
“Zeria, kau benar baik baik saja? Razel bilang kau terkena demam karena udara dingin, apa tidak ada yang sakit?” Lucas memegang dahi Zeria dan juga dahinya, untuk mengukur demam. “Demam mu tinggi, apa kau ingin sesuatu?” Tanya Lucas.
“Emm” Zeria menggelengkan kepalanya.
“Tunggulah satu atau dua hari lagi, dan istanamu akan hangat.” Louise bilang begitu dengan wajah datarnya, namun dari matanya terlihat bahwa dia sangat khawatir.
“Aku tidak apa apa, aku ingin istilahat apa kalian bisa tinggalkan aku sendili?” Zeria menarik selimutnya lebih tinggi dan menutup matanya.
“Baiklah, aku akan tinggalkan camilanmu di sini ya. Kalau butuh apa apa panggil saja aku” Lucas keluar duluan dengan tenang.
“Baiklah, semuanya keluar. Istirahatlah, semoga cepat sembuh” Louise mancium dahi Zeria dan semua orang pergi meninggalkan kamar tanpa terkecuali.
“Ck! Sial, gagal lagi” Eric bergumam setelah meninggalkan kamar Zeria dengan mata penuh amarah tanpa ada yang mendengarnya.
Soal Eric yang memperlihatkan masa lalu pada Zeria, Zeria tidak pernah membicarakannya. Entah kenapa Eric seperti tidak ingin membicarakannya saja, dan Zeria mengerti akan hal itu.
Dan seperti yang Zeria katakan, Lucas dan Eric berhenti latihan selama 3 hari berturut turut dan selalu datang ke kamar Zeria. Seharusnya mereka datang ke perpustakaan, tetapi karena Zeria sedang sakit jadi mereka tidak memperbolehkan Zeria untuk pergi ke perpustakaan dan keluar dari kamarnya.
#Kamar Zeria Hari-1
“Jadi, apa yang kau rencanakan?” Tanya Lucas sambil menarik kursi untuk di dekatkan ke kasur Zeria.
“Aku pikil, jika kalian belhenti dulu selama 3 hali dan mulai lagi pada hali ke empat, mungkin dia akan belpikil bahwa kalian tidak latihan lagi. Dan saat dia tau kalau kalian mulai latihan lagi pada hali ke empat, maka dia akan mulai mengawasi lagi. Lalu pada hali ke 5, kita akan menyelgapnya dan menangkap siapa pelaku yang mengawasi kalian.” Zeria menjelaskan rencana dengan rinci tanpa ada yang tertinggal.
“Tapi, kenapa kita tidak langsung menangkapnya saja? Dan malah harus membuat rencana ini?” lucas bingung dengan cara pikir Zeria yang membingungkan itu.
“Itu…Tentu saja karena menyenangkan” Zeria tersenyum mencurigakan dan mengeluarkan hawa menyeramkan.
“Eh? Tuan Putri?” Padahal Zeria sedang demam, tapi bisa bisanya dia mengeluarkan hawa menyeramkan begitu sambil tersenyum.
“Kau…bercanda kan?” Lucas berkeringat, bagaimana bisa dia bilang kalau menjebak orang itu menyenangkan, telebih lagi dia bilang begitu sambil tersenyum.
__ADS_1
“Tentu saja bercanda” Zeria masih tersenyum seperti tadi dan menjawab Lucas.
“Ternyata dia serius?!” Lucas dan Eric memikirkan hal yang sama secara bersamaan dengan tubuh berkeringat karena takut dengan Zeria.
Tok tok
“Tuan Putri, saya Reina” Ucap Reina dari balik pintu kamar Zeria.
“Masuklah”
“Permisi” Reina membuka pintu dan masuk ke kamar Zeria sambil membawa sebuah kotak kecil. “Saya datang untuk mengantarkan ini” Reina menyodorkan kotak itu dan Lucas yang menerimanya.
“Siapa yang membelikannya?” Zeria bertanya sambil melirik kotak kecil yan sekarang berada di tangan Lucas.
“Raja dari kerajaan Clariness, Tuan Putri” Reina menjawab dengan tenang.
“Baiklah, kau boleh pergi” Ucap Lucas, karena Lucas adalah tipe orang yang tidak suka jika ada orang lain yang mengganggu waktunya.
“Baik, saya permisi” Reina menundukkan kepalanya dan pergi dari kamar.
“Dari mana saja kau? Aku kesusahan tanpa mu tau. Dan benar laki laki rambut merah itu adalah Raja Clariness” Zeria sebenarnya ingin memarahhi Arin, namun sebaiknya ia tunda dulu.
“Maaf, aku juga tidak tau. Sejak kemarin saat kau pingsan, aku tidak bisa bicara padamu” Suara Arin terdengar agak lesu.
“Kita bicarakan hal itu nanti, saat ini ada hal yang lebih penting.” Kata Zeria dengan nada bicaranya yang mulai menajam dan tegas.
“Zeria? Kenapa diam saja? Apa kau tidak suka?” Lucas melirik Zeria dengan genggamannya yang menggenggam kotak itu semakin kuat.
“Aku mau, jangan di hanculkan” Zeria merebut kotak itu dari Lucas dengan cepat, sebelum kotaknya benar benar hancur. Zeria membuka kotak itu dengan hati hati karena takut kalau misalkan isinya sudah hancur. “Eh? Apa ini?” Sebuah sapu tangan berwarna abu abu dengan corak seperti ombak berwarna perak di pingggirannya.
“Sapu Tangan?” Eric melirik kearah sapu tangan itu dan mendekatkan wajahnya ke Zeria.
__ADS_1
“Jangan dekat dekat!” Lucas mendorong wajah Eric menjauh. “Orang itu hanya mengirim sebuah sapu tangan?” Lucas menyuruh Eric untuk mejauh tapi dia sendiri malah mendekat.
“Iya, tapi…” Zeria terdiam melihat sapu tangan itu.
“Apa? Kenapa kau diam? Apa kau tidak suka? Kalau begitu, lebih baik di buang saja” Lucas ingin merebut sapu tangan itu, namun Zeria menghalaunya.
“Bukan begitu” Lucas dan Eric memandang Zeria dengan wajah bingung. “Coba lihat ini” Zeria menunjukkan ujung sapu tangan itu pada Eric dan Lucas.
“Itu…Bentuk mawar merah?” Eric melihat dengan jeli, bahwa di ujung sapu tangan itu terdapat sualaman berbentuk mawar merah kecil.
“Eh? Itu mawar? Ku kira itu bunga Poppy merah (Kalian bisa serching sendiri untuk lebih detailnya)” Lucas memiringkan kepalanya dan mengerutkan dahinya.
“Ha? Padahal sudah jelas kalu itu bunga mawar” Eric kembali melihat sulaman itu untuk memastikannya. Dan Zeria hanya melihat perdebatan bodoh mereka yang saling menebak apakah itu bunga mawar merah atau bunga poppy merah.
“Belhenti. Kak, bukankah sudah jelas kalau itu adalah bunga mawal?” Zeria yang sudah muak dengan perdebatan mereka pun, akhirnya ikut turun tangan juga.
“Oh? Begitu ya? Hmm, benar, kalau di lihat lihat ini adalah bunga mawar” Lucas yang sejak tadi tidak mau mengalah dengan Eric, langsung mengalah saat Zeria yang mengatakannya.
“Wahh, dia orang gampangan” Pikir Eric dengan wajah kesalnya.
Sebenarnya sejak hari di mana Zeria pingsan, Eric sudah mulai menghilangkan cara bicaranya yang formal dan mulai bicara dengan santai layaknya teman.
“Emm, Putri. Bukankah kau menyukai mawar merah?” Eric yang melihat ekspresi senang Zeria saat ia melihat kalau ada sulama berbentuk mawar merah itu, menyadari kalau Zeria sangat menyukai bunga mawar merah.
“Eh? Bagaimana kau bisa tau? Kamu benal, aku suka bunga ini” Wajah Zeria berseri.
“Kenapa kau suka bunga itu?” Tanya Lucas dengan wajah bingungnya.
“Kalena indah dan juga milip sepelti mata kakak” Zeria tersenyum manis, dan itu membuat Lucas slah tingkah dan wajahnya memerah.
“Be-benarkah? Apa kau segitu sukanya dengan mataku?” Lucas memalingkan wajahnya dan menutupi wajahnya yang memerah itu dengan lengannya. Bicaranya jadi tak karuan dan tingkahnya juga begitu.
__ADS_1
“Sudah ku bilang, dia orang gampangan” Eric melihat Lucas dengan wajah datar seperti, saat ada orang yang melawak, namun lawakannya itu tidak membuat kita tertawa.
“Hmm? Apa maksudnya?” Zeria yang tidak peka itu di buat kebingungan dengan tingkah Lucas yang aneh dan perkataan Eric barusan.