
Latih tanding di pagi itu dimulai. Para kesatria melawan kesatria yang tingkatannya sama. Tingkatan kesatria dibagi menjadi 3 tingkatan, tingkat tiga adalah tingkatan bagi kesatria yang mengabdi pada bangsawan, tingkat dua adalah tingkatan bagi kesatria yang kemampuannya sudah diakui oleh kaisar atau raja dan juga sudah melakukan sumpah pada raja atau kaisar, dan tingkat satu adalah tingkat tertinggi bagi para kesatria, kesatria yang berada di tingkat ini biasanya sudah diandalkan dan bertugas menjaga anggota keluarga kerajaan.
Para kesatria bertanding dengan sekuat tenaga. Walaupun kesatria adalah orang yang bertarung dengan menggunakan pedang, terkadang ada beberapa kesatria yang bertarung dengan menggunakan aura dan ada juga yang tidak menggunakannya. Aura sendiri adalah semacam kumpulan energi yang dengan sengaja dikumpulkan pada satu titik tertentu, dan untuk kesatria biasanya mereka mengumpulkannya di pedang.
Latih tanding terus berlanjut tanpa ada halangan sedikit pun, hingga tiba saatnya giliran Lucas yang bertanding. Zeria yang melihat Lucas memasuki lapangan untuk latih tanding pun sudah siap untuk memberikan semangat, namun hal yang mengejutkan Zeria pun terjadi. Siapa yang menyangka bahwa lawan yang akan dilawan oleh Lucas tidak lain dan tidak bukan adalah, Eric.
“Eh, kenapa lawan kakak adalah Eric? Padahal masih banyak anak para raja yang seumuran dengan kakak, tapi kenapa malah Eric? Padahal Eric baru beberapa hari belajar berpedang, dan juga perbeedaan kemampuan mereka cukup jauh, bagaimana bisa malah Eric yang menjadi lawan kakak?” Pikir Zeria.
Raut wajah Zeria sedikit memburuk, mengingat seberapa besar perbedaan kekuatan mereka, membiarkan mereka bertanding adalah hal yang mengerikan. Dan juga Lucas tidak terlalu suka pada Eric, bagaimana jika terjadi sesuatu yang gawat?
Persiapan mereka berdua sudah selesai, dan mereka siap untuk bertanding. Wasit berdiri di antara Lucas dan Eric dan siap untuk memberikan aba aba.
“Kedua pihak sudah siap?” wasit meletakkan tangannya di tengan tengah Lucas dan Eric seperti memberi batas, lalu kedua orang itu menjawab pertanyaan wasit dengan sebuah anggukan kepala.
“Mulai!” wasit memberi perintah dan mengangkat tangannya, lalu pertandingan pun dimulai.
Zeria merasa khawatir, apakah ia harus mendukung kakaknya atau Eric yang seorang pengawalnya. Walaupun ini hanya sekedar latih tanding, namun mereka berdua bertarung dengan serius. Pertarungan yang sangat sengit, bahkan mereka berdua tidak ada yang menggunakan aura mereka, namun hawa yang ada di sekitar seperti sedang menghadapi pertarungan sungguhan.
Namun hal yang ditakutkan Zeria tidak terjadi, siapa yang menyangka bahwa ternyata pertarungan mereka berdua berakhir seimbang. Pertandingan berakhir dengan seimbang ketika mereka berdua saling mebenturkan pedang kayu itu dan kedua pedang itu patah. Semua orang tercengang dengan pertandingan tadi, termasuk Zeria.
“Apa ini?” Pikir Zeria, ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.
“Wah wah, pertarungan mereka berdua sengit sekali ya” Arin muncul di sebelah Zeria secara tiba tiba.
“Arin, apa yang baru saja terjadi?” Zeria yang masih kebingungan dengan hal tadi, memutuskan untuk bertanya pada Arin. Dan tentu saja mereka berdua berbicara lewat telepati.
“Apa maksudmu?” Arin menatap Zeria dan memiringkan kepalanya, ajah Arin penuh dengan kebingungan.
“Bukankah perbedaan kemampuan mereka cukup besar? Bagaimana caranya Eric bisa seimbang melawan kakak? Padahal di lihat dari auranya, kakak itu adalah tipe orang yang sulit dikalahkan jika beradu pedang” Zeria masih bingung dengan apa yang terjadi, padahal Lucas sangat menguasai tipe pertarungan jarak dekat, tapi Eric yang baru belajar pedang beberapa hari bisa menyeimbanginya?
__ADS_1
“Entahlah, aku tidak melihat salah satu mereka menggunakan sihir. Pertarungan tadi adalah murni berpedang, tanpa memakai sihir ataupun aura” Sebenarnya Arin sudah memperhatikan pertandingan mereka berdua sejak awal, Arin juga menggunakan kekuatannya untuk melihat apakah dari mereka berdua ada yang menggunakan sihir ataupun aura, namun seperti yang sudah dikatakan oleh Arin tadi, mereka berdua bertanding dengan kemampuan mereka sendiri tanpa bantuan dari sihir apapun.
“Tapi bagaimana?” Zeria masih belum puas dengan jawaban Arin.
“Sudah ku bilang. Jika seorang kesatria mengayunkan pedangnya demi seseorang, maka kesatria itu pasti lebih kuat daripada orang yang mengayunkan pedangnya demi dirinya sendiri” Gumam Arin dengan suara yang sangat kecil, hingga Zeria tidak mendengarnya.
Pertandingan antara Lucas dan Eric berakhir, begitu pula dengan latih tanding hari ini. Pertarungan mereka berdua menjadi penutupan yang sangat luar biasa. Semua kesatria segera kembali ke asrama mereka dan bersiap siap untuk bertugas. begitu pula dengan Zeria, ia segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat sejenak.
#Kamar Zeria
“Ahh, aku lelah” Zeria menghela napasnya.
“Ahaha, Tuan putri sudah bekerja keras. Tadi anda bangun pagi pagi sekali hanya untuk melihat latih tanding para kesatria” Reina sedikit tertawa saat mendengan keluhan Zeria, sambil membereskan tempat tidur Zeria. Karena tadi pagi saat Zeria bangun, Zeria langsung meminta Reina mengantarkaannya ke tempat latihan para kesatria, jadi Reina belum sempat membereskan tempat tidur Zeria.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu di kamar Zeria, tentu saja Zeria sudah tau siapa orang yang mengetuk pintu kamarnya.
Dan yah, benar saja. Eric membuka pintu dengan perlahan dan masuk dengan tubuh yang sudah dibesihkan dan rambut yang masih basah. Sangat terlihat jika ia langsung kemari setelah selesai mandi.
“Selamat pagi Tuan Putri, dan juga pagi Reina.” Eric menundukkan sedikit kepalanya dan mengucapkan salam.
“Ya pagi” Jawab Zeria tajam.
“Selamat pagi juga, Tuan?” Reina menawab salam dari Eric, namun ia bingung harus memanggil Eric dengan sebutan apa.
“Panggil aku senyamanmu saja, lagipula aku masih anak anak” Ucap Eric, menanggapi Reina yang kebingungan.
“Baiklah, Eric” Reina tersenyum.
__ADS_1
Tiba tiba suasana di dalam kamar menjadi sangat sunyi, tidak ada yang berbicara. Zeria yang diam saja tanpa bicara sepatah katapun dengan duduk di sofa dan menatap tajam, Reina yang tidak peka dengan keadaan dan malah melanjutkan membersihkan kamar, dan Eric yang berdiri di depan Zeria dengan keadaan bingung karena Zeria menatapnya terus terusan.
“Leina, ambilkan biskuit coklat dengan susu” Zeria yang tiba tiba bicara membuat suasana tidak sesunyi tadi.
“Eh? Baik Tuan Putri, akan segera saya ambilkan” Reina langsung pergi dan segera mengambikan biskuit yang di minta Zeria.
“Elic” Suara Zeria sedikit menyeramkan saat ia memanggil nama Eric, dan itu membuat Eric terkejut.
“Ya!” Jawab Eric dengan cepat
“Duduk belsimpuh sekalang juga” Zeria membuat wajah yang sedikit menyeramkan dan menatap Eric dengan mata emasnya yang terlihat bersinar dan itu membuat Eric langsung melakukan apa yang di perintahkan Zeria tanpa bantahan. “Bukankah aku sudah bilang agal bicala infolmal padaku. Apanya yang ‘Selamat pagi Tuan Putli’? kau halusnya (harusnya) mengatakan ‘Pagi Zelia’ atau jika ingin sedikit sopan kau bisa ucapkaan ‘Pagi Putri’. Aku sangat tidak suka jika orang yang aklab denganku malah belsikap kaku padaku, apa kau mengelti?” Zeria mengoceh panjang pada Eric bagaikan seorang ibu yang sedang memarahi anaknya. (Saat anaknya menghilangkan Tupperware milik ibunya╥_╥)
“Ma-maafkan aku” Jawab Eric dengan suara pelan.
“Apa? Aku tidak dengal” Sebenanya Zeria sudah mendengarnya, tapi ia hanya ingin mendengarnya lagi dengan suara yang lebih keras.
“Aku minta maaf” Ucap Eric mengulangi perkataanya tadi dengan suara yang lebih keras.
“Bagus, lalu sebagai hukuman. Belsimpuhlah di sudut kamal sambil mengangkat vas bunga itu di atas kepalamu selama 30 menit” Terlihat sedikit senyum kepuasan di wajah kecil Zeria.
“Baik” Eric menjawab dengan nada sedikit sedih tapi ia tetap melaksanakan perintah Zeria. Eric bersimpuh di sudut kamar dengan wajah lesu dan sedikit sedih.
“Wahh, kau di hukum. Kasihan sekali dirimu ini” Arin muncul di samping Eric dan berbicara padanya dengan cara berbisik agar Zeria tidak mendengarnya.
“Arin, tolong aku” Bisik Eric pada Arin dengan wajah memelas.
“Maaf, aku tidak bisa. Karena aku juga takut padanya” Arin putus asa, bagaimana ia bisa takut pada Zeria yang bahkan masih anak anak itu.
Tak lama kemudian, Reina kembali dari dapur istana dengan membawa biskuit yang di minta oleh Zeria. Saat Reina masuk ke kamar, ia di buat bingung dengan Eric yang duduk bersimpuh si sudut kamar dengan memegang vas di atas kepalanya, dan Zeria yang tersenyum mencurigakan.
__ADS_1
“Emm, apa saya masuk di saat yang salah?” Reina merasa sepertinya ia sudah melihat hal yang seharusnya tidak ia lihat.
“Tidak Kok!” Dan Zeria menjawab dengan senyuman yang tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.