
Aura yang sangat familiar bagi Zeria, ia sangat yakin bahwa ia sudah sangat sering merasakan aura yang seperti itu. “Ketemu” Ucapnya sambil menatap ke arah balkon rumah tersebut.
Melihat Zeria yang terus melihat ke arah balkon, itu artinya disana ada sesuatu yang hanya bisa Zeria lihat atau rasakan, “Apa yang ketemu?” Tanya Lucas sembari melihat ke arah balkon yang terus dilihat oleh Zeria.
“Hm? Maksudku, rumahnya ketemu” Jawab Zeria mengalihkan pandangannya ke arah yang lain, “Tapi, rumahnya terasa sepi sekali ya? Padahal ini rumah bangsawan” Di sekitar halaman rumah itu, Zeria sama sekali tidak melihat pelayan ataupun penjaga.
“Bukan begitu, waktu itu Azra pernah bilang kan kalau keluarganya adalah bangsawan yang hampir bangkrut?” Kata Arin. Memang benar kalau keluarga Count Claes adalah bangsawan yang hampir bangkrut, dan suasana kediaman Claes yang sepi menjadi sangat masuk akal.
Eric terus memandangi Zeria, merasa kalau ada yang ia sembunyikan. Namun Eric tak berani bertanya, karena sekarang bukanlah saat yang tepat. “Bagaimana kalau kita coba masuk?” Tanya Eric.
“Benar, kita coba masuk saja. Tapi sepertinya gerbangnya terlalu besar dan berat untuk kita buka, aku akan gunakan sihir saja” Ucap Zeria, dan melepas sarung tangannya untuk bersiap menggunakan sihirnya.
Namun sebelum Zeria menggunakan sihirnya untuk membuka gerbang, Eric sudah lebih dulu menerjang gerbang itu sekuat tenaganya hingga terbuka, “Tidak perlu, Zeria” Eric menatap Zeria dengan senyuman di wajahnya, “Kau kan sudah bilang kalau tidak akan menggunakan sihirmu untuk hal kecil” Eric ingin bahwa Zeria sebisa mungkin tidak perlu menggunakan sihirnya, dan agar ia tidak membahayakan dirinya juga.
“Maaf, aku lupa” Zeria mengalihkan wajahnya ke arah Lucas, “Kalau begitu, ayo masuk” Zeria memimpin jalan dengan berjalan di depan.
Setelah diperhatikan lagi, rumah itu ternyata benar benar sepi. Mereka tak melihat satupun pelayan ataupun penjaga. Namun, halaman rumah itu tetap bersih dari salju ataupun dedaunan dan rumput. “Jika halamannya bersih seperti ini, pasti ada orang yang tinggal di sini” Ucap Lucas, memandangi pintu rumah itu.
Toktok
Eric tiba tiba mengetuk pintu itu, “Apa ada orang di dalam?” Tanya nya dengan suara yang keras. Namun sama sekali tidak ada respon.
“Apa tidak ada orang ya?” Arin melihat semua jendela rumah itu, namun tak ada satu pun tanda tanda kehidupan.
“Bagaimana? Apa kita masuk saja?” Zeria menarik lengan baju Lucas dan meminta pendapatnya.
__ADS_1
“Sepertinya hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang” Lucas mendorong pintu besar itu dan membukanya, dan ternyata pintunya tidak terkunci.
Bagian dalam rumah itu terlihat sangat rapi dan bersih, tak ada debu di setiap pajangan yang dipajang. Dan semuanya terlihat bersih, “Rumah ini ada orangnya tidak sih?” Arin mengomel. Padahal rumah itu sangat bersih dan rapih seperti ada yang menempatinya, namun tak ada tanda tanda kehidupan dari dalam rumah itu.
“Kita coba berpencar saja” Ucap Zeria, ia mellihat ke arah lantai dua. “Aku dan kakak akan ke atas, kalian berdua tetap di bawah” Ucapnya sambil menarik Lucas untuk naik ke tangga dan pergi ke lantai atas.
Keadaan di lantai atas sama saja seperti di lantai bawah, sangat bersih dan rapih. Namun ruangan ruangan yang ada di lantai atas lebih sedkit daripada di lantai bawah. Mereka mengecek satu per satu ruangan itu, “Hm, sepertinya ini ruang kerja?” Ruangan yang mereka masuki terlihat sangat sederhana dan dipenuhi buku buku dokumen, dan sebuah meja besar yang dilengkapi dengan pena dan cap, sudah pasti kalau itu ruang kerja.
“Sepertinya begitu” Zeria berjalan menghampiri rak buku yang terletak tepat di samping kanan pintu masuk.
“Aneh sekali, padahal aku mengira kalau keluarga ini Tidak pindah dan tetap tinggal disini karena rumahnya terlihat bersih” Lucas memeriksa laci meja kerja itu, namun di dalam laci itu sama sekali tidak ada apa apa.
Zeria memperhatikan satu per satu judul buku buku dokumen yang ada di rak dan mengambil salah satunya. “Aku baru melihat ada orang yang meletakkan dokumen di rak yang terbuka begini” Pikirnya. Karena biasanya dokumen dokumen penting disimpan di tempat yang aman dan tersembunyi. Tak sedikit pula orang yang meletakkan dokumen pentingnya di dalam brankas.
Zeria membuka buku yang sudah dipilihnya, berharap kalau ada sebuah petunjuk. Namun isi buku itu, tidak seperti harapannya. “Apa ini” Zeria membuka buku itu dan terkejut.
“Aneh, buku dokumen ini…Kosong” Ucapnya sambil membalik semua halaman buku itu, namun sama sekali tidak ada apa apa, buku itu benar benar kosong.
Lucas tentu saja merasa aneh, kenapa dokumen kosong diletakkan di tempat kerja? Rasa penasaran menghampirinya, dan akhirnya ia juga mengambil salah satu buku dokumen di rak dan membukanya, “Ini juga, kosong” Ucapnya.
Melihat ada dua buku yang kosong, Lucas dan Zeria segera membuka semua buku dokumen itu. Dan ternyata, semua buku dokumen itu kosong. Tidak ada satupun yang ada isinya. “Apa maksud semua ini?” Pikirnya.
“Semua kosong? Tak hanya dokumen saja, semua buku buku lain juga kosong” Ucap Lucas. Terfikirkan olehnya untuk memeriksa perpustakaan juga untuk memastikannya. Dan Zeria menyetujuinya.
Sangking sibuknya mereka mencari tau tentang buku buku yang kosong, mereka sampai melupakan tujuan utama mereka. Setibanya di perpustakaan, mereka dengan cepat memeriksa buku buku itu dimulai dari yang terdekat. Dan hanya dengan memeriksa beberapa buku, mereka sudah bisa memastikan kalau, semua buku yang ada di rumah itu tidak ada isinya.
__ADS_1
“Kosong, semuanya kosong” Ucap Zeria. Jika buku yang kosong hanyalah buku cerita, ia masih bisa memakluminya. Tapi ini sampai dokumen pun kosong, sudah pasti ada yang tidak beres dengan rumah itu.
Lucas pun sudah putus asa. Tak ada yang bisa mereka lakukan jika tidak ada petunjuk sama sekali, bagaimana bisa dari sekian banyak buku yang ada disana, tidak ada satupun yang ada isinya. “Sekarang, kita harus bagaimana?” Tanya nya.
“Tidak tau, aku sudah tidak terfikirkan apapun” Jawab Zeria dengan lesu, sudah tak ada lagi harapan untuk menemuka Azra jika tidak ada petunjuk begini. Mereka juga tidak tau kemana orang tua Azra pergi. “Untuk sekarang, ada satu ruangan lagi yang ingin ku periksa” Ucapnya sambil berjalan keluar dari perpustakaan.
Ruangan yang sedang mereka tuju adalah ruangan diamana Zeria merasakan aura yang familiar, dan kebetulan ruangan itu berada tak terlalu jauh dari perpustakaan. Jadi mereka dengan cepat sampai disana, tapi.. “Terkunci” Ucap Lucas yang sudah berusha membuka pintunya.
“Tak bisa di dobrak?” Tanya Zeria sambil memberikan tatapan penuh harapan.
“Sepertinya bisa” Jawabnya dengan penuh keyakinan. Lucas mundur sedikit dari pintu untuk ancang ancang, dan menerjang pintu itu. Namun, pintunya tidak terbuka.
Dan Zeria baru menyadari suatu hal yang aneh, “Pintunya sangat kuat?” Tanya Zeria.
“Ya, aku tak bisa mendobraknya” Lucas mundur lagi, dan berdiri di damping Zeria. “Sekarang bagaimana?” Lucas melirik Zeria, namun respon Zeria sama sekali tidak ada, “Zeria?”
“Aneh. Aku baru menyadarinya, tapi Arin sejak tadi sama sekali tidak memberikan informasi dari bawah” Pikirnya, padahal seharusnya Arin selalu memberikan informasi dari bawah sana melalui telepati. Namun sejak mereka masuk ke rumah ini, Arin sama sekali tidak melakukan telapati dengannya.
“Kita ke bawah sekarang!” Zeria segera berlari ke arah tangga, perasaannya tidak enak. Dan tanpa bertanya, Lucas segera mengikutinya.
Mereka coba berlari secepatnya, dan entah mengapa jalan yang mereka lewati tadi jadi terasa lebih panjang. “APA YANG KAU LAKUKAN?!” Suara Eric yang terdengar dari kejauhan, membuat mereka lebih panik lagi.
Hingga akhirnya mereka sampai di tangga, dan ternyata perasaan buruk Zeria tidak salah. Dari atas tangga, mereka berdua melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Yaitu, Arin yang menusuk jantung Eric dengan pedang yang Eric bawa, sedangkan Eric sendiri sudah tak sadar.
“Apa yang kau lakukan, Arin?!”
__ADS_1
Tanpa mencabut pedangnya, Arin tersenyum.