
Louise dan Lucas makin banyak dikerumuni orang orang dan perlahan mulai menjauh dari Zeria. Saat ini yang ada di dekat Zeria hanyalah Arin, Eric dan Aswin. Rasanya masih canggung jika ingin berbicara dengan Aswin karena ini adalah pertama kalinya mereka bertemu. Zeria melihat ke arah kerumunan dan melihat seorang pria dewasa dengan rambut abu abu dan menggunakan seragam kesatria kekaisaran berjalan ke arahnya, pria tersebut adalah William.
“Salam untuk bintang kekaisaran, Tuan Putri Luczeria” William memberi salam layaknya kesatria pada umumnya. Ia merendahkan tubuhnya dan melipat kakinya, kaki kananya berada di belakang dan kaki kirinya ia lipat ke depan, tangan kanannya berada di dada kirinya dan tangan kirinya ada di belakang.
Zeria merasa asing dengan salam formal yang diucapkan oleh William, padahal biasanya ia selalu bersikap seenaknya, tapi melihatnya yang bicara formal begini rasanya aneh. “Berdirilah paman Will” Zeria bangun dari tempat duduknya dan menyentuh bahu William.
Semua mata tertuju pada Zeria dan William, bahkan orang orang yang tadi sedang bergosip pun terdiam. Louise menyadari kalau situasinya tidak bagus dan bergegas menghampiri Zeria, “Para hadirin sekalian, aku minta perhatian kalian sebentar!” Louise berdiri tepat disamping Zeria dan Lucas juga sedang berjalan menghampiri Zeria.
“Ada satu hal penting yang ingin kusampaikan kali ini! Tolong didengarkan baik baik karena aku tidak akan mengulanginya. Hari ini, hari dimana kita sedang melakukan pesta dansa penutupan festival, pada hari ini aku mengumumkan kalau. Putraku, Pangeran Lucas Xenxes Arendelle akan dinobatkan sebagai Putra Mahkota Kekaisaran ini!” Semua orang terkejut dengan penobatan yang tiba tiba ini, padahal biasanya saat ada upacara penobatan, pihak kekaisaran pasti akan menyiapkan jubah kaisar, mahkota,
pedang dan upacara.
Penobatan ini sangatlah biasa, karena Lucas tidak suka prosedur yang rumit. Jadi ia hanya meminta untuk diumumkan saja, sisanya akan dilakukan secara tertutup. Perhatian yang tadinya menuju pada Zeria dan William, kini teralihkan ke arah Lucas dan Louise. Semakin banyak orang yang berkerumun di sekitar Lucas, dan Zeria mengambil kesempatan itu untuk pergi ke tempat lain, yaitu balkon. Tentu saja diikuti oleh Arin, Eric dan Aswin, lalu ditambah juga dengan William.
“Paman Will, apa ada yang mau paman sampaikan padaku?” Tanya Zeria karena William terus mengikutinya.
William merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah saputangan abu muda dengan hiasan ombak dipinggirnya, benar, itu adalah saputangan Zeria yang ia pinjamkan dulu. “Saya ingin mengembalikan ini” William menyodorkan saputangannya.
Zeria menerimanya dan menghirup baunya, “Paman cuci rupanya, aromanya berbeda dengan aroma yang sebelumnya”
“Ya, karena tidak mungkin saya kembalikan tanpa dicuci dahulu. Karena urusan saya sudah selesai, saya permisi karena masih ada tugas. Selamat menikmati waktunya” William kembali ke aula pesta dan menutup pintu balkon.
Sejak tadi Aswin terus memperhatikan sapu tangan yang ada di tangan Zeria, “Darimana anda mendapatkannya?” Tanpa pikir panjang, Aswin bertanya begitu saja.
“Apa?" Zeria kebingungan dnegan sikap Aswin, apakah asal usul sapu tangan ini sangat peting baginya? “Ayahmu yang memberikannya padaku” Lanjutnya.
Sekejap wajah Aswin terlihat terkejut, “Ternyata ayah yang mengambilnya ya?” Aswin menghela nafas panjang dan menceritakan sesuatu, “Dulu saya yang menyulam itu sendiri, saya memang berniat menghadiahkannya pada Tuan Putri. Tapi tiba tiba saja sapu tangannya hilang, makanya saya menyerah dan tidak membuat lagi. Ternyata ayah yang mengirimnya, terlebih lagi menggunakan namanya, jahat sekali”
Mereka bertiga terdiam menyimak cerita Aswin dan memperhatikan dengan sungguh sungguh, “Ternyata raja Calder jahil ya, aku menerima ini tujuh tahun lalu” Zeria membuka lipatan sapu tangannya dan menunjukkan pada Aswin untuk memastikan lagi.
__ADS_1
“Benar ini sapu tangan yang kubuat, ternyata saat sapu tangannya selesai, ayah langsung mengambilnya.” Wajah Aswin terlihat kecewa, namun ia tersenyum “Tapi terima kasih karena sudah menjaganya sampai enam tahun begini” Aswin menundukkan kepalanya berkali kali.
Layaknya teman yang sudah berteman lama, mereka ber empat saling menceritakan masa kecil mereka dan tertawa bersama. Namun kebahagiaan mereka tidak bertahan lama, karena salah satu dari mereka akan segera menghilang dan tak pernah kembali.
“Tunggu!” Ucapan Eric membuat mereka diam, “Ada yang sedang mengintai kita”
Mereka terdiam dan berusaha tetap tenang, Zeria mencoba mempertajam indranya “Aura ini tidak asing” Zeria menyadarinya. “Kembali ke dalam, ini aura iblis!” Teriaknya.
Saat sebelum Zeria menyelesaikan perkataanya tadi, sebuah benda meluncur dengan sangat cepat tanpa suara dan menusuk salah satu dari mereka. “ARIN!”
Arin tergeletak begitu saja setelah sebuah belati menembus perutnya dengan sangat dalam, Arin memuntahkan darah dari mulutnya dan mencoba menahan rasa sakit di perutnya. “Cepat masuk!” Arin mendorong Zeria yang mencoba mendekatinya dnegan tangan kirinya.
“Eric! Angkat Arin!”
“KUBILANG MASUK SEKARANG!”
Aura iblis yang tadinya tak terasa, kini makin terasa pekat. Jumlah mereka tidak sedikit, dan targetnya adalah Zeria. Eric dan Aswin menundukkan kepala mereka, mencoba untuk tidak terlihat mencolok. “TIDAK!” Walaupun Zeria berteriak meminta tolong, orang yang ada di dalam tidak akan mendengar suaranya. Malah akan buruk jika Zeria berteriak, karena orang yang mengincar Zeria akan lebih mudah menemukannya.
Eric memang memproritaskan keselamatan Zeria, tapi jika Zeria tidak memberi perintah maka ia juga tidak tau harus berbuat apa. “Arin, ayolah” Tanpa sadar air matanya mengalir. Ia sama seklai tidak ingin kehilangan orang yang berharga.
“Jika kau mencoba membawaku, maka pergerakan kalian akan lambat dan kita semua akan mati disini”
“Kita bisa gunakan batu teleportasi!”
“Jangan bodoh! Jika kau gunakan itu, cahanya hanya akan menarik perhatian musuh saja” Arin mulai kesulitan mengatur nafasnya, “Sudah, pergilah ke dalam dan katakan kalau ada penyusup”
“Tidak!” Zeria menggunakan sihirnya untuk mendeteksi setiap musuh yang ada di sekitar. Jumlahnya ada enam orang, semuanya bangsa iblis, tanpa pikir panjang Zeria langsung menyerang mereka menggunakan sihir yang sama seperti enam tahun yang lalu. Sihir yang memunculkan pedang dan mengunci musuh lalu menusuk titik vitalnya.
Terdengar suara teriakan dari arah taman dan atap, nampaknya sihir Zeria berhasil.
__ADS_1
Wajah Arin mulai memucat dan tubuhnya mulai lemas, ia mencabut belati tersebut dengan tangannya sendiri dan darah mengalir deras dari perutnya. “Rasanya hangat” Ucapnya dengan memandang Zeria.
Zeria menggenggam tangannya dengan erat, “Kita masuk sekarang ya” Zeria hendak memberi Eric perintah, namun Arin mencegahnya.
“Dingin dan gelap, mungkin ini yang dirasakan Azra ya?” Suara Arin mulai mengecil.
“Arin?”
“Gelap, aku tidak suka ini”
“Arin apa kau mendengarku?!”
“Iya, aku dengar. Tapi, kau ada dimana?”
Eric dan Aswin mulai merasakan perasaan tidak enak, karena mereka sudah pernah menyaksikan orang yang hendak meninggal sebelumnya. Tapi apakah Arin benar benar akan pergi?
“Arin! Ku mohon jangan bercanda! Arin, jika kau pergi, kita pasti akana bertemu lagi kan? Iya kan!”
“Tidak, tapi aku akan menunggumu” Arin terus memegang lengan Zeria agar ia tidak meminta Eric untuk membawanya ke dalam. Arin tersenyum sambil memegang perutnya.
“Eric! Cepat bawa dia!”
“Tidak bisa. Sudah terlambat” Dengan enggan Eric melepaskan tangan Arin yang sedang memegang lengan Zeria.
“Tidak! Kamu bohong!” Zeria menepuk nepuk pipi Arin dengan keras, “Bangun bodoh! Kau bilang kau akan memotong rambutku saat musim dingin berakhir! Bangun bodoh, buka matamu!”
“Zeria”
“DASAR PEMBOHONG! AKU MEMBENCIMU! AKU MEMBENCIMU!” bahkan teriakan Zeria saat ini masih tidak akan terdengar oleh orang yang ada di dalam.
__ADS_1
Perlahan tubuh Arin mulai berubah menjadi serpihan cahaya dan terbang kelangit, “Bohong, aku tidak membencimu. Aku sangat menyayangimu, kau tau itu kan?” Zeria menangis di atas jasad Arin. Dan dalam waktu singkat, Arin menghilang tanda menyisakan tanda sedikitpun, ia lenyap tanpa sisa.