
Orang orang yang berkepentingan mulai disibukkan dengan persiapan festival, mengatur agar semua berjalan lancar dan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Begitu pula dengan Louise, kini dirinya sama sekali tidak memiliki waktu luang bahkan untuk sekedar memunim teh sambil bersantai. Orang orang mulai berdatangan untuk menghadap Louise dan meminta tanda tangannya sebagai tanda bahwa ia menyetujui dokumen tersebut.
William juga sama sibuknya dengan Louise karena ia harus melaksanakan dua tugas sekaligus. Yang satu adalah tugasnya sebagai ketua kelomok kesatria satu, dan satunya lagi adalah tugasnya sebagai seorang sekretaris Louise. “Ini neraka, kenapa setiap tahun aku selalu disiksa begini sih?” Keluh William sembari mengayunkan pedangnya di area latihan pedang.
Walaupun ia mengeluh, namun ia tetap menjalankan tugasnya dengan baik tanpa adanya kesalahan dalam tugas yang diterimanya. William terus mengayunkan pedangnya dengan lesu sampai salah seorang anggota kelompok menegurnya, “Ketua, anda harus semangat dong. Karena sehabis anda latihan, anda harus langsung mengerjakan tugas anda sebagai sekretaris Baginda” Ujar salah seorang kesatria yang menjadi anggota kelompoknya.
Mendengar ucapan itu, William makin kesal mengingat semua tugas Louise yang dialihkan padanya, “AKKHH! PEDULI AMAT!” William membanting kuat kuat pedangnya ke tanah dan menginjak injaknya.
Para kesatria lainnya hanya memandangi William dengan perasaan takut, kenapa? Karena William saja berani memarahi Louise yang seorang kaisar, apalagi mereka yang hanya anggota kelompok, mungkin jika mereka membuat William marah maka mereka akan dibunuhnya. Itulah yang dipikirkan oleh anggota kelompok kesatria satu saat ini.
***
Seperti permintaan Zeria tadi, Lucas dan eric datang menemui Zeria setelah mandi dan tubuh mereka sudah bersih. Mungkin ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Zeria pada mereka berdua.
Lucas berdiri di depan pintu kamar Zeria sebelum masuk, ia terdiam tanpa memikirkan apapun. Lucas perlahan membuka pintunya dan ia melihat sosok Zeria yang berdiri di depan jendela kamarnya dan rambutnya yang terbang tertiup angin. Ia juga mendapati Eric yang sudah lebih dulu datang, serta Arin yang memang selalu berada disekitar Zeria dan Eric.
“Kau terlambat ya, Pangeran” Eric mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya dibelakang leher, di wajahnya terlihat ekspresi ngantuk yang sudah tak tertahan.
Lucas tak menjawab perkataan Eric dan pergi menghampiri Zeria, Lucas meraih lengan Zeria dan menariknya menjauh dari jendela, “Udaranya semakin dingin, jangan berdiri di dekat jendela” Ucapnya.
Zeria merasa tidak asing dengan kejadian ini, “Ah, waktu itu Eric juga bilang begini” Pikirnya.
__ADS_1
Lucas menarik Zeria ke sofa dan menutup jendela kamarnya dengan rapat, dan kembali duduk di sofa. Kini sudah ada empat gelas teh yang ada diatas meja beserta dengan camilan, yang artinya percakapan sudah bisa dimulai.
“Baiklah, aku meminta kalian kesini karena ada satu hal gawat yang terjadi”
“Hal gawat? Segawat itukah sampai memanggil kami” Tanya Eric.
“Iya, sangat gawat. Itu karena, ternyata aku dan Arin sama sama tidak memiliki selera Fashion yang bagus” Ucap Zeria dengan lesu karena ia sangat enggan mengakui kelemahannya itu.
“Ha?” Lucas dan Eric sudah pasti kebingungan, jadi hal gawat yang Zeria maksud itu adalah ini?
Lucas dan Eric saling bertatapan selama beberapa saat dan akhirnya tertawa, “Bwahaha! Gawat apanya!” Eric tak bisa menahan tawanya dan tertawa keras keras sampai memeluk perutnya.
Wajah Zeria memerah karena malu, sebenarnya ia benci karena harus mengakui kalau dirinya memang payah dalam hal fashion, “Iya” Jawabnya sambil menundukkan kepala, tak kuat menahan malu.
Mereka terdiam sejenak untuk mengendalikan diri masing masing dan siap untuk melanjutkan pembicaraan, “Haah, jadi apa maksudnya itu?” Tanya Eric mengusap air matanya yang keluar karena tertawa dengan berlebihan.
“Di penghujung festival kan ada sebuah pesta dansa yang digelar untuk penutupan, jadi aku fikir kalau aku harus tampil dengan sempurna. Tapi karena aku tak pandai dalam memilih pakaian dan aksesoris, jadi aku ingin meminta tolong pada kakak dan Eric untuk membantu memilihkan pakaian serta aksesoris yang cocok untukku”
“Hmm, sebenarnya kau akan terlihat cantik memakai pakaian apapun. Kau juga tak perlu memikirkan apakah pakaian itu cocok atau tidak, karena kau lah yang memilih pakaian dan bukan pakaian yang memilihmu” Ucap Lucas sambil menopang dagu dengan wajah serius.
Zeria memikirkan kembali perkataan Lucas barusan, dan jika dipikirkan baik baik hal itu memang benar. “Kalau begitu warna apa yang cocok?” Tanya Zeria.
__ADS_1
Eric dan Lucas sama sama berfikir dengan serius, sedangkan Arin dan Zeria hanya diam saja kareama tak paham tentang Fashion. Eric memutar bola matanya dan menyenderkan bahunya ke sofa, “Sepertinya kau cocok dengan warna abu muda ataupun pink” ujar Eric.
Mendengar perkataan Eric, Zeria sempat terkejut dan mengeluarkan ekspresi jijik. Mereka bertiga heran kenapa Zeria membuat ekspresi begitu, namun pertanyaan itu langsung terjawab, “Aku sangat benci dengan warna pink” Jawabnya dengan sangat kesal.
“Kalau begitu abu muda saja! Kebetulan aku juga akan memakai baju warna itu saat pesta nanti” Lucas cepat cepat mengganti topic, tahu kalau adiknya sangat membenci hal itu.
“Begitu? Baiklah, dan untuk aksesoris kuserahkan saja pada ayah!”
Dan mereka merasa lega karena berhasil mengalihkan pembicaraan dengan cepat dan tepat, kini pengetahuan mereka tentang Zeria bertambah satu lagi.
***
Hari pertama festival akhirnya tiba, Louise berpidato di depan seluruh rakyat kekaisaran dengan mencerminkan sosok kaisar yang bijaksana, berwibawa dan elegan. Bahkan Zeria saja merasa asing dengan sosok Louise yang serius begitu, karena setiap harinya Louise hanya menunjukkan sisi yang lembut pada Zeria.
Pidato dari Louise tak berlangsung dengan lama, dan ia menutup pidatonya dengan kata kata, “SAATNYA KITA MENJADI LEBIH KUAT LAGI! MULAI FESTIVALNYA!” terdengar suara gemuruh yang sangat keras dari teriakan para rakyat yang mendengarkan. Festival dimulai, hari dimana Kekaisaran ini terbentuk kini sedang mereka kenang.
“Zeria, bagaimana dengan dekorasinya? Apa kau suka?” Tanya Louise pada Zeria saat mereka berjalan melewati ruang pesta.
Zeria memperhatikan ruangan itu dari ujung ke ujung, ia merasa kalau dekorasi itu sudah sangat sempurna. Ruang pesta yang sangat besar, di dekor dengan banyak bunga palsu berwarna biru muda dan hijau. Sebuah singgasana mewah yang disampingnya terdapat dua kursi kecil yang tak kalah mewahnya, sudah pasti kalau itu untuk Louise, Lucas dan Zeria. Lantai dari batu granit yang terkesan mewah dan beberapa hal mewah lainnya.
Pesta di akhir festival itu berguna sebagai penutup, namun tahun ini pesta tersebut memiliki maksud lain sebagai penutup pesta. Hal yang sangat penting, akan Louise beritahukan saat pesta sepekan lagi, yaitu saat pesta...
__ADS_1