
Hari ketiga festival, Zeria tengah berada di depan kamar Azra. Ia bimbang apakah ia harus masuk atau tidak, namun kebimbangannya itu hilang dalam sekejap setelah William datang dan menegurnya dari arah Istana Utama.
“Loh Tuan Putri? Apa yang anda lakukan disini? Apakah anda ingin menjenguk Azra?” William berjalan mendekati pintu kamar Azra dan memegang pegangan pintunya.
Zeria terkejut dengan kedatangan William yang tiba tiba itu, “Ah, iya. Tapi aku tidak yakin” Zeria menundukkan kepalanya dan memasang raut murung. Entah apa yang membuatnya tidak yakin, tapi ia merasa canggung jika hendak bertemu Azra.
William dengan tanggap langsung bisa mencerna situasi, dan memikirkan sesuatu “Apanya yang tidak yakin? Langsung masuk saja” Pria itu langsung membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk lagi, dan Zeria lagi lagi terkejut.
“Tunggu paman!” Teriak Zeria agar William tidak membuka pintu itu, namun semua sudah terlambat. Pintu kamar itu terbuka dengan lebar dan terlihatlah Azra yang tengah duduk di kasurnya, nampaknya ia sudah mendengar suara William dan Zeria yang berbicara dibalik pintu kamarnya.
Melihat kondisi Azra, Zeria merasa seperti sedang melihat dirinya di masa lalu. Kekerasan orang tua kepada sang anak, ia merasa muak dan menanyakan sesuatu pada dirinya sendiri. “Kenapa dulu aku tidak melawan saja?” Itulah hal yang paling ia sesali.
“Halo Azra, bagaimana keadaanmu?” Zeria berjalan perlahan mendekati Azra dan meraih tangannya. Tangan yang penuh dnegan luka dan lebam, tangan itu terasa dingin.
Walaupun Zeria tahu bahwa Azra tidak baik baik saja, tapi ia bersikap seolah ia percaya pada saat Azra berkata kalau dirinya baik baik saja. Terlihat jelas kalau ia kesakitan, lukanya juga tidak kunjung sembuh dikarenakan kondisi luka yang cukup parah.
Zeria menoleh dan menatap William, rasanya ia ingin berterima kasih pada William yang sudah bersedia menemani dan menghibur Azra, namun ia tak bisa mengatakannya. Rasanya seperti ada yang menahannya untuk mengatakan itu. “Paman Will, aku pergi dulu.” Zeria melepaskan tangan Azra dan berjalan dnegan cepat menuju pintu dan pergi.
Ia berjalan dengan cepat sambil menundukkan pandangannya, “Aku ini kenapa sih?” Lagi lagi ia bertanya pada dirinya sendiri. Jika ia melihat anak yang bernasib sama seperti dirinya dulu, rasanya hatinya seperti tercabik cabik. Tak peduli dengan pandangan orang lain terhadapnya, Zeria tanpa sadar berjalan menuju aula pesta.
Tempat yang paling sibuk diatara tempat tempat lain, aula pesta. Orang orang berlalu Lalang menyiapkan segala keperlaun pesta, mulai dari makanan, dekorasi, dan lainnya. Semua orang memperhatikan Zeria, tentu saja begitu, dirirnya yang dikenal sebagai ‘Tuan Putri yang jahat’ pasti akan sangat menarik perhatian.
***
“Emm, Tuan Will. Putri kenapa?” Azra bingung dengan sikap Zeria yang tidak bersemangat, padahal biasanya ia akan bicara sambil berteriak.
“Entahlah, mungkin dia lapar?” dan muncullah jawaban tak masuk akan dari William.
__ADS_1
Azra terdiam mendengar jawaban dari William, tak masuk akal tapi, yasudahlah. “Apa ada orang yang begitu hanya kerena lapar?” fikirnya.
***
Zeria terus berjalan dan tanpa sadar ia sudah berada di taman depan Istana Utama, “Ahh, aku berjalan terlalu jauh, terlebih lagi kenapa taman ini selalu sepi sih? Padahal taman ini bagus, aku harus segera Kembali sebelum waktu makan siang” Zeria membalikkan tubuhnya dan hendak pergi menuju ke Istananya Kembali.
Namun saat ia membalikkan tubuhnya, tiba tiba ia merasakan suatu hawa keberadaan seseorang, ia terdiam memperhatikan situasi. Siapa yang ada dibelakangnya? Bagaimana bisa dia ada disana? padahal sudah jelas kalau tadi tidak ada orang selain dirinya. Angin dingin tiba tiba saja berhembus, angin yang lumayan kecang hingga bisa menerbangkan topi jubah yang dipakainya.
Angin yang berhembus menerbangkan rambut Zeria, telinganya terasa dingin, tetapi perhatiannya teralihkan dengan hal lain. Kelopak bunga merah berterbangan disekitarnya, “Haha, sudah kuduga warna merah sangat cocok dengan warna coklat muda” terdengan tawa seseorang dibelakangnya. Dengan cepat Zeria membalikkan tubuhnya dan melihat seorang berdiri di hadapannya dengan seikat bunga berwarna merah di tangannya.
“Siapa?” Tanya Zeria tanpa menurunkan rasa waspadanya. Ia mulai mengidentifikasi laki laki tersebut, laki laki yang mungkin seumuran dengan Azra, rambut Coklat gelap yang hampir mendekati hitam, mata ungu gelap dan lesung pipi di pipi kirinya. Dengan cepat Zeria sadar, “Vicent Darel” Ucapnya.
Laki laki itu terlihat terkejut dan tertawa, “Ahahaha, rupanya anda sudah tau nama saya ya? Saya Vicent Darel, adik dari Sofia Der Lilua.” Vicent menundukkan kepalanya dan memberi salam. Wajah Vicent seperti mengingatkannya pada seseorang, wajah itu, entah mengapa Zeria merasa kalau ia sudah sangat sering melihatnya.
“Jadi kau ya calon tunanganku?”
“Iya sudah, tapi aku tidak menolak ataupun menerima mu. Akn kulihat dulu apakah kau cocok denganku atau tidak” Zeria sedikit mengangkat kepalanya dan membuat dagunya megarah kedepan,itu artinya Zeria sedang merendahkannya.
Namun reaksi Vicent tidak seperti apa yang direncanakannya, Vicent tetap tenang dan sama sekali tidak terpancing. “Wahh, suatu kehormatan bagi saya jika Tuan Putri tidak menolak” Ucapnya.
Zeria merasa kesal dengan nada bicaranya itu, seolah olah pria ini sedang menganggap kalau Zeria adalah orang yang gampangan, “Terserah padamu, aku pergi dulu” Zeria segera membalikkanbadannya dan meninggalkan Vicent.
“Baik, kalau begitu suatu saat nanti saya akan menebar kalopak bunga merah lagi. Tapi saat itu saya akan menebarnya bukan ke langit, melainkan ke tanah” Ucap Vicent dengan suara kecil, namun Zeria masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas karena pendegarannya yang tajam.
Zeria terus berjalan tanpa menghiraukan ucapannya seolah ia tidak mendengarnya. “Jadi saat itu kau yang menebarnya ya?” Fikirnya. Hari dimana ia duduk di atap Bersama Arin dan Eric, dimana angin berhembus dan membawa kelopak bunga berwarna merah, itu adalah ulah Vicent. “Jadi maksudnya warna merah cocok dengan warna coklat muda itu adalah warna kelopak bunganya dan warna rambutku ya?”
***
__ADS_1
#Tempat Latihan
“Sebentar lagi makan siang, ayo pergi” Ajak Lucas pada Eric.
Eric mengelap keringatnya, “Oke, ayo”
Mereka berjalan meninggalkan area latihan dengan pedang yang masi menggantung di pingang mereka. Pedang milik Lucas terlihat lebih mewah dengan warna hitam pekat tanpa adanya warna lain selain permata di bagian pegangan yang berwarna hijau, entah kenapa permatanya berwarna hijau.
"Kira kira Zeria sedang apa ya?" Eric berjalan mendahului Lucas dan berhenti tepan di depannya.
Lucas tiba tiba memasang ekspresi kesal, "Ah, maaf sudah berhenti di depanmu" Eric segera menyingkir dari hadapan Lucas agar ia tidak marah.
"Bukan, bukan karenamu. Hanya saja, tiba tiba perasaanku tidak enak"
"Hmm? Tunggu, sepertinya firasatmu itu tidak salah" Eric memberi tanda agar Lucas membalikkan badannya. Dengan cepat Lucas segera menangkap tanda dari Eric dan berbalik.
Terlihat Sofia yang berjalan dengan santai dengan gaun berwarna merah hitam, sepertinya ia datang untuk menemui Lucas, "Hahh, sepertinya hari ini akan berjalan dengan buruk" Lucas menghela napas dengan pasrah.
"Jangan bicara begitu, karena sejauh ini firasatmu selalu benar"
"Ah, benar juga. Hari ini aku harus makan bersama Zeria"
"Aku juga ikut"
"Tidak, aku akan makan berdua dengan adikku"
"Dasar siscon akut"
__ADS_1