Zeria mulai kebingungan dengan tingkah Zeria, mulai dari mood nya berubah dengan cepat, dan juga aura yang dikeluarkan Zeria saat ini terasa seperti kemarahan yang sangat besar. Namun, Zeria tidak menanggapi panggilan dari Lucas karena terlalu sibuk dengan Arin.
__ADS_1
“Jawab aku Arin. Aku sedang tidak main main saat ini” Sungguh aura yang sangat mengerikan, rasanya seperti tertekan oleh sesuatu hingga sulit untuk bernapas.
“Dia…disini!” Arin langsung menunjukkan wujudnya tepat di depan pintu kamar Zeria. Dan hal itu sontak membuat Zeria terkejut.
BRAK!
Pintu kamar Zeria terbuka dengan sangat keras dan membuat Lucas terkejut, dengan refleks Lucas langsung bengun dari sofa dan menjauh. Insting seseorang yang selalu berada dibawah tekanan memang sangat tajam. Saat pintu terbuka, sosok Eric yang berdiri di depan pintu dengan tubuhnya yang masih penuh dengan luka yang belum sembuh.
“Eric” Lucas memeluk Zeria dengan erat dan menjauh secara perlahan, karena apa yang dilihatnya saat ini seperti bukan Eric, melainkan orang lain.
“Bocah! Apa yang kau lakukan?! Jangan mendekati Zeria lebih dari ini!” Arin menghalangi Eric untuk mendekati Zeria, tapi Eric seperti tidak menghiraukannya dan terus berjalan mendekati Zeria. “Bocah!” Arin mengeluarkan semacam penghalang di sekitar Eric, namun itu tidak berguna, penghalang itu hancur seketika setelah Eric menyentuhnya.
“Dia benar benar Eric? Tapi dia terasa sangat menyeramkan dan berbahaya, tidak seperti Eric yang biasanya” Zeria berpikir dengan keras, aura yang dikeluaran Eric saat ini terasa sangat menyeramkan.
Eric terus berjalan mendekati Zeria selangkah demi selangkah, sedangkan Lucas sudah menemukan titik buntu ruangan dan sudah tidak bisa mundur lagi. Arin sama sekali tidak bisa melakukan apa pun, karena wujudnya tidak nyata. Eric yang terus berjalan mendekati Zeria tiba tiba mengeluarkan pisau belati, dan itu membuat Zeria sangat ketakutan dan tidak bisa berfikir dengan jernih.
“Jangan mendekat, atau aku akan melakukan sesuatu padamu” Lucas mengancam, karena Zeria ketakutan dengan Eric. Namun Eric tidak menghiraukannya dan terus mendekat. Tak ada pilihan lain, Lucas merapalkan mantra dan mengikat Eric dengan rantai yang datang entah dari mana. “Akhirnya kau berhenti juga” Ucapnya.
“Elic?” Zeria merasa lega karena Eric sudah berhenti berkat Lucas, namun diri Eric yang saat ini seperti sedang sangat putus asa dan kecewa.
Lucas tidak bisa mendengar apa yang Eric ucapkan barusan, dan meminta dia untuk mengulanginya. “Kau bilang apa?” Tanya Lucas dan mendekat pada Eric.
“Maafkan aku” Ulangnya dengan suara yang lebih keras.
“Untuk apa?” Zeria benar benar tidak mengerti dengan apa yang sedang Eric bahas, maaf untuk apa?
“Karena aku gagal lagi” ucapnya sambil menunduk, dengan keadaan tubuh yang masih terikakt dengan rantai.
“gagal?” Zeria masih tidak paham.
“Aku tidak paham. Sekarang, kita duduk dulu dan kau jelaskan dengan rinci, tapi aku tidak akan melepaskan rantai itu, karena aku masih belum yakin” Lucas berjalan menuju sofa, dan menyuruh Eric untuk duduk juga.
“Aku minta maaf karena tidak bisa melindungi Tuan Putri” Eric menundukkan kepalanya dan air matanya hampir jatuh. Entah karena apa dia menangis.
“Gagal apanya? Kau jadi begitu kan kalena melindungi ku” Jawab Zeria. Arin berdiri di samping Eric untuk berjaga jaga kalau dia melakukan sesuatu yang berbahaya.
__ADS_1
“Bukan begitu! Dulu juga anda melindungi saya dari orang jahat sampai anda tidak sadarkan diri, padahal seharusnya saya melindungi anda, tapi saya selalu gagal. Saat anda pingsan di perpustakaan juga begitu, saya tidak cukup cepat menangkap anda yang terjatuh. Saya selalu gagal melindungi anda” Eric benar benar tidak mengahadap ke arah Zeria sama sekali saat bicara, karena dia merasa benar benar malu karena tidak bisa melakukan apa apa.
“Apa apaan itu?” Lucas mencela “Kau berhasil! Kau melindungi adikku” Menurut Lucas, hal itu benar benar tidak masuk akal. Padahal sudah terluka separah itu karena melindungi Zeria, namun dia masih bilang kalau dia gagal?
“Tapi” Eric masih tetap menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Zeria.
BRAK!
Lucas memukul meja dengan keras, “TIDAK ADA TAPI TAPIAN!” Lucas membuat Eric tidak bisa membantah lagi.
“Baik” Eric benar benar kehabisan kata kata, dan air matanya jatuh. Zeria yang hanya melihat pertengkaran kecil mereka berdua, hanya bisa tertawa kecil.
Lucas membiarkan Eric menangis dulu agar dia bisa meluapkan semuanya. Sekuat apapun dirimu, kau harus menangis agar semua beban yang kau pikul terasa lebih ringan, luapkanlah semuanya dalam tangisanmu.
“Jadi, kenapa tadi kau mengeluarkan pisau belati?” Lucas mulai mempertanyakan hal hal aneh yang tadi dilakukan oleh Eric, dan pertanyaan yang Lucas berikan ternyata sama dengan apa yang Zeria pikirkan.
“Itu, aku hanya ingin memberikan belati itu pada Tuan Putri agar bisa menghukumku” Ucapnya dengan sangat ragu.
Zeria yang sedang meminum susu yang disediakan oleh Lucas, langsung tersedak karena terkejut dengan apa yang Eric katakan. “HAH?! Apa aku tellihat sepelti orang yang akan menghukummu dengan cala itu?” Zeria benar benar tercengang akan hal itu, “Apakah aku terlihat seperti Tuan Putri yang suka menyiksa bawahannya?” Pikir Zeria.
“Tidak, bahkan kau terlihat seperti oranng yang tidak pernah bicara” Jawab Arin.
“Maafkan aku” Ini sudah kesekian kalinya Eric meminta maaf.
Lucas dan Zeria sangat muak mendengarnya. “Kau ini, suka sekali meminta maaf ya? Zeria, berikan saja dia hukuman agar dia tidak meminta maaf lagi” Lucas memberi usulan yang sangat bagus.
“Emmm, baiklah. Hukumannya adalah, berdiri di sudut ruangan dengan satu kaki, dan lentangkan kedua tanganmu. Jangan berganti posisi sebelum ku suluh.” Ucapnya sambil menunjuk sudut ruangan.
Eric terkejut, apakah tidak apa apa jika hanya diberi hukuman seperti itu, “Hanya itu saja?” Tanyanya.
“Yap!” Zeria mengangguk.
“Tapi, aku sudah melakukan sesuatu yang sangat besar” Eric tiba tiba bangun dari sofa.
“Memang, apa yang kau lakukan?” Tanya Lucas, dan menaikkan alisnya.
__ADS_1
“A-aku yang MEMBUNUH REINA”