
Zeria segera kembali ke Istana setelah mendapati panggilan dari Arin. Louise hanya menuruti permintaan Zeria yang secara mendadak minta kembali ke Istana tanpa menanyakan apapun. Louise meminta agar buku yang diberikan kepada Zeria tadi agar dikirim ke Istana saja, karena sepertinya Dean masih berusaha mencarinya.
Sesampainya di Istana, Zeria meminta pada Louise untuk menggendongnya dan segera pergi ke ruang tunggu. Dan sama seperti apa yang sudah diberitahukan Arin, Lucas benar benar menghancurkan ruang tunggu itu hanya dengan sebuah pedang ditangannya.
“Lucas! Berhenti!” Louise menurunkan Zeria dari gendongannya dan berusaha untuk membujuk Lucas agar mau berhenti. Tapi Lucas sama sekali tidak memperdulikan perintah Louise, seakan akan ia tak mendengarnya.
Louise tampak sangat marah karena ia sama sekali tidak dihiraukan, namun Zeria berhasil membuat Louise menahan amarahnya. Zeria menarik lengan baju Louise dan menggelengkan kepalanya, “Biar aku saja” Ucap Zeria sembari perlahan berjalan memasuki ruang tunggu.
Zeria benar benar bisa merasakan perasaan marah Lucas yang sangat besar itu, apa yang membuatnya sampai semarah itu? Pikir Zeria.
“Kakak?” Zeria memanggil Lucas dengan suaranya yang lembut dan sedikit bergetar. Tentu saja itu hanya akting agar Lucas luluh dan berhenti menghancurkan ruangan itu.
Akting yang luar biasa, Pikir Eric dan Arin secara bersamaan.
Lucas dengan cepat segera menengok dengan matanya merahnya yang melotot karena amarahnya, lalu ia tertegun sejenak. Ia mendapati sosok adiknya yang terlihat ketakutan dihadapannya , pupil matanya bergetar ketakutan karena ini adalah pertama kalinya ia melihat sosok Lucas yang marah besar begitu. “Zeria?” Lucas menjatuhkan pedangnya dan menjongkokkan tubuhnya untuk menyamai tingginya dengan Zeria.
“Kenapa kau disini?” Lucas memegang kedua bahu Zeria dengan tangan yang gemetar.
“Entahlah, aku hanya ingin menemui kakak saja” Ucap Zeria dengan senyuman ceria diwajah kecilnya.
Lucas merasa sudah menjadi kakak yang buruk bagi Zeria, ia memeluk Zeria dengan erat. Tak ada yang pelayan atau bahkan kesatria yang berani masuk hanya karena ia mengamuk, tapi adik kecilnya itu malah berani melakukannya dengan segenap keberanian kecilnya.
__ADS_1
Melihat Lucas yang sudah mulai tenang, Louise segera menyuruh para pelayan untuk membereskan kekacauan tersebut dan meminta Lucas untuk datang ke ruangannya segera untuk membicarakan tentang kelakuan Lucas barusan, dan tentu saja Arin dan Eric pun ikut untuk memberikan kesaksian.
#Ruang Kerja Louise
Ruang kerjanya yang rapih sangat mencerminkan diri Louise, tak ada satupun tempat yang berantakan kecuali pojok kanan ruangan yang menjadi tempat William untuk bersantai, sudut itu terlihat sangat suram.
Louise meminta mereka berempat untuk duduk sedangkan dirinya menyiapkan teh. Melihat Louise yang seorang kaisar menyajikan teh, Eric segera bangkit dan menggantikan Louise untuk menyeduh teh. Dan Louise kembali ke sofa untuk memulai percakapan, “Jadi, apa yang membuatmu sampai marah begitu? Sudah lama sekali sejak terakhir kali kau mengamuk seperti itu”
Lucas tampak enggan menjawab Louise, tapi sekarang dirinya sudah hampir dewasa, jika ia masih bersikap seperti dulu maka ia tak ada bedanya dengan anak kecil, “Kerajaan Lilua, mengajukan lamaran pertunangan untukku” Jawab Lucas dengan wajah yang sangat kesal.
Mendengar hal itu, Louise sangat terkejut hingga matanya terbelalak seperti ingin keluar. “Ha? Apa mata mereka tidak salah sampai mengajukan lamaran pertunangan untuk Pangeran yang kekanakan begini?” Louise masih sempat sempatnya bercanda di keadaan begini. Hal itu dilakukannya agar hubungannya dengan Lucas setidaknya sedikit membaik.
“Apa apaan itu? Kenapa malah bercanda sih?” Lucas merasa kesal karena Louise menanggapi ceritanya dengan sebuah candaan.
Wajah Lucas terlihat sedikit memerah setelah mendengar pernyataan dari Louise tadi, mungkin Lucas juga meraskan hal yang sama dengan Louise dan akhirnya meminta untuk melupakan perselisihan mereka dulu. “Hubungan mereka sudah sedikit membaik rupanya”, pikir Zeria.
“Kakak akan terima lamaran pertunangan itu?” Zeria dengan wajah bingungnya, bertanya pada Lucas yang duduk disebelahnya.
Lucas tampak ragu untuk menjawab, ia juga tak bisa memutuskan seenaknya dan melirik Louise untuk meminta pendapat, “Menurut ayah bagaimana?” Dengan ragu Lucas bertanya pada Louise dengan suara kecilnya. Jika ini adalah masa lalu, Lucas pasti akan mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapat Louise.
“Hm? Terserah padamu, jika ingin menolaknya maka tolak saja, tapi jika ingin menerimanya ya terima saja. Toh kalau status masih sebagai tunangan kan masih bisa dibatalkan kapanpun kau mau” Louise menyeruput tehnya sedikit demi sedikit, karena memang pada akhirnya keputusan ada di tangan Lucas.
__ADS_1
“Aku, ingin menolaknya”
“Kalau begitu tolak saja.” Jawab Louie. Raut wajah Lucas terlihat sangat kesal karena lamaran pertunangan yang sangat tiba tiba itu.
Beberapa hari berlalu hingga akhirnya datang hari dimana anggota keluarga kerajaan Lilua datang kembali ke Istana Utama. Mereka bertemu di ruangan yang memang digunakan untuk menghadap Kaisar. Lucas, Louise dan Zeria berada disana untuk berbicara pada Raja Lilua dan didampingi dengan William. “Kami menghadap Matahari kekaisaran dan Kedua Bintang Kekaisaran” Ucap Para orang orang Lilua beserta Raja dan Putri saat menghadap mereka.
Louise mengangkat tangannya dan meminta mereka untuk mengangkat kembali kepala mereka, tanpa basa basi Louise langsung meminta mereka untuk menuju ke inti pembicaraan. “Jadi, benar kalau kalian mengajukan lamaran pertunangan untuk putraku?”
“Benar baginda. Bukankah di usia segini adalah usia yang sangat pas untuk melakukan pertunangan? Apalagi tiga tahun lagi Pangeran akan melakukan upacara kedewasaan, jadi pertunangan ini akan memberi keuntungan untuk kedua belah pihak” Ucap Aron, Raja Lilua berusaha meyakinkan Louise.
“Tapi, putraku bilang ia masih belum ingin terikat dengan siapapun.”
“Yah, itu sih sudah pasti. Karena kakak adalah seseorang dengan jiwa yang bebas, jadi ia pasti akan sangat kesal jika harus terikat dengan seseorang” Pikir Zeria yang saat itu berada dipangkuan Louise.
“Ya?” Aron terlihat kebingungan, “Tapi, Baginda, bukankah anda bisa memikirkannya dulu? Kerajaan kami adalah pemasok gula terbesar di kekaisaran, bukankah kita akan saling diuntungkan?” Aron sedikit panik saat Louise mengatakan kalau Lucas menolak lamaran teersebut. Begitu pula dengan putrinya Sofia, ia terlihat gemetar.
Seolah sudah muak, Sofia menegakkan posisi berdirinya dan mengibaskan rambut hijaunya yang panjang itu kebelakang. “Apakah, yang mulia Pangeran benar benar menolak?” Dibawah matanya terlihat butiran air yang menetes, nampaknya ia sangat menyukai Lucas sampai dirinya menangis gara gara Lucas menolak lamaran pertunangannya.
Lucas mengeluarkan ekspresi dinginnya, “Aku tolak” Ucapnya tanpa melibatkan perasaan apapun. Setelah mendengar jawaban dari Lucas, Sofia terlihat terkejut dan tiba tiba saja ia terjatuh. Seisi ruangan menjadi heboh, Louise memerintahkan para pelayan untuk membawa Sofia ke kamar tamu untuk istirahat.
“Baginda, Pangeran, apakah setelah melihat ketulusan hati putri saya, kalian masih ingin menolak perasannya yang sangat tulus itu?” Aron memasang raut sedih di wajahnya, berharap kalau Lucas, Louise ataupun Zeria akan memberikan belas kasihan. Namun ia sangatlah salah, karena anggota keluarga Kekaisaran Arendelle adalah orang oranng yang tidak pernah menaruh perasaan kedalam pekerjaan ataupun pertemuan.
__ADS_1
“Ya, aku tolak” Ulang Lucas tanpa ragu. Dengan ini, hubungan antara mereka sudah berakhir, itulah yang Lucas fikirkan. Namun ternyata, tidak sama sekali.