Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 8


__ADS_3

 


Zeria bingung dengan hal yang terjadi kepadanya, bagaimana caranya sihir malaikat itu ada pada dirinya? Rasa bingung Zeria tak kunjung hilang, orang orang di dalam ruangan itu hanya terdiam dengan wajah bingung mereka.


 


"Saya akan menyelidiki hal ini yang mulia" Ucap Razel dengan wajah penuh keyakinan bahwa dia pasti bisa menemukan penyebabnya.


"Iya, selidiki, hingga ke intinya" Perintah Louise dengan terbata bata seperti ada yang dia khawatirkan.


"Baik yang mulia, saya akan selidiki hal ini hingga ke intinya. Agar penyelidikan bisa cepat berlangsung, saya permisi dahulu untuk langsung menyelidiki hal ini" Bicara sambil menundukkan kepala, Razel sudah tak sabar untuk memulai penyelidikan itu.


"Baiklah, keluarlah" Jawab Louise sambil menggerakkan tangannya, tanda bahwa ia menyuruh Razel keluar. Lalu di susul oleh Razel yang membuka pintu lalu meninggalkan ruangan.


"Ayah, maaf...Maaf... Maaf" Zeria meminta maaf sambil terisak isak karena rasa bersalahnya.


"Tidak apa, jangan menangis. Ku mohon jangan menangis. Jika kau menangis, nanti wajah cantikmu itu akan hilang. Apalagi setelah ini kita akan hadir di pesta, nanti apa yang akan di pikirkan oleh orang orang? Ku mohon jangan menangis ya, Zeria?" Lucas coba menenangkan Zeria, sepertinya usaha Lucas tidaklah sia sia. Zeria mulai berhenti menangis.


"Ta-tapi, benda itu hancur" Zeria tergagap karena takut.


"Tidak apa, itu hanyalah benda. Sedangkan Zeria, kamu adalah hartaku yang paling berharga" Ucap Louise yang sedang menghibur Zeria.


"Benalka?" Zeria bertanya dengan penuh keraguan.


"Iya, jangan takut. Ada kakak di sini" Lucas memeluk Zeria dengan penuh kasih sayang "Sekarang, berikan batu teleportasi milik Zeria. Karena kami harus segera pergi ke ruang pesta." Lanjut Lucas sambil menatap Louise dengan tatapan dinginnya.


"Ahhh, baiklah. Akan ku turuti. Zeria, ini batu teleportasi milik mu. Batu teleportasi biasanya bentuknya mengikuti hati penggunanya" Kata Louise sambil memberikan sebuah batu kecil cantik berwarna emas yang berkilau di tangannya.


"Dia benar, batu milikku berubah menjadi pisau belati kecil." Ucap lucas lalu mengambil batu yang ada di tangan Louise lalu memberikannya pada Zeria.


"Aku takut kalau batu itu akan ikut hancur juga, bagaimana ini? Aku tidak mau mengambilnya, bagaimana cara menolaknya ya?" Pikir Zeria dengan khawatir.


 


Zeria hanya melihat batu yang di berikan oleh Lucas dengan wajah khawatir, ia takut jika batu itu akan hancur juga. Lucas yang melihat hal itu pun jadi bingung dengan sikap Zeria.


 


"Zeria?" Lucas melirik Zeria dengan wajah penuh pertanyaan "Kenapa kau diam saja?" Lanjut Lucas.


"Ayo ambil Zeria, kita harus cepat cepat pergi ke ruang pesta. Ayo, jangan takut" Ucap Louise sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa aku harus mengambilnya? Aku takut kalau aku akan membuat masalah lagi" pikir Zeria


"Tidak apa apa, semua akan baik baik saja" Ada suara yang tiba tiba menggema di kepala Zeria. Zeria memastikan wajah ayah dan kakaknya, namun sepertinya hanya dia yang mendengar suara itu.


"Siapa itu?!" Zeria bertanya pada suara tersebut melalui pikirannya.


"Aku? Aku adalah kau" Suara itu menjawab dengan suara yang lembut.


"Aku tidak sedang bercanda! Ku tanya sekali lagi, siapa kau? Dan bagaimana caranya kau bisa bicara denganku melalui pikiran?" Zeria yang mendapat jawaban tidak seperti yang ia harapkan, menjadi marah.


"Sudah ku bilang. Aku adalah kau, lalu kau adalah aku. Apa kau tidak mengerti?" Suara itu tidak mengubah jawabannya dan terus menjawab dengan hal yang sama.


"Baiklah, tapi ada yang aneh di sini. Mengapa semuanya berhenti bergetak sejak kau bicara denganku?" Tanya Zeria.


 Waktu di sana jadi berhenti sejak suara itu mulai bicara, seakan akan suara itulah yang membuat waktu jadi berhenti. Suara lembut dan hangat, yang mengaku bahwa dirinya adalah Zeria dan Zeria adalah dirinya.


 


"Aku yang membuat waktu jadi berhenti. Bukankah akan terlihat mencurigakan jika ayah dan kakakmu melihatmu yang diam saja?" Ucap suara itu dengan nada sedikit mengejek.


"Memang mencurigakan, tapi. Kenapa kau bilang jika aku mengambil batu itu, semua akan baik baik saja? Lalu bagaimana jika batu itu ikut hancur juga?" Zeria mulai bertanya tentang hal yang pertama kali suara itu ucapkan.


"Tenang saja, semua akan baik baik saja. Aku tau itu, kau memiliki sihir malaikat, itu sebabnya liontin tadi hancur. Namun batu teleportasi bisa di gunakan oleh siapapun. Yahh, walaupun kau tidak membutuhkannya" Suara itu menghela napas, seakan akan hal yang ingin ia sampaikan kini sudah tersampaikan.


"Akan ku beri tau nanti, sihirku sudah tidak bisa bertahan. Jika kau ingin menanyakan sesuatu, panggil saja aku." Suara itu mulai terdengar samar.


"Tunggu! Jangan pergi dulu, hei! Kau.. " Zeria yang masih memiliki banyak pertanyaan tidak bisa membiarkan suara itu pergi begitu saja. Zeria berhenti bicara karena ia tidak tau harus memanggil suara itu dengan sebutan apa, sedangkan waktu sudah mulai bergerak lagi.


"Haha, kau bingung karena tidak tau namaku rupanya? Panggil saja aku.....ARIN" Suara itu langsung menghilang, dan waktu kembali seperti semula setelah ia mengucapkan kata kata terakhirnya.


"Apa?" Zeria yang terkejut karena namanya di masa lalu di panggil, tidak sadar bahwa waktu sudah kembali seperti semula. Lalu kakak dan ayahnya sedang menatapnya.


"Zeria? Apa kau sakit? Kenapa kau diam saja?" Tanya Lucas.


"Ahh! Tidak" Zeria yang terkejut itu langsung mengambil batu yang ada di tangan Lucas, tak lama setelah Zeria mengambil batu tersebut. Batu itu bersinar dan berubah menjadi sebuah kalung dengan bandul batu berwarna emas.


"Mau ku pakaikan kalungnya?" Tanya Lucas lalu tersenyum manis.


"Iya, telima kasih" Jawab Zeria dengan senyumnya yang ragu ragu.


 

__ADS_1


Lucas mengambil kalung yang ada di tangan Zeria lalu memakaikannya di leher Zeria. Kalung itu terlihat indah dan terlihar selaras dengan warna mata Zeria yang berwarna emas dan rambut coklatnya yang bersinar. Setelah urusan mereka selesai, mereka bertiga, Luoise, Lucas, dan Luczeria langsung pergi menuju ruang pesta dan di ikuti oleh 2 orang pengawal.


 


#Ruang Pesta


 Mereka tiba di depan pintu, seorang peniup terompet sudah bersiap meniup terompetnya. Namun hal itu di hentikan oleh Louise.


 


"Berhenti, jangan tiup terompet nya. Aku tidak suka kebisingan, beri tau saja bahwa kami akan masuk" Perintah Luoise pada si peniup terompet.


"Ahh, baik yang mulia! Maafkan saya" Pria itu menunduk dan langsung melaksanakan perintah Louse.


"YANG MULIA BAGINDA KAISAR, KAISAR LOUISE SHARMAN ARENDELLE.


YANG MULIA PANGERAN, LUCAS XENXES ARENDELLE DAN YANG MULIA TUAN PUTRI, LUCZERIA XENXES ARENDELLE. TELAH TIBA!" Teriak sang pemberi kabar, dan pintu langsung terbuka.


 Memasuki ruang pesta yang yang sudah penuh dengan para bangsawan, hal itu tidak bisa di lakukan oleh semua orang. Bahkan Zeria yang berada di gendongan Louise pun masih merasa takut.


 


"Itu tuan putri"


"Dia tuan putri pertama"


"Ada apa ya?"


"Padahal sejak dulu kekaisaran hanya memiliki pangeran, kenapa sekarang ada tuan putri?"


"Rendah sekali"


 Para bangsawan menganggap jika Luczeria hanyalah aib. Mereka berbisik menjelek jelekkan Zeria. Pikiran Zeria yang masih di penuhi dengan rasa takut tadi, jadi bertambah parah setelah mendengar ucapan para bangsawan. Rasa takut yang menguasainya, membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya.


 


"Hei A-Arin! Apa yang harus ku lakukan? Semua orang menatapku!" Zeria takut dan langsung memanggil suara tadi lewat pikirannya.


"Ada apa? Apa kau ingin aku membunuh mereka? Agar mereka tidak menatapmu? Atau aku ingin aku melakukan sesuatu yang lain?" Arin, langsung menjawab panggilan dari Zeria dengan suara yang tegas.


"T-tidak. Jangan seperti itu, lebih baik aku mengatasi ini sendiri saja" Pikir Zeria.

__ADS_1


"Baiklah jika itu mau mu. Lalu jika kau membutuhkan bantuan, panggil saja aku. Semoga berhasil" Ucap Arin, dan langsung mengilang lagi.


"Baiklah! Aku harus bisa, ini adalah urusanku. Ruang pesta ini, ada di bawah kendaliku!"


__ADS_2