
Suasana seketika menjadi sunyi, tak ada satupun dari mereka yang membuka mulut. Mata bertemu dengan mata, mata hijau Eric yang terbelalak dan terkena sinar matahari terlihat sangat bersinar. Eric meraih kerah baju Zeria dan mencengkramnya, “Sejauh mana yang kau tau?!” Pria itu menyudutkan Zeria ke rak buku.
Zeria hanya diam dengan menggigit bibir bagian bawahnya untuk menahan tangisannya. Pupil matanya bergetar saat menatap Eric, “Lepaskan” Ujar Zeria dengan suara yang sangat pelan dan sedikit gemetar.
Ia hanya menundukkan pandangannya dan menghindari kontak mata dengan Eric, tak sanggup melihat ekspresi yang sangat menyakitkan di wajah Eric. “Kenapa?” Ucap Eric.
Zeria merasakan setetes air yang menetes di pipinya, dengan cepat Zeria segera menatap Eric, “Kenapa kau tidak bilang dari awal?” Pria ini menangis. Matanya memerah dan air mata mengalir deras dari matanya. Eric perlahan melepaskan cengkramannya dan meletakkan kepalanya di bahu Zeria.
Ia bisa merasakan bahunya perlahan membasah. Tiba tiba sekelilingnya mulai memutih dan pudar, “Eric?” Zeria meraih tangannya dan seketika tangan tersebut hancur bagai kaca.
“ERIC!”
“Haha, akhirnya aku menemukanmu. Tenang saja, selanjutnya aku juga akan menemukanmu lagi kok”
Ia tersenyum, senyumannya terlihat bahagia namun juga terlihat sedih. Perlahan sosok Eric mulai memudar dan akhirnya menghilang. Zeria menutup matanya karena cahaya yang muncul tiba tiba, namun saat ia membukanya kembali, ia sudah merada di kamaranya.
Kamar dengan warna krem yang menyeluruh dengan sebuah sofa di tengah ruangan, “Sudah kuduga hanya mimpi" Fikir Zeria.
Zeria bangun dari tidurnya dan duduk di atas kasurnya, salah satu tangannya memegangi kepalanya dan matanya terasa panas. Lagi lagi ia menggigit bibirnya sendiri, dan air mata jatuh dari matanya. “Sial” Rintihnya dengan detak jantung yang masih tidak karuan, “Padahal semudah ini, tapi kenapa aku tidak tau?” Zeria menekuk lututnya dan memeluknya.
Ia menangis, sendirian dalam kegelapan kamar. Merenungi kematian orang terdekatnya dan rasa sakit di sekujur tubuhnnya. Andai aku lebih cepat menyadarinya, andai saja aku labih sigap, andai saja aku tidak pergi ke balkon. Semua fikiran itu memenuhi kepala Zeria, hingga seseorang datang dan menyadarkannya.
“Sudah bangun rupanya” Terdengar suara seseorang dari balik jendela yang tertutup rapat itu, Zeria menatapnya lekat lekat dan melihat sebuah cahaya kecil dibaliknya.
“Masuklah, aku butuh teman”
Jendela terbuka dengan pelan dan masuknya Eric dengan jubah hitamnya dan sebuah lilin ditangannya. “Selamat malam”
“Selamat malam”
Eric berjalan menghampiri Zeria dengan kondisi jendela yang masih terbuka lebar, saat Eric sudah masuk ke dalam jangkauan Zeria, dengan cepat Zeria langsung memeluknya dengan Erat. Tangisannya meledak dalam pelukan Eric, ia menangis sejadi jadinya. Menangisi segala hal yang tak bisa ia tangisi selama ini. Kini hanya ada dirinya sendiri, tak aka nada lagi orang yang selalu berada bersamanya. Sosok Arin sudah seperti saudara sendiri bagi Zeria, hatinya seperti tercabik cabik menjadi bagian kecil.
__ADS_1
“HUWAAA!” Zeria meramas kemeja putih Eric dengan sangat keras.
Zeria terus menangis dan akhirnya berhenti setelah beberapa menit, matanya membengkak dan merah.
“Sudah tenang?”
Zeria hanya mengangguk.
Suasana sunyi kembali lagi, Eric hanya bisa menatap Zeria. “Aku ingat semuanya” Ucap Zeria memalingkan pandangannya kea rah Eric.
Ekspresi terkejut singgah di wajah Eric, wajahnya seperi berkata ‘Apa yang kau ingat?’
“Aku ingat semuanya, semua kehidupanku dan rasa sakitku”
“Semuanya?”
“Ya, aku ini tidak bisa mati kan?” Zeria menatap telapak tangannya dan menggenggamnya, “Tidak, mungkin lebih tepatnya. Aku akan terlahir kambali meskipun aku mati bukan?”
“Sepertinya aku memang harus menjelaskannya ya?” Tatapan Zeria pada Eric jelas sekali kalau ia meminta penjelasan darinya. “Kau, akan selalu mati di tangan seseorang dan pada akhirnya kau akan terlahir kembali dan mati lagi. Hanya kau, seharusnya hanya kau yang terus mengulang hidup. Tapi aku memutuskan untuk terlibat, aku ingin mellindungimu bagaimanapun wujudmu. Di semua kehidupanmu, aku selalu berada di sekitarmu, etah menjadi adikmu ataupun teman sekelasmu” Raut wajah Eric mulai berubah, raut wajah itu terlihat menyakitkan.
“Kau dan dia dihukup oleh sang pencipta. Kau akan selalu mati ditangannya, dan dia akan selalu membunuhmu. Tapi aku tidak mau kau mengalami hal itu! Aku akan melindungimu, walaupun kau tiidak pernah mengingatku”
“Tapi kenapa kau selalu mengingatku?”
“Karena aku tidak diberi hukuman, aku beradda disini karena keinginanku. Sedangkan kau dan dia akan selalu menjadi musuh dan pada akhinya dia akan membunuhmu.”
“Jadi yang terus mengulang tidak hanya kita? Tapi ada satu orang lagi?”
“Benar”
“Siapa?”
__ADS_1
“Entahlah, aku tidak tau dia menadi siapa di kehidupan kali ini”
Semuanya terpecahkan, Zeria akan selalu mati dan ingatannya akan selalu dihapus. Ia akan terus mengulang tanpa mengetahui apa apa dan pad akhirnya mati lagi.
“Kalau aku duluan yang membunuhnya, apa aku kan mengulang lagi?”
Eric tersentak mendengar pertanyaan Zeria, kenapa ia tak pernah memikirkan cara itu sebelumnya? “Entahlah, tapi apa kau ingin berhenti mengulang?”
“Iya, aku sudah lelah. Semua ingatan itu tiba tiba saja masuk kedalan kepalaku” Zeria memegangi kepalanya.
Cara yang belum pernah mereka coba, ‘Dia’ akan menjadi siapa di kehidupan kali ini? Diantara mereka bertiga yang mengulang, hanya Eric saja yang mengingat semua kehidupan sebelumnya. Tapi jika Zeria mengingat kehidupannya saat ia mati tterjatuh, itu artinya ‘Dia’ juga mengingat kehidupan saat itu.
***
Waktu berlalu dengan cepat, Zeria memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan soal kematian Arin lalu memotong rrambutnya sendiri. Karena jika ia terus memikirkan itu, ia tak akan pernah maju. Ia juga bilang kkepada semuanya kalau Arin kembali ke desa asalnya yang sangat jauh dan tidak akan kembali lagi ke Kekaisaran Arendelle.
Delapan tahu kemudian, kini usia Zeria sudah memasuki usia lima belas tahun. Tubuh tinggi yang ramping dan rambut coklat pendek, kini Zeria selalu menjaga rambutnya agar tetap pendek dan selalu menggunakan gaun yang tidak terlalu panjang.
Musim panas, tepat saat Azra berusia delapan belas tahun. “Putri, ada apa memanggilku?” Azra melirik dari sudut pintu kamar Zeria dan Eric langsung memukul kepalanya dengan bantal sofa.
“SELAMAT ULANG TAHUN PENDEK!”
“Akhh!”
Tingkah bodoh mereka berdua memmbuat ZEria tertawa, di meja tengah sudah tersedia beberapa macam kue untuk merayakan ulang tahun Azra. “Kalian kan hanya beda beberapa cm saja, kenapa kau sombong begitu?”Lucas mengomentari perkataan Eric tadi. Wajah tampan Lucas sama sekali tidak berubah, kini usianya sudah dua puluh tiga tahun.
“Terserah aku dong” Jawab Eric sambil merangkul Azra dan membandingkan tinggi mereka. Usia Eric sudah menginjak dua puluh tahun.
Padahal mereka sama sama sudah dewasa, tapi tak ada satupun dari sikap mereka yang berubah. Wajah ketiganya sanngat tampan, jika Lucas bagaikan pria yang setia pada satu wanita, maka Eric adalah seorang buaya darat (Sebenarnya tidak, dia hanya mudah bergaul), dan Azra adalah pria pendiam dengan pesona mematikan.
"Sepertinya standar priaku akan menjadi sangat tinggi karena dikelilingi pria tampan begini”
__ADS_1