Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 29


__ADS_3

"A-aku yang membunuh Reina" Ucapnya dengan suara yang gemetar.


"Ha?" Lucas menjatuhkan kue yang hendak dimakannya kelantai dengan mulit yang masih terbuka.


Mereka terdiam selama beberapa detik, memastikan kalau yang mereka dengar tidaklah salah. Zeria juga sudah menduga kalau yang membunuh Reina pastilah orang yang dekat dengan mereka, tapi dia tidak menyangka kalau ternyata orang itu adalah Eric.


"Kau yang membunuhnya?" Mata emas besar yang menatap Eric benar benar serius, bahkan dia tidak memalingkan pandangannya bahkan berkedip.


"Ya" Jawabnya dengan gugup sekaligus ketakutan. Bagaimana jika Zeria sangat marah dan membuangnya? "Tolong, jangan buang aku" Air matanya menetes.


"Tunggu dulu. Aku tidak paham, kenapa kau membunuhnya? Dan alasannya apa? Padahal kami belum memberi tahu mu kalau Reina lah penghianatnya" Lucas sangat tidak mengerti dengan kelakuan Eric.


"Aku, tau sejak awal" Eric menundukkan kepalanya karena takut menatap mata Zeria.


"Hah" Lucas menghela napasnya "Kita harus selesaikan hal ini, kau akan ku laporkan pada ayah" Lucas bangkit dari sofa dan hendak pergi untuk melapor, namun Zeria menahannya dengan memegang lengan bajunya. Tatapannya menyeramkan, seakan menyuruh Lucas tetap duduk diam.


"Jangan" Ucap Zeria, dari matanya terlihat bahwa itu bukanlah larangan melainkan ancaman. Dan Lucas terpaksa menurutinya.


Zeria terus memegang lengan baju Lucas agar dia tidak pergi kemana mana. Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri agar tidak melontarkan banyak pertanyaan sekaligus. "Kenapa?" Itulah pertanyaan pertama yang Zeria lontarkan.


"Karena dia ingin mencelakai Tuan Putri" Tangannya mengepal dengan sangat kuat, Eric menahan air matanya agar tidak menetes.


"Lalu, kenapa tidak dali awal kau beli tau kami?" Zeria menanyakan pertanyaan selanjutnya.

__ADS_1


Eric menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskannya perlahan, "Karena aku ingin menyelesaikannya sendiri dan tidak ingin kalian kepikiran" Suaranya bergetar.


Raut wajah Lucas terlihat tidak baik, nampaknya dia sangat kesal dengan jawaban yang Eric berikan. "Kalau ada aku, kenapa kau harus selesaikan sendiri?" Lucas memegang tangan Zeria dengan erat, dan Zeria merasakan tangan Lucas yang gemetar.


"Sudah ku bilang-"


"Tidak masuk akal!" Lucas memotong ucapan Eric.


Zeria menarik lengan baju Lucas dan menyuruhnya untuk tenang. "Lalu, kenapa kau memasukkan sesuatu pada minumanku?" Dan ini adalah pertanyaan Zeria yang ketiga.


"Aku...aku berniat ingin membunuhnya saat itu juga, dan aku membuat mu pingsan agar kau tidak melihat sesuatu yang mengerikan. Tapi ternyata, aku terluka lebih parah dari yang sudah ku perkirakan" Jawabnya dengan suara yang semakin lama semakin bergetar, suaranya mulai terdengar lebih kecil.


"Oke, itu peltanyaanku yang telakhil. Sekalang kau lakukan hukumanmu yang sudah ku sebutkan tadi" Ucap Zeria dan menjentikkan jarinya, lalu seketika rantai yang mengikat Eric hancur.


"Eh? Tapi-"


"Hiks...terima kasih" Eric menangis namun dia tetap berjalan kesudut ruangan dan menjalankan hukuman dari Zeria.


Eric terlihat sangat lucu. Padahal dia sedang menangis, namun dia tetap melakukan hukuman yang Zeria berikan kepadanya, dan itu membuat Zeria sedikit tertawa.


"Zeria, apakah tidak apa apa jika kita membiarkannya?" Lucas khawatir jika tiba tiba Eric berubah pikiran dan malah melukai Zeria.


"Tidak apa apa, tenang saja. Jika dia melakukan sesuatu yang lebih besal dali ini, aku akan tanggung jawab atas dilinya" Jawab Zeria dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya. "Aku percaya dia tidak akan melakukan hal yang sama lagi tanpa izin dariku" Dia seperti sudah benar benar yakin bahwa Eric tidak akan melakukan sesuatu yang lain lagi.

__ADS_1


Sedangkan Lucas hanya terdiam, dan mencoba mempercayai Eric seperti yang Zeria lakukan. Dan akhirnya hanya diam saja tanpa melaporkan perbuatan yang sudah Eric lakukan.


Penyelidikan atas kematian Reina ditutup, karena bukti yang ada di tempat kejadian sangatlah kurang. Apalagi atas hal yang sudah Reina perbuat, hal itu dianggap pantas diterima olehnya.


Setelah Louise menyatakan kalau penyelidikan telah diakhiri, keluarga Count Claes diperintahkan untuk datang ke istana dan dimintai penjelasan. Dan ternyata, keluarga Count Claes diancam oleh Raja dari Kerajaan Akasha untuk memberikan nama keluarga mereka kepada Reina, agar Reina bisa masuk ke dalam Istana Putri dan menjadi dayang, lalu membunuh Zeria.


Setelah mendengar penjelasan dari kepala keluarga Count Claes yang sangat masuk akal dan juga beberapa bukti yang sangat jelas. Louise bersama pasukan, menuju ke Kerajaan Akasha dan menghabisi semua anggota kerajaan itu, Raja Akasha, Ratu, dan anak laki laki mereka. Semua orang itu, memang merencanakan pembunuhan Zeria sejak kabar Zeria lahir.


Dikarenakan Raja Akasha yang mempunyai dendam dengan Louise, mereka memutuskan untuk membunuh Zeria yang masih kecil.


Enam tahun berlalu sejak kejadian pembunuhan itu. Saat ini Zeria sudah sangat mahir menggunakan sihir, bahkan sekarang Arin sudah bisa membuat dirinya bisa dilihat oleh orang lain.


Kini Zeria sudah berusia tujuh tahun, hidup dengan damai bersama orang orang terdekatnya. Louise yang selalu menghampirinya setiap hari walaupun sibuk. Lucas yang memang selalu bersama Zeria. Eric yang selalu khawatir pada apapun yang menyangkut Zeria. Dan Azra, anak tunggal keluarga Claes yang diminta untuk menjadi teman bicara sekaligus melayani Zeria untuk menebus kesalahan mereka.


#Kamar Zeria


"Permisi, aku membawa teh" Eric berdiri di depan pintu dengan membawa nampan di tangannya.


"Kemarilah" Zeria melambaikan tangannya dari sofa yang berada di tengah kamar.


Lucas duduk tepat di sebelah Zeria, dan Azra duduk di depan mereka. Eric menghampiri mereka bertiga dan meletakkan nampannya di atas meja, lalu berjalan menuju jendela, dan duduk tepat di jendela.


Rambut blonde nya yang terkena paparan sinar matahari terasa menyilaukan, dan matanya yang berwarna hijau yang serasi dengan pepohonan terasa menyegarkan mata. Seperti itulah Eric yang terlihat di mata Zeria.

__ADS_1


Sedangkan Azra, rambutnya yang berwarna ungu kehitaman itu sangatlah memanjakan mata, dan matanya yang berwarna ungu yang cerah sangatlah indah.


Begitulah keseharian Zeria bersama meraka bertiga,tanang dan damai, sangat sangat damai. Sampai terasa membosankan.


__ADS_2