
William tertidur di ruang kerja Louise setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Rasa lelah dan katuk yang sudah ia rasakan semenjak beberapa hari lalu, akhirnya bisa ia lepaskan. Entah sudah berapa lama ia tak tertidur pulas begini, entah kapan juga terakhir kali ia bisa tidur dengan nyenyak begini.
“Nona! Anda mau pergi kemana?” Entah berada dimana, namun kini ada seorang wanita muda yang berdiri dihadapannya.
Wanita dengan rambut panjang berwarna coklat dan mata orange keemasan yang terang, rambut panjangnya yang terbang terbawa hembusan angin saat menatap Willian terlihat sangat indah, “Aku ingin bertemu Louise!” Jawab wanita itu dan segera berlari menjauh dari William agar ia tak bisa mengejarnya.
“Nona! Jangan lari begitu, nanti anda bisa jatuh!”
“Tidak apa apa! Aku tidak memakai heals kok, hari ini aku memakai sepatu biasa!” Wanita itu mengangkat sedikit roknya untuk menunjukkan sepatunya.
Senyuman yang terukir di wajah wanita itu sangat indah, siapapun yang melihatnya pasti akan langsung jatuh cinta. Tawanya yang cerah di wajah cantik itu, bagai sinar mentari yang muncul dikala badai sedang menerjang, menghapus segala kegelapan dan penderitaan.
“Nona Callista! Jika anda datang tiba tiba begini, manusia itu akan marah loh”
William terus mengejar wanita itu, dan sekali lagi wanita itu berhenti dan berbalik, “Tidak akan, dia tidak akan marah padaku. Kau tenang saja” Jawabnya tanpa menghilangkan senyuman diwajahnya. William berhenti mengejarnya dan hanya menatap Callista yang mulai menjauh, ia hanya bisa tersenyum.
“Benar, memang begitu sifatnya. Dasar keras kepala, namun aku mencintaimu apapun yang terjadi. Asalkan kau bisa bahagia, siapapun orang yang kau pilih nanti, aku akan mendukungmu” William merasakan panas dimatanya, rasanya matanya sangat basah dan pandangannya memburam. Air mata menggenang dimatanya, ia mendongak ke atas agar air matanya tak jatuh dan segera mengusapnya, “Berbahagialah, Callista”
Semuanya tiba tiba menjadi gelap gulita dan sunyi, tak ada satupun yang terlihat. Tak bisa merasakan apapun, tak ada siapapun, tak terdengar suara apapun.
“Paman”
Tiba tiba terdengar suara yang samar, darimana asalnya?
“Paman, bagun. Kalau tidur disini nanti bisa sakit”
Terasa sesuatu yang menyentuhnya, sebuah tangan kecil yang memegang bahunya.
“Paman!”
__ADS_1
William membuka matanya karena sebuah teriakan dari seseorang disampingnya. Jantungnya berdetak kencang karena terkejut, saat ia menoleh, ia mendapati Zeria yang berdiri disampingnya dengan ekspresi kesal.
“Tuan Putri?” William tak berkedip saat menatap Zeria, wajah dan ekspresi itu terlihat tidak asing, “Tadi itu mimpi ya? Mereka mirip” Pikirnya.
“Kenapa paman tidur di ruang kerja ayah sih? Disini kan dingin, kalau paman flu bagaimana?” Zeria memegang kening William untuk memastikan kondisi tubuhnya. William masih duduk di kursi dan hanya diam saja dengan perlakuan Zeria, “Hmm, tidak demam”
Zeria menarik tangannya dan memperhatikan wajah William, ia merasa kalau William terus menatapnya. Tapi bukan dirinya yang William tatap, melainkan orang lain. Zeria terus memperhatikan William hinggga akhirnya setetes air jatuh dari mata William. “Eh? Paman Will, menangis?”
“Eh? Loh? Kenapa ini?” William merasakan air yang jatuh ke pipinya dan segera mengusapnya. “Maafkan saya, saya jadi menunjukkan sisi yang buruk pada Tuan Putri” William terus mengusap air matanya, namun air mata itu tidak berhenti mengalir.
“Ini” Zeria menyodorkan sapu tangan yang ia dapatkan dari Calder dulu, saputangan dengan warna abu abu dan corak ombak perak dipinggirnya. Padahal ia sangat menyukai sapu tangan itu karena di tepinya ada sulaman mawar berwarna merah. Tapi ia tetap menyodorkannya pada William untuk mengusap air matanya.
“Apa tidak masalah?” William ragu untuk menerima sapu tangan itu.
“Tidak apa apa, ambil.”
“Terima kasih” William menerima sapu tangan itu dan mengusap air matanya.
“Apa Tuan Putri sudah selesai jalan jalannya?” William langsung membuka obrolan untuk memecah kecanggungan diantara mereka.
“Iya sudah…Loh kenapa paman bisa tahu kalau aku pergi keluar?”
“Tadi Eric dan Nona Arin datang, namun hanya berdua. Biasanyakan kalian selalu bertiga, ditambah dengan Pangeran jadi berempat, makanya saya tau kalau anda dan Pangeran pasti kabur dan pergi ke festival”
“Haha, begitu ya? Nampaknya persiapanku kurang ya sampai sampai paman menyadarinya” Zeria menggaruk kepala bagian belakangnya. “Oh iya, aku kesini karena untuk mengambil bros ayah. Ayah bilang brosnya ada di laci paling atas meja kerja”
“Oh, akan saya ambilkan.” William menarik laci paling atas dan menemukan bros yang dibicarakan Zeria. “Ini Tuan Putri” ia menyodrkan bros dengan permata berwarna biru ditangannya.
“Terima kasih! Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa nanti paman Will” Zeria berlari menuju pintu keluar dan berheti tepat di depan pintu, “Lain kali jangan bicara formal padaku ya! Kalau tidak bisa, paman panggil aku Putri saja, jangan Tuan Putri!” Zeria melambaikan tangannya dan berlari.
__ADS_1
William juga melambaikan tangannya untuk membalas Zeria, “Sudah kuduga, mereka mirip” Will menutup matanya dan mengingat ingat kejadian yang terjadi di masa lalu.
“Jangan panggil aku ‘nona’, panggil Callista saja!”
Itulah yang diucapkan wanita itu. Hatinya terassa sangat ringan dan hangat, entah sejak kapan udaranya tiba tiba terasa sejuk baginya, entah kenapa ia merasa bahagia.
***
Zeria berjalan menyusuri menyusuri koridor Istana utama dan hendak pergi ke ruang tamu untuk memberikan bros milik Louise. Namun sejak tadi, ada satu hal yang sangat mengganggunya. Saat ia datang ke ruang kerja tadi, Will sedang tidur dan mengumamkan sesuatu, ia terus berkata ‘Callista, Callista’ terus, entah apa yang Will mimpikan namun ekspresinya terlihat sedih. “Siapa Callista ini? Sepertinya aku pernah mendengar namanya, tapi dimana?” Zeria memutar otak untuk mengingat ingat dimana ia pernah mendengar nama itu, namun percuma saja, ia sama sekali tidak ingat.
Sebenarnya Zeria ingin bertanya pada Will langsung tadi, tapi nampaknya walaupun ia bertanya, Will tidak akan menjawabnya, “Aku harus tanya pada ayah nanti”. Karena berjalan sambil memikirkan hal lain, tiba tiba saja Zeria sudah tiba di ruang tamu, entah kenapa rasanya cepat sekali.
Seorang pengawal membuka pintu besar itu dan membiarkannya masuk. Di dalam ruangan itu ada Louise dan Lucas yang duduk bersampingan, dan dihadapan mereka ada Sofia dan ayahnya. “Sepertinya aku tau, apa yang akan mereka bicarakan sekarang” Pikir Zeria.
Zeria duduk tepat diantara Louise dan Lucas, ia menyodorkan bros yang ia ambil tadi kepada Louise. Bros itu adalah salah satu atribut penting yang harus digunakan saat menghadiri pertemuan resmi ataupun acara resmi lainnya, namun bisa bisanya Louise meletakkan atribut penting seperti itu di dalam laci yan berisi tita dan kertas.
“Jadi, ada apa lagi ini?” Tanya Louise sambil menyilangkan tangan dan kakinya. Jika dilihat seperti ini, ia baru terlihat seperti seorang kaisar sungguhan.
“Baginda, kami ingin mengajukan lamaran pertunangan lagi”
Raut wajah Lucas langsung berubah, ia tampak sangat kesal. “Sudah kuduga” Pikirnya.
“Lagi?” Louise menatap remeh mereka berdua, padahal sudah ditolak terang terangan, namun mereka masih tidak menyerah rupanya.
“Benar Baginda, namun buka untuk yang mulia Pangeran” Aron mengeluarkan sebuah surat dari saku jasnya dan meletakkannya di meja.
“Bukan untukku?” Lucas merasa bingung, kalau bukan untuk dirinya lalu untuk siapa?
“Iya, lamaran kali ini saya ajukan untuk Tuan Putri” Jawabnya dengan santai.
__ADS_1
“Apa?!” Lucas menggebrak meja dengan keras hingga cangkir tehnya bergetar.
Zeria terkejut setengah mati, “Lamaran Pertunangan? Untukku? APA APAAN INI?!” Begitulah bunyi teriakan dalam hati Zeria.