Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 46


__ADS_3

Lucas berjalan menyusuri lorong Istananya dengan santai sambil membawa sebuah pedang dengan sarung berwarna hitam ditangannya. Ia baru saja selesai dari kelas pelajaran berpedanganya dan kini ingin pergi ke Istana Zeria. Jalan untuk pergi ke Istana Putri hanya satu, yaitu melewati taman bunga mawar yang disukai oleh Zeria. Lucas memperhatikan bunga bunga yang sudah mekar dengan sempurna itu sambil berpikir kalau Zeria akan sangat menyukainya. Hingga akhirnya tedengar suara seseorang yang memanggilnya.


“Pangeran!”


Lucas yang sejak tadi hanya menunduk dan memperhatikan bunga, kini mengangkat pandangannya dan malihat ke arah depan dan terlihatlah sosok William yang berlari mengahampirinya. “Paman Will? Ada apa sampai lari lari begitu?” Lucas menyodorkan sapu tangannya kepada William untuk mengelap keringatnya.


“Ah terima kasih” William dengan senang hati menerima sapu tangan itu dan mengelap keningnya, “Ngomong ngomong apa Pangeran melihat makhluk yang bernama Louise itu?” Tanya William dengan sedikit nada kesal dalam ucapannya.


“Ah, ayah? Aku belum melihatnya dari tadi” Lucas menoleh ke kanan dan ke kiri, “Paman Will, kalau kau berkata begitu saat memanggil ayah, bisa bisa ada orang yang mengira kalau kau itu pemberontak loh” Alasan Lucas menoleh tadi adalah untuk memastikan kalau tak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.


William sedikit tersentak mendengar ucapan Lucas dan manyadari kalau mereka sedang berada di tengah taman, “Benar juga. Ahh sebenarnya orang itu pergi kemana sih? Padahal ku kira dia sedang pergi menemui Tuan Putri, tapi nyatanya Tuan Putri juga tidak ada dikamarnya” William menggaruk kepalanya, nampaknya ia sudah sangat lelah menghadapi prilaku Louise yang seenaknya.


“Zeria tidak dikamar?”


“Tidak”


Lucas memutar otaknya, Louise sejak tadi tidak kelihatan dan adiknya yang sangat jarang meninggalkan kamar itu sekarang tidak ada dikamarnya. Itu berarti hanya ada satu kemungkinannya, “Ayah pasti sedang pergi keluar bersama Zeria” Lucas menggenggam pedangnya dengan keras.


“Ha? Di saat penting begini dia malah pergi?! Astaga, sekarang harus bagaimana?”


“Apa ada hal mendesak?” Tanya Lucas setelah melihat ekspresi panik dari wajah William.


“Iya, Raja dari kerajaan yang berada di sebelah barat Kekaisaran datang bersama putrinya untuk mengajukan sesuatu”


“Kerajaan barat? Berarti Kerajaan Lilua ya? Mereka datang tanpa pemberitahuan apapun?”


“Benar Pangeran, mereka datang begitu saja dan mengajukan permintaan untuk mengahadap Louise.” Jawab William.


“Kenapa kau tidak menemuinya bersama Paman Zel? Bisanya juga begitu kan?”


“Masalahnya, Zel sedang merajuk karena dirinya selalu disamakan dengan dokter anak pribadi”

__ADS_1


“Ah, aku mengerti perasaannya. Kalau begitu biar aku saja yang menemuinya, dan aku minta tolong panggilkan Eric di area latihan bersama dengan Arin juga. Suruh mereka memakai pakaian yang rapi” Lucas berbalik arah dan berjalan kembali menuju Istananya untuk bersiap.


Sebenarnya datang tanpa pemberitahuan apapun dan langsung meminta untuk menemui Kaisar adalah tindakan tidak sopan dan harus mendapat sanksi, namun karena kini Louise sedang tidak ada ditempatnya, maka Lucas membiarkannya untuk kali ini saja.


Lucas bersiap dengan cepat sambil menunggu Eric dan Arin datang, dan tak butuh waktu lama hingga mereka berdua datang. “Ada apa sampai memanggil kami, apalagi sampai disuruh berpakaian rapi begini?” Eric memperhatikan penampilan Lucas dari atas sampai bawah.


“Kita akan menemui Raja Kerajaan Lilua. Kini paman Will sedang sibuk, jadi aku meminta kau untuk mengawalku sebentar tak apa kan?”


“Yah, aku sih tidak apa apa. Lagipula memang itulah tugasku, tapi kenapa Arin sampai dipanggil juga?”


“Raja itu datang bersama dengan putrinya, jadi tidak sopan jika tidak ada perempuan lain selain putrinya itu. Lagipula kita bertiga kan sebaya” Ucap Lucas.


“Sebaya katanya?” Pikir Arin dan Eric secara bersamaan. Jika dihitung dengan usia asli Eric, maka usianya aslinya tahun ini sudah Sembilan belas tahun, sedangkan Lucas baru lima belas tahun. Dan Arin sendiri usianya masih belum diketahui.


“Iya benar, hanya kita bertiga saja yang sebaya disini” Jawab Eric dengan sedikit rasa bersalah.


“Arin, maaf aku jadi melibatkanmu” Ucap Lucas sambil melihat Arin dengan tatapan bersalah.


“Tak apa, lagipula sekarang Zeria sedang tidak ada, jadinya aku tak ada kerjaan” Arin mengangkat kedua tanganya di depan wajah untuk menunjukkan kalau dirinya sama sekali tidak keberatan.


Mereka berjalan dengan cepat menuju Istana Utama, seluruh perhatian tertuju pada mereka. Sosok mereka bertiga yang berjalan dengan menggunakan pakaian dan atribut lengkap itu terlihat sangat berwibawa. Lucas tidak membawa pedangnya, karena jika membawa senjata saat bertemu dengan seseorang itu dianggap prilaku yang tidak terlalu sopan. Jadi sebagai gantinya Eric lah yang membawa pedang, karena bukan hal yang aneh jika seorang pengawal membawa pedang.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di Istana Utama, para Kesatria yang bertugas hari ini pergi menunjukkan ruangan tempat Raja Lilua menunggu. Sesampainya disana, Eric membukakan pintu ruang tunggu yang sangat mewah dan berhiaskan emas itu. Di dalam ruangan itu terlihat seorang pria tua dengan rambut hijau lumut dan mata coklat sedang duduk bersama dengan anak perempuan dengan penampilan yang sama persis dengannya.


Melihat Lucas yang memasuki ruangan, dua orang itu sontak berdiri dan memberi salam. “Salam pada Pangeran Lucas Xenxes Arendelle” Dua orang itu menundukkan kepalanya dan memberi secara bersamaan.


Lucas hanya diam saja dan mengangkat tangannya, tanda bahwa itu sudah cukup. Ia berjalan menghampiri sofa dan duduk di hadapan mereka berdua, sedangkan Arin dan Eric hanya berdiri di belakang Lucas tanpa melakukan hal lain.


“Jadi ada urusan apa anda datang kemari?” Lucas menyenderkan bahunya dan menyilangkan kakinya.


“ Sebelum itu saya ingin bertanya Pangeran, kenapa bukan Baginda yang datang?” Tanya Raja tersebut dengan sedikit rasa takut.

__ADS_1


Lucas menatap mereka dengan lekat dan kini menyilanglkan kedua tangannya juga, “Ayahku adalah orang yang sibuk, tapi kalian datang kesini tanpa pemberitahuan atau janji apapun dan malah berharap kalau ayah akan meluangkan waktunya?” Lucas berkata dengan nada yang tajam.


“Bu-bukan begitu Pangeran, ini salah saya karena tidak memberi surat apapun”


“Kalau anda sudah tau, maka tolong katakan urusannya dan nanti akan saya sampaikan pada ayah” Lucas terus menatap pria itu dengan tajam, tak peduli walaupun ia adalah seorang raja.


“Baiklah kalau begitu, pertama tama perkenalkan ini putri saya Sofia Der Lilua” Pria itu menunjuk putrinya yang berada disebelahnya, dan dengan tanggap mereka langsung beralih pandang pada anak perempuannya.


Anak perempuan itu perlahan berdiri dan mengangkat rok gaunnya yang berwarna ungu muda tersebut, “Perkenalkan sama saya Sofia Der Lilua, usia saya hampir lima belas tahun” Sofia menundukkan kepalanya dan memperkenalkan dirinya, namun Lucas tak menunjukkan reaksi apapun.


“Saya Lucas Xenxes Arendelle” Jawab Lucas dengan wajah datar andalannya. “Kalau begitu, apa yang ingin anda ajukan?” Tanya Lucas karena ingin secepatnya terlepas dari situasi ini.


“Begini pangeran, ulang tahun Sofia di tahun ini usianya sudah lima belas tahun. Begitu juga dengan Pangeran kan?” Ucap Pria itu.


“Iya”


“Jadi, kedatangan saya kesini adalah untuk mengajukan lamaran pertunangan untuk Pangeran dan Putri saya” Ucapnya dengan sangan yakin dan penuh percaya diri.


Arin, Eric dan Lucas sontak terkejut, lamaran pertunangan katanya? Itu adalah hal yang tak terduga, usia yang bahkan belum lima belas tahun tapi malah mengajukan pertunangan? Lucas mengerutkan ujung alisnya dan ekspresinya terlihat tidak baik.


Tapi ekspresi Sofia malah sebaliknya, ia terlihat sangat senang sampai pipinya memerah. Ia seperti wanita yang sudah lama jatuh cinta pada Lucas, “Pertunangan?” Lucas kehabisan kata kata.


“Benar pangeran, karena di usia sekarang lah yang pas untuk bertunangan” Pria itu terus mendesak kalau bertunangan adalah pilihan terbaik.


“Kalau tidak salah nama anda adalah Aron Der Lilua kan? Begini Yang Mulia Aron, saya tidak bisa memutuskan hal ini sendirian. Lagi pula saya sama sekali tidak ada pikiran untuk bertunangan, masih banyak hal yang perlu saya lakukan selain dalam hal percintaan. Kalau tidak begini saja, untuk hari ini kalian berdua pulang dulu, lalu nanti saya akan mengatakan hal ini pada ayah. Kalian bisa kembali lagi minggu depan, bagaimana?” Lucas mengepalkan tangannya dengan kuat untuk menahan amarahnya agar tidak meledak.


“Oh, benar juga. Tidak baik juga jika terburu buru, kalau begitu kami akan kembali lagi minggu depan” Mereka berdua bangkit dari sofa dan memberi salam. Sofia terus menatap Lucas dengan senyuman lebar diwajahnya, dan Lucas membalasnya dengan senyum terpaksa.


Eric mengantar mereka hingga pintu ruang tunggu, dan sisanya biar kesatria yang bereskan. Merasa kalau mereka berdua sudah berjalan cukup jauh, Lucas langsung bangkit dan berteriak “Aakkhhh! Keras kepala sekali sih?! Pertunangan?! Aku ini akan jadi seorang yang sangat ahli dalam berpedang, aku tak perlu kisah percintaan!” Lucas menusuk nusuk bantal sofa yang ada didepannya dengan pedang yang dibawa Eric.


“Dia meledak!” Pikir Eric yang pikirannya tersambung dengan Arin.

__ADS_1


“Benar, dia meledak. Sepertinya kita harus panggil Zeria kembali ke Istana, bisa bahaya kalau dia begini terus” Pikir Arin sembali melihat Lucas yang mulai mengacaukan seisi ruangan.


Lucas membanting semua yang masuk ke dalam pengelihatannya dan menghancurkan semuanya, tak ada yang berani mendekatinya karena salah salah malah mereka yang akan terluka. Lucas terus mengamuk selama berapa puluh menit hingga akhirnya Zeria kembali karena panggilan telepati dari Arin.


__ADS_2