Aku Menjadi Tuan Putri?

Aku Menjadi Tuan Putri?
Bab 50


__ADS_3

Festival hari pertama dimulai dengan meriah, dan tentu saja Zeria mulai melakukan pemberontakan, yaitu melarikan diri dari tanggung jawabnya dan pergi ke tengah festival bersama dengan Lucas. Mereka melarikan diri dengan maksud bersenang senang, hanya berdua, berdua saja. Lucas menggunakan jubah hitam yang menutupi hingga kepalanya agar tidak menarik perhatian.


Kondisi alun alun sangat ramai dengan dan dipenuhi dengan kedai kedai kecil yang menjual berbagai aksesoris dan makanan ringan. Namun dari sekian banyak makanan yang dijual, tak ada yang membuat Zeria tertarik sama sekali dan ia malah teringat dengan toko kue Laplace di area bangsa iblis yang beberapa minggu lalu ia datangi bersama ayahnya.


Zeria tak terlalu suka dengan keramaian, jadi ia memilih untuk mengajak Lucas ke toko kue Laplace itu. Lucas hanya menurut dan mengikuti Zeria sambil menggandeng tangannya agar tak terpisah darinya. Ia akan terus mengikuti kemanapun Zeria pergi, walaupun ia sendiri tak tau sebenarnya Zeria ingin membawanya kemana. Untuk sampai ke area bangsa iblis, mereka harus melewati pasar yang sangat padat karena festival, namun dengan pengetahuan Lucas tentang jalanan sekitar situ, mereka melewati gang kecil yang sedikit memutar untuk sampai kesana.


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke area bangsa iblis, dan saat tiba disana keadaannya sangat berbeda dengan alun alun tadi, disini sangat damai dan juga tak terlalu ramai. “Ini area bangsa iblis kan?” Tanya Lucas karena merasa kalau atmosfer tempat itu sangat berbeda.


“Iya, dan itu adalah toko kue Laplace. Kuenya enak sekali, dan juga disini tak terlalu ramai.” Zeria menunjuk toko kue yang ada dihadapan mereka, dan tiba tiba saja ada seseorang yang membuka pintunya dari dalam.


Lucas dengan sigap memegang pedangnya dan siap menebas siapapun yang membahayakan Zeria. “Hah?” Lucas terkejut dengan sosok pria yang tiba tiba muncul dari balik pintu itu. Tubuh yang tinggi dan besar, dengan jubah yang menutupi kepalanya, dan rambut hitam yang sedikit terlihat dari ujung jubahnya itu. Dan benar saja, orang itu adalah Louise.


“Ayah?” Zeria terkejut karena ia sama sekali tidak menyangka kalau Louise akan berada disini juga.


“Kalian kenapa ada disini?” Tanya Louise.


Lucas melepaskan tangannya dari pedangnya dan menatap Louise dengan heran, kini tatapan Lucas pada Louise mulai melunak. “Ayah sendiri, kenapa disini? Bukankah seharusnnya ayah ada di Istana dan mengerjakan pekerjaan ayah yang sudah menumpuk itu”


Louise nampak ragu untuk menjawab, sepertinya apa yang dikatan Lucas tadi tepat mengenai sasaran. “Kita masuk dulu, kita bicara di dalam sambil makan kue” Louise membukakan pintu untuk kedua anaknya dan suara lonceng toko terdengar.


Mereka duduk di meja paling ujung yang dekat dengan jendela, seperti biasa Zeria hanya memesan kue dengan rasa coklat dan menghindari rasa stroberi, entah apa yang membuatnya tidak suka dengan stroberi. Sedangkan Lucas dan Louise hanya memesan teh saja.


“Jadi, ayah sedang apa disini?” Ucap Lucas mengulangi pertanyaannya tadi.


“Hmm, minggu lalu ayah meminta mereka untuk mengirim buku yang diminta Zeria ke Istana karena Zeria tiba tiba meminta untuk pulang. Tapi ayah Lupa memberikan tanda pengenal agar barang masuk ke Istana, makanya mereka tak bisa mengirim bukunya”


“Pantas saja bukunya tidak sampai sampai” Keluh Zeria sambil mengunyah kuenya.


“Haha, iya maaf. Jadi ayah datang kesini untuk mengambilkan bukumu, apa sudah jelas?”


“Iya” Jawab Lucas dan Zeria secara bersamaan dan ekspresi datar. Karena bagaimanapun, mereka sudah


tau kalau itu hanya alasan yang ia gunakan agar bisa pergi keluar dan lari dari pekerjaannya.


“Pasti saat ini paman Will yang mengerjakan semua pekerjaan ayah, maafkan ayah ya paman” Pikir Zeria sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Mereka melanjutkan menyantap kue dan sedikit berbincang bincang secara normal layaknya sebuah keluarga pada umumnya. Buku yang Zeria minta kini ada ditangannya, merasa sudah puas makan kue mereka pergi meninggalkan toko setelah membayar dan membeli beberapa kue lagi untuk dimakan di Istana.


Rencana Lucas yang ingin membawa Zeria jalan jalan berdua kini hancur sudah, karena kini Louise selalu mengikuti mereka. “Kenapa ayah mengikuti kami?” Tanya Lucas karena sudah muak.


“Tak baik jika anak anak pergi ke keramaian tanpa orang tua” Louise mengalihkan pandangannya ke langit untuk menghindari tatapan tajam Lucas.


Lucas tak mampu membalas kata kata itu, karena memang sulit jika terjadi sesuatu pada Zeria dan hanya ada dia disini. Tapi jika Louise ikut pergi, keamanan Zeria makin terjamin, “Terserah ayah saja” Lucas menggenggam tangan Zeria dan lanjut berjalan lagi.


Zeria merasa senang, karena ini pertama kalinya mereka pergi jalan jalan bertiga seperti ini, “Jadi ini yang dinamakan jalan jalan bersama keluarga ya?” Pikirnya.


Mereka berjalan mengitari alun alun dan melihat kedai satu persatu, yah sesekali tak apalah melupakan masalah yang ada dan menikmati waktu yang menyenangkan begini. Namun ia harus tetap waspada. Karena tingkat kejahatan di dalam keramaian itu lebih besar.


Zeria berjalan dengan memikirkan hal lain, “Jika tiba tiba ada pengkhianat, mungkin kekaisaran ini akan hancur dan tak sedamai ini ya. Apa sih yang ku pikirkan, random banget”


“Haha, wajar saja kau berpikir begitu” Jawab Arin melalui telepati. Dari jarak sejauh apapun, Arin bisa melakukan telepati dengan Zeria, asalkan di tempat itu tidak ada penangkal sihirnya.


“Sepertinya aku mulai lelah, bagaimana di Istana?”


“Baik, semua terkendali. Tapi tadi aku melihat orang yang bernama William, dia terlihat seperti mayat hidup, kantung matanya besar dan hitam, apa dia tidak tidur ya?”


“Oke! Selamat bersenang senang, walaupun aku tahu kalau kau melarikan diri sih”


“Haha terima kasih”


Zeria lanjut berkeliling bersama Louise dan Lucas. Dibalik Kaisar yang sangat santai dan bijaksana, terdapat sekretaris yang sedang menderita.


***


Arin dan Eric sedang bersantai di Istana Putri, tidak, tepatnya di atap Istana Putri. “Apa yang Zeria bilang?” Tanya Eric pada Arin yang baru saja melakukan telepati pada Zeria.


“Dia bilang, sampaikan permintaan maafnya pada si Tuan Sekretaris.”


“Tuan Will? Kenapa memangnya?” Tanya Eric sambil bangun dari duduknya dan menyodorkan tangannya pada Arin untuk membantunya berdiri.


Arin meraih tangan Eric dan berdiri “Kaisar kita sedang kabur, dan sekarang yang mengerjakan tugasnya adalah Tuan Sekretaris” ucapnya sambil mengibaskan rok nya untuk membersihkan debu yang menempel.

__ADS_1


“Wahh, jangan jangan Kaisar kita adalah Tuan Will ya?”


Mendengar ucapan Eric, dengan cepat Arin memukul kepalanya dengan keras, “Aduh!” Eric mnegusap usap kepalanya.


“Jangan bicara begitu, kalau ada yang dengar bisa gawat” Arin berjalan ke tepi atap dan bersiap untuk melompat turun.


“Mana ada yang dengar kalau kita ada di atas atap begini” Gumam Eric.


Dengan cepat mereka melompat dari ketinggian 25 meter dari atas tanah, dengan santainya mereka melompat tanpa takut dengan ketinggian. Tentu saja Arin mendarat dengan bantuan dari sihirnya, tapi tidak dengan Eric, dia mendarat dengan mulus tanpa bantuan apapun, “Orang ini tidak normal” Pikir Arin setelah melihat Eric mendarat.


Mereka berjalan menuju Istana Utama untuk bertemu dengan William dan menyampaikan perkataan Zeria tadi, walaupun Zeria bilang kalau Arin harus menyampaikannya kalau mereka bertemu saja, tapi karena mereka tak ada kerjaan jadi lebih baik pergi menyampaikannya.


Pintu ruang kerja kaisar yang sangat besar, terbuat dari kayu dan terdapat beberapa hiasan emas yang menempel, dan juga ada banyak permata disana, “Ini pemborosan” PIkir Eric. Ia mengetuk pintu besar itu, namun tidak ada jawaban, jadi ia membukanya tanpa izin. Terlihat sosok William yang sudah tepar di sofa dengan setumpuk dokumen di meja. “Apa dia masih hidup?” Tanya Eric.


“Sepertinya tidak, kita harus siapkan pemakaman” Sahut Arin dengan datar.


“Hei anak anak sialan, sifat kalian mirip sekali dengan Louise ya hah?” William bangkit perlahan sambil menekan kepalanya.


“Habisnya anda tidak menjawab panggilan kami”


“Aku lelah, aku ingin tidur” William benar benar seperti mayat hidup, wajahnya pucat dan kantung matanya hitam, matanya juga agak merah.


Mereka berdua sama sekali tidak terlihat peduli dengan penderitaan William, “Sudahlah, kenapa kalian kesini?” Tanya William dengan mata kantuknya sambil mengacak acak rambutnya.


“Kami kesini karena perintah Zeria, dia bilang ‘sampaikan permintaan maafku pada paman Will ya’ begitu”


“Hah?” William terlihat terkejut karena Zeria yang Lucu, baik hati, dan lembut itu meminta maaf padanya karena perbuatan ayahnya “Tuan Putri memang malaikat” Dan dia terjatuh dari sofa lalu pingsan.


“Kau angkat dia” Suruh Arin pada Eric untuk mengangkat William ke sofa.


“Tidak, kau saja yang angkat”


“Kau”


“Kau!”

__ADS_1


Dan perdebatan itu tak selesai sampai William bangun kembali.


__ADS_2