
Kekaisaran Arendelle mulai memasuki musim dingin. Sudah semingu berlalu sejak Zeria mengetahui fakta bahwa gadis gadis yang mati di dalam mimpinya adalah dirinya sendiri. Mungkin hal itu memang tidak bisa dipercaya, Tapi mau tidak mau dia memang harus mempercayainya. Karena sejauh ini sudah banyak hal tak terduga yang terjadi, bahkan dalam waktu sesingkat itu saja sudah sangat banyak hal yang terjadi.
#Kamar Zeria
Zeria berbaring di kasurnya dengan posisi telentang dan ekpresi kesal, “Akkhh! Ini sudah seminggu, tapi aku masih belum menemukan petunjuk apapun.” Sangkin kesalnya, Zeria sampai berguling guling dari sisi kanan kasur hingga sisi kiri kasur, bahkan ia juga menghentak hentak hentakkan kakinya ke kasur.
Azra yang melihat prilaku aneh Zeria merasa sangat bingung, dan akhirnya bertanya pada Arin. “Dia kenapa?” Tanya Azra.
Arin juga sejak tadi sudah memperhatikan tingkah Zeria, dan sebernarnya ia juga merasa kalau sikap Zeria yang seperti itu malah terlihat mencurigakan “Entahlah. Sepertinya ia tidak mampu memecahkan suatu teka teki” Ucapnya.
Azra tidak tau apa teka teki yang Arin maksud, tapi jika Zeria yang jenius saja tidak bisa memecahkannya, apalagi ia yang hanya seorang anak dari Count yang bahkan tidak mempunyai suatu keahlian khusus.
Sebenarnya Azra sendiri merasa tidak pantas jika ia bergabung dengan mereka ber-4. Zeria, Tuan Putri jenius yang sudah bisa menguasai berbagai jenis teknik sihir dan unggul dalam pelajarann sejarah. Eric, sangat ahli dalam berpedang hingga bisa menandingi Lucas tanpa menggunakan sihir. Lucas, Pangeran sekaligus calon kaisar selanjutnya yang sangat kuat. Dan Arin, Azra sangat malu jika dirinya dibandingkan dengan Arin. Karena yang Azra tau, Arin hanyalah gadis desa biasa yang bahkan bukan bangsawan, namun ia bisa menguasai banyak pelajaran dengan sangat cepat dan juga Arin sangat dekat dengan Zeria dan Eric.
“Apa aku pantas berada disini bersama mereka semua?” Gumam Azra dengan suara pelan. Namun suaranya yang sangat pelan itu bahkan masih bisa didengar oleh Zeria dan Arin. Karena memang pendengaran mereka sangatlaah unggul.
Zeria yang sejak tadi terus merengek, akhirnya terdiam karena mendengar gumaman Azra barusan. Bahkan ia tidak habis pikir dengan Azra, bagaimana ia bisa berfikir begitu, “Azra, apa maksud dari perkataanmu kalau kau tidak pantas disini?” Zeria mendadak bangun dari tempat tidurnya dan menghampiri Azra.
“Eh? Apa maksud-“
“Harusnya aku yang bertanya, Azra. Apa maksudmu bilang begitu?” Zeria bahkan tidak membiarkan Azra bicara hingga selesai dan memotongnya
Azra menduga kalau Zeria mendengar hal yang ia gumamkan “Kau, mendengarnya?”
“Aku dengar, jangan alihkan pembicaraan. Jawab aku, aku harus mendengar jawaban yang masuk akal darimu” Zeria menatapnya tanpa mengalihkan pandangannya sekalipun.
Sedangkan Arin hanya memperhatikan, karena jika ia ikut campur yang ada malah suasananya makin suram. “Aku…Aku hanya Putra dari Count yang hampir bangkrut, aku tidak jenius seperti kalian. Aku juga tidak terlalu bisa menguasai sihir karena di kediamanku dulu kami tidak punya uang untuk membayar guru.” Jawabnya, ia benar benar merasa kalau dirinya adalah sebuah sampah di tumpukkan berlian.
__ADS_1
“Hanya itu?” Tanya Zeria.
“Apa?...” Azra kebigungan.
“Aku Tanya. Hanya karena hal itu kau merasa tidak pantas berada diantara kami?!” Zeria menarik kerah Azra sekuat tenaga hingga tinggi Azra meyamai dirinya.
Walaupun Zeria tau kalau perlakuannya itu dianggap tidak sopan diantara bengsawan, namun ia tidak peduli, ia bisa mengurusnya belakangan. Amarahnya sudah berada sangat di puncak, tidak ada alasan Azra bisa berfikir kalau ia tidak pantas berada di antara mereka.
“Tidak ada alasan yang cukup untuk membuatmu bicara begitu Azra. Bagaimana bisa kau berfikir kalau dirimu tidak pantas bersama kami? Arin yang hanya orang biasa dan bahkan bukan seorang bangsawan saja tidak pernah berfikir begit-“
“JUSTRU KARENA HAL ITU!” Azra dengan penuh kemarahan dalam hatinya, akhirnya meledak dan berteriak. “JUSTRU KARENA DIA, AKU JADI MERASA TIDAK PANTAS BERADA DISINI!. DIA YANG HANYA ORANG BIASA DARI DESA DILUAR SANA SAJA PUNYA PENGETAHUAN YANG HEBAT, DAN BAHKAN SANGAT DEKAT DENGANMU. SEDANGKAN AKU, AKU BAHKAN TIDAK MENERIMA PENDIDIKAN YANG CUKUP DAN AKU BAHKAN TIDAK PANTAS JIKA DIBANDINGKAN DENGANNYA” Azra terus menerus bicara dengan keras, sepertinya amarah yang ia pendam selama ini sudah tidak bisa ia tampung lagi.
Mendengar Azra yang bicara sambil berteriak membuat Zeria sedikit terkejut, tangannya yang tadi mencengkram kerah baju Azra dengan kuat tiba tiba terasa lemah. Amarah yang ia rasakan tadi tiba tiba berubah menjadi rasa takut, “Apa ini? Tanganku tiba tiba saja gemetar, tubuhku tak bertenaga” Pikir Zeria.
Melihat Reaksi Zeria, Azra sontak terkejut. Sangking marahnya dirinya, sampai sampai ia tak sengaja membentak Zeria, “Apa yang baru saja kulakukan?” Azra langsung mundur dan menjauh dari Zeria.
“Ah…Maafkan aku, maaf, maaf” Setelah menyadari perlakuannya pada Zeria, Azra langsung merasa sangat bersalah. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya pada Zeria yang bahkan lebih muda tiga tahun dari dirinya.
Zeria merasakan rasa takut yang sangat luar biasa ketika Azra berteriak padanya. Azra adalah orang pertama yang berteriak dengan penuh amarah padanya setelah ia terlahir kembali. Apa rasa takut yang dirasakan Zeria saat ini adalah karena baru kali ini ada orang yang beteriak padanya dengan penuh amarah begitu? Itulah yang dipikirkan Arin. “Tenangkan dirimu Zeria, kalau kau tidak tenang, bisa bisa kau akan meraskan rasa sakit yang pernah kau rasakan waktu itu” Arin mencoba menenangkan Zeria dengan bicara lewat pikirannya, agar pembicaraan mereka tetap rahasia.
Zeria mendengarkan perkataan Arin dan mulai mengatur nafasnya, saat mereka berdua sedang teralihkan dengan keadaan Zeria. Azra, tiba tiba saja sudah tidak ada disana. “Azra?” Zeria baru menyadari bahwa Azra sudah tidak ada.
“Kemana perginya dia? Apa perlu kucari?” Tanya Arin.
Karena Azra kelihatan sangat marah sampai sampai tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, mungkin membiarkannya untuk sendiri adalah ide yang bagus, itulah yang Zeria bilang. “Mungkin dia akan kembali setelah beberapa jam” Ucapnya.
Namun ternyata, lagi lagi Zeria salah memperkirakannya. “Halo Zeria” Eric masuk ke kamar Zeria melalui jendela yang terbuka, “Loh, kok kalian hanya berdua?” Tanya Eric saat ia hanya melihat Zeria dan Arin saja.
__ADS_1
“Itulah masalahnya, sejak tadi siang ia masih belum kembali kesini” Jawab Zeria, ia sebenarnya tidak terlalu khawatir, namuin ia hanya kepikiran saja. Apa yang dilakukan oleh Azra sampai sampai ia masih belum kembalI juga sampai sekarang?
“Kalian bertengkar?” Tanya Eric dengan posisi masih duduk di jendela kamar.
“Tidak” Jawab Arin, “Anak itu merasa tidak pantas berada bersama kita, dan …” Arin menceritakan semua hal yang terjadi tadi dengan rinci. Eric menyimak dengan saksama tanpa melewatkan satu hal pun.
“Zeria ketakutan katamu?” Tanya Eric lagi, tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Iya, saat ia berteriak padaku entah kenapa tiba tiba aku merasa sangat takut sampai sampai tanganku gemetar dan lemas” Zeria tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya, apa yang membuatnya ketakutan sampai seperti itu?
“Emm, ini hanya dugaanku. Tapi sepertinya kau memiliki trauma berat atas perlakuan orang tuamu saat dikehidupanmu yang lalu” Hal itu adalah dugaan yang paling masuk akal untuk saat ini.
Hal yang tak terfikirkan oleh Zeria. Walaupun ia sudah terlahir kembali di dalam keluarga yang hangat dan teman yang baik, walaupun sudah tujuh tahun lebih hal itu berlalu, namun trauma yang berat tidak akan hilang semudah itu, “Trauma ya? Kenapa tidak terpikirkan olehku ya?” Pikir Zeria dengan senyuman sedih diwajahnya. “Menurutmu, apa yang sudah kulakukan pada Azra itu apakah salah?” Tanya nya.
“Iya, kau salah” Jawab Eric sambil tersenyum “Semarah apapun dirimu, kau tidak boleh berkata begitu padanya. Karena bahkan kita saja tidak tau bagaimana kehidupannya sebelum ia kesini” Eric pelahan berjalan mendekati Zeria.
“harusnya tadi aku hentikan mereka berdua ya? Lain kali aku harus berhati hati” Ucap Arin merasa bersalah atas kejadian tadi.
“Yasudahlah. Lagipula kau kan tidak bermaksud untuk melukai hatinya, mungkin sekarang Azra sedang dikamarnya. Besok jika ia kesini, lebih baik kau minta maaf, karena kau tidak tau apa yang dirasakannya. Dan ia juga pasti akan meminta maaf padamu atas perkataannya kemarin” Eric memberi nasihat pada Zeria sambil mengacak acak rambutnya.
“Kau benar. Aku akan minta maaaf besok, ngomong ngomong kau kotor, Eric. Kau baru selesai latihan kan? Lebih baik kau segera mandi, sebentar lagi kan waktunya makan malam” Zeria menutup hidungnya, seolah olah ia memberi kode kalau Eric bau.
“Astaga, jahat sekali dirimu. Baiklah aku akan pergi, sampai bertemu besok”
“iya”
Sepanjang malam Zeria terus memikirkan bagaimana caranya meminta maaf pada Azra. Apakah tidak aneh jika ia tahu tahu meminta maaf? Namun, hal yang sudah Zeria pikirkan dengan susah payah semalaman sia sia. Bahkan setelah matahari hari itu terbit, hinggga matahari terbenam, Azra, sama sekali tidak datang.
__ADS_1