Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 53


__ADS_3

Pintu kamar Azra terbuka dan terlihatlah sosok William disana. William dengan penampilan seadanya, kemeja putih yang digulung hingga siku dan celana hitam, rambut abunya yang berantakan dan matanya yang sedikit merah.


“Halo” sapa William dan berjalan mendekati kasur tempat Azra duduk.


“Selamat siang” Azra menundukkan kepalanya.


Terlihat beberapa lapis perban di sekujur tangan dan kakinya, begitu pula dengan kepalanya. William memperhatikan Azra dengan cermat dan menatap matanya. "Apa itu sangat sakit?” William menundukkan pandangannya ke arah kakinya dan menatap lantai.


Azra tersenyum masam mendengar pertanyaan William, ia memegang luka di kepalanya yang sudah dilapisi dengan perban dan berkata, “Bohong jika saya bilang tidak sakit, karena ini sakit sekali. Setiap malam saya selalu kesulitan untuk tidur, rasanya tubuh saya seperti sedang disayat dengan pisau yang sangat tajam” Azra teringat dengan perlakuan orang tuanya, namun ia tetap tersenyum.


William merasa bersalah karena ia malah membuka kembali luka di hati Azra, ia sadar kalau dirinya hanya melarikan diri dari kenangan masa lalunya yang muncul di mimpinya tadi. “Maaf, tapi keadaanmu sudah lebih baik kan?”


“Sudah lebih baik sih. Tapi Tuan Razel bilang, butuh waktu dua sampai tiga bulan untuk sembuh total dan beliau juga bilang kalau ini akan meninggalkan bekas” Azra kembali mengusap tangan kanannnya dengan lembut.


Mereka terdiam, tak ada satupun dari mereka yang menatap satu sama lain. Namun tiba tiba muncul sebuah pertanyaan dalam kepala William, “Apa kau tidak punya saudara lain?” tiba tiba saja kata kata itu terlontar dari mulut William. “Gawat! Kenapa pertanyaan itu malah terucap? Padahal tadi aku hanya memikirkannya saja” William tak sengaja mengucapkan pertanyaan itu dan kini merasa sangat payah.


Perlahan ia menatap mata Azra, ia takut kalau Azra terluka dnegan pertanyaannya. Namun respon Azra sangat berbalik dengan apa yang dipikirkan oleh William, Azra terlihat sangat tenang dan bahkan ia mejawab pertanyaan dari William, “Tidak ada, aku anak tunggal. Tapi kalau kerabat ibu sepertinya ada, namun ibu tidak pernah menceritakan tentang keluarganya”


“Begitukah? Pasti berat ya. Walaupun aku tidak punya orang tua, tapi aku masih punya Zel yang selalu bersamaku." William tersenyum, wajahnya seperti berkata kalau ia sangat bersyukur. “Apa kau bisa berjalan? Ayo jalan jalan denganku ditaman, pasti suntuk kan kalau disini terus” William menyodorkan tangannya dan tersenyum.


Azra melihat tangan William dan menundukkan kepalanya, “Maaf, saya masih belum bisa berjalan” Jawabnya dengan lesu.


Namun tanpa pikir panjang, William langsung mengangkat Azra dan menggendongnya dibelakang. “Kalau begitu ku gendong saja, ayo berangkat!” William dengan semangat berlari menuju taman sambil menggendong Azra. Walaupun awalanya Azra merasa tidak enak pada William, tapi kini Azra juga bersenang senang. Tak ada yang lebih baik dari menghirup angina segar saat sedang sedih.


***

__ADS_1


Wajah mereka bertiga terlihat sangat terkejut, saat Zeria menyebut nama ‘Callista’, tiba tiba saja mereka langsung terdiam.


“Darimana kau tau nama itu?” Tanya Louise.


Atmosfer nya terasa tidak enak, pilihan Zeria hanya ada dua. Berbohong atau jujur, hanya itu. “Aku merasa pernah mendengarnya, tapi aku lupa mendengarnya dimana, makanya aku tanya” dan pilihan yang diambilnya adalah setengah berbohong. “Ya, aku memang merasa pernah mendengar nama itu” Pikirnya.


Raut wajah mereka segera mencair saat Zeria menjawabnya, “Ibu” Ucap Lucas dengan suara pelan, “Itu nama ibu” Lanjutnya.


“Nama ibu? Callista?”


“Iya, itu namanya. Cantik bukan?” Louise menghampiri Zeria, sedangkan Razel pergi duluan untuk menyiapkan berkas berkasnya.


“Iya, suatu hari nanti ceritakan tentang ibu ya. Aku ingin tau ibu itu orang yang seperti apa” Zeria tersenyum untuk mengalihkan perhatian.


Lucas terdiam memandangi Zeria, “Maaf tapi, kakak juga harus segera pergi. Tidak apa apa kan?” Lucas merasa sangat bersalah karena harus meninggalkan adiknya.


“Eyy, tidak apa. Pergilah, sana nanti kakak terlambat loh. Kakak kan bilang ingin membeli sesuatu, jika tidak pergi sekarang bisa bisa kakak kehabisan. Sana.” Zeria mendorong Lucas ke arah pintu dan Lucas akhirnya pergi dengan wajah sedih.


Saat tak lama setelah Lucas pergi, tiba tiba Arin dan Eric berlari masuk ke dalam ruang tunggu sambil memanggil namanya. Mereka berdua dengan heboh menanyakan tentang pertunangan tadi tapi Zeria sama sekali tidak menjawabnya dan menutup telinganya. Zeria berjalan meningalkan mereka berdua dan menuju kea rah taman, tapi Arin dan Eric terus mengikuti Zeria.


Saat sampai ditaman mereka berdua dibuat terkejut dengan sosok William dan Azra yang sedang tertawa riang. Tampaknya William sedang berusaha menghibur Azra, ia kan selalu berada di kamarnya selama sakit.


Zeria melihat Eric hendak memangilnya, namun Zeria menghentikannya, “Biarkan dia bersenang senang dulu” Begitulah kata Zeria. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidak pergi ke taman karena takut mengganggu Azra dan William.


***

__ADS_1


Atap Istana Putri, itulah tempat yang mereka tuju. Arin menggunakan sihirnya untuk membantu Zeria dan Eric naik, ia selalu saja naik belakangan.


“Kepalaku sakit. Kenapa rasanya selalu ada saja masalah yang menimpaku sih, dan masalah yang paling membuat pusing adalah tentang mimpiku dan Eric.” Zeria menatap Eric tajam.


Eric mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk lari dari tatapan Zeria, “Haha” Katanya.


Zeria menyenderkan kepalanya pada bahu Arin dan memikirkan sesuatu, “Aku ingat, dulu saat aku baru berusia beberapa bulan ayah pernah bilang begini ‘Aku tidak ingin pengorbanan Callista sia sia’ begitu.”


“Ingatanmu bagus juga” Arin membalas perkataan Zeria. Mereka berkomunikasi lewat telepati untuk berjaga jaga kalau saja ada yang menguping, yah walaupun tidak aka nada orang lain selain mereka disana.


“Terima kasih, ku anggap itu sebagai pujian”


“Itu memang pujian tau!”


“Iya iya terserah” Zeria menutup matanya dan merasakan angin dingin yang berhembus.


Mereka terdiam, menatap langit biru yang agak berawan. Memperhatikan orang orang yang sibuk mempersiapkan pesta dan sekaligus menenangkan diri.


Angin siang itu memang tidak teralu kencang, tapi angin itu berhasih menerbangkan beberapa hal seperti benih bunga dandelion dan kelopak bunga lainnya yang berwarna merah. Zeria membuka matanya dengan perlahan karena merasakan angin yang menyentuhnya, “Kelopak bunganya indah” Ucapnya memperhatikan kelopak bunga yang terbang terbawa angin.


“Tunggu dulu” Zeria bangkit dari duduknya dan menatap sekitanya, “Kelopak bunga? Dimusim dingin begini?” Ia menyadari kalau tidak ada bunga yang mekar saat musim dingin kecuali Bunga dandelion, darimana asalnya kelopak kelopak bunga itu?


“Benar juga, bahkan di taman istana tidak ada satupun bunga yang mekar” Mereka bertiga memperhatiaan sekitar denga teliti. Kelopak bunga berterbangan di Istana Putri, padahal sudah jelas kalau kini taman di Istana Putri sedang membeku, dan lagi bunganya berwarna merah seakan akan tahu kalau ia sangat suka dengan bunga merah.


Kelopak bunga merah, mengingatkannya pada bunga mawar merah di tamannya dan juga mengingatkannya pada sulaman di sapu tangannya. Bunga itu, tidak akan pernah mekar sebelum musim dingin berakhir. “Musim dingin adalah yang terburuk”

__ADS_1


__ADS_2