
Kejadian tiga hari lalu sebelum Azra menghilang. Setelah dirinya bertengkar dengan Zeria, Azra pergi ke ruangan yang ada di ujung istana utama yang sangat jarang didatangi oleh pelayan ataupun kesatria. Ruangan yang sangat sunyi itu adalah tempat yang bagus untuk menenangkan diri.
Azra terdiam di dalam ruangan itu, ia duduk di sudut ruangan sambil memikirkan tindakan yang sudah ia lakukan barusan. Rasa bersalah pada Zeria langsung menghantuinya, ia sampai membuat Zeria gemetar ketakutan begitu.
Wajah ketakutan Zeria terus terpikirkan olehnya, Azra ingin meminta maaf pada Zeria, namun ia takut kalau Zeria tak ingin melihatnya lagi atau bahkan membencinya. Azra terus termenung di sudut ruangan itu, hingga akhirnya ada seseorang yang menemukannya dan berdiri dihadapannya.
"Apa kau yang bernama Azra Claes?" Tanya seseorang itu dari kegelapan. Azra tak dapat melihat wajah orang itu dengan jelas karena keadaan ruangan yang gelap.
"Iya, aku Azra"
Orang itu berjalan mendekati Azra dan memegang bahunya dengan keras, sampai Azra merasakan nyeri di bahu kirinya. Dari suara dan postur tubuhnya, sepertinya ia seorang pria dewasa.
Pria itu tiba tiba saja menjambak rambut Azra dengan keras dan memaksanya untuk berdiri. "Akhh" Rintih Azra karena rasa sakit yang ia rasakan di kepalanya.
"Kalau kau benar adalah Azra Claes, kalau begitu tugasku lebih mudah" Ucap pria itu sembari menyeret Azra dengan cara menjambak rambutnya dengan keras. Azra sendiri malah sama sekali tak bisa bergerak ataupun berteriak, nampaknya saat pria itu menyentuh bahunya tadi, ia memberikan sihir pelumpuh kepadanya.
Azra bisa merasakan beberapa helai rambutnya yang mulai tercabut, rasanya sangat sakit. "Sial, kenapa tidak ada orang disini?" Pikir Azra. Saat ini adalah waktu pergantian penjaga di siang hari, dimana di seluruh area pinggiran istana tidak akan ada penjaganya selama 30 menit. Pria itu seperti sudah benar benar mengerti tentang jadwal pergantian penjaga yang sangat acak itu, dengan begitu hanya ada dua kemungkinan. Pria ini adalah orang dalam, atau orang yang memang sudah lama mencari informasi.
__ADS_1
Azra terus diseret sampai ke bagian belakang Istana. Disana adalah tempat yang sudah seperti hutan karena banyaknya pohon besar yang tumbuh. Tempat yang paling cocok untuk melarikan diri dari dalam Istana Putri.
Di sisi paling terpencil dari tembok itu, terdapat sebuah lubang yang muat untuk dimasuki oleh orang dewasa dan ditutupi oleh semak berduri yang dapat digeser kapanpun. Namun saat mereka sudah mulai memasuki hutan dan Azra sudah melihat lubang itu, kesadarannya sudah tak bisa bertahan lagi karena sihir pelumpuhnya mulai bekerja. Dan Azra pun pingsan, bahkan sebelum ia keluar dari area Istana.
Entah apa yang terjadi saat Azra pingsan, namun saat ia membuka matanya, tiba tiba ia sudah berada di kediamannya yang dulu, yaitu kediaman Count Claes. Dengan keadaan tangan dan kaki yang diikat dengan keras dan sebuah kain yang menyumpal mulutnya. Azra pun sudah berusaha menggerakkan tubuhnya, namun semua sia sia, tubuhnya sama sekali tidak mau menuruti perintahnya.
Azra terus memperhatikan sekitar, hingga akhirnya ia mendengar suara seseorang yang mulai mendekat. "Suara ini, ibu?" Azra sangat kenal dengan suara ibunya itu, ia berharap kalau ibunya itu menemukannya dan membantunya melepaskan diri.
"Hah, padahal aku sudah berpikir kalau dia akan mati dalam beberapa hari" Ucap ibunya dari balik pintu ruangan dimana dirinya berada. Pintu besar itu terbuka dan terlihatlah sosok ibunya dan juga ayahnya.
Matanya berbinar senang karena ibunya menemukan dirinya, Azra sangat bersyukur karena ia selamat dan akan segera di lepaskan. Namun, sosok ibu baik hati, lembut, dan penyayang yang ada di ingatan Azra, ternyata sangatlah salah.
"Padahal aku selalu berharap kalau kau cepat mati! Aku selalu berfikir kalau kau mati, hidupku akan lebih tenang tanpa memikirkan anak yang menyusahkan dan tidak memiliki kelebihan sepertimu! Kau lebih baik mati saja!" Countess Claes terus mencambuk Azra sambil sesekali menginjak kepalanya dengan heals yang digunakannya.
Azra sama sekali tak habis pikir dengan perlakuan ibunya. Padahal ibunya sama sekali tak pernah bersikap kasar ataupun menyakitinya, tapi kini ia sudah mengetahui wajah ibunya yang sebenarnya. Ayahnya Azra sejak dulu memang selalu menyiksanya, namun tidak dengan ibunya. Padahal ia berfikir kalau ibunya adalah tempatnya bersandar, namun ternyata ia sangatlah salah.
"Ternyata di dunia ini tak ada yang bisa kujadikan tempatku bersandar, aku sendirian" Pikir Azra sambil merasakan kulitnya yang terasa panas dan perih karena cambuk.
__ADS_1
Ayah dan ibunya manatapnya dengan tatapan yang sangat tak peduli. Padahal anak kandung mereka sedang sekarat begini, namun mereka sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi kasihan. Malahan ekspresi mereka terlihat sangat puas. "Padahal Tuan Putri hina itu sudah membunuh ibu asuhnya sendiri tanpa rasa kasihan sedikitpun, makanya aku mengirimmu kesana dengan harapan kalau kau juga akan dibunuh dengan kejam olehnya. Tapi kau malah hidup dengan tenang!" Count Claes menendang wajah Azra dengan keras hungga ia terpental dan hidungnya mengeluarkan darah.
"Sejak kau lahir, aku selalu ingin membunuhmu. Aku sama sekali tak ingin mempunyai anak laki laki, aku ingin anak perempuan yang cantik dan jenius. Tapi yang lahir malah dirimu yang buruk rupa dan sama sekai tidak berguna! Tapi jika aku membunuhmu, aku akan ditangkap dan reputasiku akan hancur. Makanya aku mengirimmu ke Istana agar aku tak perlu membunuhmu dengan tanganku sendiri. Tapi malah ini yang kau dapatkan! Kau malah semakin bahagia! Lebih baik ku bunuh saja kau dengan cara yang paling menyiksa!" Wanita yang tak tau rasa kasihan pada anaknya itu, tiba tiba saja menyeret Azra pergi menaiki tangga dan membawanya ke ruangan yang ada di ujung koridor lantai 2, dan memasukkannya ke dalam lemari.
Tanpa bisa memberikan perlawanan, Azra sudah bisa mendengar pintu lemari yang dirantai berkali kali dan diberi sihir. "Sudahlah, aku pasti akan mati disini. Aku akan mati disini tanpa ada yang bisa menemukan jasadku" Pikirnya pasrah. "Tapi, memang lebih baik aku mati saja. Karena sekarang, aku sudah tak punya lagi tempat bersandar ataupun kembali. Aku sendirian, dan lagi kini Tuan Putri pasti membenciku" Azra tiba tiba menggunakan sihir ilusinya agar tak ada yang bisa menemukannya.
Sihir ilusi tak memerlukan rapalan mantra, dan hanya mengandalkan ingatan dari sang pengguna sihir ilusi tersebut. Jadi semua yang ada di dalam ilusi itu, akan sama persis seperti apa yang ada dalam ingatan sang pembuat ilusi.
Pasrah, hanya itu yang bisa ia lakukan. Rasa sakit yang terasa di dadanya, akibat di khianati oleh ibu yang paling dipercayainya. Entah sudah beberapa hari berlalu, dan tak tau apa yang terjadi diluar sana, Azra hanya bisa menunggu hari dimana dirinya mati. Rasa lapar, rasa sakit, semuanya ia rasakan saat terkurung dalam lemari. Karena di lemari itu terdapat sebuah celah, dirinya masih bisa bernafas dengan lega.
Tiga hari, berlalu dengan sangat lama saat dirinya berada dalam lemari. Rasanya sangat menyiksa, dan gelap. Hingga akhirnya Azra mendengar suara seseorang, namun karena matanya tak mau terbuka saat ia ingin mengintip, ia hanya mendengarkan suara itu saja.
Suara yang sangat familiar bagi dirinya, benar, itu adalah suara Zeria dan yang lainnya. "Tuan Putri? Kenapa dia ada disini?" Pikirnya, "Tenanglah, aku hanya perlu diam dan dia akan segera pergi dari sini. Dan aku akan segera mati di dalam lemari ini" Lanjutnya.
Azra terus mendengar suara mereka berdua yang sedang mengobrol, dan ia akhirnya menemukan sesuatu yang ada pada dirinya. Ternyata ia sangat takut pada kematian. "Aku takut! Sebenarnya aku sangat takut! Aku ingin keluar dari sini! Aku masih ingin melayani Tuan Putri! Aku mohon temukan aku, aku lapar, tubuhku sakit semua, tolong aku ku mohon!" Azra terus berteriak ketakukan di dalam hatinya. Tanpa ia sadari, ternyata ia sangatlah ketakutan.
Azra terus berusaha menggerakkan tubuhnya, namun itu tidak berguna. Tapi, ia bisa merasakan jari tangannya, ia bisa menggerakkannya. Azra mencakar lemari itu dengan sangat pelan, dan berharap kalau Zeria mendengarnya. "Kumohon dengarlah!" Harapnya.
__ADS_1
Dan ternyata, Zeria benar benar mendengarnya dan mengancurkan lemari itu. Rasa lega langsung menghampirinya, setidaknya ada orang yang menemukannya. Ia bisa merasakan dirinya dibaringkan dengan lembut di kasur, dan juga dengan perlahan ia bisa membuka matanya. Dan ternyata, yang pertama ia lihat adalah wajah khawatir Zeria yang menjulurkan tangannya kepadanya, "Ayo kita pulang, Azra" Ucap Zeria dengan sebuah senyuman menyakitkan diwajahnya.
Mendengar ucapan Zeria tersebut, membuat air matanya tak dapat ditahan dan akhirnya jatuh. "Ah, ternyata masih ada orang yang mengkhawatirkan dan mencariku hingga ke pelosok begini" Pikirnya. Bahagia rasanya saat tau ternyata ada orang yang mengkhawatirkannya hingga seperti ini, dan orang itu adalah mereka berempat, Lucas, Eric, Arin dan tentu saja Zeria.