Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 40


__ADS_3

Arin sama sekali tak mencabut pedangnya. Aneh rasanya melihat Arin yang berekspresi seperti itu, tatapannya tak seperti Arin yang biasanya. Apa alasannya menusuk Eric?


Zeria menghampiri Arin, bersamaan dengan Lucas yang sudah menodongkan pedangnya “Cabut pedangmu” Katanya sambil mengacungkan pedangnya di leher Arin.


Dengan cepat Arin mencabut pedangnya, dan Zeria segera menangkap Eric. “Eric! Buka matamu!” Zeria menepuk nepuk pipi Eric, dan berkali kali menggoyangkan tubuhnya.


“Kenapa kau melakukannya?” Tanya Lucas tanpa menurunkan pedangnya. Namun saat ia menoleh, Arin sudah tidak ada. “Kemana dia?!” Menoleh kesana kemari, namun tetap saja Arin sudah tidak ada.


“Kakak! Lihat pintunya!” Pintu masuk rumah itu, mulai menghilang. Jendela, pintu, dan barang barang lainnya pun mulai menghilang sedikit demi sedikit. “Eric bangun! Kita harus pergi!” Zeria masih mencoba membangunkan Eric, namun itu tidak berguna.


Suara yang sangat nyaring terdengar, suaranya sangat keras hingga membuat telinga sakit. Semua mulai berantakan, dan jantung mereka terasa seperti akan meledak. “Uhuk!” Zeria merasakan rasa sakit yang luar biasa pada jantungnya, begitu pula dengan Lucas. “Apa ini? Sulit sekali untuk bernafas” Pikirnya.


“Zeria?” Lucas mencoba meraih Zeria, walaupun rasa sakit yang ia rasakan sangat luar biasa, namun ia masih mencoba untuk meraihnya.


Ditengah rasa sakit yang mereka rasakan, tiba tiba angin dingin berhembus. Angin dingin yang datang entah darimana, membuat mereka sedikit teralihkan dan menutup mata. Rasa sakit yang mereka raskan tiba tiba saja hilang, dan saat membuka mata, ternyata mereka ada di depan gerbang kediaman Claes.


“Loh?” Lucas kebingungan, padahal ia yakin kalau sudah ada di dalam rumah itu.


“Apa yang kalian bertiga lakukan? Apa kalian tidak mau masuk?” Tanya Arin.


Sontak Lucas dan Zeria terkejut, Arin ada disana. Padahal tadi dia menusuk Eric, tapi tanpa dengan rasa bersalah ia malah muncul. “Apa yang kau lakukan disini?!” Lucas menarik kerahnya.


“HA? Apa yang kau katakan?! Harusnya aku yang bertanya, kenapa sejak tadi kalian hanya diam saja?!” Arin mendorong Lucas agar ia melepaskan kerah bajunya.


Zeria menghampiri Arin dengan penuh amarah dan berdiri tepat didepannya, “Kenapa kau menusuk Eric?” Tanya Zeria dengan tenang namun nadanya mengancam.


“Ha? Aku? Menusuk Eric? Apa sih yang kalian bicarakan? Lihat itu, Eric ada disana” Ucapnya sembari menunjuk Eric yang duduk tepat di depan gerbang.


“Eric!” Zeria berlari menghampiri Eric, “Kau baik baik saja?” Zeria mencoba memeriksa tempat dimana Arin menusuknya tadi, namun tidak ada bekas luka sama sekali.

__ADS_1


Arin merasa bingung, sebenarnya apa yang mereka bicarakan? “Kalian ini kenapa sih?” Arin menghampiri mereka untuk menanyakan penyebab mereka bertingkah begitu, namun saat melihat Arin, Eric malah menunjukkan reaksi ketakutan.


“Apa yang kaulakukan? Apa kau ingin menusukku lagi?” Eric menjauh dari Arin.


“Astaga, apa yang kalian katakan sejak tadi? Coba kalian jelaskan, aku sama skali tidak mengerti” Arin sangat kebingungan, kenapa mereka bersikap waspada begitu kepadanya?


Zeria dan Lucas saling bertatapan dan memikirkan keputusan mereka, dan Zeria menerima kaputusan untuk menceritakan kejadian tadi pada Arin. Lucas menceritakan segala sesuatu yang sudah terjadi sejak mereka masuk ke dalam rumah itu, namun anehnya Arin seperti kebingungan dengan apa yang Lucas ceritakan. “Begitu ceritanya, kau menusuk Eric dengan pedang yang dibawanya” Ucap Lucas.


“Tunggu dulu, kau bilang kalian sudah masuk ke rumah itu dan semuanya terjadi?” Arin kebingungan dengan hal yang hanya diketahui olehnya.


“Ya” Jawabnya.


Mendengar jawaban dari Lucas, Arin tersentak. “Aku tidak tau apa yang sudah kalian alami, tapi. Sejak tadi, kita bahkan belum membuka gerbang rumah ini loh” Arin menunjuk gerbang rumah itu yang sudah jelas masih dirantai dan di gembok.


“HA?” Mereka bertiga menoleh ke arah gerbang. Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Arin, gerbangnya sama sekali belum dibuka. “Kenapa?” Tanya Zeria, padahal ia yakin bahwa mereka sudah masuk dan menjelajahi rumah itu, tapi kenapa mereka masih diluar?


"Tapi aku yakin sekali kalau kita sudah masuk!" Zeria memegang gerbang itu dan sedikit mendorongnya, tapi benar saja kalau gerbangnya belum dibuka.


Rasa penasaran, bingung, khawatir, semuanya campur aduk. Tak tau lagi apa yang baru saja terjadi pada mereka, tapi yang jelas, Arin tidak mengalami apa yang mereka alami. "Apa tadi itu ilusi?" Tanya Arin.


"Entahlah, tapi hanya itu kemungkinan yang paling besar" Jawab Lucas memperhatikan Arin dengan waspada. Sedangkan Eric masih mencoba menjaga jarak dari Arin dengan cara bersembunyi di balik Zeria.


"Bodoh, kau itu lebih tinggi dariku. Kenapa malah sembunyi di belakangku hah?" Tanya Zeria melalui telepati.


"Sudah diam saja, aku takut dia menusukku lagi. Tadi itu rasanya sakit sekali tau" Eric memegang bahu Zeria dan sedikit menunduk.


Arin sebenarnya mendengar apapun yang Zeria bicarakan lewat telepati, karena mereka adalah 'satu'. "Aku tidak akan menusukmu, hal itu tak ada untungnya bagiku." Arin melambaikan tangannya ke kanan dan ke kiri, tanda bahwa ia tak akan pernah melakukannya.


Lucas menyelidiki area sekitar, namun rumah yang sudah mereka jelajahi tadi terasa berbeda dengan rumah yang sekarang ada di depan mata mereka. Jendela rumah itu ditutupi dengan kayu semua, dan pintunya dirantai berkali kali. "Kenapa semuanya berbeda?" Tanya Lucas.

__ADS_1


"Entahlah, tapi sepertinya yang tadi itu benar benar hanya ilusi" Zeria berjalan mendekati Lucas dan meraih tangannya.


"Tapi sejak kapan kita terkena ilusi itu? Dan juga kenapa Arin tidak kena ilusinya?" Eric berjalan mendekati Zeria dan bersembunyi lagi dibelakangnya.


Pertanyaan Eric membuat otak mereka berputar lagi, sejak kapan mereka terkena ilusi? Apakah saat ini masih ilusi atau kenyataan? "Aku kan bukan manusia" Jawab Arin, "Sepertinya kalian sudah kena ilusi sejak pertama melihat rumah ini, tapi kalian baru benar benar masuk ke dalam ilusi itu saat Eric memegang gerbangnya"


"Sepertinya begitu, tadi kami melihat halaman rumah ini sangat bersih. Tapi saat ini barulah terlihat yang sebenarnya" Rumput liar yang ada dimana mana, gerbang yang sudah banyak tumbuhan menjalarnya, dan halaman rumah yang kotor. Sudah jelas sekali kalau tadi adalah ilusi. "Ha, bisa bisanya tadi aku menuduh Arin. Habisnya tadi kau sangat aneh" Ucap Zeria.


"Benar! Dan kau menusukku tanpa sebab!" Eric menunjuk Arin sambil marah marah.


"Astaga, baiklah aku minta maaf atas apa yang sudah dilakukan oleh diriku padamu" Arin menundukkan kepalanya walaupun itu bukanlah kesalahannya.


Dan Eric baru merasa puas jika Arin sudah minta maaf padanya, "Dasar bocah" Pikir Zeria.


"Benar, dia bocah. Kali ini aku akan memberikan kode yang hanya diketahui kau dan aku, agar kau bisa membedakan apakan ini ilusi atau kenyataan." Ucap Arin lewat telepati.


Zeria mengangguk, sedangkan Lucas dan Eric mulai mencari cara membuka gerbang itu. "Kodenya, jika aku bilang 'Eric itu' maka kau harus jawab 'sangatlah bodoh' okee?" Zeria sendiri sebenarnya sangat puas dengan kode yang dibuatnya, malahan ia merasa bangga.


"Kau juga bocah rupanya" Zeria sangatlah keenakan saat membuat kode itu, tapi itu kode yang tepat.


Setelah menyetujuinya, mereka beralih ke Eric dan Lucas yang masih berusaha mencari cara membuka gerbangnya. Mereka sudah mencoba memotong rantainya dengan pedang, tapi tak berhasil karena es yang menyelimutinya. "Kita bakar saja semuanya" Ucap Lucas sambil membuat senyuman diwajahnya, sangat terlihat sekali kalau ia sudah malas mencari cara.


"Baiklah, tapi jangan semuanya. Gerbangnya saja" Jawab Zeria sambil menarik lengan baju Lucas.


"Baik, ehehehe" Senyumnya menyeramkan, dan lagi dia malah tertawa. Api sihir keluarga kekaisaran, adalah api yang bisa membakar apapun. Dan dalam hitungan detik, gerbangnya meleleh.


"Setelah melihat hal ini, aku mengerti satu hal. Jangan pernah membuat Lucas marah ataupun kesal" Pikir Arin dan Eric bersamaan.


"Benar"

__ADS_1


__ADS_2