Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 27


__ADS_3

“Bocah itu, tidak ada di kamarnya!”


“Apa?!” Zeria terkejut setengah mati, bagaimana bisa Eric yang tidak sadarkan diri selama empat hari tiba tiba menghilang dari kamarnya. Dan lagi, Zeria sama sekali tidak merasakan apapun. “Bagaimana bisa?”


“Tidak tau, aku baru saja ke kamarnya untuk memeriksa keadaannya. Tapi dia tidak ada” Arin selalu memeriksa keadaan Eric secara berkala setiap harinya, tapi saat ia ingin memeriksa keadaan Eric hari ini, Eric tidak ada di kamarnya.


Zeria langsung kepikiran dengan Eric. Kemana Eric pergi? Apakah dia pergi atas keinginannnya? Atau malah ada orang yang berniat buruk padanya? Atau malah, dia ingin melakukan sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh orang lain?


“Zeria? Ada apa?” Lucas memperhatikan Zeria, karena ekspresi Zeria tiba tiba berubah.


“Aku, mau ke tempat Elic” Zeria menatap Lucas.


Lucas tidak tau apa yang ingin Zeria lakukan dengan pergi ke kamar Eric. Tapi Lucas yakin bahwa itu adalah hal yag penting. “Baiklah, hanya kita?” Lucas melirik Reina yang sedang membereskan meja.


“Iya. Leina, setelah semuanya selesai bisakah kau menggambil buku belgambal di istana utama?” Tanya Zeria dengan sopan.


Reina hanya memperhatikan dan mengiyakan perintah Zeria “Baiklah, kira kira ada berapa buku?” Tanya Reina untuk memastikan jumlah buku yang harus dibawa olehnya.


Zeria menyipitkan matanya “Emm, tujuh mungkin.” Jawab Zeria sambil meletakkan tangannya di dagu, seakan akan dia memiliki janggut.


Reina yang melihat tingkah Zeria yang seperti itu langsung tertawa “Hahaha, Tuan Putri anda kan tidak punya janggut. Kenapa anda mengelus elus dagu anda?” Reina berusaha mengontrol tawanya dengan cara mengambil nafas dalam “Hah, baiklah. Akan saya ambilkan bukunya setelah semuanya selesai” Reina tersenyum manis seperti biasanya, dan itu membuat orang lain ragu untuk mencurigainya.


“Oke, kalau begitu kami pergi dulu” Ujar Lucas dengan menggendong Zeria pergi meninggalkan kamar. Raut wajah Zeria tidak terlihat baik, bahkan dari ekspresi wajahnya saja Lucas bisa tau kalau Zeria sangat mengkhawatirkan sesuatu.


Sesampainya di depan kamar Eric, mereka berhenti di depan pintu. Lucas hendak mengetuk pintu, namun Zeria menghentikannya. “Langsung masuk saja” Tatapan Zeria sangat mengerikan, dan membuat Lucas sama sekali tidak bisa menolaknya dan hanya menurutinya.


Saat mereka masuk ke dalam mereka dibuat terkejut, benar saja apa yang dikatakan oleh Arin bahwa Eric menghilang. “Dia kemana?” Lucas terkejut bukan main, Eric yang terluka sangat parah hingga tidak sadarkan diri selama empat hari tiba tiba menghilang.


“Kak, ini gawat” Zeria meletakkan tangannya di dada dengan ekspresi yang tidak mengenakkan “Pelasaanku tidak enak” Lanjutnya .


“Apa?” Perasaan Lucas juga jadi tidak enak saat meihat ekspresi Zeria.


“Kakak cali bebelapa petunjuk disini. Aku akan menunggu di sofa, aku minta tolong” Zeria sangat serius dengan perkataanya.


“Baiklah” Angguk Lucas, lucas menaruh Zeria di sofa dan mulai mencari petunjuk di kamar Eric.


Kekhawatiran Zeria semakin besar, Zeria terus saja berfikiran buruk. Apakah dia melakukan sesuatu? Apakah dia dalam bahaya? Sangkin paniknya, Zeria tanpa sadar menggigit kuku ibu jari tangannya hingga darah keluar dari jarinya. “Zeria!” Lucas dengan cepat berlari kearah Zeria dan menarik tangannya, “Apa yang kau lakukan?!” Lucas buru buru membungkus jari Zeria dengan sapu tangan miliknya.


Zeria yang tadinya melamun akhirnya tersadar berkat Lucas, Zeria tidak sadar jika tangannya berdarah “Ah, jariku berdarah” Pikirnya. “Apa kakak menemukan sesuatu?” Zeria mencoba mengalihkan perhatiannya.


Lucas yang tau kalau Zeria sedang mencoba mengalihkan perhatiannya menyipitkan matanya “Tidak ada” Jawabnya dengan singkat.


“Begitu?” Mereka berdua terdiam tanpa mengatakan apapun. Suasana di antara mereka terasa sangat sunyi dan senyap, namun suasana langsung berubah ketika William datang.


Kriet


Pintu kamar itu terbuka, dan masuklah William bersama beberapa orang pengawal, “Loh, Pangeran dan Tuan Putri? Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya William.

__ADS_1


“Tidak ada, kami hanya ingin menjenguk Eric saja. Namun dia tidak ada” Jawab Lucas dengan wajah datarnya yang tanpa ekspresi.


“Tidak ada? Ini hal gawat. Kalian semua, tiga orang tinggal disini dan geledah kamarnya, lalu sisanya cari anak itu” William memberi perintah pada beberapa orang pengawal yang ikut bersamanya.


“BAIK” jawab para pengawal itu dan langsung melaksanakan perintah Lucas.


“Nah, mumpung Pangeran dan Tuan Putri ada di sini ada yang ingin saya sampaikan” Ucap William


“Apa itu” Tanya Lucas sambil mengangkat Zeria lagi ke pelukannya.


“Baginda bilang ada yang ingin ia beritahu, dan kalian disuruh untuk menemuinya” William berjalan kearah pintu dan bermaksud mengantar mereka, karena dia juga punya urusan dengan Louise.


Lucas dan Zeria yang mendengar perintah dari Louise tersebut hanya saling tatap dan mengikuti William dari belakang untuk pergi menemui Louise.


Dalam perjalanan menuju ke ruangan Louise, mereka sama sekali tidak ada yang berbicara dan hanya diam. Hingga mereka sampai ke tempat Louise.


#Ruangan Louise


Toktok


William mengetuk pintu.


“Masuk” Ucap Louise dari balik pintu kayu besar itu.


Saat mereka bertiga masuk, di dalam ruangan Louise sudah ada beberapa orang yang menunggu mereka. Razel dan bawahannya, kepala kesatria, dan beberapa orang penting lainnya. “Salam pada Pangeran dan Tuan Putri” Serentak orang orang itu mengatakannya saat melihat Lucas dan Zeria.


“Kalian berdua kemarilah” Louise melambaikan tangannya dan menyuruh mereka berdua untuk duduk di sofa yang ada di sebelahnya. Lucas berjalan perlahan menghampiri Louise, dan saat sudah sampai di sofa, Zeria dengan refleks membuka tangannya dan mencondongkan badannya ke arah Louise. Sekarang Zeria berada di pangkuan Louise dan Lucas duduk di sebelahnya.


“Kenapa orang orang ini berkumpul?” Pikir Zeria.


“Nah baiklah. Silahkan berikan laporan kalian” Ucap Louise dengan menyenderkan kepalanya ke salah satu tangannya.


Salah seorang pria maju dengan membawa beberapa kertas, pria yang tinggi, dengan rambut cokelat yang sangat gelap dan mata hitam, dengan kacamata. Dia adalah orang yang bertugas mengurus dokumen dokumen tentang bangsawan, dan siap memberi laporannya. “Baginda, saya menemukan suatu fakta yang menarik tentang nona Reina, dayang Tuan Putri” Ucap pria itu sambil menaikkan kacamatanya.


“Apa itu?” Louise merasa tertarik dengan laporan yang akan diberikan.


“Setelah saya selidiki latar belakang dari keluarga nona Reina Claes, ternyata keluarga Count Claes hanya memiliki seorang anak laki laki, dan anak tersebut adalah anak tunggal. Mereka tidak pernah mempunyai anak perempuan.” Penjelasan dari pria itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.


Lucas dan Louise terkejut setengah mati, namun Zeria masih terlihat tenang seakan akan dia sudah menduganya. “Lalu, bagaimana?” Tanya Louise lagi.


“Baginda, saya menemukan sebuah kotak di bawah tempat tidur nona Reina. Di bawah ranjangnya ada sebuah ruang kecil yang hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan, dan saat saya memeriksa ruang kecil itu, kotak ini ada disana.” Kepala kesatria memberikan sebuah kotak kayu kecil yang sejak tadi dipegangnya.


Louise menerima kotak itu dan membukanya, Lucas menggeser tempat duduknya mendekati Louise untuk melihat isi kotak itu juga. Di dalam kotak itu, ada beberapa lembar kertas, sebuah kunci, dan kotak hijau kecil yang sebesar kotak cincin. “Razel, periksa ini” Louise memberikan kotak hijau kecil itu kepada Razel, dan dia membaca isi dari kertas kertas itu.


Isi dari kertas yang dibaca Louise


“Tidak latihan selama 3 hari, dan mulai pada hari ke 4. Penyergapan di hari ke 5”

__ADS_1


“Ledakkan kamar pada saat jam pelajaran sejarah Pangeran”


“Gagal, ada seorang anak sialan yang mengganggu. Namun anak itu terluka parah, sepertinya dia akan mati?”


“Membunuh anak itu hari ini”


Zeria ikut membaca hal itu, dan ia terkejut. Louise dan Lucas juga terkejut. “PERGI DAN CARI REINA CLAES, TANGKAP DIA DAN BAWA KEMARI!!” Louise sangat marah dan langsung menurunkan perintah.


“BAIK!” Semua orang langsung pergi dan segera menjalankan perintah Louise.


Semua orang pergi kecuali Razel, William, Lucas dan Zeria. Mereka khawatir dengan keadaan Zeria yang sudah mengetahui kalau Reina adalah orang yang hendak membunuhnya. “Zeria?” Lucas melirik Zeria dengan matanya yang dipenuhi kekhawatiran.


“Apa?” Zeria melirik mereka semua dengan santai tanpa kekhawatiran apapun.


“Kau tidak apa apa?” Tanya Lucas.


Zeria melihat satu persatu wajah mereka semua, mereka semua tampak khawatir. “Kenapa?”


“Itu, tentang Reina. Kau pasti kecewa kan?” Lucas bicara dengan terbata bata Karena takut Zeria akan benar benar kecewa.


“Hmm? Tidak” Jawaban Zeria membuat mereka semua kebingungan. Padahal orang yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri malah mengkhianatinya, tapi reaksinya biasa saja dan tetap tenang.


“Bagaimana bisa kau tidak kecewa? Kau sangat percaya padanya kan?” Lucas membantah ucapan Zeria yang bilang kalau dia tidak kecewa.


“Ha? Kapan aku pelcaya padanya?” Zeria membantah lagi ucapan Lucas barusan, “Aku tidak pernah mudah percaya pada orang lain tahu? Karena dulu juga aku sering di khianati, dan aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali. Tadi saat dia bilang kalau kesusahan mencari buku sejarah yang diminta kakak karena perpustakaannya besar saja sudah tidak masuk akal. Padahal aku tau kalau ada 4 orang yang bertugas di perpustakaan. Dan dia juga tadi menguping pembicaraan kami, padahal dia sudah kembali sejak tadi, tapi dia malah menunggu di depan pintu dan menguping pembicaraan kami, dia pikir aku tidak tau?” Pikir Zeria.


“Astaga” Lucas memegang kepalanya, sedangkan Louise, William dan Razel tersenyum melihat sifat Zeria yang seperti itu.


Mereka berbincang tentang kasus ini, dan menyatakan kalau Eric sama sekali tidak bersalah. Percarian Reina berjalan lumayan lama, karena pencarian Reina dimulai dari istana Putri terlebih dahulu. “Zeria?” Arin muncul.


“Ada apa?” Tanya Zeria, apakah kabar yang akan disampaikan Arin adalah kabar baik atau buruk.


“Aku menemukannya” Ucap Arin, namun suaranya terdengar agak gelisah.


Zeria senang mendengar kalau Eric sudah ditemukan, “Dimana?” Tanya Zeria, dia ingin segera menemui Eric sekarang juga.


“Itu…Perpustakaan istana utama” Jawab Arin denga gelisah.


“Perpustakaan istana utama? Tunggu, sepertinya aku malupakan sesuatu…Bukankah Reina juga ada di sana?! Tadi aku menyuruhnya untuk mengambil buku disana, bagaimana aku bisa lupa?” Zeria memegang kepalanya dan tatapannya terasa hampa.


“Benar, dia juga ada disini. Kemarilah, cepat” Suara Arin terdengar sangat gelisah dan kacau, seperti ada yang disembunyikan.


“Baiklah, aku segera kesana” Ucap Zeria. “Kak, aku tau dimana Elic dan Leina” Zeria memberi tau Lucas sekaligus Louise tentag posisi mereka berdua.


“Dimana? Dan bagaimana kau bisa tau?” Tanya Lucas sambil menyipitkan matanya.


“Pelpustakaan istana ini, dan untuk sisanya akan ku jelaskan nanti!” Tatapan Zeria penuh keyakinan, dan membuat mereka semua tidak mempunyai alasan untuk menolak.

__ADS_1


“Baiklah, ayo kesana” Mereka berlima cepat cepat menuju perpustakaan, dan tanpa ragu mereka mempercayai ucapan Zeria. Dan saat sampai disana, ada hal tidak terduga yang terjadi, terdengar suara teriakan dari dalam perpustakaan.


“KYAAA!!”


__ADS_2